• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 06 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Suaka Rasa dan Derita

Miftahul Huda by Miftahul Huda
12 February 2021
in Cerpen
0
Suaka Rasa dan Derita

https://unsplash.com/photos/pwoTQl2xuM8

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

“… Sore ini kita berangkat menuju Kebonharjo, bermalam di sana bersama warga. Kabarnya dua hari lagi penggusuran dilangsungkan … dan nanti malam kita persiapkan Panggung Rakyat,” seru Bagja dengan mata merah-melotot dan disapa anggukan seisi forum Perisai Laut. Nampaknya ia belum merebahkan mata semalam suntuk.

Konflik ini kian mendidih antara warga dengan PT KAI. Perusahaan itu sungguh merepotkan sekaligus meresahkan. Mereka menyerobot tanah warga demi meniupkan jiwa pada ribuan batang rel dari Stasiun Tawang ke Pelabuhan Tanjung Mas. Sedangkan warga, garis hidupnya kian tersudut di ujung Laut Utara. Asin nasibnya, hilang rumahnya.

Ketika disaksikan dari atas, siapa pun akan menyangka Kebonharjo adalah anak tiri yang didera seribu cambukan setiap harinya. Suasana kumuh dan penuh lubang jalan bersebelahan dengan Kota Lama di Selatannya yang terus dirias bak anak kesayangan. Mungkin Pemerintah Kota mengidamkan suasana Kota Tua di Jakarta atau Malioboro di Yogyakarta. Dan, “Voila! Semarang punya Kota Lama,” kira-kira begitu ucap Pemerintah Kota yang sok asik.

Tapi hari ini, saat terik mencium ubun-ubun para buruh Jamu Nyonya Meneer, aku mendakwa Bagja melakukan kesalahan: menunjuk aku sebagai penanggungjawab Panggung Rakyat.

“Kau sudah teruji,” tutur Bagja singkat sambil menepuk pundakku dua kali setelah aku mengajukan dalih keberatan atas penunjukkanku. Kemudian ia lenyap seperti tahi di aliran deras.

Rajutan kata itu: sudah teruji, memang khas Bagja. Tapi tetap saja tidak sebanding dengan alasan canggihku kali ini. Seharusnya ia bertanya gerangan apa yang membelokkan garis hidupku. Ah, itu harapan yang sia-sia. Ia tak ‘kan pernah memahami bahwa letupan konflik asmara lebih menderita daripada konflik agraria.

***

“Kar … Karsa!” Aku tidak asing dengan lafal yang memanah gendang telingaku itu. Oh ya, nama—maksudku—aliasku.

Sebenarnya aku agak sebal mendapat alias tersebut. Mereka mengandaikan aku seperti Wilsukarsana. Sosok dari bangsa raksasa yang mampu berubah bentuk apa pun, dan bertugas memata-matai rencana musuh. Ya, mereka tidak keliru, aku memang selalu lolos dari buntutan intel dan taktis di lapangan; tapi toh aku tidak bisa lolos dari jilatan api cemburu kekasihku.

“Sudah ada tiga jaringan yang konfirmasi akan menampilkan teater dan empat orang membacakan puisi malam nanti,” ucap seorang seperti buruh kesiangan.

“Oh, oke. Kabari saja jika ada kendala,” jawabku dengan sedikit mengerling tanpa menoleh. Tapi cangkir kopi di genggamanku tak bisa diam saja, ia memantulkan gelisah tanpa persetujuanku.

“Kau baik-baik saja?” Si Buruh Kesiangan tadi tiba-tiba muncul di hadapanku.

Arunika ….

Bidang wajahnya berkerumun keringat sebiji jagung. Menggelinding dari kening menuju gelombang hidung aquiline-nya. Dan tanpa dosa, keringat laknat itu menjatuhkan diri ke permukaan bibir. Rasanya ingin sekali aku dikutuk menjadi sebiji keringat.

“Sangat baik … hanya ada sedikit masalah,” jawabku rada kikuk.

“Paradoks!” sergah Arunika sembari menggeser kursi di depanku lalu mendudukinya. “Ada masalah? … Jangan sampai jadi pengganjal nanti malam,” Ia menyatukan alisnya.

“Ya. Ada.”

