• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 25 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial

Alasan Kenapa Self-Love Sulit Dilakukan

Refina Elfariana D. by Refina Elfariana D.
29 October 2021
in Gaya Hidup, Milenial
1
Alasan Kenapa Self-Love Sulit Dilakukan

https://kombinatrotweiss.de/illustrator/andrea-de-santis

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Hari ini mau tidak mau kita selalu dihadapkan pada banyak tuntutan. Standar hidup yang sebenarnya tercipta dari persepsi kita sendiri. Sama halnya dengan istilah self love yang akhir-akhir ini menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak? Self love bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan.

Self love tidak berhenti pada penegasan kalimat “aku mencintai diriku sendiri”, tapi juga menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi ketika dihadapkan banyak hal yang menuntut untuk membenci diri sendiri. Misalnya ketika mendapati kenyataan yang tak sesuai kemauan, kita cenderung merasa menjadi orang gagal dan tidak berharga.

Self love atau mencintai diri sendiri memang tidak sulit jika yang dicintai adalah kelebihan dari diri, tapi akan berbeda kondisinya ketika yang harus kita cintai dan kita terima dengan tulus adalah kekurangan yang ada pada diri kita. Nah, sulit untuk menerima diri sendiri itu sebenarnya terjadi karena beberapa alasan, diantaranya yaitu:

Terlalu Sering Membandingkan

Memang masih manusiawi jika selama ini kita sering membanding-bandingkan sesuatu. Tapi dalam konteks kali ini membandingkan diri sendiri dengan orang lain justru akan jadi masalah baru di hidupmu. Kenapa demikian? Sebab membandingkan diri dengan mereka yang kamu anggap lebih tinggi atau lebih sempurna hanya akan membuatmu terluka. Merasa kurang, kurang dan kurang.

Hal ini lah yang membuat kamu sibuk dan lupa akan hal-hal yang semestinya kamu lakukan. Membandingkan diri akan menjadikan kamu tertinggal dan tidak bisa berkembang. Padahal kamu bisa saja lebih fokus memaksimalkan potensi kelebihan yang telah kamu miliki.

Lupa Bersyukur

Apakah selama ini kita sudah benar-benar bersyukur? Atau hanya terucap di mulut dan tersemat di story WhatsApp? Pernahkah kita sadari jika fokus kita hanya terpusat pada masalah yang ada, dan lupa untuk mencari jalan keluarnya?

Lebih parahnya lagi, kita hampir selalu melibatkan dan menyalahkan takdir hidup yang seolah menjadikan kita sebagai korban dengan tumpukan masalah dan situasi yang tak jenak. Sobat, alangkah lebih baik kita berusaha merenungkan nikmat-nikmat kecil yang setiap harinya hadir di hidup kita–misal: jari kita masih utuh dan bisa makan, hidup masih normal sehingga menghirup napas tidak kesusahan. Dari situ, kita bisa sadar bahwa terkadang penerimaan adalah bentuk syukur yang paling sederhana atas kehidupan.

Menyalahkan Diri Sendiri

Terkadang kalimat “manusia memang tidak lepas dari kesalahan” tidak benar-benar diterapkan banyak orang. Sering kali kita justru terjebak dengan kesalahan masa lalu yang terus menghantui. Ihwal tersebut membuat kita seakan merasa jadi orang yang telah melakukan kesalahan besar dalam hidup.

Harusnya kalimat “manusia memang tidak lepas dari kesalahan” jadi sebuah pengingat dan alarm untuk kita belajar berdamai sekaligus memafkan diri sendiri. Karena dengan menyalahkan diri sendiri, itu akan semakin membuat kita stagnan dan berhenti memperbaiki kualitas hidup. Menyalahkan diri sendiri tidak akan merubah apapun sobat, karena yang harus kita lakukan adalah memaafkan dan menjadikan kesalahan sebagai pelajaran, agar tidak terulang.

Negative Thinking

Dengan mengatakan “ Aku tidak berguna!” “Aku bodoh” pada diri sendiri di batin (self-talk) tanpa disadari akan membentuk keyakinan negatif yang tertanam dalam diri kita. Kalimat-kalimat seperti itu akan menjadi autosugesti negatif yang berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang.

Maka cobalah untuk mengubah kalimat-kalimat yang terkesan sepele itu menjadi kalimat positif yang bisa membangun semangatmu! Seperti mengatakan “Aku berharga!” “Aku bisa!” dan “Aku sudah berusaha!” Dengan mengapresiasi diri seperti itu, minimal itu akan membuat kita merasa lebih baik, melegakan beban dan kesalahan yang mungkin sempat kita buat.

***

Itu dia beberapa penyebab kita sulit menerima kekurangan dan mencintai diri sendiri. Berhentilah untuk terlihat sempurna dengan standar orang lain yang kita jadikan ukuran. Karena itu sama saja dengan mempersilakan luka masuk ke dalam hati kita.

Sampai kapan pun kamu tidak akan benar-benar bisa self love jika hanya menuntut kesempurnaan, bukan mencintai apa yang kamu punya dan apa yang kamu bisa. Percayalah semua orang itu berharga! Punya kelebihan dan kekurangan yang menjadikannya berbeda, dan tidak harus terlihat sama untuk bisa sempurna.

Kini tentukan sendiri apa yang membuatmu bahagia dengan menerima dan mencintai diri sendiri. Kamu akan tau jawabannya!

Tags: alasan kenapa self-love sulit dilakukangaya hidupmilenialpsikologiself love
ShareTweetSendShare
Previous Post

Hujan Musim Kemarau

Next Post

Sebelum Lelap

Refina Elfariana D.

Refina Elfariana D.

Penulis Asal Bojonegoro, Jatim. Sedang menempuh S1 di Ilmu Komunikasi UINSA. Kerap menulis di platform digital. Bisa disapa di IG: @rfn_ed.

Artikel Terkait

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
Kelana

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

12 September 2026

Senin, 10 Agustus 2026, empat diaspora Indonesia di Swiss; LasmaKuhn Sihotang, Susie Lehmann, Krisna Diantha dan saya berziarah ke makam...

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
Kelana

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki

8 August 2026

Akhir Juni 2026 lalu, aku menyeberang dari Swiss ke kota Konstanz di tepi Bodensee, Jerman, untuk bertemu Mohammad Zaim. Sebelumnya...

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
Kelana

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

27 February 2026

Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya:...

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Comments 1

  1. Pingback: Drama Korea Yumi's Cell dan Mencintai Diri - Metafor.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Narasi tentang Rahmah dan Gaza

Narasi tentang Rahmah dan Gaza

30 May 2021
Diam dan Merapal Hujan

Diam dan Merapal Hujan

6 July 2022
Penulis Muda yang Pernah Putus Asa

Penulis Muda yang Pernah Putus Asa

6 April 2022
Gelembung-Gelembung

Gelembung-Gelembung

19 November 2025
Gambar Artikel Puisi Semua Semau

Semua Semau

7 January 2021
https://unsplash.com/photos/g4I_Lq-p4o0

Pengguna VPN Bukan Berarti Pecinta Bokep

14 February 2021
Menyoal Cinta Vs Primbon Weton Jawa

Menyoal Cinta Vs Primbon Weton Jawa

26 July 2021
Vincent van Gogh: Mati atau Mukti?

Vincent van Gogh: Mati atau Mukti?

24 April 2021
Gambar Artikel Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

26 December 2020
Surat Terbuka untuk Sunyi

Surat Terbuka untuk Sunyi

15 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul
  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
  • Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
  • Cik Dian
  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

Kategori

  • Event (16)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (14)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (54)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (18)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.