• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 04 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Sedayu dalam Kurun Waktu

Puisi Fajar Sedayu

Fajar Sedayu by Fajar Sedayu
12 November 2020
in Puisi
0
Gambar Artikel Sedayu Dalam Kurun Waktu

Sumber Gambar: https://owengentillustration.tumblr.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sedayu dalam Kurun Waktu

sayap-sayap cakrawala di tepian desa
memanggil jiwamu
di sepi gigir waktu
kepak sayap merpati ditelan sunyi kasturi

cadas bebatuan dan tanjakan
menggelarkan peradaban
dengan lubang jalanan sesekali menghampiri
berbaur aroma kretek dan uap kopi

4 ekor anjing berkejaran tak jemu
yang salah satunya adalah diriku

rerumputan dan semak belukar adalah pagar
bagi nyanyian kudus dalam ruang gereja tersandar

mendung membungkus bintang-bintang
setelah senja syahdu di tebing berpendar menghilang
cengkrama akrab warga desa ikutkah menghilang
setelah pabrik-pabrik mulai didirikan?

ah, aku terlupa
aku hanyalah anjing
yang tugasku hanya berkejaran
dan terhempas di makian orang-orang

 

Grenjeng Mbako, 2020

 

 

22/04/2020

(Teruntuk Meswa yang sudah kembali ke rahim bumi)

 

sebelum jiwamu berpulang dalam keabadian
pergi tanpa meninggal pesan pada pena
seisi jiwaku terdampar di labirin asing kerinduan
tersungkur pada tebing rendah tiada bernama

apakah aku mengecewakanmu?
berlarian seluruh tubuhmu, penuh keluh kesahku
berlarian langkah-langkah rinduku menuju nafasmu

kakiku serasa lumpuh dan mati rasa
merindu rona matamu yang teduh
dalam puspawarna
sudah tiada ruang
bagi aliran darah
dan rangkuman resah

bunga-bunga menyambut dirimu pulang
sukmamu menjelma sayap-sayap burung hijau tua
terbang melayang di tepian langit sorga
menuju telaga sunyi berjuta cahaya
dan dirimu abadi, jadi selimut puisi

lalu, bagaimana aku?
terperangkap pada kabut sunyi dalam hening purnama
dalam luka abadi dan perenungan yang ada

 

Grenjeng Mbako, 2020

Tags: kecewakehilanganketerasinganpuisiSedayuyogyakarta
ShareTweetSendShare
Previous Post

Sambatan Kuliah di Tengah Pandemi

Next Post

Falsafah Dewa Ruci Sunan Kalijaga

Fajar Sedayu

Fajar Sedayu

*Penulis adalah mantan 'anak-punk' yang kini menjadi pejalan sunyi dan gandrung akan sastra. Terinspirasi banyak figur seperti Chairil Anwar, Rilke, WS. Rendra, sampai Kurt Cobain, Umbu Landu Paranggi dan Emha Ainun Nadjib.

Artikel Terkait

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Di Balik Senyum Warga Desa

Di Balik Senyum Warga Desa

13 July 2021
Gambar Artikel Jembatan Lamper

Jembatan Lamper

2 November 2020
Dari Nafas Malamku

Dari Nafas Malamku

11 May 2021
Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

25 November 2021
When The Weather is Fine dan Puisi Kesakitan

When The Weather is Fine dan Puisi Kesakitan

12 November 2021
Dari Rongsokan ke Cambridge dan Harvard

Dari Rongsokan ke Cambridge dan Harvard

4 September 2022
Homo Digitalis dan Kebutuhan Kita pada Filsafat

Homo Digitalis dan Kebutuhan Kita pada Filsafat

17 January 2022
Melawan Tirani Kebahagiaan

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026
Gambar Artikel Puisi untuk Ibu : Mamak dan Kudapan Hina

Mamak dan Kudapan Hina

1 December 2020
Gambar Artikel Komunikasi Mahasiswa dan Dosen Pembimbing Ala Habermas

Komunikasi Mahasiswa dan Dosen Pembimbing Ala Habermas

13 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (225)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (144)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.