• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 17 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Yang Mengelucak dari Lembar-Lembar Buku Pepak

Yohan Fikri M by Yohan Fikri M
18 February 2021
in Puisi
0
Yang Mengelucak dari Lembar-Lembar Buku Pepak

https://unsplash.com/photos/nM0gK7-jYaw

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

1.

Dan kenangan, tetiba mengelucak

dari balik lembar-lembar buku pepak

ketika kubaca, dan aku teringat

bagaimana kita dahulu mengisi waktu istirahat.

Kita saling melempar tebakan:

cangkriman, wangsalan, hingga parikan.

Paribasan, bebasan, sampai sanepan.

Tak peduli nanti benar ataukah salah dalam menebak,

toh, mulut kita akan tetap tergelak.

Menertawakan penat dan mentawarkan lelah,

setelah pening menghapal apa yang tercatat

di buku-buku diktat pelajaran sekolah.

 

2.

“Dikethok malah dhuwur!”

Seorang kawan melempar cangkriman

tepat ke pusat ketidaktahuanku,

dan aku tercekat, lantas buru-buru

mencari jawaban yang tepat bagai seorang lanun

gigih memburu harta karun,

dari celah-celah lipatan pulau

hingga sudut laut paling tak terjangkau.

 

3.

Setelah temanku, dan temanku,

dan temanku lagi, tibalah waktuku kini.

Kesempatan barangkali tak ubahnya antrean

panjang sebuah sirkus pertunjukan

dan kita adalah calon penonton

yang kadang sabar-kadang gusar

menanti giliran di tengah antrean panjang mengular.

Seorang portir di ambang pintu

terus berjaga serupa waktu.

Ialah yang akan memeriksa karcis yang kita bawa,

sudahkah kita siap masuk ke dalamnya?

 

4.

“Busuk ketekuk, pinter keblinger!”

Ganti kulempar sebuah paribasan.

Seketika itu, mereka jalma mufassir

yang sibuk menuai tafsir—Wrekodara

yang menyelam ke jeluk dasar samodra

mencari lokan-lokan mutiara

yang terpendam di kedalamannya.

 

Lalu, sembari menunggu mereka

aku dedah bongkah-bongkah petuah,

aku urai nilai-nilai yang terberai,

hingga kutemukan sesanti

sebagai wangi biji-biji buah vanili

terkandung di rahim purwakanthi.

 

5.

“Sing bodho lan sing pinter, pada nemu cilaka!”

Seru mereka, serempak melontarkan jawabannya.

Tetapi, mengapa yang pandai pun sampai celaka?

Bukankah pengetahuan adalah nyala damar,

menara suar, bahkan pijar lintang utara

yang menuntun layar dan cadik kita

kala menyibak laut bersamput lumur gelita?

 

Selepas aku dewasa, dan mulai sedikit gemar membaca

aku mulai menduga, “Mengapa pengetahuan

dapat melahirkan celaka?” Barangkali,

sebab tak digunakan atas dasar rasa cinta.

 

Gading Pesantren, 2020

 

 

Resep Membuat Urap-Urap

 

Beginilah waktu yang selalu kutunggu ketika di rumah, menemani Ibu di dapur, membantunya memasak sembari menceritakan banyak hal yang kualami di perantauan: kesibukan selain kuliah, nilai IPK yang turun, teman yang senang cari muka, sampai yang berangkat waktu ujian saja. Hari ini, Ibu berucap bahwa ia akan membuat urap-urap.

 

Mula-mula, kulihat Ibu menyiapkan bermacam bumbu dan bahan: beberapa lonjor kacang panjang yang rindu kepada ladang, taoge yang simpan tabah tabiat tanah, seuntai daun bayam dan sawi sehijau rona pagi hari, serta kelapa muda yang ciut melihat nyali parut. Sementara cabai rawit, beberapa siung bawang merah dan putih, selembar daun jeruk, kencur, gula dan garam  telah siap ditumbuk sebagai sedap bumbu urap tuk mengharumkan marwah meja makan.

