• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 11 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Mamak dan Kudapan Hina

Fajri Zulia Ramdhani by Fajri Zulia Ramdhani
1 December 2020
in Puisi
1
Gambar Artikel Puisi untuk Ibu : Mamak dan Kudapan Hina

Sumber Gambar : https://unsplash.com/photos/M0oVPGsWk1E

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Mak,

Aku adalah anak kandung derita, buah luka, perasan air mata

Dalam kandungmu yang payah, engkau dirutuki soal menjijikkan

Menyusuku dengan darah, lewat perih yang tak henti

Mengasuhku tanpa lelah, lewat bangun yang tak jatuh

“Mamakmu adalah jalang!” Begitu kata orang

Rutuk kutuk tak henti bahkan sejak aku mampu menapak tanah

Tak ada lagi senyum utuh di wajah, hanya sebaris topeng palsu menemani tumbuhku

Kering sudah pancuran air dari kelopak mata, sudah kemarau sejak lama

 

Sejak tak ada puji lagi soal aku yang katanya anak zina

Mamak mengudap hina dalam bejana, menimang cerca, ditatap dengan kasihan merendahkan!

Dalam tubian yang tak mampu terlawan, engkau mendewasa dengan semerbak, pada wangi yang kuhirup sendiri

Engkau merekah dengan megah, lewat laku yang tak sampai diucap kata

Aku membesar dengan sabarmu yang lebar,

Tanpa kembalian, hanya untaian laku yang membuat hinaan terpental malu kemudian

 

Mamak,

Aku enggan payah, menanyaimu macam-macam soal tuduhan

Yang kutau, bersama tetes darah aku lahir dengan susah

Tak terganti, tak terbayar

Mesti tiap jumpa tetangga, engkau mengudap pahit hina, menelan cerca kasihan

Tapi lidahku hanya merasa manis kasih yang tak mati mengalir

Meski dalam pusara, si jalang tetap menjadi julukan!

Namun untukku engkau adalah denyut kehidupan yang tak pernah dihadiri kematian

 

 

 

kupersembahkan puisi ini untuk ibu yang disingkirkan peradaban karena kesalahan. Tetaplah tersenyum jumawa, dan menghidupkan putra putrimu dengan suka. 

Tags: hinaibukeluargamamaksedih
ShareTweetSendShare
Previous Post

Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

Next Post

Keraguan dalam Keyakinan

Fajri Zulia Ramdhani

Fajri Zulia Ramdhani

Penulis ABCD Perempuan, asal Klungkung Bali. Aktif berkhidmat di Santri Mengglobal sebagai Koordinator Bidang Pendidikan dan Penerbitan. Menyukai puisi dan prosa apalagi ditambah segelas kopi pandan janji jiwa.

Artikel Terkait

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Comments 1

  1. Pingback: Di Bandara Boston ke Jenewa dan Puisi Lainnya - Metafor.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Ternak Ilmu(wan)

Ternak Ilmu(wan)

1 December 2020
Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

15 July 2021
Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

31 May 2026
Takbiran Buruh, Hardiknas Ki Hadjar Dewantara dan Lebaran Pascapandemi

Takbiran Buruh, Hardiknas Ki Hadjar Dewantara dan Lebaran Pascapandemi

2 May 2022
Gambar Artikel Cintaku Urusan Orang Lain

Cintaku Urusan Orang Lain

2 November 2020
Gambar Artikel Romantisme Kopi Sachet Angkringan

Romantisme Kopi Sachet Angkringan

11 November 2020
Hujan Musim Kemarau

Hujan Musim Kemarau

25 October 2021

Jalan Sunyi dengan Ribuan Bunyi

24 October 2021
Gambar Artikel Wisata di Tarempa : Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

30 April 2021
Kirsip

Kirsip

10 March 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
  • Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
  • Cik Dian
  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (236)
    • Cerpen (61)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (53)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (17)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.