• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

Ede Tea by Ede Tea
7 February 2021
in Cerpen
2
Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

https://unsplash.com/photos/JUbjYFvCv00

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

    Adegan Pertama

Mataku terbuka saat suara misterius itu tetiba muncul. Sekejap ada, sekejap lenyap. Aku berpaling ke samping tempat tidur. Mendadak rasa penasaranku berubah cemas ketika aku sadar bahwa ia tidak ada di sampingku. Bergegas aku menuju ke muka pintu. Dan saat hendak kubuka, tanganku tertahan karena suara misterius itu kembali muncul.

“Untuk apa kau ke sini? Cepat pergi!”

Segera kutempelkan telinga ke pintu, itu persis seperti suaranya. Tapi tidak dapat kupastikan karena suara itu seperti orang yang tersekap. Pelan. Nyaris menyatu dengan embusan angin.

“Kenapa? Apa aku salah?”

Aku terperanjat. Kali ini terdengar suara pria yang berat dan menggema. Dan tanganku yang sudah menggenggam gagang pintu lagi-lagi tertahan.

“Aku sudah punya suami!”

“Kalau begitu aku akan menemui suamimu.”

“Kau gila!”

“Sejak kau menghilang dan menikah dengan laki-laki itu, aku memang sudah gila!”

“Tolong, pergilah! Aku tidak mau ia tahu. Kami sudah bahagia.”

“Kau tidak bahagia.”

“Kenapa aku harus tidak bahagia? Dia orang sukses. Kami hidup di rumah mewah, aku punya mobil dan perhiasan, aku bisa beli ini dan itu!”

“Karena kau masih mencintaiku!”

Mendadak percakapan itu hilang. Suasana lengang. Dengan cepat aku menarik gagang pintu. Dan saat pintu itu terbelalak, mataku juga ikut membelalak. Bibirnya yang merah serupa darah beradu dengan bibir kering seorang pria yang tak kukenal. Jantungku sesak. Aku nyaris pingsan.

    Adegan Kedua

Pintu itu masih tertutup rapat. Jantungku semakin sesak dan pengap. Beberapa menit yang lalu kamar ini terasa begitu damai. Hangat dan penuh kasih sayang. Namun, dengan sekejap semuanya sirna, beralih menjadi ruangan kelam nan mencekam. Kulirik jam dinding di tepi lemari pakaian, suara dentuman jarum detik semakin menambah kesuraman. Pindah kutatap cicak di langit-langit kamar, satu-dua terhenti, menatapku penuh iba.

Kini suara itu terdengar semakin jelas. Nyaring dan membahana. Aku terduduk di atas kasur sambil mendengarkan ocehan mereka yang seperti anjing kelaparan.

“Aku mohon, cepat pergi dari sini!”

“Kenapa aku harus pergi? Dia sudah melihatnya. Ayo, kita mulai semuanya dari awal lagi.”

“Aku tidak akan meninggalkannya!”

“Untuk apa kau mempertahankan laki-laki seperti itu? Dia tidak lebih dari seorang pecundang. Bahkan saat istrinya bersama laki-laki lain pun, ia hanya sembunyi di dalam kamar.”

Suasana kembali lengang. Aku berdekam di atas tempat tidur.

Apa yang dikatakan pria itu tentu saja benar. Tidak selayaknya aku memilih diam dalam situasi seperti ini. Di mana tanggung jawabku sebagai seorang suami? Tapi apa yang bisa kulakukan untuknya? Perjanjian itu masih berlaku. Dia sendiri yang membuat surat pranikah dan menulis di nomor kesekian bahwa aku tidak boleh mencampuri urusan pribadinya, pun sebaliknya.

Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?

    Adegan Ketiga

Langit malam kian mencekam. Udara dingin menusuk-nusuk tubuhku. Kubuka sepasang jendela lebar-lebar, membiarkan embusan angin malam masuk dan membawa udara kamar yang busuk. Kupandangi langit luar, oh, sama pekat dan kelamnya dengan perasaanku sekarang.

“Haha… kau bodoh!”

Aku terkejut. Kuamati setiap sudut kamar. Tak ada yang mencurigakan. Kulirik ke luar. Hening.

“Apa aku berhalusinasi?” tanyaku dalam hati.

Tentu saja dalam rungan ini hanya ada aku, detak jam dinding dan seekor cecak. Cecak? Aku menoleh ke langit-langit kamar.

“Bukankah kau mencintainya?”

Hah? Benarkah cecak itu yang berbicara?

“Kenapa kau malah diam di balik pintu sedangkan istrimu bersama laki-laki lain? Lakukanlah sesuatu!”

“Apa?”

“Tonjok saja wajahnya!”

“Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melanggar janjiku!”

“Dia juga sudah melanggar janjinya.”

“Janji apa?”

“Janji pernikahan kalian, bodoh!”

Aku terdiam.

“Sekarang kau buka pintu itu dan lihat apa yang sedang dilakukannya!”

