• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 17 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Rindu Bersaung di Senaru

Eny Sukreni by Eny Sukreni
10 March 2021
in Puisi
0
Rindu Bersaung di Senaru

https://unsplash.com/photos/c0rIh0nFTFU

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

semilir menerpa iba tengkukku

sebab rinduku bersaung di Senaru

gugusan tangga menggamit ingatan

kebyarkebyar serupa kembang api

meletupletup bayang kudus air terjun

 

akankah kujumpai tempiasnya,

pada daun kembang kertas di halaman

atau barangkali dedurinya adalah kerikil tajam

yang menancap di tumitku

 

namun pagi tak selembut rinduku

yang dirajut dengan sayap kupukupu

bersilangsilangan serupa jala, melintang

sepanjang cakrawala

lalu berguguran di bawah jendela

 

Seutas Darah dari Ibu

seutas darah dari Ibu

kutemukan di tanah itu

tanah yang berbau silam

dan kampungkampung yang tenggelam

 

wanitawanita burung hutan

berlompatan seperti bekantan,

pada tanah yang basah

ketika matahari belum sampai

 

wangi nira dan kemitir,

mengalir bergilir

siapakah yang melinting embun

jadi kabut hijau

dan koyak dilintasi bocahbocah

yang senantiasa menawar dongeng

pada tanah yang diwakafkan

 

Lantaran Aku Mengenangmu

lantaran aku mengenangmu

lampulampu jadi bisu

gelas kaca dan empedu

beradu dalam mata dadu

 

celingus kucing membawa isyarat

kegelian waktu, menoreh kisah batu

tercentang dalam peradaban yang dingin-kaku

 

tahuntahun yang berguguran

tahuntahun yang terbingkai krisan

tak jua bergegas dari lingkaran

tanah yang merah padam

sehabis terbakar awan

 

lantaran aku mengenangmu

doadoa tak berkepala

mengkristalkan sisa asap pembakaran

lalu moksa dari ketakabadian

 

Doa Seekor Sepat

doa seekor sepat, merembes di bebatuan

menadah hujan mirah dari langit

tak bermuka, digilas lelaki pengumpat

dan doanya menjadi kecut

sekecut sumur tua

dimana anak labalaba bersuka

 

hatinya kerap dihunus

di persimpangan kota

matanya

yang buta

mengapungapung telanjang

sembari bermimpi basah

menikahi putri tanah

Tags: mengenangpuisipuisi kenanganpuisi kerinduan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bulan Memancar di Rambutmu

Next Post

Kirsip

Eny Sukreni

Eny Sukreni

Lahir di Pemenang, Lombok Utara, 24 Agustus 1987. Menyelesaikan studi pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni STKIP (kini Universitas) Hamzanwadi. Puisi-puisinya  antara lain terbit di surat kabar Media Indonesia, Indo Pos, Riau Pos, Banjarmasin Pos, Sumut Pos dan Suara NTB, selain juga tersimpan dalam beberapa buku antologi bersama.

Artikel Terkait

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
Puisi

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya

13 October 2026

Kebiasaan Masa Kecil masa kecil tak ingin kubayangkan lagi, menyesak tak berpihak membuatku terus-menerus terpencil sebagai anak kecil --hanya sebagai...

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Matinya Ratu Adil?

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026
Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026
Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

25 November 2021
Gambar Artikel Metafora Mutualisme

Metafora Mutualisme

8 November 2020
Pemberdayaan Perempuan sebagai Pemangku Peradaban

Pemberdayaan Perempuan sebagai Pemangku Peradaban

10 April 2022
Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Penjual Susu dan Puisi Lainnya

2 June 2024
Gambar Artikel Puisi Semua Semau

Semua Semau

7 January 2021
Perempuan yang Menghapus Namanya

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025
Tadabbur via Momentum Hujan

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022
Gambar Artikel Sali dan Suli.

Sali dan Suli

6 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.