• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 02 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Sekala Niskala

Fajri Zulia Ramdhani by Fajri Zulia Ramdhani
18 April 2022
in Puisi
0
Sekala Niskala

https://unsplash.com/photos/-faTkS8srWc

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Luh, serupa-rupa kematian sama saja antara iraga yang kehilangan raga meski
atma kita berkeliaran sebelum diarak dengan prosesi membawa beya atau
ngabu dalam struktur adat yang kau bayang menyakitkan
leluhurmu yang terlebih dahulu dibara bersama lembu.

Akan iraga gendingkan Luh, dua pertiga pupuh
yang kerap kau senandung dalam banten pagi
petang dihidang. Takut-takut baktimu tak cukup, kamu bertutur
khawatir tak ada yang menerimamu pun saat Mokshatam Atmanam.
Luh, Lontar Sarwa Bebantenan yang terekam
di dada kananmu tertulis sloka: Banten
Pinaka Anda Buana.

 Sang Hyang bersuka memandang Luh ngae banten dengan suka,
mengaturnya rupa-rupa serupa saint-pierre rôti dari 25 rue Mazarine,
75006 dengan kembang warna-warni yang kau tata sekena suasana.

Mari kuajak kau menikmati debur pantai yang didatangi Mads
Johansen Lange di pertengahan 1830. Luh kau bebas
tertawa dengan semilir tak nyinyir dari lambai nyiur.
Kau tak perlu menahan kikik, seperti kau memapar peluh Puspanjali
bersama Mbok Nyoman di sore Sabtu. Kamu terkekeh, bertanya apakah
atma setelah pergimu menuju swah loka dan mencapai moksa?
 Dari isi kepala, ku mengerti Luh merdeka
bagimu serupa kembali Bima untuk melawan Kurawa dari Dewa Ruci yang
menyesap nyaman di relung dadanya. Bahwa perjalanan adalah kembalinya diri
dalam berjuang menyelesaikan.

Luh, jegeg tidak hanya rupawan dalam
visual maya yang diserupai filter warna-warni yang membuat memesona
dengan jumlah love beratus ribu. Ia serupa membijaksanai bumi
singgah, menatanya dengan hijau-hijau daun yang
kau tanam untuk makan dan sembah.

Aku kembali tak memahami Luh sejauh mana karma menggerogoti
serupa cicing yang menjilat di pucuk ruang melahap seperak-dua
perak dari kantong lusuh kusut lapar busung kita yang pasrah? Kita sudah
mati Luh,dua tahun dari juta-juta tamu yang mengisi perut-perut tak
kembali. Kita serupa menari di neraka yang membakar malu- malu kita
meminta-minta belas dari beras yang dipotong jatah?

Luh jika ia serupamu seuprit saja. Memandang bahwa hidup hirup haha
hihi yang dijalankan. Serupa titian yang membawanya jatuh ke tepian jurang. Manu
dalam Sansekerta yang harusnya cerminan, dilahap jadinya menguliti ia menjadi Panca
Klesa.
Lupa diri, asmita dipeluknya dalam dunia, avidya, raga merasuknya.

Raga iluh, memeluk mati tak pernah memilih nyen kembali maluan, dan
menikmati dharma dari bakti. Kembalilah jumawa, memeluk kehilangan menuju moksa
sambil berbekal gamelan dan riuh
Tout Oublier dan Enfance 80. Engkau niskala Luh,
dalam sekala yang dipeluk nir dari amerta.

Isi Koper 
Kamu harus dilipat rapat-rapat, dalam koper hijau sage yang dibeli
sesaat sebelum kepergianku menuju tempat jauh yang belum kutau berakhir kemana.
Kamu adalah yang dipakai dalam banyak agenda rapat-rapat,
hujan berat-berat, atau di kerumunan padat-padat untuk ootd
keseharian yang harus kupamerkan harian di berandaku, agar disukai
banyak pasang mata yang tak berhenti scrolling.
Kamu akan kubawa kemana saja aku ada, meski saat ini aku harus pergi jauh
sekali, berjam-jam melintas di atas udara dengan awan putih ceria atau
butek hitam karena cuaca.
Kamu adalah isi koper yang kukenakan eh kubawa-bawa dalam koper hijau
sage yang kini hancur puing karena dibanting petugas bagasi di simpang tujuan kita pergi

Buku
Aku tidak pandai mengeja baca asing di buku yang kau tulis
dengan perasaan kesal setelah kemarin malam merajuk soal aku
yang terlambat membalas chat.
Bukumu jadi kode-kode rumit yang tak mampu kupecahkan dengan kejap
mata usai dibaca, karena kamu akan bertambah merajuk kalau kubalas sekena.
Biasanya dalam bahagia, kamu akan menulis pesan dengan apa adanya tanpa
prasangka, menyebut dengan ceria mau apa, makan dimana, bahkan apa yang
akan kita lakukan dalam masa depan yang kau rangkai bersamaku semaunya. Aku terima.
Tentu saja semua jadi tak biasa dalam marah yang kau muntahkan dan lebih-lebih saat aku tak paham.
Bagiku kamu adalah buku, yang tak pernah selesai kubaca meski usia kita menua.

Tags: bukukopersekala niskala
ShareTweetSendShare
Previous Post

Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

Next Post

Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

Fajri Zulia Ramdhani

Fajri Zulia Ramdhani

Penulis ABCD Perempuan, asal Klungkung Bali. Aktif berkhidmat di Santri Mengglobal sebagai Koordinator Bidang Pendidikan dan Penerbitan. Menyukai puisi dan prosa apalagi ditambah segelas kopi pandan janji jiwa.

Artikel Terkait

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
Puisi

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026

Aku melihat ayah, di sana Aku melihat ayah pada setiap wanita yang terikat kakinya pada jalan-jalan mereka yang terjal dan...

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Seorang Lelaki dan Sungai

Seorang Lelaki dan Sungai

3 January 2022
Gambar Artikel Berguru pada Sherlock Holmes

Berguru pada Sherlock Holmes

8 December 2020
Gambar Artikel Puisi Tentang Kopi - Setabah Kopi

Setabah Kopi

24 December 2020
Tips Menulis Artikel Ilmiah yang Publishable di Jurnal Nasional Terakreditasi

Tips Menulis Artikel Ilmiah yang Publishable di Jurnal Nasional Terakreditasi

25 March 2022
Salam Forum dan Strategi Dakwah di Medsos

Salam Forum dan Strategi Dakwah di Medsos

4 May 2021
Kelas Merindu

Kelas Merindu

4 January 2022
Warna

Warna

11 May 2023
Ya Afu, Ya Jingan!

Ya Afu, Ya Jingan!

12 July 2021
Revolusi Kurikulum

Revolusi Kurikulum

13 December 2021
Buku Mengajak Bicara dengan Diri Sendiri

Buku Mengajak Bicara dengan Diri Sendiri

17 December 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (233)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (148)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.