• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 19 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

Yuditeha by Yuditeha
7 September 2025
in Puisi
0
Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

Sumber Ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal

kau mengikat sepatumu di teras
aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu
di antara kita ada satu simpul
yang tak pernah kita buka
tak pernah kita kuatkan

tiap malam kita duduk
di kursi yang terlalu sempit untuk dua bahu
terlalu luas untuk satu janji

aku menontonmu menyeduh kopi
dengan tangan yang pernah menghapus air mataku
juga menghapus pesan dari perempuan lain

tapi kita tetap tinggal
bukan karena suka
tapi karena telah terlalu lama
menyebut rasa lain dengan nama yang sama

pagi-pagi kau memeriksa pintu
aku memeriksa hati
kita sama-sama menghela
seperti dua ekor kuda
yang tidak tahu siapa penunggangnya

dan malam terus tiba
dengan bau rokok, sabun cuci,
dan sedikit nafsu yang tak jadi ditumpahkan

2025

 

Piring Ketiga di Meja Makan

pada makan malam keempat belas
kau menaruh satu piring tambahan
katamu itu untuk siapa saja yang datang terlambat mencintai

aku tertawa
kau tidak

di piring itu tidak pernah ada makanan
tapi selalu ada sendok
seakan kita menunggu seseorang mengaduk luka

kadang aku duduk di kursi tamu
kau di ruang tengah
dan suara-suara yang tidak pernah disebut
mengisi rumah lebih cepat dari aroma bawang

aku pernah melihatmu bicara pelan di telepon
dengan suara lebih hangat dibanding saat kau menyebut namaku
tapi aku tidak marah karena kau pun tidak marah
saat aku mulai menyebut diriku sebagai orang ketiga

setiap malam kita cuci semua piring
termasuk yang tak dipakai
sembari kita sama-sama bertanya
mengapa pintu lain tidak jadi dibuka

2025

 

Cinta yang Tidak Pernah Mandi

tubuhmu lengket
kau datang dengan peluh dan sisa amarah dari tempat lain
lalu rebah di kasur kita
menghapus dunia dengan bibirku

aku tidak bertanya
kau pun tidak menjelaskan
karena kita tahu ini bukan soal bersih atau kotor
tapi soal siapa masih mau disentuh meski bau

cinta kita tidak pakai parfum
ia datang dengan suara knalpot, bau rendang
dan kuku kaki yang sudah seminggu tidak digunting

tapi aku tetap membuka lengan
karena tidak semua sentuhan perlu diberi alasan
beberapa hanya perlu jujur pada sisa girah yang belum mati

esok pagi kau mandi
aku mengganti sprei
kita akan kembali seperti pasangan suci
yang tidak pernah saling melihat saat telanjang

2025

 

Diam yang Lebih Keras dari Ledakan

kau tidak bicara
aku tidak bicara
hanya kipas angin yang berbunyi sebagai saksi

tadi kita bertengkar
tentang siapa yang harus mencuci piring
padahal sebenarnya kita marah karena hal yang sudah basi
tentang bagaimana aku terus lupa ulang tahun ibumu
dan bagaimana kau masih menyimpan barang-barang mantanmu

diam kita bukan hening
ia punya bentuk
seperti tembok
seperti selimut
seperti email yang tidak dibalas

dalam diam
aku ingin berkata: jangan pergi
tapi mulutku dipenuhi reruntuhan dari kata-kata kemarin

kau ingin berkata: aku lelah
tapi tak ada ruang untuk kejujuran di antara dua orang
yang sudah terlalu banyak menyimpan

kita hanya bisa duduk
seperti patung di museum yang menunggu waktu
untuk menjadikan luka sebagai kenangan yang bisa dijual

2025

 

Yang Tinggal Setelah Tubuhmu Pergi

aku masih menyeduh dua cangkir
walau kau sudah tidak di sini

bukan karena aku belum bisa melupakan
tapi karena meja ini terlalu kosong untuk satu

aku mencuci bajumu
menjemurnya
menyetrika
lalu melipat dan menyimpannya
di tempat yang tak mungkin kau cari

di bawah bantal
masih ada bekas helai rambutmu
yang tak kunjung lepas
meski sudah kuputar posisi tidur berkali-kali

orang-orang bilang aku gila
karena mencium jaket
yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai
tapi mereka tidak tahu
kadang cinta tetap tinggal
bahkan setelah yang dicinta sirna

malam kadang masih membawa bau tubuhmu
dari jendela yang terbuka setengah
dan aku membiarkan
karena tidak semua kehilangan harus dilawan
beberapa cukup ditemani

 

2025

Tags: cintametaforpuisisajaksastrayuditeha
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pemerintah Daerah Tidak Bisa Cari Uang, Rakyat yang Menanggung

Next Post

Dua Jam Sebelum Bekerja

Yuditeha

Yuditeha

Pegiat Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 16 buku. Buku terbarunya Sejarah Nyeri (Kumcer, Marjin Kiri, 2020). Cerpennya berjudul Biografi Luka menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas, 2023. IG: @yuditeha2.

Artikel Terkait

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
Puisi

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026

Aku melihat ayah, di sana Aku melihat ayah pada setiap wanita yang terikat kakinya pada jalan-jalan mereka yang terjal dan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Makanan dan Orang Jawa

Makanan dan Orang Jawa

4 February 2021
Hujan Musim Kemarau

Hujan Musim Kemarau

25 October 2021
Gambar Artikel Bung Karno Di Ende, Remah remah kisah dari ende

Remah-remah Kisah dari Ende

7 January 2021
Cengkraman Lelaki Idaman

Cengkraman Lelaki Idaman

18 January 2022
Mimpi Reyot

Mimpi Reyot

2 July 2021
Gambar Artikel Game yang lagi viral tahun 2021. Higgs Domino. Chip. Spin. Game yang menghasilkan Uang

Game yang Lagi Viral di Tahun 2021

23 April 2021
Narasi tentang Rahmah dan Gaza

Narasi tentang Rahmah dan Gaza

30 May 2021
Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

30 April 2023
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

13 March 2022
Gambar Artikel Pendidikan Virtual : Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

Pendidikan Virtual: Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

20 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.