• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Kucing Liar

Zeky Effendy by Zeky Effendy
18 November 2020
in Cerpen
0
Gambar Artikel Kucing Liar

Sumber Gambar: https://www.behance.net/gallery/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Malam itu, aku berniat ngopi menyapa bintang dan bulan yang sunyi.  Sesap demi sesap kopi perlahan membasahi mulutku yang gersang. Tiba-tiba terdengar seret sandal si Pak Tua menggugurkan kesunyianku.

“Le… Sendiri saja?” Basa basi Pak Tua membuka pembicaraan.

“Iya, Pak. Ini lagi nyantai sambil ngopi.” Timpaku padanya.

“Ya, beginilah hidup, Le. Hakikatnya semua orang itu sendiri meskipun dalam keramaian.” Ujar si Pak Tua.

“Sendiri, maksudnya gimana, Pak?” Tanyaku heran mendengar kata-katanya.

“Ya sendiri. Kita menghadapi masalah sendiri, mati sendiri, ditanya malaikat nanti juga sendiri, semuanya sendiri.”

“Owh…“ singkat jawabku. Pikirku beliau akan mengakhiri pembicaraan, nyatanya tidak. Pak Tua itu malah semakin birahi dalam membubarkan kesunyianku.

“Aku dulu tak seperti dirimu, Le. Aku dulu hidup di mana orang-orang banyak membenci tempat itu. Aku hidup di bagian gelapnya kehidupan yang di dalamnya berisikan kebahagiaan-kebahagiaan sementara. Obat-obatan jadi teman, alkohol jadi pelarian.”

Aku jadi tertarik untuk menyusuri lebih dalam lagi tentang pengalaman beliau, tapi dalam hati bergumam, “Yah sial.. gugur lagi niatku, tapi tak apalah mungkin beliau diutus oleh Tuhan untuk menemaniku malam ini.”

“Terus,  bagaimana Bapak lari dari kehidupan itu?” Tanyaku sembari menyulut rokok yang telah kurajut ketika mendengarkan cerita beliau tadi.

“Pada suatu hari, aku sedang berada di dalam diskotik dan tiba-tiba ayah yang berada di kampung menelponku kala itu.  Namun karena di dalam diskotik sedang ramai, akhirnya aku hanya menjanjikan akan menelpon balik nanti. Tapi, karena efek kimia, jadinya dua hari aku lupa pada janjiku sendiri. Ayahku marah-marah padaku, beliau tahu bahwa aku hidup hura-hura di sini. Ayahku menangis, aku pun juga menangis. Dari kejadian itu, aku sadar dan perlahan lari dari kehidupanku yang kelam.” Setelah curhatan beliau, keadaan hening sejenak. Sebelum akhirnya seekor kucing melintas dan beliau berkata-kata lagi.

“Lihatlah, seekor kucing itu enak sekali hidupnya. Makan,  tidur, kawin begitu saja.”

Kata-kata beliau menyebabkan bising di kepalaku, seperti diadakannya pergelaran gladiator di Colosseum Roma.

“Tapi Pak, apakah seekor kucing itu tidak mempunyai akal pikiran?”

“Iya…“ sambil beliau sesap kopi hitam bercampur kepekatan malam kala itu.

“Jika benar kucing tak punya akal pikiran, berarti kucing tak tahu bahwa dia seekor kucing?”

“Nah…. Di sanalah kuasa Tuhan, Le. Semua tentang hewan dari yang besar sampai yang kecil sudah diatur oleh Tuhan, jadi tak perlu akal pikiran.”

Aku semakin heran, “Mengapa manusia tak begitu juga, Pak?”

“Kamu ini harusnya bersyukur, Le, manusia sudah dikasih akal pikiran. Jadi,  manusia bisa memilih hidupnya sendiri .” Timpalnya.

Oke, kali ini aku agak setuju dengan tutur kata beliau. Meskipun sebenarnya aku kurang puas dengan jawaban simple yang beliau tuturkan. Aku ingin menyusup lebih dalam lagi sampai tak ada manusia yang bisa yang bisa menolongku.

“Ya sudah, malam sudah semakin malam. Tak usah terlalu dipikir, anak muda. Tidurlah, rawat badanmu agar tak cepat penyakitan, hehe. Aku pamit dulu dari pengadilan ini.”

