• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 17 June 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Tentang Kita di Laman Koran Pagi

M Z Billal by M Z Billal
21 March 2021
in Puisi
0
Tentang Kita di Laman Koran Pagi

https://unsplash.com/photos/1mazop8Y1ss

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

pada halaman 3 yang sial

di laman koran pagi,

kudaras kisah tentang kita

yang mahir berakting, gemar menipu,

juga pembunuh yang elegan.

kita tersenyum dan masa bodoh

soal kerusakan dan seberapa banyak

yang mengamuk-membenci.

 

dan orang-orang mulai

melempari kita dengan maki,

kutuk,  dan umpat.

mereka terbakar dan nyala api itu

sudah sampai ke tubuh kita

yang berlumur minyak alam

dan logam-logam mulia

yang mana telah kita curi dari mereka.

tentu saja kita pantas

menerima itu semua.

 

dan sekarang kita adalah patung peringatan

yang benar-benar dihzancurkan

untuk tak perlu lagi diingat.

kita menjelma bahan bakar

alternatif untuk kemarahan yang

semakin memuncak dan sulit

dikendalikan.

 

sebab kita

adalah pengerat

yang baru saja harus berhenti

merobohkan rumah sendiri.

 

Kamar Alegori, Maret 2021

 

Menemukan Orang-orang yang Kau Tinggalkan

satu-satunya alasan pada suatu hari nanti

kau teringat pada orang-orang baik yang kau tinggalkan

jauh di belakang, adalah ketika hatimu yang serupa

jendela kastel megah lapis baja pecah berderai

seperti salju akhir tahun yang beku di utara.

masih berkilauan namun menimbun sepi yang menusuk.

sendiri dan hatimu yang makin tandus oleh kesedihan

tiba-tiba ditumbuhi tanaman asing yang kau sebut sendiri

sebagai bunga-bunga rindu.

 

saat itu kau langsung menghukum diri sendiri.

berhenti menjadi pejuang semu dalam aplikasi peperangan

dan menjauhi tiap-tiap keramaian yang masa bodoh.

kepalamu menggerimis pertanyaan-pertanyaan

yang makin deras, membawamu menyeberangi ingatan

tentang orang-orang yang memilih tetap setia padamu,

tapi kau tinggalkan mereka untuk sebuah alasan yang absurd.

kau memaksa diri memotong kenangan yang justru melukaimu

saat seluruh waktu menolak keberadaanmu dan melemparmu

ke sudut-sudut jauh terabaikan. sampai kau sadar,

kesalahan terburukmu adalah ketidakpedulian, mudah lupa

dan terus berpura-pura.

 

lalu kau pergi ke rumah ibadah, belajar

menjadi orang saleh. menghabiskan sebagian besar

hari-hari dengan membaca sebanyak mungkin kitab

dan mulai peduli pada hal-hal kecil.

tapi entah mengapa padang hatimu masih saja sama

sunyi sementara bunga-bunga dan pohon rindu

kian rindang menjelma rimba belantara yang membuatmu

terlihat semakin tersesat dalam diri sendiri.

 

lewat mesin pencari lantas kau berusaha

menemukan orang-orang baik yang kau tinggalkan.

masihkah mereka berada di sana, mengingat namamu

dengan baik. atau kini kau telah tersisa sebagai masa lalu saja.

kau terus mencari, menulis nama-nama mereka

tanpa henti meski berulang kali menyadari

patah hati betul-betul menyiksa dan perih.

 

Kamar Alegori, Maret 2021

 

Aku Kehilangan Puisi

Aku kian ramai,

berderai

Menjadi repih kata

tapi tak sanggup

mengumpulkan diri jadi puisi.

Membeku di dasar gelas

bersama ampas kopi

para pemimpi.

Di kota yang bertabur

sinar lampu dan aroma jeruk

dan wiski.

Harapan serta-merta menjelma

burung-burung migrasi

yang entah kapan akan kembali.

Ladang-ladang pun telah tumbuh

pula menjadi belukar beton dan besi.

Berita-berita di laman koran

dan televisi juga menambah getir hati.

Sebab kini kita tak lagi

saling rindu dan mengasihi.

Semua telah jadi omong kosong

kian basi.

 

 

Kamar Alegori, Maret 2021

 

 

Tags: koran pagipuisipuisi ditinggalkanpuisi kerinduan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ritus Kesunyian

Next Post

Bebatuan dan Anyir Air

M Z Billal

M Z Billal

Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020) Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Radar Cirebon, Kedaulatan Rakyat, Medan Pos, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, Radar Bekasi, Tanjung Pinang Pos, Bhirawa, Merapi, Cakra Bangsa, Lampung News, ide.ide.id, biem.co, magrib.id, dll. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Kelas Puisi Alit.

Artikel Terkait

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
Puisi

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026

Aku melihat ayah, di sana Aku melihat ayah pada setiap wanita yang terikat kakinya pada jalan-jalan mereka yang terjal dan...

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Puisi untuk Ibu : Mamak dan Kudapan Hina

Mamak dan Kudapan Hina

1 December 2020
Hikayat Seorang Lelaki yang Bersikejar dengan Matahari

Hikayat Seorang Lelaki yang Bersikejar dengan Matahari

16 February 2021
Ketipu Diri Sendiri Saat Bermedsos

Ketipu Diri Sendiri Saat Bermedsos

12 September 2021
Mendikte dan Menyombongi Tuhan

Mendikte dan Menyombongi Tuhan

12 February 2021
Gambar Artikel Rekomendasi Playlist Lagu untuk mensyukuri Galau

Playlist Lagu Untuk ‘Mensyukuri’ Kegalauanmu

16 June 2021
Gambar Artikel Kehutanan yang Maha Hijau

Kehutanan yang Maha Hijau

20 November 2020
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Jempolmu, Harimaumu

2 November 2020
Di Kemanggisan

Di Kemanggisan

22 December 2021
Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

31 January 2022
Multi Peran Guru

Multi Peran Guru

8 March 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (232)
    • Cerpen (59)
    • Puisi (148)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.