 

Ibu memintaku menyiangi seuntai bayam dan sawi, memotongnya sesuka hati. Sementara ia memarut kelapa dengan hati-hati dan penuh teori. “Untuk membuat urap, kita butuh kelapa yang kasar parutannya. Maka parutlah dengan arah melebar sehingga akan dihasilkan serpihan yang kasar. Segala sesuatu mestilah memakai ilmu, anakku. Orang tak punya ilmu bekerja sesuka hati, orang berilmu bekerja dengan hati-hati.” Aku mengangguk seolah mengerti.

 

Ibu menyuruhku menghaluskan bumbu-bumbu, lalu mencampurnya dengan parutan kelapa. Setelah itu, ia membungkusnya dengan daun pisang, menusuknya dengan sebatang lidi agar saat dikukus tak bedah dan meluber ke mana-mana. “Ilmu pun juga harus punya wadah dan penusuk agar tak bedah, anakku. Umpama ilmu itu bumbu-bumbu, maka wadah dan penusuknya tak lain adalah perangaimu.” Aku mengangguk kembali, seolah mengerti.

 

Sembari menunggu bayam dan sawi matang direbus, bumbu-bumbu dikukus. Tak lama berselang, bayam dan sawi matang. Bumbu menyusul dari belakang. Sayur ditiriskan, bumbu dicampurkan. Ibu bertanya kali kesekian, “Paham kau dengan apa yang Ibu nasehatkan?” Urap-urap sudah jadi, lagi-lagi aku mengangguk pura-pura mengerti.

 

Gading Pesantren, 2020 – 2021

 

 

Tenung

 

Di atas selembar taplak merah: mangkuk kuningan

berisikan air kembang, asap dupa yang meriapkan bulu roma,

buluh lilin bernyala redup, batok kepala, jarum, dan sebuah boneka

menyambut kau yang datang sambil diliput rasa gamang.

 

Entah setan ataukah dirimu sendiri, seperti kau rasa ada

yang berkisik di kedalaman hati, “mati…mati…mati…”

 

Setelah sedikit berkeluh dan berkilah dari batin yang terus mengutukimu

dengan rasa bersalah, dukun itu pun komat-kamit merapal kalimat

dalam bahasa yang rumit dan hanya bisa dipahami

oleh dada yang telah khatam kepada luka.

 

Lalu kau lihat ia mencengkau boneka jerami, dan menusukinya

dengan jarum pentul. Sementara kau bayangkan kekasihmu

yang selingkuh atau kawan dagang yang kaupandang sebagai musuh,

malam itu tengah berdarah, merintih, dan mengaduh.

 

“Jarum itu kau tahu? Tak setajam jenawi. Boneka itu pun benda mati.

Keduanya dapat membunuh sebab digerakkan rasa benci.”

 

Gading Pesantren, 2021

Tags: buku pepaklembarnasehatpengetahuantenungurap-urap
ShareTweetSendShare
Previous Post

Facebook, Penyair, dan Lunatisme

Next Post

Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

Yohan Fikri M

Yohan Fikri M

Mahasiswa di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Langit Malam. Puisinya dimuat di berbagai media dan antologi bersama dan menjuarai berbagai kompetisi menulis puisi. Dapat dihubungi melalui akun instagramnya @yohan_fvckry.

Artikel Terkait

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Ihwal Mawat

Ihwal Mawat

7 February 2021
Gambar Artikel Habis Sudah Setahun

Habis Sudah Setahun

31 December 2020
Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

17 March 2024
Tadabbur via Momentum Hujan

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022
Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 2 (Selesai)

Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 2 (Selesai)

2 April 2024
Retorika Lucu

Retorika Lucu

11 August 2021
Gambar Artikel Cintaku Urusan Orang Lain

Cintaku Urusan Orang Lain

2 November 2020
Indonesia Tidak Punya Filsafat?

Indonesia Tidak Punya Filsafat?

27 April 2021
Sebungkus Sunyi

Sebungkus Sunyi

20 November 2021
Gambar Artikel Gerakan Mosi TIdak Percaya: Sumpah dan Nasionalisme (Tertinggi) Pemuda

Gerakan #MosiTidakPercaya : Sumpah dan Nasionalisme (Tertinggi) Pemuda

5 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.