• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Tuesday, 23 June 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Kedung dan Selubung di Balik Panggung

Wahyu Agil Permana by Wahyu Agil Permana
21 June 2026
in Resensi
0
Kedung dan Selubung di Balik Panggung

Sampul Buku "Tarling Dangdut Diva Pantura" karya Kedung Darma Romansha (Dok. Penulis | Wahyu Agil)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Bagi saya, Kedung Darma Romansha adalah prototipe ketika Wiji Thukul dan Joko Pinurbo berpadu padan. Setidaknya kesan itulah yang pertama kali saya tangkap ketika membaca kumpulan puisinya, Tarling Dangdut Diva Pantura.

Kesan itu terasa sejak membaca pengantar “Lagu Pembuka” yang menjadi pintu masuk menuju teks-teks puisi dalam buku ini. Begitu memasukinya, pembaca tidak disuguhi struktur sajak yang rapi atau pilihan diksi rumit yang memaksa pembaca membuka kamus. Sebaliknya, Kedung justru membuka puisinya dengan senarai sambutan kepada deretan elite partai, kreator konten, musisi, penyair, aktris, hingga sutradara kenamaan.

Sebagaimana dua buku sebelumnya, Kelir Slindet dan Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, puisi-puisi dalam buku ini kembali menjadikan tarling dangdut sebagai pijakan utama. Oleh Kedung, dunia dangdut dijadikan semacam tustel untuk memotret sengkarut kehidupan sosial masyarakat urban di wilayah Pantura (Pantai Utara Jawa) melalui analogi yang ringan bahkan terkadang terasa nyeleneh. Di titik itulah saya merasa pantas menyebut Kedung Darma Romansha sebagai prototipe perpaduan antara Wiji Thukul dan Joko Pinurbo. Kritis tetapi tidak kehilangan kelakar, tajam tetapi tetap cair.

Jika ditilik dari arsitektur puisinya, Kedung terlihat sangat menikmati permainan bahasa. Ia jeli membolak-balikkan susunan kata, lalu membiarkan kata-kata itu berkembang dan bermain sendiri.

Kecenderungan itu tampak dalam beberapa judul puisinya, seperti “Pilkada (kalau jadi pasti lupa), Pil KB (kalau lupa pasti jadi)”, atau “Ketika Hatimu dan Hatiku Bertemu di Jalan Maka di Sana Tedapat Dua Hati Yaitu Hati-Hati di Jalan”.

Diksi Sehari-hari

Kedung juga piawai dalam memadatkan persoalan sosial ke dalam larik yang singkat namun menghentak. Dalam sajak “Janji Mangsa Ketiga”, misalnya, ia membuka puisinya dengan kalimat: “ketika lumbung dan lambung / dilubangi kemarau panjang.” Dua kata kunci, “lumbung” dan “lambung” menjadi pusat kekuatan estetik sekaligus maknawi dalam penggalan tersebut. Keduanya menghadirkan keselarasan bunyi yang ritmis, di samping juga menyimpan hubungan yang tragis: ketika lumbung kosong, lambung pun ikut melompong.

Kedung tampaknya sengaja memilih diksi-diksi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi mampu membuka lapisan tafsir yang lebih rumit. “Lumbung” dimaknai sebagai simbol ketahanan hidup dan kesejahteraan masyarakat, sementara “lambung” merepresentasikan organ dasar manusia yang butuh makan untuk bertahan hidup. Pertautan kedua kata ini memperlihatkan bahwa krisis alam selalu berujung pada krisis kemanusiaan.

Tak berhenti di situ, dalam buku ini, pembaca juga akan dipertemukan dengan pusparupa tokoh yang memiliki lukanya masing-masing. Sosok Nok Iti, misalnya, ditampilkan sebagai biduan yang dipandang dari atas panggung sekaligus menjadi bagian penting dari narasi puisi. Melalui dirinya, pembaca diajak bertamasya melihat kerasnya kehidupan perempuan Pantura yang akrab dengan berbagai problem, mulai dari perceraian, perselingkuhan, himpitan ekonomi, hingga kenyataan bahwa banyak perempuan terpaksa menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) demi menyambung hidup.

Hal itu tersingkap jelas dalam sajak “#SaveNokItti”. Dalam puisi tersebut, Kedung menamsilkan tubuh, keterasingan, dan relasi kuasa dalam masyarakat yang semakin dikepung citra. Kalimat pembukanya, “Tubuh ini bukan milik siapa-siapa / dan milik siapa-siapa”, memperlihatkan paradoks yang menjadi inti puisi. Tubuh di sini dicitrakan sebagai sesuatu yang anonim sekaligus komunal. Ada semacam ironi tentang bagaimana perempuan modern kehilangan otoritas atas dirinya sendiri.

