• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 17 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Sebuah Limerick yang Gagal

dan puisi lainnya

Hisyam Billya Al-Wajdi by Hisyam Billya Al-Wajdi
22 March 2022
in Puisi
0
Sebuah Limerick yang Gagal

Sumber gambar: https://fstoppers.com/photo/294615

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

ELEGI

: Buat Dwi Hartini

Menyusup masuk ke ruang tidur laksana teja, dirimu menjelma keping-keping bianglala

Sambil berlalu

Sekuntum bunga, berguguran dari tepi bibirnya

Bersiul sepoi-sepoi angin menanggalkan hamparan lautan, meregang di tiang-tiang jembatan menuju lentera cakrawala, mengisi ruang bintang-bintang

Kemudian menguap melengkung dan lenyap, saat tangismu menyanyi dan rindu ini bertangkai sepi

2022

 

Karena

: Buat Dwi Hartini

Karena aku mencintaimu; maka setiap senja kulukis wajahmu di udara

Sebagai pertanda bagi umat manusia bahwa widodari itu nyata. Pelupuknya mengerjap seperti matahari, desah nafas yang harum itu merangkai kebahagiaan dari satu pulau ke pulau lainnya mengitari dunia. Karena aku mencintaimu maka kusisihkan kabut-kabut itu agar lembah dan tanah menumbuhkan bunga di atasnya, untukmu saja.

Karena aku mencintaimu, maka kupandang wajahmu dengan cinta, meski hanya wajah yang terpantul dari telaga atau bunga mimpi semata

Karena aku mencintaimu, maka kucuri cahaya matahari, karena aku mencintaimu maka nanananana…nanana..na…nanana…nana… karena aku mencintaimu, maka dalam urat darahku mengalir kertap namamu

Karena aku mencintaimu; tak kan kubiarkan riap air mata meleleh darimu barang setetes, biar aku saja yang menampung semua itu, biar aku simpan suara sedih itu di sepi gua, sejauh-jauhnya darimu kekasihku

Di samping daun-daun kemuning yang tanggal, di pinggir telaga yang tenang arusnya. Ku sebut namamu dengan suara yang penuh rindu

Karena aku mencintaimu, manisku, dengan cuaca berwarna biru

2022

 

Sebuah Limerick yang Gagal

: Buat Dwi Hartini

Di depan hujan yang tak tidur dan butiran sajak yang terus meleleh

Menjadi gurindam, atau peribahasa yang mengalirkan air mata

Seseorang mencintai perempuan itu secara tak lazim. Ketika perempuan itu hendak menuju samudera

Dalam sedu-senda cuaca.

Tiba-tiba cinta dan rindu berhimpitan. Malam menjadi prisma yang susut; angin kisut

Enam belas jam kemudian tak ada obor yang menyala. Perempuan itu menangis, lalu kapas-kapas cahaya mengusap pipinya.

2022

 

Kau Mendengar Bunga-Bunga

: Buat Dwi Hartini

Kau mendengar bunga-bunga dari malam yang sunyi

Juga selaksa nada yang menyusuri kegelapan hati

Langit itu menderu. Seperti lonceng di depan ruang tunggu. Adakah opera akan segera tersingkap tirainya?

Dari perasaan kita. Ada sayup-sayup kedengar. Langit memoles bintang-bintang, malam menjadi requiem yang paling purba

Kau sendirian merapal doa kemudian menerbangkannya bersama peri-peri kecil ke rembulan yang jenuh akan kefanaan

Kau sendirian, satu per satu daun menemui kematian. Musim gugur tiba-tiba singgah masuk ke hati kita, mungkin juga mereka

Ada sepasang laron bergelayutan mencari pesanggrahan abadi, kau sendiri

2022

 

Sajak-Sajak Tua

: Buat Dwi Hartini

Kita saling memandu, angin yang tiba-tiba melarung sepi sebelum menjulang ke atas matahari. Kita saling berdekatan menyaring kata-kata juga bunyi.

Ada hutan yang harus kita tinggali

Ada laut yang musti kita sebrangi

Dan aku senantiasa menepi, dari riak-riak udara panas atau kota yang tumbuh di dalam orkestra rahasia. Ketika hujan tiba kau menjelma sajak-sajak tua.

2022

Tags: puisisajaksastraSebuah Limerick yang Gagal
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

Next Post

8 Film Dokumenter yang Akan Membuatmu Lebih Sadar Isu Lingkungan

Hisyam Billya Al-Wajdi

Hisyam Billya Al-Wajdi

Penulis lahir di Bantul, Yogyakarta. Pada 11 Februari 2002. Saat ini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Prodi Aqidah Filsafat Islam. Puisinya dimuat beberapa media  dan antologi bersama. Selain berkecimpung di dunia kampus, penulis juga menyibukkan diri mengelola kebun di halaman belakang rumah. Penulis menetap di Bantul,Yogyakarta.

Artikel Terkait

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pembaharuan Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Refleksi Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Pembaharuan Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Refleksi Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

11 February 2021
Dimensi Ketidakpastian

Dimensi Ketidakpastian

22 February 2021
Di Balik Senyum Warga Desa

Di Balik Senyum Warga Desa

13 July 2021
Monolog Rayap Terbang di Lantai 13

Monolog Rayap Terbang di Lantai 13

18 May 2021
Hujan Musim Kemarau

Hujan Musim Kemarau

25 October 2021
Gambar Artikel Puisi-Puisi Kema Ferri Rahman

Puisi-Puisi Kemas Ferri Rahman

5 November 2020
Gambar Artikel Ketersinggungan, Resolusi Hidup dan Stoisisme

Ketersinggungan, Resolusi Hidup dan Stoisisme

7 January 2021
Status Baru Ibu dan Puisi Lainnya

Status Baru Ibu dan Puisi Lainnya

20 July 2025

Jalan Sunyi dengan Ribuan Bunyi

24 October 2021
Gambar Artikel Bukan Cuma Positive Thinking, Negative Thinking Juga Perlu Cuks

Bukan Cuma Positive Thinking, Negative Thinking Juga Perlu, Cuks!

10 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.