• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Sebuah Limerick yang Gagal

dan puisi lainnya

Hisyam Billya Al-Wajdi by Hisyam Billya Al-Wajdi
22 March 2022
in Puisi
0
Sebuah Limerick yang Gagal

Sumber gambar: https://fstoppers.com/photo/294615

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

ELEGI

: Buat Dwi Hartini

Menyusup masuk ke ruang tidur laksana teja, dirimu menjelma keping-keping bianglala

Sambil berlalu

Sekuntum bunga, berguguran dari tepi bibirnya

Bersiul sepoi-sepoi angin menanggalkan hamparan lautan, meregang di tiang-tiang jembatan menuju lentera cakrawala, mengisi ruang bintang-bintang

Kemudian menguap melengkung dan lenyap, saat tangismu menyanyi dan rindu ini bertangkai sepi

2022

 

Karena

: Buat Dwi Hartini

Karena aku mencintaimu; maka setiap senja kulukis wajahmu di udara

Sebagai pertanda bagi umat manusia bahwa widodari itu nyata. Pelupuknya mengerjap seperti matahari, desah nafas yang harum itu merangkai kebahagiaan dari satu pulau ke pulau lainnya mengitari dunia. Karena aku mencintaimu maka kusisihkan kabut-kabut itu agar lembah dan tanah menumbuhkan bunga di atasnya, untukmu saja.

Karena aku mencintaimu, maka kupandang wajahmu dengan cinta, meski hanya wajah yang terpantul dari telaga atau bunga mimpi semata

Karena aku mencintaimu, maka kucuri cahaya matahari, karena aku mencintaimu maka nanananana…nanana..na…nanana…nana… karena aku mencintaimu, maka dalam urat darahku mengalir kertap namamu

Karena aku mencintaimu; tak kan kubiarkan riap air mata meleleh darimu barang setetes, biar aku saja yang menampung semua itu, biar aku simpan suara sedih itu di sepi gua, sejauh-jauhnya darimu kekasihku

Di samping daun-daun kemuning yang tanggal, di pinggir telaga yang tenang arusnya. Ku sebut namamu dengan suara yang penuh rindu

Karena aku mencintaimu, manisku, dengan cuaca berwarna biru

2022

 

Sebuah Limerick yang Gagal

: Buat Dwi Hartini

Di depan hujan yang tak tidur dan butiran sajak yang terus meleleh

Menjadi gurindam, atau peribahasa yang mengalirkan air mata

Seseorang mencintai perempuan itu secara tak lazim. Ketika perempuan itu hendak menuju samudera

Dalam sedu-senda cuaca.

Tiba-tiba cinta dan rindu berhimpitan. Malam menjadi prisma yang susut; angin kisut

Enam belas jam kemudian tak ada obor yang menyala. Perempuan itu menangis, lalu kapas-kapas cahaya mengusap pipinya.

2022

 

Kau Mendengar Bunga-Bunga

: Buat Dwi Hartini

Kau mendengar bunga-bunga dari malam yang sunyi

Juga selaksa nada yang menyusuri kegelapan hati

Langit itu menderu. Seperti lonceng di depan ruang tunggu. Adakah opera akan segera tersingkap tirainya?

Dari perasaan kita. Ada sayup-sayup kedengar. Langit memoles bintang-bintang, malam menjadi requiem yang paling purba

Kau sendirian merapal doa kemudian menerbangkannya bersama peri-peri kecil ke rembulan yang jenuh akan kefanaan

Kau sendirian, satu per satu daun menemui kematian. Musim gugur tiba-tiba singgah masuk ke hati kita, mungkin juga mereka

Ada sepasang laron bergelayutan mencari pesanggrahan abadi, kau sendiri

2022

 

Sajak-Sajak Tua

: Buat Dwi Hartini

Kita saling memandu, angin yang tiba-tiba melarung sepi sebelum menjulang ke atas matahari. Kita saling berdekatan menyaring kata-kata juga bunyi.

Ada hutan yang harus kita tinggali

Ada laut yang musti kita sebrangi

Dan aku senantiasa menepi, dari riak-riak udara panas atau kota yang tumbuh di dalam orkestra rahasia. Ketika hujan tiba kau menjelma sajak-sajak tua.

2022

Tags: puisisajaksastraSebuah Limerick yang Gagal
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

Next Post

8 Film Dokumenter yang Akan Membuatmu Lebih Sadar Isu Lingkungan

Hisyam Billya Al-Wajdi

Hisyam Billya Al-Wajdi

Penulis lahir di Bantul, Yogyakarta. Pada 11 Februari 2002. Saat ini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Prodi Aqidah Filsafat Islam. Puisinya dimuat beberapa media  dan antologi bersama. Selain berkecimpung di dunia kampus, penulis juga menyibukkan diri mengelola kebun di halaman belakang rumah. Penulis menetap di Bantul,Yogyakarta.

Artikel Terkait

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya
Puisi

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025

Hisap Aku hingga Putih bulan merabun serbuk langit bebal pohon dan batu tak bergaris hitam coreng malam yang sumuk punggung...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Pecel Lele Batas Kota

Pecel Lele Batas Kota

8 November 2020
Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

25 November 2021
Cerpenis Itu Bernama Raa

Cerpenis Itu Bernama Raa

15 September 2021
Gambar Artikel Keyakinan

Keyakinan

3 November 2020
Kalporina

Kalporina

18 June 2021
Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025
Gambar Artikel Gerakan Mosi TIdak Percaya: Sumpah dan Nasionalisme (Tertinggi) Pemuda

Gerakan #MosiTidakPercaya : Sumpah dan Nasionalisme (Tertinggi) Pemuda

5 November 2020
Gambar Artikel Jangan Berharap! Teruslah Meratap

Jangan Berharap! Teruslah Meratap

10 November 2020
Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

21 June 2021
Sebelum Lelap

Sebelum Lelap

29 October 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.