Dalam sajak itu pula, Kedung seperti sengaja menunjukkan bagaimana tubuh perempuan terus menjadi komoditas: dipakai kampanye, dipakai industri hiburan, bahkan dipakai untuk menggaet algoritma media sosial. Semua itu seolah menunjukkan bahwa manusia hari ini nyaris tidak bisa lepas dari jaringan kuasa politik dan ekonomi.

Tamsil lain juga terpampang dalam puisi “Dulatip Ketiban Serban Kaji Daspan” yang membongkar bagaimana kemiskinan membuat manusia terpaksa menukar harga dirinya demi sesuatu yang disebut kebahagiaan. Tokoh Dulatip hadir sebagai representasi masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan akut. Larik “rumahnya / yang mirip kandang sapi” menjadi penanda strata sosial yang sangat jelas.

Sementara di sisi lain, Kaji Daspan muncul sebagai sosok yang “menolong” Dulatip, kendati bantuan itu mesti dibayar dengan menyerahkan tubuh anaknya lewat pernikahan siri. Di sinilah ketimpangan relasi kuasa itu terang-benderang, di mana kemiskinan membuat rakyat kecil tak punya pilihan selain menyerahkan anak perempuannya kepada laki-laki yang lebih berkuasa secara ekonomi.

Daya Ledak

Yang tak kalah menarik dari puisi “Dulatip Ketiban Serban Kaji Daspan” adalah daya ledaknya yang nekat menggugat ungkapan klise bahwa “bahagia itu sederhana”. Kedung dengan tanpa tedeng aling-aling menolak romantisasi kemiskinan melalui larik “bohong jika orang bilang bahagia itu sederhana / sebab mereka bukan Dulatip.” Sebuah tamparan keras bagi kelas menengah yang gemar memproduksi narasi motivasi dan meromantisasi kesederhanaan tanpa pernah mengalami lapar, terlilit utang, atau hidup di rumah “mirip kandang sapi”.

Terlepas dari aneka kelakar dan permainan katanya, puisi-puisi Kedung sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang serius. Ia memamerkan bagaimana orang-orang kecil bertahan hidup di tengah situasi yang sering kali tidak berpihak pada mereka. Dangdut, dalam hal ini, menjadi medium untuk merekam luka, keterasingan, dan berbagai ironi kehidupan sehari-hari di Pantura.

Membaca Tarling Dangdut Diva Pantura tidak lain seperti duduk di tengah pertunjukan dangdut yang riuh, penuh lampu warna-warni, saweran, dan suara biduan yang beradu dengan kenyataan hidup masyarakat kelas bawah. Puisi-puisinya bergerak dengan ritme yang lentur dan jenaka, sebagaimana musik dangdut yang mampu membuat orang bergoyang-cincang.

Tarling Dangdut Diva Pantura adalah potret bagaimana nelangsanya masyarakat kelas bawah mengadu nasib di tengah bising hiburan, ketimpangan sosial, dan kerasnya realitas sehari-hari. Melalui deretan puisi-puisinya, pembaca diajak menyelami lapisan di balik panggung (kehidupan) yang kerap terselubung. Barangkali memang, sebagaimana tertuang dalam salah satu penggalan puisinya: “hidup tak sesederhana yang diucapkan / dan tak segawat yang ditafsirkan.” Itu.[*]

________________

Detail Buku

Judul: Tarling Dangdut Diva Pantura

Penulis: Kedung Darma Romansha

Penerbit: Penerbit JBS (Jual Buku Sastra)

Tahun: Cetakan Pertama, Juli 2022

Tebal: vi + 78 halaman

ISBN: 978-623-7904-52-6

Tags: bukukedung darma romanshametaforresensi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

Next Post

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

Wahyu Agil Permana

Wahyu Agil Permana

Pegiat sejarah asal Lampung. Baginya, menulis adalah ikhtiar untuk meredakan sumpek dari ingar-bingar duniawi. Bisa disapa di Instagram @azvagen

Artikel Terkait

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
Resensi

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

31 May 2026

Manusia, sebagai wujud paling aktual dari proses evolusi Homo sapiens, menjadi makhluk unggul di bumi era ini bukan karena ia...

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu...

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Fenomena ‘Ngapak’

Fenomena ‘Ngapak’

26 November 2021
Gambar Artikel Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

15 January 2021
Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

22 June 2025
Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Gambar Artikel Pendidikan Virtual : Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

Pendidikan Virtual: Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

20 November 2020
Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

27 February 2021
Gambar Artikel Mengapa Jamie Vardy Layak Jadi Guru Untuk Kaum Pekerja?

Mengapa Jamie Vardy Layak Jadi Guru untuk Kaum Pekerja?

20 November 2020
Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022
Multi Peran Guru

Multi Peran Guru

8 March 2021
Pergantian Musim

Pergantian Musim

6 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Kedung dan Selubung di Balik Panggung
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (233)
    • Cerpen (59)
    • Puisi (148)
    • Resensi (25)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.