• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Solilokui Seorang Koruptor

Puisi-puisi Syukur Budiardjo

Syukur Budiardjo by Syukur Budiardjo
31 January 2021
in Puisi
0
Gambar Artikel Puisi Solilukoi Seorang Koruptor

Sumber Gambar : https://mir-s3-cdn-cf.behance.net/project_modules/source/99995f36351539.5718c35e36903.jpg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Puisi Solilokui Seorang Koruptor


Seorang koruptor yang sedang dijemput malaikat maut.

Bersikap pasrah dengan wajah cemberut.
Karena malaikat maut tak kan bisa disuap.
Meski ia koruptor kelas kakap.

Ketika nyawa masih di tenggorokan.
Ia sampaikan semua keluhan.
Atau barangkali sebuah pembelaan.
Tentang korupsi yang pernah dilakukan.

“Aku pejabat di negeri ini, memang.
Korupsi yang kulakukan tak berbilang.
Ratusan miliar rupiah telah kukemplang.
Demi memuaskan nafsuku yang jalang!”

“Aku tak peduli jalan-jalan menggenang dan berlubang.
Juga jembatan setelah kuresmikan lalu tumbang.
Yang penting hartaku makin menjulang.
Caranya mudah: pencucian uang!”

“Aku selalu lolos dari jerat hukum.
Dan namaku di media kian harum.
Karena aku selalu membagi-bagi hasil korupsi.
Kepada jaksa, hakim, pengacara, dan polisi!”

“Selama ini aparat penegak hukum,
dapat kubuat tak berdaya hingga menjadi maklum.
Kalaupun aku harus dibui,
hitungannya sebentar sekali!”

“Uang hasil korupsi kini telah berpindah.
Kepada mertua, istri siri, adik ipar, atau siapa pun entah.
Hingga perbuatan korupsiku sulit ditelaah.
Lalu aparat penegak hukum kehilangan arah!”

“Sebagai kepala daerah aku memang bersalah.
Karena telah menyelewengkan amanah.
Hingga ketika maut menjelang,
rasa takutku membuncah tak alang kepalang!”

“Pengakuanku ini rupanya sudah terlambat.
Karena aku belum sempat bertobat.

Hingga tenggorokanku kian tersekat.
Karena aku sedang sekarat!”

 

Cibinong, Februari 2020 

 

 

Puisi Orasi Koruptor

Koruptor kelas kakap menyampaikan orasi
Di hadapan mahasiswa dengan berapi-api
Di ruang auditorium sebuah universitas
Berbicara lantang dengan sangat antusias

Koruptor kelas kakap itu adalah pajabat negara
Yang kelihatan elegan, enerjik, dan berwibawa
Ia ketua sebuah partai politik yang flamboyan
Yang berkantor di gedung parlemen Senayan

Di hadapan ratusan pendengar
Ia berorasi tentang integritas yang kekar
Yang nilainya tentu tak bisa lagi ditawar
Hingga kita menjadi manusia yang benar

“Saudara-saudara mahasiswa tercinta,
Kita harus mengamalkan nilai kejujuran!
Karena berlandaskan nilai demikian
Segala rancangan akan menjadi kenyataan.”

(Di dalam hati pejabat negara ini
ia geli dan tertawa sendiri
karena apa yang baru saja diucapkan
hanya sebatas omongan
karena nihil perbuatan)

“Dengan menjunjung tinggi integritas
Kemudian mengamalkannya dalam realitas
Insya Allah kita menjadi insan yang berkualitas
Hingga kita menjadi bangsa yang berkelas!”

(Lagi-lagi ketua partai politik ini
geli dan tertawa dalam hati
karena ucapannya cuma manis di bibir
padahal perbuatannya seperti vampir)

“Saudara-saudara mahasiswa tercinta,
Kita harus menghindari plagiarisma
Hingga kita menghasilkan penelitian berguna
Diwarnai semangat idealisme yang prima!”

 

(Pejabat negara ini masih geli
dan tertawa dalam hati
karena gelar doktor yang disandangnya
dibeli di perguruan tinggi kaki lima)

 

“Saudara-saudara mahasiswa tercinta
Hingga di sini saja tentunya orasi saya
Semoga kita dapat menerapkan nilai kejujuran
Pada banyak aspek dan sendi-sendi kehidupan.”

