• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 15 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur”

Hisyam Billya Al-Wajdi by Hisyam Billya Al-Wajdi
23 April 2021
in Resensi
0
Gambart Artikel : Analisis Puisi Goenawan Muhammad Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Source Gambar : https://www.whiteboardjournal.com/ideas/goenawan-mohamad-berbicara-orde-baru-dan-pergerakan-anak-muda/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

“Goenawan Mohamad adalah penyair dengan suasana hati yang tangguh” demikian kata Linus Suryadi AG. Hal ini tercermin dalam pemakaian metafor, struktur makna dan idiom yang menjadi satu bulatan pesona atau taksu dalam tiap puisinya. Di samping dunia kasusastraan peran Goenawan di bidang jurnalistik tidak bisa di kesampingkan, GM (panggilan akrabnya) sangat pantas dilabeli sebagai salah satu sastrawan terkemuka yang karya-karyanya banyak memengaruhi penyair lintas generasi bahkan sampai sekarang.

Salah satu karya puisi GM yang cukup epik, sekaligus merupakan anggitan yang membagikan semacam sentience monumental dalam sajian estetik ialah puisinya berjudul “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur” berikut ini:

Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Saya cemaskan sepotong lumpur di koral halaman
Saya cemaskan sepotong daun di koral halaman
Saya cemaskan kau, malam yang mengigau dengan gerimis tak kelihatan

1978

Analisis Makna Subjektif-Teoritis

Secara visual puisi ini memiliki elemen-elemen stilistika berulang namun ia sekaligus membentuk kesatuan (holistik) sehingga menciptakan spektrum lain pada tiap barisnya. Pada baris pertama kita akan di suguhi kata-kata yang memberi kesan dari perasaan gundah-gulana, takut, tertekan dan menimbulkan suatu ketidak nyamanan yakni Saya cemaskan. Di sini GM belum nampak bermain-main dengan idiom maupun metafor khas yang acapkali kita dapati dari berbagai tulisan beliau, ia justru secara eksplisit membentuk struktur lesikal dari tiap kata tersebut.

Pada kata selanjutnya kita akan ditakjubkan oleh sebuah leksem (se) potong lumpur di koral halaman. Pada kata inilah kita akan mendapati kekhasan GM koral halaman, koral di sini bisa bermakna kerakal, batuan karang ataupun lapangan yang terkurung pagar untuk mengandangkan atau menangkap ternak. Tetapi bila dilihat konteks gramatikal maka akan lebih bertendensi pada makna kedua yakni lapangan ternak. Lantas apa relevansinya sepotong lumpur dan koral halaman?

Pertama, apabila dikaji secara semantik kata lumpur bisa kita interpretasikan sebagai sebuah rintangan, kesusahan dan hal yang tak diinginkan namun sejatinya mengandung hal yang kita idamkan (tanah sawah dibajak, berlumpur dahulu sebelum mampu menjadi tempat subur menabur benih padi) yang mana secara komprehensif di baris pertama ini GM mencoba mengartikulasikan suasana batinnya yang tengah tak menentu sebab ada sesuatu yang dirasa sedang mencoba melawan keserasian, ketenangan, dan kenyamanan. Sesuatu yang dimaksud ini bisa jadi memiliki hubungan yang cukup intim dengan GM, hal ini dibuktikan dengan kata halaman yang berarti memiliki intensitas kedekatan dengan rumah (naungan) merefleksikan salah satu hal utama dalam kehidupan.

Pada baris kedua, GM memberi kesan yang hampir-hampir mirip dengan baris pertama. Ia mencoba mengontruksi semacam aliran hulu yang sama sehingga pembaca akan semakin larut dalam kekentalan imaji perasaan yang mengintervensi emosi yakni saya cemaskan, namun kali ini ia memakai idiom lain. Dari yang semula lumpur beralih ke daun seraya tetap memakai leksem (se) potong, di mana (se) potong memproyeksikan sesuatu yang terkoyak dari kebersamaan atau semacam parsial pula (ter)pisah, sendiri dan tidak menutup kemungkinan justru mengalami alienasi.

