• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Desas-Desus Ultraman

Kristophorus Divinanto Adi Yudono by Kristophorus Divinanto Adi Yudono
11 November 2021
in Cerpen
0
Desas-Desus Ultraman

https://wall.alphacoders.com/big.php?i=1006619

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Orang-orang yang menyadran ke kota pasti sudah terbiasa melihat seseorang berpakaian Ultraman di sebuah sudut pekuburan. Karena dia selalu berpakaian dan bertopeng Ultraman–tokoh fiksi serial TV Jepang karya Eiji Tsuburaya–maka orang-orang memanggilnya dengan sebutan Ultraman.

Terkadang dia terlihat memasang kuda-kuda–layaknya tokoh Ultraman yang hendak melawan Godzilla–di dekat makam. Biasanya anak-anak pembersih makam akan meneriaki si Ultraman dengan sebutan orang gila ketika melihat rangkaian kuda-kuda itu. Namun ada hari ketika Ultraman hanya duduk terdiam di sebelah makam tanpa melakukan apa-apa. Tentu saja anak-anak pembersih makam tetap berpikir bahwa dia gila. Mereka terlalu repot untuk mencari tahu lebih dalam tentang seseorang, dan memilih cara yang lebih mudah: menyematkan predikat orang gila.

Tidak ada yang pernah tahu tentang siapa dirinya, termasuk tubuh yang tertidur abadi di dalam makam yang selalu ia kunjungi.

***

Kala itu kota lumayan gempar dengan munculnya seseorang berbaju Ultraman. Dia mendatangi satu tempat ke tempat yang lain dengan berjalan kaki. Sesampainya di muka toko atau tempat umum lainnya, ia memasang kuda-kuda seperti hendak melakukan jurus pemungkas untuk mengalahkan kejahatan. Sepiker kecil yang ada di saku celananya tidak berhenti memutar musik rok Jepang. Terkadang si Ultraman melengkapi kuda-kuda bertarungnya dengan membawa pedang plastik bercorak biru dan merah di tangan. Jika dia membawa pedang, kita beruntung karena bisa melihatnya seolah-olah sedang melatih kecakapan mengayunkan pedang.

Beberapa anak kecil biasanya akan tertarik dan mendekat. Ada beberapa anak yang merengek kepada orang tuanya agar bisa berfoto bersama Ultraman. Beberapa orang tua tampak senang, namun tidak jarang pula orang tua yang mengisi kotak sukarela biaya foto bersama dengan mencaci maki. Ada juga yang mengisi kotak tanpa mengajak foto, melempar satu sampai dua keping receh ke dalam kotak dan pergi begitu saja. Kadang kotaknya juga tidak diisi, meski ia sudah melakukan beberapa rangkaian kuda-kuda. Jika sudah begitu, biasanya dia akan mengakhiri kuda-kudanya, menunduk memberi hormat, mengambil kotak yang tidak bertambah, dan berjalan menuju tempat lain.

Ultraman telah mengenal kota ini dengan baik. Dia hapal setiap jengkal kota. Dimulai dari sudut kota yang bersedia mengisi kotaknya dengan selembar uang, sekeping receh, hingga sudut kota yang hanya memberinya caci maki ketika ia beraksi. Si Ultraman juga sudah hafal jadwal pulang sekolah. Biasanya dia beraksi di dekat sekolah taman kanak-kanak atau sekolah dasar ketika berada di jam pulang sekolah. Anak-anak yang baru saja keluar gerbang sekolah, akan berteriak kegirangan dan mendatangi Ultraman untuk menyaksikan aksinya. Anak-anak itu biasanya rela menyisihkan uang jajannya, untuk melihat kuda-kuda baru yang dilakukan. Bahkan ada beberapa anak yang mengusulkan gaya kuda-kuda baru kepada si Ultraman untuk dilakukan di aksi selanjutnya.

Namun ia tidak lagi beraksi di dekat sekolah, usai ditegur dan diusir satpam sekolah. Suatu kabar mengatakan bahwa si Ultraman adalah seorang pedofilia. Kabar itu menyebar tanpa perlu menunggu habis satu hari, hingga paguyuban orang tua meminta pihak sekolah melarang si Ultraman mendekati area sekolah. Ada satpam yang mengusirnya dengan ucapan yang sopan, dan ada juga satpam yang mengusirnya dengan mendaratkan pentungan hitam.

