Dan di sana, seorang, orang asing berdiri dipeluk sunyi:
Di tikam redup bulan, terbias sela-sela kayu usang dan kaca yang renta
Matanya dingin, sedikit remuk, berkaca-kaca menerka anomi
Pecah relai kilau pelangi, redam lenyap, melahap distorsi dari kepala
Perlahan bibirnya merapal suara:
Sesak sempit bunyi-bunyi mencari tempat bersembunyi
Bisik-bisik yang kian berisik berdesakan mengeja bahasa
Bertaut ragu, raganya ringkih menyilam malam yang muram sepi
Aku tak mau dihantui empedu kedua kalinya, berjubah tanya:
Aku kembali menoleh, menatap enigma yang menutup si orang asing
Dan ia masih berdiri, bahkan awan gelap masih memeluk pundaknya
Aku memandangnya sekali lagi, beku membeku, berdenting bising aku bergeming
Sial, ternyata, orang asing itu adalah aku:
Bayang membayangi bayangannya, mati terhunus cahaya
Tatapnya tajam menggores langit, setengah buram layaknya disleksia
Minor mayor nada pesimisnya optimis, stagnan konstan menuju biru
Apa yang harus aku lakukan untuk menerima masa depan? Ucapnya
Semasih darah berwarna ungu di bibir pucatnya membelenggu lara
Tangannya terayun lemah, meraba bentangan nikotin di sakunya
Lalu membakarnya dengan pasti, hingga sekarnya layu berjelaga
Ia mengembuskan napasnya, naas kacau tergagau berkata:
Oh diriku yang menyedihkan!
Seperti debu yang berdebu, untuk kembali utuh, sulit rasanya
Berkelindan duka, dimanakah Lithium, Olanzapine dan segala Antidepresan?
(manuskrip, 2021)
Episodik: Mania
Dan yang terlahir di awal saat berakhir:
Adalah frasa-frasa Nietzsche, Amor dan Fati!
Mungkin, aku memang harus menerima takdir yang getir
Mungkin aku, aku harus merakit patahan makna, sekali lagi
Hidup memang berjalan begitu acak:
Tak menentu, tapi tetapi tentu lari bukanlah pilihan
Dan, sisa-sisa yang tersisa di otak
Hanyalah memberontak, menyulut api insureksi!
Hidup memang berjalan begitu licik:
Tapi sesuatu dalam jiwaku lebih kuat
Lebih brengsek, lebih culas dan tengik
Niscaya merobek selaput absurditas, dengan pasti, bangsat!
Pada akhirnya aku menyerahkan:
Segenap keberanianku kepada hidup
Secuil ketakutanku kepada harapan
Dan seberkas cahaya matahari pun jatuh menimpa hidupku yang basah kuyup
Ku sulut pembuluh hasratku
Ku tantang kedua kutub sialan
Ku seduh kopiku yang telah membeku
Ku terima kehadiran malam dan bulan
Aku telah terlahir kembali
Dan akan tetap terlahir kembali
Aku kembali hidup
Dan tak akan ditelan sayup-sayup, lalu mati meredup!
(manuskrip, 2021)
Fi(k)sikawan: Perang Bintang dan Dingin
Dari satelit Sputnik yang diluncurkan Kosmodrom Baykonur ala Soviet ke orbit bumi hingga tiga belas, empat puluh delapan, dan lima puluh butir bintang berkibar di bulan.
Dari Vostok dan Soyuz hingga Mercury, Gemini, dan Apollo yang menandai eksplorasi antariksa yang penuh bualan.
Dari perang Korea, perang Vietnam, perang saudara Cina, Krisis Kuba, hingga Hanoi dan Saigon, Pakta Warsawa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara.
Dari awal memanas hingga dingin mereda, nyatanya, dingin telah menjadi milik kita, sayang: kita adalah manifestasi Nebula! Debu, helium, hidrogen, dan plasma.
Dari atom netral dan molekul, partikel bermuatan ion dan elektron hingga ledakan sang bintang, melebur cinta dalam satu Supernova!
Dan betapa aku mencintaimu karena tiada dingin yang lebih dingin, yang paling rela kedinginan agar barisan matahari itu berpaling dari dingin hatinya.