• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Sebuah Limerick yang Gagal

dan puisi lainnya

Hisyam Billya Al-Wajdi by Hisyam Billya Al-Wajdi
22 March 2022
in Puisi
0
Sebuah Limerick yang Gagal

Sumber gambar: https://fstoppers.com/photo/294615

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

ELEGI

: Buat Dwi Hartini

Menyusup masuk ke ruang tidur laksana teja, dirimu menjelma keping-keping bianglala

Sambil berlalu

Sekuntum bunga, berguguran dari tepi bibirnya

Bersiul sepoi-sepoi angin menanggalkan hamparan lautan, meregang di tiang-tiang jembatan menuju lentera cakrawala, mengisi ruang bintang-bintang

Kemudian menguap melengkung dan lenyap, saat tangismu menyanyi dan rindu ini bertangkai sepi

2022

 

Karena

: Buat Dwi Hartini

Karena aku mencintaimu; maka setiap senja kulukis wajahmu di udara

Sebagai pertanda bagi umat manusia bahwa widodari itu nyata. Pelupuknya mengerjap seperti matahari, desah nafas yang harum itu merangkai kebahagiaan dari satu pulau ke pulau lainnya mengitari dunia. Karena aku mencintaimu maka kusisihkan kabut-kabut itu agar lembah dan tanah menumbuhkan bunga di atasnya, untukmu saja.

Karena aku mencintaimu, maka kupandang wajahmu dengan cinta, meski hanya wajah yang terpantul dari telaga atau bunga mimpi semata

Karena aku mencintaimu, maka kucuri cahaya matahari, karena aku mencintaimu maka nanananana…nanana..na…nanana…nana… karena aku mencintaimu, maka dalam urat darahku mengalir kertap namamu

Karena aku mencintaimu; tak kan kubiarkan riap air mata meleleh darimu barang setetes, biar aku saja yang menampung semua itu, biar aku simpan suara sedih itu di sepi gua, sejauh-jauhnya darimu kekasihku

Di samping daun-daun kemuning yang tanggal, di pinggir telaga yang tenang arusnya. Ku sebut namamu dengan suara yang penuh rindu

Karena aku mencintaimu, manisku, dengan cuaca berwarna biru

2022

 

Sebuah Limerick yang Gagal

: Buat Dwi Hartini

Di depan hujan yang tak tidur dan butiran sajak yang terus meleleh

Menjadi gurindam, atau peribahasa yang mengalirkan air mata

Seseorang mencintai perempuan itu secara tak lazim. Ketika perempuan itu hendak menuju samudera

Dalam sedu-senda cuaca.

Tiba-tiba cinta dan rindu berhimpitan. Malam menjadi prisma yang susut; angin kisut

Enam belas jam kemudian tak ada obor yang menyala. Perempuan itu menangis, lalu kapas-kapas cahaya mengusap pipinya.

2022

 

Kau Mendengar Bunga-Bunga

: Buat Dwi Hartini

Kau mendengar bunga-bunga dari malam yang sunyi

Juga selaksa nada yang menyusuri kegelapan hati

Langit itu menderu. Seperti lonceng di depan ruang tunggu. Adakah opera akan segera tersingkap tirainya?

Dari perasaan kita. Ada sayup-sayup kedengar. Langit memoles bintang-bintang, malam menjadi requiem yang paling purba

Kau sendirian merapal doa kemudian menerbangkannya bersama peri-peri kecil ke rembulan yang jenuh akan kefanaan

Kau sendirian, satu per satu daun menemui kematian. Musim gugur tiba-tiba singgah masuk ke hati kita, mungkin juga mereka

Ada sepasang laron bergelayutan mencari pesanggrahan abadi, kau sendiri

2022

 

Sajak-Sajak Tua

: Buat Dwi Hartini

Kita saling memandu, angin yang tiba-tiba melarung sepi sebelum menjulang ke atas matahari. Kita saling berdekatan menyaring kata-kata juga bunyi.

Ada hutan yang harus kita tinggali

Ada laut yang musti kita sebrangi

Dan aku senantiasa menepi, dari riak-riak udara panas atau kota yang tumbuh di dalam orkestra rahasia. Ketika hujan tiba kau menjelma sajak-sajak tua.

2022

Tags: puisisajaksastraSebuah Limerick yang Gagal
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

Next Post

8 Film Dokumenter yang Akan Membuatmu Lebih Sadar Isu Lingkungan

Hisyam Billya Al-Wajdi

Hisyam Billya Al-Wajdi

Penulis lahir di Bantul, Yogyakarta. Pada 11 Februari 2002. Saat ini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Prodi Aqidah Filsafat Islam. Puisinya dimuat beberapa media  dan antologi bersama. Selain berkecimpung di dunia kampus, penulis juga menyibukkan diri mengelola kebun di halaman belakang rumah. Penulis menetap di Bantul,Yogyakarta.

Artikel Terkait

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Mata Cinta

Mata Cinta

27 November 2021
Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya

Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya

21 September 2026
Seorang Indigo dan Suara-Suara Bertubuh Kupu-Kupu

Seorang Indigo dan Suara-Suara Bertubuh Kupu-Kupu

4 April 2022
Buya Syakur Yasin: Antara Agama dan Budaya, Menimbang yang Fana dan yang Abadi

Buya Syakur Yasin: Antara Agama dan Budaya, Menimbang yang Fana dan yang Abadi

10 February 2021
Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR

Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR

9 January 2022
Penjaring Ikan di Laut

Penjaring Ikan di Laut

2 April 2021
Gambar Makanan dan Orang Jawa

Makanan dan Orang Jawa

4 February 2021
4 Nilai Humanistik dalam Film “Hotel Transylvania: Transformania”

4 Nilai Humanistik dalam Film “Hotel Transylvania: Transformania”

1 March 2022
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Jempolmu, Harimaumu

2 November 2020
Bulan Memancar di Rambutmu

Bulan Memancar di Rambutmu

8 March 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.