• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 17 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Hikayat Seorang Lelaki yang Bersikejar dengan Matahari

Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Yohan Fikri M by Yohan Fikri M
16 February 2021
in Puisi
0
Hikayat Seorang Lelaki yang Bersikejar dengan Matahari

https://unsplash.com/photos/C8HVCiuu8c0

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Hari masih bermandikan gulita dan jalanan Makkah

semasih lelap dalam tidurnya, tetapi lelaki itu sudah berbanjur peluh

menyibak pedut-kabut yang menyaput dingin shubuh

—berkejaran dengan laju matahari.

 

“Siapa yang akan tiba lebih lekas? Langkah kaki yang bergegas

seperti ingin memangkas jarak ataukah lidah matahari

yang nanti julur meninggi setegak tombak?”

 

Bunyi derap terompah yang terburu juga dengus napas

yang menggebu, seakan siratkan damba paling doa:

“Semoga saat nanti kaki ini tiba, masih dapat hamba cegat

laju salat di simpang rakaat pertama.”

 

Namun, di tengah langkahnya yang tergesa, ia malah terhadang

seorang lelaki tua yang berjalan amat lamban sebagai siput memikul cangkang

merambat di pucuk-pucuk batang ilalang, pagi hingga petang.

Maka, diperlambatnyalah langkah kaki sebab ia mengerti

bahwa pada yang tua ia musti takzim sebagai akhlak karim paling intim.

 

Sedang di penghujung rukuk, Allah telah mengutus Jibril

tuk menyampirkan sayapnya di punggung Muhammad, dan Mikail

agar menghalau singsing matahari supaya tak segera terbit meninggi,

“Semua itu demi kau, Ali! Sungguh hanya demi Kau;

sahibunnur dalam hati yang kalis dari takabbur!”

 

Ia terkejut ketika sampai di ambang pintu masjid,

lelaki tua itu tak masuk, dan malah terus berjalan terbungkuk ke arah ufuk.

“Adakah ia tak seiman denganku?” tanyanya kepada matahari

yang tak memberinya sepatah pun jawaban, kecuali

hanya seterik isyarat yang menyuruhnya lekas menyusul rakaat.

 

Gading Pesantren, 2021

  

Hikayat Umar dari Paruh Burung Ushfur

  • Sayidina Umar Radhiyallahu Anhu

 

“Barangkali, selain tulang ekor, yang tak akan musnah dilumat mulut tanah,

adalah cinta. Sebab cinta, tak lain ialah detak jantung agama.”

 

Di gelap singup alam barzakh, Ia barangkali tak lebih dari jenazah,

tertimbun segunduk tanah. Nyali setajam mata sebilah jenawi

kini kilatnya telah raib seakan menjelma pisau majal,

setelah dikafani oleh ketakutan paling putih.

Dan Ia, Sang Singa Padang Pasir itu hanya mampu menggigir

digerinda rasa khawatir bila nanti bernasib naas dihajar Munkar dan Nakir.

 

Syahdan, dahulu, Ia pernah memerdekakan seekor burung mungil

yang malang nasibnya dicencang seorang anak kecil.

Ia sungguh iba —sungguh hanya iba. Karenanya, Ia membeli si burung malang

dengan harga yang cukup lapang untuk mengganti rasa kehilangan di dada anak itu.

Lalu, seraya tersenyum lega, Ia melepasnya agar bebas mengepak

sepasang sayap dan terbang tinggi menembus langit lazuli.

 

“Sadarkah, Kau? Bahwasanya di sela paruh burung ushfur yang kau

selamatkan nasibnya itu, telah tersemat sebiji kurma yang pelepahnya

kelak bakal menaungi tubuhmu ketika di sorga?”

 

Selepas Ia wafat, sebiji sesawi pun tak pernah ia sangka bahwa

amal baik yang hanya secuplik, rupanya telah menyentuh welas Tuhan paling Rahman.

Sehingga Ia selamat dari banat gada malaikat, dan terbang melanglang ke sorga.

Hingga suatu hari, burung itu berkicau merdu dalam mimpi para ulama,

merawiceritakan sirah kesalamatanmu, dan mendendangkan hikayat lewat

tembang kasih sayang dari hatimu, tatkala banyak orang hanya mengingat

nyalang mata pedang serta begar zirah perang bila mengenangmu.

