Puisi Munajat dari Atas Kasur
Sayup terdengar suara desahan di balik hujan
Dua selangkangan yang kontradiksi sedang beradu kecepatan
Yang terbaring pasrah, mendesah, dihunjam gairah
Aktivis berahi para lelaki keji
Lonte! Doa pasrah di balik payudaramu yang kenyal
Terdengar lantang di balik penis lelaki yang membual
Di sela desahmu, munajatmu berjalan menyusun aksara:
Tuhan, vaginaku tak lagi setia
Bibir ranumku penuh dengan aksara ‘uh’ dan ‘ah’ belaka
Payudaraku tersusun dari jemari kotor pria
Rasanya pedih
Habis sudah peluh untuk merintih
Sperma para pria masuk di rahimku yang telah mendidih
Tak hanya hati dan harga diri
Vagina turut serta dahaga akan gombalan palsu
Dari segala pelangganku
Hanya Engkau, Tuhan tempat mengadu
Hanya Engkau, yang setiap saat menggunakanku sebagai wayang
Kemudian membayarku dengan setiap hembusan nafas
Yang memberiku segala nikmat
Tapi aku sudah menjadi jalang yang laknat
Masih adakah pintu kamar yang senyap dari dosaku yang selaksa kuadrat?
Yang setiap malam hanya ada desahan, kenikmatan sepihak, lalu uang bayaran untuk makanku esok hari
Tuhan, aku ingin masuk ke kamar bersama-Mu
Di atas ranjang, kita bercinta layaknya pengantin baru
Aku mengangkat tangan, Engkau julurkan tangan
Hingga pada akhirnya, aku orgasme dalam keabadian-Mu
Yogyakarta, 2020
–
Pelacur Berjumpa Tuhan
Kumandang adzan telah berlabuh di telinga
Pinggiran jalan yang berisik adalah sesuatu asyik
bagi psikisku yang sedang terusik
Seorang tua tiba menatapku dengan bibir membentuk rembulan sabit, “Nak, beri aku api untuk menyalakan rokokku, agar aku kembali merasakan hasrat merindu.“
Setelah tuntas nyala bara pada rokonya, seorang tua itu berkata, “Aku menyusuri lorong berahi sejak purba; sejak payudaraku merekah; sejak vaginaku baru saja merutinkan luapan darah.”
Semakin lama, semakin merah matanya. Mata yang tabah; mata yang pasrah; mata yang menelan amarah.
“Aku tidak menyalahkan hidup atas kejalanganku. Aku tidak menyumpah-serapahi orang tua atas keterlemparanku. Dan aku tidak menumpuk dendam atas orang yang me-neraka-kanku.“
“Perlu kau ingat, Nak. Tuhan itu Maha Welas Asih. Tuhan itu Maha Adil. Dalam setiap desah, aku melihat Tuhan di mata orang yang bergairah; dalam setiap penetrasi, aku melihat Tuhan meraba ruang hati; dalam setiap tuduhan, aku melihat Tuhan bersembunyi di balik umpatan.”
“Tuhan selalu ada di setiap pori-pori kulitku, Nak. Bahkan Tuhan selalu nampak di balik indah payudaraku kini. Tak ada yang tak diikuti Tuhan. Entah berdosa dan tercela, aku adalah pendosa yang berteduh bersama doa.“
Seorang tua itu kemudian lenyap ke dalam nganga mulutku. Aku larut dalam lamunan panjang, hingga seorang satpam mengingatkan, “Heh! Bangun…. Tidur di rumah! Bukan di trotoar..”
Malioboro, 2021
–
Aktivis Ranjang
Batang demi batang rokok terhisap
Yang dinanti tak kunjung datang
Sejak sore hari telah bersiap
Menjaja tubuh demi makan esok siang
“Beginilah aku,” gumamnya.
“Seorang aktivis di atas kasur
Panggil saja aku lacur
Meski dianggap hancur
Aku masih punya jiwa yang tak akan luntur
Wajahku penuh dengan pupur
Selangkanganku setiap hari terbentur
Malam bekerja, pagi baru tidur
Semua memang sudah teratur
Sejak aku masih bau kencur”
Tapi, bukankah keteraturan merupakan sebuah ketidakaturan itu sendiri?
Bukankah kebenaran adalah ketidakbenaran itu sendiri?
Bukankah kehinaan adalah ketidakhinaan itu sendiri? Dan
keterlenaan adalah ketidakterlenaan itu sendiri?
Entah apapun itu, hidupmu-hidupku adalah ketidakhidupan itu sendiri
Malioboro, 2021
Comments 1