Tuduhan pedofilia yang didapat dari area sekolah cukup berpengaruh pada penghasilannya di sudut kota lain. Beberapa rumah mulai enggan mengisi kotaknya, bahkan ada yang langsung mengusirnya ketika si Ultraman berhenti di muka pintu. Uang yang mengisi kotaknya kian berkurang. Sudut-sudut kota yang biasanya tertawa untuknya kini memalingkan muka. Tidak ada lagi anak-anak yang tampak mengajak foto bersama. Bisikan-bisikan kian lantang.

“Lihat, itu lho, Ultraman yang katanya suka sama anak-anak kecil,”

“Oh, aku pernah lihat dia! Dia pernah datang di pemakaman anak kecil di kampung sebelah. Pakai baju Ultraman-nya itu. Benar-benar tidak tahu tempat. Cari rezeki kok di pemakaman orang,”

“Anak yang mati itu bukannya anak dari janda yang baru saja menikah itu, ya?”

“Betul! Perempuan yang ditinggal minggat sama suaminya, kemudian dia nikah lagi sama duda yang punya rumah makan di jalan utama. Biasa, janda carinya orang kaya. Waktu miskin suaminya minggat. Giliran suaminya kaya, anaknya mati. Idih!”

***

Si Ultraman melangkah menuju sebuah makam–makam yang selalu dikunjungi setiap sore. Setelah membersihkan permukaan makam dari retakan ranting, daun kering, dan serpihan bunga kering, si Ultraman duduk di sebelah makam. Di balik topeng, matanya menatap nama yang tertulis di atas nisan.

“Ibumu sehat. Tadi bapak lihat dia sedang melayani pelanggan di rumah makan. Suami baru ibu–ayah tirimu–hari ini memberi bapak sebungkus nasi rames gratis, sehingga bapak hari ini tidak kelaparan,” ucap Ultraman dari balik topengnya.

Topeng dan jubah yang basah menyembunyikan air mata dan jiwa yang rapuh di baliknya. Hujan dan tangis si Ultraman dari balik topeng kian deras.

“Kali ini bapak akan tetap di sini. Kamu jangan takut, ya.” Si Ultraman mengambil sebuah mainan Ultraman dari kotak yang biasanya digunakan untuk mengumpulkan uang. Ia meletakkan mainan itu di sebelah nisan.

—

Kutoarjo, 06 September 2021

Tags: cerpen ayahdesas desus ultramankisah perjuanganultraman
ShareTweetSendShare
Previous Post

Surat dari Sekar

Next Post

When The Weather is Fine dan Puisi Kesakitan

Kristophorus Divinanto Adi Yudono

Kristophorus Divinanto Adi Yudono

Kristophorus Divinanto Adi Yudono, sering dipanggil dengan nama Divin. Terkadang menulis, terkadang menemani anak SD belajar. Namun lebih sering membaca komik One Piece. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinanto

Artikel Terkait

Perempuan yang Menghapus Namanya
Cerpen

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar ada atau hanya tinggal dalam kepala dan dada seseorang yang terlalu sering menulis namaku?...

Gelembung-Gelembung
Cerpen

Gelembung-Gelembung

19 November 2025

Gelembung-gelembung itu terus mengudara dan semakin tinggi diterpa angin pagi. Perlahan satu per satu jatuh dan pecah, namun ada yang...

Dua Jam Sebelum Bekerja
Cerpen

Dua Jam Sebelum Bekerja

21 September 2025

Hujan belum menunjukkan tanda reda. Aku menyeduh kopi lalu termenung menatap bulir-bulir air di jendela mess yang jatuh tergesa. Angin...

Selain Rindu, Apa Lagi yang Kaucari di Palpitu?
Cerpen

Selain Rindu, Apa Lagi yang Kaucari di Palpitu?

24 July 2025

Selain rindu, barangkali kau tak punya alasan untuk apa pulang ke Palpitu. Sebuah pertanyaan tentang keadilan bagi ibumu juga belum...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Fafifu John Mayer

Fafifu John Mayer

16 March 2021
Membakar Usia

Membakar Usia

4 April 2021
Mawar Hitam Praja Buana

Mawar Hitam Praja Buana

29 April 2021
Gambar Artikel Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

11 January 2021
Dismorfia Kehidupan

Dismorfia Kehidupan

1 February 2022
Malam Kutukan

Malam Kutukan

28 February 2021
4 Nilai Humanistik dalam Film “Hotel Transylvania: Transformania”

4 Nilai Humanistik dalam Film “Hotel Transylvania: Transformania”

1 March 2022
https://unsplash.com/photos/g4I_Lq-p4o0

Pengguna VPN Bukan Berarti Pecinta Bokep

14 February 2021
Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

10 March 2022
Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

21 March 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.