• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 19 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Cerita Orang Mabuk

Ramli Lahaping by Ramli Lahaping
23 July 2021
in Cerpen
1
Cerita Orang Mabuk

https://www.elisatalentino.it/project/il-venerdi-repubblica-4/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sudah tengah hari. Saman pulang dari kebunnya dengan perasaan kalut. Ia ingin menikah lagi, tetapi hatinya malah jatuh kepada seorang perempuan yang masih bersuami.

Tiba-tiba, di tengah perjalanan, saat ia akan menyeberang sungai, Pardi menyorakinya, “Hai, kemarilah. Aku punya sesuatu untukmu.”

Tanpa pertimbangan, Saman pun melangkah menuju ke rumah kebun Pardi. Ia yakin saja bahwa lelaki humoris itu akan memberikan kejutan yang menyenangkan untuknya. Apalagi, selama ini, mereka memang berteman baik dan memiliki kesenangan yang sama.

Benar saja. Setelah naik ke rumah panggung yang sedikit reyot itu, Saman pun menemukan sebuah jeriken berisi tuak di tengah ruangan. “Wah, asyik ini!” Serunya, antusias, lantas duduk bersila.

Pardi pun tertawa pendek. “Aku ingin menyenangkanmu. Aku tahu, tak ada hari yang menyenangkan untuk seorang lelaki yang telah lama menduda, sepertimu.”

Saman balas tertawa. Tanpa permisi, ia lantas membuka penutup jeriken dan menuangkan tuak ke dalam gelas. Tanpa persilaan, ia lalu meneguk tuak itu. “Sebenarnya, lebih enak menduda begini. Bebas menyukai dan menggoda wanita mana saja,” kilahnya, setengah bercanda.

Pardi pun mendengkus. Ia lantas meletakkan parang dari pinggangnya di samping jeriken tuak, lalu duduk dan membalas selorohan Saman, “Hati-hati menggoda wanita. Kau tahu sendiri, semua wanita punya ayah, atau suami.”

Tiba-tiba, Saman merasa tersinggung. Selain karena ia sedang menyukai seorang wanita yang bersuami, juga karena ia merupakan ayah dari seorang gadis yang ikut dan tumbuh besar bersama mantan istrinya di provinsi lain. Maka demi menyamarkan rasa kekinya, ia tertawa saja, kemudian berketus, “Asalkan tidak ketahuan,” katanya, lalu kembali meneguk tuak.

Seketika pula, Pardi tergelak. “He, jangan macam-macam. Semua rahasia bisa ditutupi dengan baik. Tetapi soal perasaan terselubung kepada lawan jenis, pada akhirnya, akan terbaca juga oleh orang lain, kecuali perasaan itu benar-benar telah sirna sebelum ketahuan.”

Sontak, perasaan Saman menjadi kecut. Ia mulai menduga bahwa Pardi menyinggungnya dengan sengaja.

“Meski aku tidak lagi sedemen dahulu pada istriku, dan hatiku senantiasa tergoda pada wanita yang lebih muda, tetapi aku tak akan rela kalau istriku diganggu pria lain,” terang Pardi, dengan ekpresi wajah yang datar, lantas menenggak tuak dengan buas.

Perlahan-lahan, Saman menjadi khawatir kalau Pardi benar-benar telah membaca rahasia hatinya, bahwa wanita yang ia idam-idamkan, tak lain adalah istri Pardi. Pasalnya, Pardi yang selama ini doyan menggoda para wanita tanpa mengacuhkan perasaan para mahramnya, tiba-tiba saja menjadi peduli pada harkat dan martabat perempuan, termasuk sang istri.

“Siapa pun yang berani mengganggu istriku, pasti akan kuhajar habis-habisan,” tegas Pardi, dengan tatapan yang tajam.

Tak pelak, Saman pun merasa kalau Pardi sudah mengetahui bahwa ia adalah lelaki yang kerap mengirimkan pesan gombalan kepada istri sahabatnya itu, atau meneleponnya dengan kata-kata mesra, dengan menggunakan nomor telepon khusus.

Akhirnya, karena takut, Saman berhenti meneguk tuak di tengah kesadarannya yang mulai kabur. Ia tidak ingin mabuk sempurna, hingga Pardi menghajarnya tanpa ampun. Ia tidak ingin terjadi hal yang fatal pada dirinya karena pergulatan di tengah teler.