(Katua partai politik ini lalu turun dari mimbar
dengan mata berbinar-binar
karena aplaus hadirin menggelegar)

Sementara itu, seorang mahasiswa di pojok ruang
Pikirannya menerawang karena diliputi bimbang
Ia berkata sangat lirih, “Munafik!’
Sambil matanya terlihat mendelik

Cibinong, Maret 2020 

 

 

Puisi Biografi Koruptor

Namaku Gemblung Sontoloyo
Lahir di Kota Kentiri Provinsi Mbalelo
Pekerjaan pokokku koruptor kelas utama
Pekerjaan sampinganku pejabat negara

Pendidikan terakhirku strata tiga fakultas hukum
Sebuah universitas luar negeri yang namanya harum
Dengan predikat sangat memuaskan
Membuat semua orang menjadi terkesan

Ayahku petani semata di desa
Sedangkan ibuku mengurus rumah tangga
Kakakku semua perempuan ada lima
Sedangkan adikku semua lelaki jumlahnya tiga

Karena otakku memang encer
Maka prestasi akademikku pun jadi moncer
Kemudian aku mendapat beasiswa
Hingga aku selesai kuliah strata satu dan dua

Beasiswa kuliah di luar negeri akhirnya kuraih
Untuk itu aku belajar dengan gigih
Hanya dua tahun setelah itu kuperoleh gelar doktor
Hingga namaku menjadi kesohor

Aku kemudian bekerja sebagai penegak hukum
Yang membuatku menjadi semakin kreatif
Aku paham segala sesuatu yang berbau fiktif
Lalu segalanya kuselesaikan dengan senyum

Tak peduli dengan gratifikasi dan suap yang telak
Karena tarifnya bisa membuat orang terbelalak
Semua sengketa hukum yang kutangani
Dilalui penggugat dengan lobi-lobi

Ratusan miliar rupiah telah di tangan
Dengan menyalahgunakan kekuasaan
Lalu kusamarkan dan kucuci uang panas itu
Dengan mendirikan perusahaan dikelola keluargaku

 

Istriku tiga karena yang dua istri muda
Semuanya kuberi rumah bagai istana
Itu belum termasuk wanita selingkuhan
Yang selalu kutransferi uang jutaa

 

Hobiku yang dominan adalah memeras
Para politisi atau eksekutif papan atas
Tapi hobi yang paling kusenangi dari segalanya
Adalah bermain drama dan sandiwara

Demikian biografi singkatku
Menjadi koruptor nomor satu
Karena kupelintir hukum pasal demi pasal
Hingga membuatku menjadi terkenal

Cibinong, April  2020 

Tags: korupsikoruptorpencuripenjahat
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menulis sebagai Aktivitas Produksi Pengetahuan

Next Post

Hikayat Jenderal Koruptor

Syukur Budiardjo

Syukur Budiardjo

Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak dan daring. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai  Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Strategi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018). Akun Facebook, Instagram, dan Youtube menggunakan nama Sukur Budiharjo.

Artikel Terkait

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya
Puisi

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025

Hisap Aku hingga Putih bulan merabun serbuk langit bebal pohon dan batu tak bergaris hitam coreng malam yang sumuk punggung...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Homo Digitalis dan Kebutuhan Kita pada Filsafat

Homo Digitalis dan Kebutuhan Kita pada Filsafat

17 January 2022

Temu Buku dan Sesi Bincang Editor di Yogyakarta

10 March 2024
Gambar Artikel Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

11 January 2021
Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025
Ihwal Mawat

Ihwal Mawat

7 February 2021
Akhirnya Aku Mati!

Akhirnya Aku Mati!

17 June 2021
Resolusi Parmin

Resolusi Parmin

6 February 2021
Kalaulah Sebab Langit Tergelar Kembali

Kalaulah Sebab Langit Tergelar Kembali

16 April 2021
Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

27 February 2021
Hadir itu Bukan Kamu

Hadir itu Bukan Kamu

25 August 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.