Adapun kata daun (nomina)  dalam pemahaman penulis, kata daun apabila dipakai dalam konteks puisi sering kali mengandung takrif konotatif sebagai redaman gejolak, naungan, kelenjar kesabaran dan bagian dari ketentraman sekaligus kejernihan. Sehingga saya cemaskan sepotong daun dikoral halaman berarti sebuah lingkaran keadaan, seluk-beluk di mana si saya atau GM ini tengah mengalami keresahan akut terhadap suatu hal-ihwal yang berhubungan dengan kebiasaan, kelaziman dan jalan lurus di dalam ranah nyamannya.

Terakhir, pada baris ketiga GM lagi-lagi membentuk pola yang sama sebentuk reduplikasi dengan menyuguhkan imaji dari perasaan yang gundah-gelisah, risau dan marai mikir aneh-aneh. Tapi kali ini GM benar-benar menegaskan arah tujuan dari perasaannya kepada hal yang mawujud dan egaliter yaitu “kau”, dan “kau” di sini dipertautkan dengan kata malam yang mengigau. Kata malam yang mengigau merupakan sebentuk majas personifikasi di tambah kata “mengigau” sendiri merupakan resultan dari perpindahan makna secara onomatope. Di samping itu GM menorehkan semacam pesona kekal dengan idiom penuh gerimis tak kelihatan di mana “gerimis” sendiri simile dari perasaan sayu, tangis, redam, kesedihan.

Apabila di kaitkan dengan kata sebelumnya yakni saya cemaskan dan yang menarik hal-hal tersebut seakan dirahasiakan, dipendam tak dapat dijamah “tak kelihatan”. Sehingga hanya si saya dan kau yang tau-menau atau setidaknya preunderstanding akan hal tersebut. Sebab hanya si saya  yang dapat mengetahui “gerimis” pada si kau.

Begitulah sedikit uraian dan analisis terhadap salah satu puisi GM, yang mana GM selalu hadir dengan kemampuan menata kata, kecermatan suasana dan keterampilan pemilihan diksi, GM adalah lawan dari monodimensional!

Tags: analisis puisianalisis puisi GMgoenawan mohamadsaya cemaskan sepotong rumput
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dua Lelaki

Next Post

Game yang Lagi Viral di Tahun 2021

Hisyam Billya Al-Wajdi

Hisyam Billya Al-Wajdi

Penulis lahir di Bantul, Yogyakarta. Pada 11 Februari 2002. Saat ini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Prodi Aqidah Filsafat Islam. Puisinya dimuat beberapa media  dan antologi bersama. Selain berkecimpung di dunia kampus, penulis juga menyibukkan diri mengelola kebun di halaman belakang rumah. Penulis menetap di Bantul,Yogyakarta.

Artikel Terkait

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
Resensi

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

31 May 2026

Manusia, sebagai wujud paling aktual dari proses evolusi Homo sapiens, menjadi makhluk unggul di bumi era ini bukan karena ia...

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu...

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Matinya Ratu Adil?

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026
Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026
Mencintaimu Bagi yang Mampu

Mencintaimu Bagi yang Mampu

16 March 2021
Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

10 March 2022
Gambar Artikel Sambatan Kuliah di Tengah Pandemi

Sambatan Kuliah di Tengah Pandemi

12 November 2020
Gambar Artikel Mandiri Jalur Indomie

Mandiri Jalur Indomie

2 November 2020
Gambar Artikel Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

11 January 2021
Ali Syari’ati: Mempercayai Tuhan Sekaligus Menjaga Alam dan Hubungan Sesama Manusia

Ali Syari’ati: Mempercayai Tuhan Sekaligus Menjaga Alam dan Hubungan Sesama Manusia

16 February 2022
Gambar Artikel Ada yang Tetap Kuat

Ada yang Tetap Kuat

3 November 2020
Gambar Artikel Puisi Tentang Kopi - Setabah Kopi

Setabah Kopi

24 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.