“Nah …” ia menyeringai. Aku ingin memiliki satu seringai seperti itu. “… kenapa tidak kau ceritakan?” tanyanya yang mengandung perintah.

Aih, Arunika! Kau pura-pura tidak tahu atau memang polos? Kau mengimitasi watak Bagja yang tuna-asmara itu. Kau harus tahu bahwa, kau terlibat di dalam konflik asmara antara aku dan Sofiya—kekasihku, juga teman karibmu.

Baiklah, ini mungkin terdengar tiba-tiba. Tapi semua ada awalnya.

Tentu kau masih ingat ketika kita menemui Budi Sekoriyanto*—kuasa hukum warga Kebonharjo—untuk membantu advokasi isu penggusuran, dari mem-blow up ke media hingga mengorganisir massa. Sejak saat itu kita seperti orang penting yang terus menerima pesan dari nomor tanpa nama; sedangkan Sofiya selalu menabung api cemburunya di ujung bibir hingga menggunung.

Pun kini, kita masih tetap hilir-mudik kampus-Kebonharjo untuk menghimpun kabar teraktual. Ya, juga malam ini, Sofiya pasti menganggap Panggung Rakyat adalah acara yang dibuat-buat untuk mempertemukan kita berdua, seperti tuduhannya pada kegiatan-kegiatan Perisai Laut lainnya. Dan aku hampir yakin malam ini akan mencapai titik kulminasi, karena kau kembali ditugaskan bersamaku, lagi.

Aku berwalang hati Sofiya sedang menyelinap di lantai tiga fakultas untuk mengawasi kita berdua, dan mengarahkan moncong snipernya tepat ke jantungku. Semoga saja tidak.

Sebenarnya sudah berulang kali aku mengudar rasa kepada Sofiya bahwa, “Aku dan Arunika tidak ada apa-apa. Kita sering bersama karena berada di satu organisasi, dan kebetulan sama-sama mengadvokasi warga Kebonharjo. Itu saja. Tidak lebih”

Tapi Sofiya selalu menyanggah, “Klise! Seluruh aktivis di berbagai negara sudah meratifikasi alasan itu. Mereka menggunakannya sebagai payung hukum patgulipat.” Memang klise, tapi tidak ada alasan lain yang layak mewakilinya. “Kau hanya mencari pembenaran posisimu, belum menjelaskan perasaan kita. Sama sekali!” tandasnya sebelum menghambur ke kamar kost.

Mengajaknya bergabung Perisai Laut?

Dari strategi marketing sales rokok sampai MLM sudah kupraktekkan, tapi hasilnya nihil. Sofiya jelas lebih memilih bercinta dengan untaian kata Khalil Gibran atau ayun-temayun kalimat Franz Kafka di dalam kamarnya. Bahkan saking putus-asanya, tiga hari lalu aku sempat mencibir, “Seribu kali kau kumandangkan sajak Gibran pun tidak akan mengubah nasib warga Kebonharjo. Lebih baik kau memberi sumbangan nyata!”

“There are those who give little of the much which they have – and they give it for recognition and their hidden desire makes their gifts unwholesome. And there are those who have little and give it all,” ia menangkis dengan muram durja, sebelum akhirnya membanting pintu kamar kostnya.

Aku baru mengetahui di kemudian hari bahwa kalimat itu adalah baris puisi Giving milik Gibran dalam The Prophet.

Akhirnya kusadari, aku dan Sofiya laksana dua archer dari dua kerajaan berbeda yang saling memanah: ia mengabdi pada sastra, sedangkan aku berkhidmat pada gerakan nyata, sekaligus menukas sastra sebagai gerbang negeri antah berantah. Obrolan kami sulit terhubung. Sofiya selalu menghembuskan nafas romantis, sedangkan aku jadi renyem ketika nafas itu meraba daun telingaku.

Kondisinya terbalik seratus delapan puluh derajat ketika aku bersama orang yang saat ini terpendar di bola mataku.

Arunika ….

Ya, kau adalah perempuan yang selalu menghanyutkan ketika bercakap soal agraria. Dari menyebut gagasan  Noer Fauzi Rachman sampai Gunawan Wiradi. Atau mengulas gerakan petani Banten, kasus berdarah Mesuji, sampai Henry Saragih—seorang dari rahim petani yang memimpin La Via Campesina. Bahkan kau tidak segan untuk bermalam bersama derita warga Kebonharjo.