Dalam hati mendesis, “Tidak. Aku ingin hancur saja, daripada harus tertimpa lebih banyak lagi pertanyaan-pertanyaaan yang tiada akhir.”

Malam semakin malam, bintang tetap setia pada bulannya. Begitu juga aku, yang setia pada sunyiku sendiri. Tak sadar,  kopi di sampingku telah dihabiskan oleh Pak Tua itu.

“Bajigur! Terhipnotis aku oleh kata-katanya.”

Akhirnya, aku beranjak dari gubuk tua dengan menggendong sekepal pertanyaan-pertanyaan tentang kucing liar di bahuku. Tapi, tak berakhir di situ. Keesokan harinya, di saat mentari baru saja menampakkan wajahnya pada dunia, aku bergegas bertanya pada kawanku untuk meluapkan rasa ketidakpuasan atas jawaban Pak Tua semalam.

“Selamat pagi, Guru (panghilan mesraku padanya).  Aku semalam bicara banyak dengan Pak Tua yang pernah kubicarakan padamu. Aku bertanya padamu kini, engkau pasti tahu bahwa kucing tak punya akal pikiran. Nah, jika benar kucing tak memiliki akal pikiran, berarti kucing tak tahu bahwa dirinya kucing?” Rasa cemas, sebab pesan tak cepat dibalas olehnya.

Tak lama kemudian, “Selamat pagi, pertanyaanmu membuatku lapar.” Kata kawanku, “Sebentar… jika kucing sadar bahwa dia seekor kucing, apakah mereka akan demo. Sebab, tak sedikit dari kaum mereka yang diperjualbelikan?”

Kupikir-pikir benar juga.  Ia melanjutkan, “Bukan kucing saja, anjing juga akan berkonsolidasi dan melakukan aksi mendemo manusia. Sebab, setiap nama mereka (anjing) selalu dijadikan umpatan dan disumpah-serapahi. Padahal mereka tak salah.”

“Tapi, dengan bahasa apa nantinya mereka meyuarakan haknya?” Seperti pepatah, “Darah dibalas darah. Maka, pertanyaan dibalas pertanyaan.“ Gurauku padanya.

“Jika mereka bisa demo atas kesadaran dan penggunaan akalnya, tentu sebelumnya mereka menyepakati apa-apa yang kemudian terbentuklah bahasanya sendiri.” Ujarnya.

“Tapi,  ngomong-ngomong tentang hewan, kehidupan ini sangat lucu. Bagaimana tidak, singa yang makannya hanya daging saja sudah disebut buas. Tapi, manusia yang memakan segala hak sesamanya masih dibilang cipataan paling sempurna.”

Aku pusing dan tak mau melanjutkan lebih jauh lagi. Kupilih menjerang air dan menyeduh kopi, lantas terpekur menyesapi kesunyianku kembali.

Tags: akalbinatangcerpenkegelisahankucingkucing liarmanusiaperenungansunyi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Orbital Dago: Ragam Pengalaman di Satu Tempat

Next Post

Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

Zeky Effendy

Zeky Effendy

Pemuda yang hobi ngopi. Tinggal di Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

16 September 2026

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan...

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Cik Dian
Cerpen

Cik Dian

4 August 2026

Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik. “Paling tidak dia pasti manis,”...

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Di Teras St. Carolus

Di Teras St. Carolus

4 June 2026
Gambar Artikel Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

19 November 2020
Gambar Artikel Mengapa Jamie Vardy Layak Jadi Guru Untuk Kaum Pekerja?

Mengapa Jamie Vardy Layak Jadi Guru untuk Kaum Pekerja?

20 November 2020
Berteman dengan Kegagalan

Berteman dengan Kegagalan

7 May 2022
Melawan Tirani Kebahagiaan

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026
Gambar Artikel Mandiri Jalur Indomie

Mandiri Jalur Indomie

2 November 2020
Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022
Di Sepanjang Jarak antara Sepasang Kekasih

Di Sepanjang Jarak antara Sepasang Kekasih

13 July 2021
Gambar Artikel Pendidikan Virtual : Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

Pendidikan Virtual: Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

20 November 2020
Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.