Belum lagi, ia merasa harus menjaga sikap dan tindakannya hingga beberapa hari ke depan. Ia harus tampil sebagai sosok yang baik di mata anak gadisnya yang kini tengah berada di rumahnya. Ia tentu tidak ingin anaknya tahu bahwa ia mabuk dan berkelahi karena perkara perempuan. Ia tidak ingin anaknya mendapatkan bukti yang nyata bahwa ia bercerai dengan istrinya karena ia suka mabuk-mabukan dan bermain perempuan.

“He, kenapa berhenti minum?” Sidik Pardi, dengan raut yang tampak setengah sadar. “Ayo, hajar lagi, sampai habis!”

Saman pun menyengir. Ia lalu kembali menuangkan tuak ke dalam gelasnya, kemudian menyesapnya saja.

Pardi lantas tertawa terbahak-bahak. “Begitu dong!” Pujinya, lalu kembali menenggak segelas tuak.

Sejenak berselang, Saman pun meletakkan gelasnya. “Mantap!” Serunya, sambil menampakkan sikap tubuh yang seolah-olah telah kehilangan kewarasan.

Pardi tertawa lagi. “Habiskanlah!” tawarnya, sambil menyorong jeriken tuak. Ia lalu bangkit dan berjalan dengan langkah sempoyongan. Ia lantas menyandarkan tubuhnya di dinding, kemudian menyemprotkan air kencingnya lewat sela-sela papan.

Ketika Pardi tengah berkhidmat dengan hajatnya, dan suara gemercik kencingnya terdengar menghantam dedauanan, Saman pun lekas membuang sisa tuak di dalam jeriken lewat lubang lantai. Ia tak ingin Pardi memaksanya untuk menandaskannya, hingga ia kehilangan kendali atas dirinya.

Sesaat berselang, Pardi kembali duduk di depannya dengan sikap mabuk. “Oh, iya, ada lagi yang ingin aku tunjukkan kepadamu,” katanya, lalu mengusap-usap layar ponselnya. “Ada tawaran yang menarik untuk duda sepertimu.”

Saman pun jadi penasaran.

“Lihatlah, ini hasil intipanku; seorang gadis cantik yang baru kulihat kemarin. Kalau kau mau, untuk kau saja,” tuturnya, sambil memampang layar ponselnya di depan wajah Saman.

Di layar kaca itu, Saman pun melihat anak gadisnya tengah mandi di tepi sungai, tepat di seberang kebun Pardi, dengan sisi-sisi tubuh yang tak seharusnya terlihat oleh pria mana pun.

Seketika juga, dengan kesadaraan yang buram, Saman pun menghantam Pardi dengan bogem mentah.[]

Tags: cerita orang mabukcerpenkeluargaperempuansuami
ShareTweetSendShare
Previous Post

Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

Next Post

Novelet Nirmakna & Pandemicthink

Ramli Lahaping

Ramli Lahaping

Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa disapa melalui Twitter (@ramli_eksepsi).

Artikel Terkait

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Di Teras St. Carolus
Cerpen

Di Teras St. Carolus

4 June 2026

Di teras St. Carolus, kau lihat di seberangmu orang-orang lalu-lalang, terburu-buru seolah detik di esok hari sudah tak tersisa lagi....

Saung
Cerpen

Saung

28 April 2026

Abdul Hadi masih membuka mata di bawah langit yang hitam membiru. Tangannya menyilang, menahan keganasan angin yang turun dari gunung....

Salam Terakhir
Cerpen

Salam Terakhir

8 February 2026

Satu per satu anggota band itu keluar dari studio rekaman dengan wajah lesu. Mereka tak lagi saling menyapa. Masing-masing dari...

Comments 1

  1. mmorpg says:
    5 years ago

    Thanks for the website it is truly an amazing website, thanks for sharing it.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

16 April 2022
Hujan Musim Kemarau

Hujan Musim Kemarau

25 October 2021
Gambar Artikel Bulan yang Lahir dari Penderitaan

Bulan yang Lahir dari Penderitaan

30 December 2020
Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

31 January 2022
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Jempolmu, Harimaumu

2 November 2020
Doa Pengembara

Doa Pengembara

1 July 2022
Lukisan "Frukostdags" karya Hanna Hirsch Pauli

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Novelet Nirmakna & Pandemicthink

Novelet Nirmakna & Pandemicthink

25 July 2021
Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026
Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.