• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Pelabuhan Terakhir dan Puisi Buatmu

Puisi-Puisi Henny Purnawati

Henny Purnawati by Henny Purnawati
27 July 2021
in Puisi
1
Pelabuhan Terakhir dan Puisi Buatmu

https://www.artisticmoods.com/elisa-talentino/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

LELAKI YANG MEMAINKAN GITAR

aku lagi jatuh cinta
pada seorang lelaki yang memainkan gitar
denting suara gitarmu
perlahan menyelinap
mengisi ruang hampa dalam batinku
menembus sudut terdalam yang tak terjangkau
lenyapkan nelangsa relung sukmaku

aku lagi jatuh cinta
pada seoarang lelaki yang memainkan gitar

denting suara gitarmu
kau petik dengan perlahan
nyanyikan serenande cinta yang merdu
entah untuk siapa

lelaki yang memainkan gitar
bantu aku wujudkan
keinginanku yang tak pernah terwujud
meski hanya lewat petikkan gitarmu

 

PELABUHAN  TERAKHIR

di pelabuhan kecil ini
aku mendekap sunyi
di antara tali temali yang teronggok bisu
tiang kapal rapuh  perlahan berayun
sebentar lagi hiruk pikuk
lalu lalang akan berakhir

kapal terakhir telah tertambat
satu per satu terpal selesai ditutup
jala-jala terpasang rapi
tali-tali lasing ditarik
diikat hingga ke ujung

burung camar terbang menjauh
langit berubah warna
siluet jingga menampakkan dirinya
kerlip lampu kapal mulai terlihat
senja membawa hening

pelabuhan kecil ini
pelabuhan terakhir
tempatku menghentikan pencarian
ada kelegaan datang menjemput
ketika tersadar semua tentangmu adalah kesia-siaan

 

PUISI BUATMU

puisi buatmu
hanyalah rangkaian kata bersahaja
kutulis dengan bahasa sederhana
tanpa diksi dan faksi yang rumit
sehingga bisa kau pahami
dengan mudahnya
puisiku hanyalah ungkapan sederhana
tentang rasa yang kita punya

puisi buatmu
adalah catatan kecil yang tercecer
dari sebuah perjalanan bersama
kucoba rangkai
dalam sebuah aksara sederhana
sebagai kenangan
tentang rasa milik kita

Tags: Pelabuhan Terakhir dan Puisi Buatmupuisisajak
ShareTweetSendShare
Previous Post

Violinis Caitlin

Next Post

Fenomena #MacanTernak

Henny Purnawati

Henny Purnawati

Lahir di Pontianak. Membaca, menulis dan seni kreatif lainnya adalah hobinya sejak kecil. Menikah dan memiliki 3 orang anak, berkarir di swasta dan menulis di sela waktu luang. Saat ini bergabung dengan Forum Lingkar Pena Kalimantan Barat. Beberapa karya ; Antalogi Cerpen Pertama Tahun 2015, 5 Antalogi Puisi dan 12 Antalogi Cerpen bersama Azkiya Publishing, Aktif menulis Puisi dan Cerpen di Ruang Apresiasi Koran Pontianak Post. Email: purnawatihenny1@gmail.com

Artikel Terkait

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya
Puisi

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025

Hisap Aku hingga Putih bulan merabun serbuk langit bebal pohon dan batu tak bergaris hitam coreng malam yang sumuk punggung...

Comments 1

  1. Maman Suparman says:
    4 years ago

    Puisi yang indah

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Puisi-Puisi Kema Ferri Rahman

Puisi-Puisi Kemas Ferri Rahman

5 November 2020
Going Ohara #2: Ketika One Piece Menjelma Ruang Serius Ilmu Pengetahuan

Going Ohara #2: Ketika One Piece Menjelma Ruang Serius Ilmu Pengetahuan

29 July 2025
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
Pergi

Pergi

25 March 2021
Revolusi Kurikulum

Revolusi Kurikulum

13 December 2021
Soledad

Soledad

7 September 2021
Diam dan Merapal Hujan

Diam dan Merapal Hujan

6 July 2022
Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

17 March 2024
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Jempolmu, Harimaumu

2 November 2020
Anna Maria

Anna Maria

20 September 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.