• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 10 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

Fea Putra by Fea Putra
22 June 2025
in Puisi
0
Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

Ilustrasi karya Owen Gent (Sumber: Getty Image | Non-commercial use)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Kiat Marah yang Payah 

Malam hari yang dingin
mencekam cepat menusuk pori-pori.
Dan keniscayaan lupa mendekam
di hati dan kantong mata telah mati.
Sisa detak arloji retak membakar meja sampai pagi.
Goresan pena sama saja.
Sama bosannya duduk tiada henti.
Meriang dan meradang menjelang di lorong semu abadi.

siapa yang tak rindu rumah?
Siapa yang tak rindu.
mungkin bukan.
—ini hanya soal waktu. Berani
bertaruh? Meski pernah bicara:
tubuh milik siapa yang rubuh?
Katamu, jalan-jalan di
Spanyol menyenangkan. Jalan-jalan
di Jepang tak kalah mengesankan.
Tapi kau takut jalan-jalan di sela
hatiku yang tertekan.

halaman buku tak sama dengan
halaman rumah. Luasnya pun
berbeda. Kurang lebih seperti penerimaanku dengan
penerimaanmu terhadap dunia.

Luasnya berbeda. Namun, sama-
sama terima. Aku tak muak ingin
jadi sempurna. Meski nyaris
mustahil. Aku kekal dalam impian
yang payah dan penuh tawa.

marah tak lebih dari sekadar cara payah
mempertahankan duka. Apa
guna selain takut pada keniscayaan
yang punah.
Sebelum berani
mengingatkan yang lupa.
Menyembuhkan yang sakit. Dan
memadamkan yang terbakar.

(2025)

 

Sebagian Lebaran Ada Padamu

Seadanya sisa bulan, kata-kata tak lagi mampu
menerjemahkan matamu yang biru.
Dan lebaran tak lagi sama.
Lontong dan rendang masih lupa rasa.
Hanya sisa hening sepiring berdua.
Meski daun pintu melambai kehadiran,
jendela menatap jauh keterasingan
—yang tak tereja tetaplah sama.

Pun jabat tangan dan lisan kebaikan
nyaris menyentuh napasmu yang menggantung
di rumah sanak saudara.
Selayang adanya kasih sayang,
aku membayangkanmu di ujung waktu
menikmati lontong rendang
dan melipat angpau bersamaku.

(2025)

 

Pasca Tahun Baru

Jalanan sepi sehabis hujan kesekian kali.
Aspal berlubang jadi wadah air menggenang.
Getar riak bergelombang ditiup angin tahun baru.
Tahun begitu sunyi selepas kembang api
meledak terakhir kali.
Kepagian kemarin,
pahitnya kopi jadi tak masuk akal.
Gula sepenuhnya dibawa lari orang. Tak bersisa.
Pulang.

Lewati gang sempit.
Jalan menurun.
Terseok-seok.
Terkekeh.

Memotong risau
tepat di persimpangan
temu mataku dan matamu
yang kedua kali.

Setelah pahitnya kopi,
ledakan kembang api,
dan jalanan sepi
tak lupa menasihati:
bahwa menyanggupi hidup
sama berarti siap menanggung air mata.

(2025)

 

Tempat di Mana Hanya Ada Kita

aku memimpikannya di atas ranjang tidurku,
sebuah tempat di mana hanya ada kita,
sebatas titik kecil di bawah tanda tanya,
dan lengkungan itu hanyalah pengandaian dari
setengah bentuk cinta—yang menempel
di jendela kamarku.

tempat di mana hanya ada kita,
tidak lebih dari sekadar kulacino
yang membekas di meja makanku.
dan lampu ruang tamu selalu berpijar
dan muka pintu menunggu ketukan
dan aku masih membisu di tengah
kesendirian.

sebuah tempat di mana hanya ada kita,
hanyalah rindu semata, hingga terang melipat malam,
kelam menggulung siang
terus berulang-berulang

(2025)

 

 