Entah kenapa aku malah menuruti ucapan cecak itu. Bergegas aku menuju pintu dan perlahan membukanya. Sengaja aku tidak membukanya lebar, hanya sebatas cukup untukku mengintip. Sekelebat tangan kasar pria itu mendarat di pipi Ningsih, meninggalkan bekas merah. Aku hendak membuka pintu lebih lebar lalu keluar menghajar pria itu. Sayangnya tubuhku tiba-tiba membatu. Bibirku juga kelu. Semakin kuat aku berusaha bergerak, semakin terasa remuk seluruh tubuhku.

    Adegan Keempat

Sebuah ketukan pintu menyadarkanku dari mimpi yang aneh. Ketukannya berulang-ulang hingga menciptakan melodi yang menawan. Dengan lunglai aku berjalan mendekati pintu. Namun, ketika aku sudah lebih dekat, ketukan itu terdengar begitu seram. Aku segera menarik tubuh kebelakang. Menjauhi pintu itu.

“Buka pintunya, Jamal!” ujar suara perempuan.

“Sampai kapan pun Ningsih tidak akan mencintaimu. Ia terpaksa karena tak ingin melukai hati kedua orang tuanya!” timpal suara laki-laki.

Aku mendadak gamang.

“Ceraikan dia sekarang juga. Biarkan dia hidup bahagia bersamaku!”

Tiba-tiba suara perempuan memenggal, “Tidak! Jangan dengarkan dia, Jamal. Aku mencintaimu! Sungguh!”

Langkahku tidak berhenti bergerak mundur. Suara mereka lebih seram dari apa pun yang paling seram. Aku berusaha menutup telinga rapat-rapat. Seketika itu suara mereka mendadak hilang. Suasana kembali sepi dan senyap. Entah adegan apa lagi yang sedang mereka lakukan di balik pintu itu.

Tidak lama sebuah ketukan kembali muncul. Ketukan yang sama seperti sebelumnya. Berulang-ulang dan lembut. Sayup-sayup suara lirih terdengar.

“Tolong buka pintunya, Jamal. Aku mencintaimu.”

Pontang-panting aku naik ke atas ranjang. Lantas menutup telingaku dengan sangat rapat. Jika memang benar ia mencintaiku, kenapa ia tidak pernah mencoba membukanya. Padahal pintu itu tak pernah sekali pun aku kunci.[]

Tags: adegan di balik pintucerpenkesetiaanpernikahanperselingkuhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ihwal Mawat

Next Post

Lapangan Tembak

Ede Tea

Ede Tea

lahir di Bogor 1998. Karya-karyanya dimuat di media cetak dan media daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Merupakan mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia yang bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta dan alumni Klinik Menulis. Facebook/Ig : Dede Soepriatna/dhegol27 

Artikel Terkait

Perempuan yang Menghapus Namanya
Cerpen

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar ada atau hanya tinggal dalam kepala dan dada seseorang yang terlalu sering menulis namaku?...

Gelembung-Gelembung
Cerpen

Gelembung-Gelembung

19 November 2025

Gelembung-gelembung itu terus mengudara dan semakin tinggi diterpa angin pagi. Perlahan satu per satu jatuh dan pecah, namun ada yang...

Dua Jam Sebelum Bekerja
Cerpen

Dua Jam Sebelum Bekerja

21 September 2025

Hujan belum menunjukkan tanda reda. Aku menyeduh kopi lalu termenung menatap bulir-bulir air di jendela mess yang jatuh tergesa. Angin...

Selain Rindu, Apa Lagi yang Kaucari di Palpitu?
Cerpen

Selain Rindu, Apa Lagi yang Kaucari di Palpitu?

24 July 2025

Selain rindu, barangkali kau tak punya alasan untuk apa pulang ke Palpitu. Sebuah pertanyaan tentang keadilan bagi ibumu juga belum...

Comments 2

  1. Fred says:
    2 years ago

    Baguuusss …

    Reply
  2. Agus Sutisna says:
    5 years ago

    Keren, aku baru tahu ada judul cerpen seperti itu, dan amazing .. Bisa jadi inspirasi nih.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Pengungsi Peradaban, Para Pencari Mbah Nun

Pengungsi Peradaban (2)

23 January 2021
Bentang dan Jet Lag Blues

Bentang dan Jet Lag Blues

31 August 2021
Perjalanan dan Jarak

Perjalanan dan Jarak

19 April 2021
Istirahat dan Pelukan Ibu

Istirahat dan Pelukan Ibu

29 June 2022
Resiko Tinggal di Ujung Kalimantan

Resiko Tinggal di Ujung Kalimantan

4 June 2021
Gambar Artikel Flow di Era Sosmed Efek Dahsyat Mengikat Makna

Flow di Era Sosmed; Efek Dahsyat Mengikat Makna

6 November 2020
Belajar Mengitari Israel

Belajar Mengitari Israel

19 April 2023
Cengkraman Lelaki Idaman

Cengkraman Lelaki Idaman

18 January 2022
Para Pengungsi Peradaban (1)

Para Pengungsi Peradaban (1)

23 January 2021
Buya Syakur Yasin: Antara Agama dan Budaya, Menimbang yang Fana dan yang Abadi

Buya Syakur Yasin: Antara Agama dan Budaya, Menimbang yang Fana dan yang Abadi

10 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.