Seperti yang saya cantumkan dalam judul artikel pendek ini mengenai salah satu tokoh Mutakallim yakni Jahm bin Safwan. Namun, sebelum membahas tentang pemikiran beliau, apakah pembaca sudah mengetahui apa itu ilmu kalam?
Ilmu kalam ialah suatu ilmu yang menelaah perkara ketuhanan dan sifat-sifat-Nya dengan berlandaskan dalil-dalil yang naqli dan aqli (Abdur Razak, 2006). Dalam suatu agama, kajian mengenai ilmu kalam memiliki tingkat kedudukan yang urgen di mana hal tersebut digunakan sebagai metode untuk meyakinkan hati dan memperkokoh kepercayaan agama serta menghilangkan segala keraguan.
Salah satu aliran klasik dalam ilmu kalam adalah Jabbariyah dengan tokohnya Jahm bin Safwan. Di aliran Jabbariyah sendiri terdapat dua kategori, yakni Jabbariyah ekstrem dan Jabbariyah moderat. Jabbariyah ekstrem biasa disebut dengan Jabbariyah Jahmiyah, di mana aliran ini berpendapat bahwa segala yang dilakukan oleh manusia itu berasal dari Allah, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk semua muncul sebagai bentuk qadha’ dan qadar Allah. Dedengkot dari Jabaris ekstrem ini adalah Jahm bin Shafwan. Namanya menjadi identitas dari kelopok Jabariyyah ini.
Jahm yang memiliki nama lengkap Abu Mahrus Jahm bin Safwan juga dikenal dengan sebutan Abu Makhraj dari Khurasan. Ia lahir pada tahun 696 M dan meninggal pada tahun 745 M karena dihukum mati. Jahm merupakan salah seorang murid Ja’ad bin Dirham. Jahm dikenal sebagai sosok yang cerdas, pemberani, serta fasih dalam berbicara. Ia pernah menjabat sebagai seorang juru tulis dan mubaligh di Khurasan. Hal yang paling menonjol dalam diri Jahm ia lihai berdebat (Ris’an Rusli, 2015:35).
Sebagai penggagas aliran Jabariyyah Jahmiyah, ia sangat bersemangat sekali dalam menyebarluaskan ajarannya mengenai agama sehingga memiliki beberapa pendapat yang kontroversial, di antaranya:
Pertama, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Pernyataan Jahm ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang mati dan tidak mempunyai arah dan tujuan yang jelas dalam kehidupannya. Menurut Jahm manusia itu seperti wayang yang dikendalikan oleh Dalang (yang disebut Dalang yakni Allah) yang bilamana segala perbuatan, keadaan apapun yang terjadi dalam dirinya merupakan suatu susunan kehidupan yang telah dirancang oleh Allah dan sebagai manusia kita hanya bisa pasrah (Nasution, 1986:34).
Sepintas, pandangan Jahm ini memang ekstrem, sebab menempatkan manusia pada kondisi yang tidak berdaya sama sekali dalam kehidupannya. Padahal, manusia diciptakan dalam wujud terbaik di antara makhluk-makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Tin: 4. Manusia juga dibekali dengan akal yang berfungsi untuk berpikir dan penimbang dalam bersikap dan berbuat seperti dalam QS. Al-Hasy:14 yang berbunyi:
“Mereka tidak akan menyerang kamu dalam keadaan padu, kecuali di dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok-tembok. Permusuhan antarsesama mereka sangat hebat. Engkau mengira mereka Bersatu padahal hati mereka berpecah belah. Itu disebabkan karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak berakal. Yakni tidak menggunakan akalnya untuk meraih pengetahuan dan hikmah.”
Kedua, Iman cukup dalam hati saja. Jahm mengatakan bahwa ketika seseorang beriman maka cukup hanya dalam hatinya saja tanpa menampakkan dengan amal perbuatan. Karena menurutnya amal itu tidak penting dan iman setiap manusia itu sama saja tidak ada yang membedakan antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Sebab iman sifatnya tetap tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Hal tersebut merupakan sebuah penyelewangan yang sangat jelas. Karena ketika seseorang beriman, maka ia akan mengimplementasikan keimanan tersebut dengan melakukan amal perbuatan yang baik. Karena iman tanpa ihsan ibarat mengisi air dalam gelas yang berlubang besar, yakni sia-sia (Sabiq, 1996 : 95)
Ketiga, mengenai tidak kekalnya surga dan neraka. Pandangan Jahm ini bertolak belakang dari ijmak ulama yang sepakat bahwa surga dan neraka itu bersifat kekal. Karena kedua tempat tersebut merupakan tempat kembalinya manusia setelah melewati kehidupan di dunia. Manusia akan berada dalam salah satu tempat tersebut sesuai dengan amal perbuatan yang telah dikerjakan selama masa hidupnya di alam dunia. Dan telah jelas dalam salah satu surah dalam al-Qur’an yang didalamnya menjelaskan bahwa orang-orang kelak akan kekal dalam surga dan neraka-Nya Allah SWT.
Keempat, Allah tidak mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Pernyataan Jahm tersebut sudah jelas kontroversial. Bagaimana mungkin Allah tidak mengetahui sesuatu walupun itu belum terjadi, sedangkan sudah jelas Allah memiliki 99 nama yang salah satu nya yakni “Al-Alim” yang berarti “Allah Maha Mengetahui”. Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dimuka bumi, sedangkan pengetahuan manusia bersifat terbatas. Bagaimana mungkin ilmu pemain bisa disamakan dengan ilmu Sang Pencipta, hal tersebut sangat mustahil adanya (Shihab, 2000:114).
Kelima, al-Qur’an bukan lah kalam Allah, melainkan makhluk sama halnya manusia. Jahm menafikan bahwa al-Qur’an itu bersifat qadim, dahulu sedangkan makhluk merupakan sesuatu yang baru. Ayat-ayat al-Qur’an diturunkan sebagai kalam yang bisa dikatakan sebagai salah satu sifat Allah yakni berbicara. Jahm berpendapat seperti ini karena ia juga menolak akan adanya sifat-sifat Allah (As-Syarastani, 2004:140) .
Demikian lah sosok Jahm bin Abu Shafwan, seorang ektremis klasik yang menjadi dedengkot aliran Jabariyah Jahmiyah. Pandangan-pandangannya banyak yang kontroversial dan kontradiktif dengan ijmak. Belajar dari sosok ini, sebagai muslim sepatutnya tidak bersikap ekstrem dalam bersikap dan bertindak. Jahm adalah contoh ketika pendapat-pendapatnya sangat kontroversial pada waktu itu, akhirnya ia harus berakhir tragis karena dihukum mati. Wa Allahu A’lam.[]