Satu ketakjubanku mencuat, ketika pekan lalu kau berhasil menyulut wawasan warga dalam Forum RW, bahwa groundkart yang dibawa PT KAI tidak bisa menjadi bukti kepemilikan tanah. Dan ajaibnya, gelombang optimisme warga muncul kembali setelah sempat redup. Sungguh, kau anggun-bestari. Harus kuakui, aku belum menemukan suaka bergender sepertimu, yang sanggup menampung dunia aktivisme-ku.

Entah sebab apa, kini aku malah tenggelam di lesung pipitmu, dan tidak ingin diselamatkan. Mungkin ada benarnya sangkaan Sofiya: kebersamaan kita memang dibuat-buat. Atau ini semacam post factum? Aku tak tahu pasti. Yang kurasakan kerisauanku lamat-lamat memudar, seiring mengeringnya genangan rob di sepanjang pantura.

***

“Sam … Sam Hardi!” Sayup-sayup suara nun jauh kian mendekat. Ouh, itu nama lahirku! Aku merindukannya. Aku merasa diselamatkan dari dasar palung lamunan yang gulita. Dari manakah asal suara itu?

“Jadi cerita ndak, sih? Dari tadi bengong aja … tapi aku juga tidak maksa.” Ternyata Arunika. Aku hanya mematung dan sekali berkedip. “Baiklah, aku beri kabar baik untuk mengobati masalahmu,” lanjutnya.

Aku menegapkan badan dengan seringai minimalis seperti jongos kerajaan yang menagih upeti.

“Sofiya adalah salah satu pembaca puisi malam ini.” Aku terbelalak.

Ah, apa arti semua ini? Setan apa yang menggoda Sofiya hingga ia mau terjun ke ngarai kesuraman Kebonharjo? Apa pula maksudnya meminta disiapkan dayung dan botol ciu?

“Katanya, dia perlu barang-barang tadi untuk meresapi sajak Dongeng Dukuh milik Pertiwi Hasan,” jelas Arunika sambil menepuk lengan kananku dua kali. Lalu meninggalkan aku yang masih mematung, dan semakin kaku setiap detiknya.

 

–

*Budi Sekoriyanto telah meninggal, dan pada 2018 namanya diabadikan menjadi nama salah satu gang di Bandarharjo, Semarang.

Yogyakarta, 24 Januari 2021

Tags: aktivisasmaraperjuanganrakyatsuaka rasa dan derita
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

Next Post

Mendikte dan Menyombongi Tuhan

Miftahul Huda

Miftahul Huda

Pernah jadi mahasiswa. Konsisten membuang sampah pada tempatnya.

Artikel Terkait

Salam Terakhir
Cerpen

Salam Terakhir

8 February 2026

Satu per satu anggota band itu keluar dari studio rekaman dengan wajah lesu. Mereka tak lagi saling menyapa. Masing-masing dari...

Perempuan yang Menghapus Namanya
Cerpen

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar ada atau hanya tinggal dalam kepala dan dada seseorang yang terlalu sering menulis namaku?...

Gelembung-Gelembung
Cerpen

Gelembung-Gelembung

19 November 2025

Gelembung-gelembung itu terus mengudara dan semakin tinggi diterpa angin pagi. Perlahan satu per satu jatuh dan pecah, namun ada yang...

Dua Jam Sebelum Bekerja
Cerpen

Dua Jam Sebelum Bekerja

21 September 2025

Hujan belum menunjukkan tanda reda. Aku menyeduh kopi lalu termenung menatap bulir-bulir air di jendela mess yang jatuh tergesa. Angin...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Embun Asing Bagimu

Embun Asing Bagimu

15 November 2020
Pulang

Pulang

22 April 2022
Gambar Artikel Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

11 January 2021
Di Balik Bilik Kamar

Di Balik Bilik Kamar

12 March 2021
Gambar Artikel Bulan yang Lahir dari Penderitaan

Bulan yang Lahir dari Penderitaan

30 December 2020
Tips Memakai Kacamata Kehidupan

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

20 February 2021
Dimensi Ketidakpastian

Dimensi Ketidakpastian

22 February 2021
Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

26 April 2025
Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

27 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (223)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (22)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.