• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Seorang Lelaki dan Sungai

dan puisi-puisi lainnya

Hisyam Billya Al-Wajdi by Hisyam Billya Al-Wajdi
3 January 2022
in Puisi
0
Seorang Lelaki dan Sungai

https://ebookfriendly.com/best-illustrations-books-reading/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Seorang Lelaki dan Sungai

Pada sungai yang masih menyimpan bau hujan, lelaki itu termenung. Wajahnya diliputi duka dan udara sekitar mensesap kesedihannya

Riak-riak yang hadir bagai melodi, menyihir angin ke tempat yang jauh; dalam hatinya

Lelaki itu seorang rahib dari wajahnya memancar aura magis yang dapat menyingkap rahasia malam seorang penyair yang tengah kasmaran, bunga-bunga keabadian gugur silih bergantian

Ketika sungai itu menyapu batu-batu dan langit menegakan kepala. Ia beranjak ke utara membawa kematian serta kesucian dalam satu genggaman

2021

 

GoPL

Dan malam berkerumun mengelilingimu. Sayap ibu, segelas susu dan tungku api yang padam ikut mendengkur di bawah langit, berdetak di dada menjelma puisi cinta

Kau mengingat keratin terahir. Sebagai panggilan telepon seluler yang menyusuri kabel-kabel tembaga mirip abdi dalem sepuh ketika mengucurkan minyak kaswari ke tepian kolam pemandian

Kau membuka mata dengan lelahnya setelah sepanjang hari urung berkedip: menjaga anak-anak sungai yang diguyur kabut

“Langit benar-benar tak bisa di jamah” katamu

2021

 

Kuda

Dan kuda itu tak pernah lelah kau pacu, menembus sabana gersang dan guyuran matahari kerontang

Dan kuda itu terlepas dari dekapan, mengembara ke lain samudera, benua bahkan antariksa

Langit yang tiba-tiba kesumba, bentang alam terjelma seekor kuda meringkik dalam terpaan debu-debu, serta qolbu yang melebar seluas lembaraan awan. Bintik kecil yang tergencet. Dunia memang senantiasa menyuguhkan duka lara, resah gelisah. Bebauan kirmizi serta nominous yang suci. Aku melihatmu datang dari ujung Alabasta, gurun yang penuh rahasia.

2021

 

Catatan Tiga

Dan aku menemuimu; di lapangan Piyungan ketika senja sudah mulai sempurna dan cahya matahari gugur di ufuk sana. Sebelum itu, kita saling mengikat janji; bertemu di sini; semua sudah ku rancang jauh-jauh hari. . Berjam-jam sudah aku diam, menanti kelebatmu turun; tak ada isyarat yang memperjelas kedatanganmu; keragu-raguan mulai menghinggapi dadaku. Ketika awan yang lembayung itu semakin merah dan hadirmu belum juga merekah

2021

 

Doa

Ya Tuhanku, aku berlindung dari bulu-bulu lembut yang mengusap keningku. Dari berubahnya lalat menjadi kupu-kupu ataupun sebaliknya. Aku berlindung kepadamu dari gempa di dasar jiwa serta sungai-sungai yang tak jelas mengalir ke mana. Ya Tuhan aku bermadah, sujud dan menghanguskan kesombonganku akan hari-hari yang melilit pagi, akan ketidaktauan perihal lembaran bulan serta cahaya yang tiba-tiba sirna.

Ya Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari hati yang gamang, kerinduan tak berkesudahan dan bayang-bayang masa lalu yang enggan dilenyapkan.

2021

 

Bersamamu

Bersamamu di dalam bus, tak ada bangku kosong di sana; ganggang besi tempat kita

Di mata aku saksikan, jutaan kehibukan lelah singgah, serta gemilang masa lalu yang sampai sekarang sedia memanksamu untuk menganyam kesedihan tak berkesudahan.

Aku di sisimu, menjadi langit yang tegak menjulang. Menjadi harapan dalam semesta keluasan.

Kau di sisiku, sebagai patung dewi yang hilang kesakralan atau bebatuan cina yang tak selesai terpahat.

Di dalam bus ini, kita menjelma kupu-kupu yang hinggap di bunga terahir, persimpangan terahir. “Tapi kupu-kupu tak pernah lahir dari latar yang sesak bukan?” katamu. Seperti lajur-lajur jalan di balik jendela itu, aku melesat dari pandanganmu serta orang-orang di sekitarmu

2021

Tags: Hisyam BillyapuisisastraSeorang Lelaki dan Sungai
ShareTweetSendShare
Previous Post

Perubahan Budaya Organisasi di Masa Pandemi

Next Post

Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya

Hisyam Billya Al-Wajdi

Hisyam Billya Al-Wajdi

Penulis lahir di Bantul, Yogyakarta. Pada 11 Februari 2002. Saat ini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Prodi Aqidah Filsafat Islam. Puisinya dimuat beberapa media  dan antologi bersama. Selain berkecimpung di dunia kampus, penulis juga menyibukkan diri mengelola kebun di halaman belakang rumah. Penulis menetap di Bantul,Yogyakarta.

Artikel Terkait

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya
Puisi

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025

Hisap Aku hingga Putih bulan merabun serbuk langit bebal pohon dan batu tak bergaris hitam coreng malam yang sumuk punggung...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Cintaku Urusan Orang Lain

Cintaku Urusan Orang Lain

2 November 2020
Berada di Kota Antah-Berantah

Berada di Kota Antah-Berantah

5 May 2021
Gambar Artikel Puisi Pilu Sajak-Sajak Larasati Onna Roufsita

Sajak-Sajak Larasati Onna Roufista

2 November 2020
Gejala Kebudayaan Hilang di Era Pandemi

Gejala Kebudayaan Hilang di Era Pandemi

7 February 2021
Kepalamu dan Isinya

Kepalamu dan Isinya

3 April 2021
Balada Mobile Legends

Balada Mobile Legends

22 February 2021
Dimulai dari Ibu

Dimulai dari Ibu

6 May 2021
Gambar Artikel Puisi Munajat dari Atas Kasur

Munajat dari Atas Kasur

9 January 2021
Dismorfia Kehidupan

Dismorfia Kehidupan

1 February 2022
Gambar Artikel Menulis dengan Holistik

Menulis dengan Holistik

1 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.