Kita Adalah Bom Waktu (2) 

satu waktu,
Gustav menyadari
Hawa panas
dari pembakaran
duniawi yang belum
tuntas.
takut ia
tersulut seperi
terakhir kali

maka ia
bergegas pergi
seakan ia
tak pernah ada
dalam persoalan-
persoalan ini.
sekarang ia bebas
menjalani hidupnya yang ringkas

(2025)

 

Eve Berlalu

                       —untuk Natasha.

saat kata-kata jatuh
yang ku kira akan

tenggelam di nadimu,
ternyata semesta punya
kehendaknya sendiri
untuk membuatnya mengapung
dan tak pernah
mencapai dasar.

batu nyaris naik permukaan
dan terumbu karang
senantiasa
di bawah
—benang takdir kusut
sepasang sayap
terlempar kemari,
di padang lapang
yang terlampau sepi

aku menanti waktu
dan menanggalkan
segala
–gala
nya.

 

Waktu yang Tepat untuk Token Presensi

Waktu yang tepat untuk berangkat ke kelas, tidak sempat aku bayangkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Kehadiran ialah riuh tanda tanya mahasiswa yang ragu dan yang tahu. Kehadiran jadi pemisah antara ingin dan enggan.

Di kelas, aku menyulam kata-kata.
Orang lain sibuk mengingat. Dan aku sibuk melupakan. Empat digit acak, seperti rindu memecah-belah segala kemungkinan.

Seakan waktu yang tepat adalah ketika aku menyeret kakiku sendiri di tengah pagi. Dan menggenggam tangan
menggigil di tengah dingin. Jelas, aku tidak mampu membedakan,
apakah aku hadir karena tuntutan revolusi
atau karena token presensi.

(2025)

 

Ketentuan yang Kini Sendu

Ketentuan di masa lalu, ku pikir normatif sederhana yang tidak terlalu berarti buatku. Ku pikir. Sesederhana melupakan PR dari guru, dan lanjut main lalu tidur di ranjang yang kini kosong—berbau apek dengan dinding lembap.

Sesederhana menutup mata pelajaran sejenak dan lari ke kantin—membungkam perut yang tak henti-hentinya mengeluh. Sedang pemangkasan rambut tak ada artinya bagiku. Bagi yang lain, senyawa dengan mahkota. Dan aku ada di sisi mereka.

Sisa-sisa ingatan mengalir dan membawa dingin di sekujur masa kini.

  1. Senin dan Selasa: almamater dan pantofel
  2. Rabu: atasan putih, celana abu, dan sepatu hitam
  3. Kamis: batik, celana abu, dan sepatu hitam
  4. Jumat: pramuka dan sepatu pantofel

Ketentuan-ketentuan kini sendu. Membuka paksa lemari rindu yang sepenuhnya beku. Di sana, segalanya tertanggal. Di hati, akhirnya tinggal.

(2025)

Tags: fea putrametaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Siasat Bersama Wong Cilik dan Upaya Menginsafi Diri: Sebuah Perjamuan dengan Sindhunata

Next Post

Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

Fea Putra

Fea Putra

Fea Tegar Nanda Lukmawan Putra, yang akrab disapa Tegar lahir pada 8 Desember 2004. Saat ini, sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa aktif di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Sibuk di dunia kepenulisan sastra dan pertunjukan teater. Ia tergabung dalam komunitas Teater Mishbah PBSI UNY. Dapat ditemui di Instagram @feaputra

Artikel Terkait

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Serat Badar Lunar

Serat Badar Lunar

21 November 2020
Sambatan Orang yang Pakai Behel

Sambatan Orang yang Pakai Behel

7 February 2021
Sebuah Limerick yang Gagal

Sebuah Limerick yang Gagal

22 March 2022
Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

11 July 2025
Pada Suatu Kangen dan Kontradiksi Interminus

Pada Suatu Kangen dan Kontradiksi Interminus

6 August 2021
Gambar Artikel Teori Resep Rahasia Membuat Krabby Patty Laris

Teori Resep Rahasia yang Membuat Krabby Patty Laris

15 November 2020
Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

8 May 2023
Kandang Menjangan Menggugat dan Puisi Lainnya

Kandang Menjangan Menggugat dan Puisi Lainnya

5 April 2024
Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

7 February 2021
Burung Pipit

Burung Pipit

6 April 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.