 

Gading Pesantren, 2021

 

Hikayat Sebuah Pelarian

 

Dalam sunyi perut ikan paus, Yunus bin Mata mendengar

denyut jantung ikan yang telah menelannya, seperti berteriak serak

menyumpah-serapahinya. Ia lalu terkenang akan firman Tuhan

yang mengutusnya agar nyalakan pijar lentera,

menyibak gelap-kabut yang telah lama selimuti Nainawa.

 

Namun, Ia merasa tak kuasa —sungguh merasa tak kuasa

bila musti mengemban firman yang kadung disampirkan Tuhan

di tampuk pundaknya. Maka, berlayarlah Ia ke laut,

berharap dengan begitu, terlarung segala kalut dan rasa takut.

 

Tetapi, dari dermaga kota Jaffa menuju Tarsis, langit adalah ular

yang tak henti mendesiskan badai, angit ribut membuat laut

menjelma rambut kusut. Sedang, meski jangkar telah dilempar,

layar telah diturunkan, serta kurban-kurban juga telah dilangitkan,

dendam kesumat badai semasih saja sukar dilerai.

 

“Adakah yang lebih mampu melukai dada Tuhan, selain utusan

yang melarikan diri dari takdirnya?” Dan takdir, satu-satunya yang tak kuasa Ia anulir.

Undian yang dilempar para awak kapal, telah menjatuhkan namanya

sebagai pecundang yang musti dibuang demi selamatkan nyawa penumpang.

 

Masih Ia ingat jelas, maut yang nyaris merajahi seluruh tubuhnya

merupa air yang mengepung seisi rongga dadanya. Tetapi, Tuhan rupanya tak begitu

saja melepasnya. Kini, dalam sunyi perut paus yang menelan nasibnya,

kedua telapak tangannya tertangkup meratapkan doa-doa,

dan setiap air mata yang bercucurun dari matanya, menjelma

sesal paling azali, sehingga langit menyimak trenyuh dan Tuhan pun mengamini.

 

Kini, Ia tersadai di dataran tandus bagai seonggok kapal yang lapuk dipiuh waktu.

Sebatang pohon labu telah ditumbuhkan Tuhan, tambun lagi berair

untuk menyusui nasibnya yang ringkih digerus lapar dan dahaga, serta

kelalaian yang telah menjerumuskan langkahnya. “Kembalilah ke Nainawa, Yunus!

Serukan arah dan perintah kepada mereka yang buta dan tak mengerti

bagaimana kiri dan kanan semestinya dibedakan!” Dan Yunus pun pergi ke Nainawa,

berbekal sebatang tongkat yang terbuat dari firman Tuhannya.

 

Gading Pesantren, 2021

Tags: ali bin abi thalibkisah nabikisah sahabatnabi yunusUmar bin Khattab
ShareTweetSendShare
Previous Post

Surat Terbuka untuk Sunyi

Next Post

Tuntunan Merayakan Bulan Asmara ala Jomblo

Yohan Fikri M

Yohan Fikri M

Mahasiswa di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Langit Malam. Puisinya dimuat di berbagai media dan antologi bersama dan menjuarai berbagai kompetisi menulis puisi. Dapat dihubungi melalui akun instagramnya @yohan_fvckry.

Artikel Terkait

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pulau Semau, Sang Inti Matahari

Pulau Semau, Sang Inti Matahari

15 March 2021
Gambar Artikel Puisi Tentang Pandemi : Puisi-Puisi Fajar Sedayu (Yogyakarta)

Puisi-Puisi Fajar Sedayu (Yogyakarta)

31 October 2020
Sambatan Orang yang Pakai Behel

Sambatan Orang yang Pakai Behel

7 February 2021
Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

24 November 2025
Buron dan Segelas Es Teh

Buron dan Segelas Es Teh

26 March 2022
Gambar Artikel Puisi Tentang Nenek, Buku Buku Ompong dan Lainnya

Buku-buku Ompong

27 January 2021
Gambart Artikel : Analisis Puisi Goenawan Muhammad Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur”

23 April 2021
Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025
Kisah Penjual Jamu dan Hukum yang Aneh

Kisah Penjual Jamu dan Hukum yang Aneh

29 May 2021
Bulan Memancar di Rambutmu

Bulan Memancar di Rambutmu

8 March 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.