• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 10 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Nona dan Seikat Bunga Merah

Sultan Musa by Sultan Musa
10 August 2021
in Puisi
0
Nona dan Seikat Bunga Merah

https://blog.society6.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

NONA  DAN  SEIKAT  BUNGA  MERAH

Jendela  cerah  berbicara  baik
mengantarkan  simpul  hari  seribu  tujuan
dan  hari  ini Nona masih  ingat cara  untuk  tersenyum
bersama  pemandangan  merinai  apik

Meja  sederhana  berteman  retak
tersaji  secangkir  teh  bersama  pujian  manis
dan  Nona  masih  rela  menyesap  aromanya
meski  takkan  kembali  berkabar  utuh

Seikat  bunga  merah,
ditempatkan  Nona  di antara  peraduan  ruang
tersimpan  baik,  meski  telah  layu  sebagian
memantaskan  diri,  walau  merahnya  perlahan  pudar

Sesekali  Nona  menatap  seikat  bunga  merah  ini
dari  pantulan  cermin  berbingkai kayu,  mengatakan:
“Ada  penantian  pasti  berakhir  di titian  temu”
meski  malamnya  buka  ruang  rindu,
terus  menikmati  sendiri  di sisi  sepi

sembari menunggu  kabar  dari  hati
yang  tak  kunjung  bertamu

selalu menembangkan  aksara  dari  puisi
yang  tak  terangkai  menyatu

Syahdu  Nona  berlayar  dalam  asa,
yang  ditimpakan  pada  seikat  bunga  merah
alunan  saka  hati  yang  tak  berujung
bahkan  bergelut  “belum  selesai” dari  masa  lalunya.

2021

 

BARYA DAN BUNYI SUNYI

Ketika Barya melewati hari-harinya
Banyak  senyum  yang  bersiul
Banyak  airmata  bercerita
Berharga, sebagai  tempat  peristirahatan
antara cerita satu  dengan  cerita  lainnya

Barya  tetap  di bawah  langit  membiru
Meski  simpul  senyum  yang  dilihatnya
selalu berbeda, namun  tetap  ada  yang  menyingkap

Barya  tetap  di bawah  awan  membisu
Meski  cerita  airmata  yang  dipetuahnya
selalu  berkesan,  namun  tetap  ada  yang  menipu

Telah dicukupkan  untuk  menyadari  bagi  Barya
Tentang  hati  harus  dijaga,
walau hati terus berubah
Tentang  waktu  harus  disemai,
walau  waktu  terus  berjarak

Pertemuan  ini tak  bisa  berlarut  lama,
akan  lesung  nurani  dalam  kotak  sepi
Yang  tak  bisa  dibunyi  dalam  keramaian
Yang  tak bisa disunyi  dalam  kesendirian
Barya  belum  mau  kembali dari  bunyi  sunyi
Dari  belukar  remuk  keheningan  ini

2020

 

SRANTI DI KENING HARI

Sranti….
adalah pejalan di angin deru
memungut doa pada puing waktu
mendengar gelora debu–debu
memanggil berirama rindu
menghambur senyum hamparan selalu
memercikan segenggam setuju
pada kening hari yang selalu menunggu

2020

  

DJUHARA  DAN  CERITA

Djuhara merangkum perjalanan
yang selalu berkelana
Melukis cakrawala tanpa pamrih
Kini api itu telah usai
Menghilang seperti jarak
Berkata jernih akal yang kejam
Berujar terpuji namun dingin
Sebelum benar menghilang
Santun berkata;
“Tetaplah membuat cerita
Walau tidak pernah tuntas”

2019

 

APA KABAR SECANGKIR KOPI

Pada hitam ini,
Membuai orang dengan sederhana
Lewat aroma harum nan lena
Melekat lembut indah sukma

Pada pahit  ini
Sisi yang tak mungkin disembunyikan
Berharap diri di sini ditemukan
Macam reaksi berikan seperti penolakan

Pada ampas ini
Bawa siluet perjalanan mewarnai
Demi waktu penasaran akan sampai
Ucap pinta sangat menghargai

Seduh kopi
dan sudahi sedihmu

Seruput kopi
dan kuatkan hatimu

2020

 

ODE DI BALIK KOPI

Aromanya mengajarkan ketenangan
Benar-benar paling dekat bersama angan
Tanpa perlu bertanya akan dengan
Selalu ada cerita di balik pertemuan

Tak perlu ragu meneguknya
Takkan lelah akan semua tanya
Saat sedang jemu selanjutnya
Seperti biasa meski tanpa dirinya

Warnanya selalu punya alasan
Kagum tak terelakkan
Kadang terasa gelap menyilaukan
Atau hampa makna ditinggalkan

Bila lihat sebentar di piringan
Berwarna penuh seperti pikiran
Seakan meraih ada kepastian
Untuk setia pada janji mengagungkan

2020

Tags: metafornona dan seikat bunga merahpuisisajaksultan musa
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

Next Post

Retorika Lucu

Sultan Musa

Sultan Musa

Berasal dari Samarinda Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar di berbagai platform media daring & luring. Serta karya-karyanya masuk dalam beberapa antologi bersama penyair Nasional & Internasional. Tercatat pula dibuku “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Merupakan 10 Penulis Terbaik versi Negeri Kertas Awards Indonesia 2020. Karya tunggal terbarunya berjudul "Titik Koma" (2021). IG : @sultanmusa97 /@sultanatakata.

Artikel Terkait

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya
Puisi

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025

Hisap Aku hingga Putih bulan merabun serbuk langit bebal pohon dan batu tak bergaris hitam coreng malam yang sumuk punggung...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Hadir itu Bukan Kamu

Hadir itu Bukan Kamu

25 August 2021
Surat dari Eretria

Surat dari Eretria

7 February 2021
Takbiran Buruh, Hardiknas Ki Hadjar Dewantara dan Lebaran Pascapandemi

Takbiran Buruh, Hardiknas Ki Hadjar Dewantara dan Lebaran Pascapandemi

2 May 2022
Di Sepanjang Jarak antara Sepasang Kekasih

Di Sepanjang Jarak antara Sepasang Kekasih

13 July 2021
Gambar Artikel Puisi Maret, Masihkah Kau Ingat Namaku

Maret, Masihkah Kau Ingat Namaku?

28 January 2021
Gambar Artikel Kenangan yang Kusimpan Dalam-dalam

Kenangan yang Kusimpan Dalam-dalam

2 November 2020
Salam Forum dan Strategi Dakwah di Medsos

Salam Forum dan Strategi Dakwah di Medsos

4 May 2021
Gambar Artikel Wisata di Tarempa : Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

30 April 2021
Hari Raya Kenangan dan Peringatan Patah Hati

Hari Raya Kenangan dan Peringatan Patah Hati

29 March 2021
Serba-serbi Kali

Serba-serbi Kali

1 March 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.