• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Inspiratif

Para Pengungsi Peradaban (1)

Duljabbar by Duljabbar
23 January 2021
in Hikmah, Inspiratif
0
Para Pengungsi Peradaban (1)

Sumber gambar: https://www.lenamacka.com/illustrations/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sore yang syahdu di kedai kopi tempat saya bekerja. Semilir angin menyapu dedaunan kering yang memang sudah ditakdirkan untuk gugur. Panggilan untuk shalat Ashar baru saja dikumandangkan. Saya dan kawan-kawan lain sedang duduk-duduk saja. Ngudud, ngopi, dan berkelakar santai. Bukan sekadar santai, kalau saja ada orang yang mencari sosok pelita bagi hidupnya di sini.

Kebetulan kedai kopi tempat saya menyeduh ini juga bagian dari Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib atau Rumah Maiyah, di Kadipiro, Yogyakarta. Hanya saja kedai saya ada di bagian depan rumah, sehingga bagi siapapun yang ingin sowan ke Mbah Nun — yang dirasa banyak orang menjadi pelita bagi hidupnya, pastinya melewati kedai dulu. Maka tugas saya bukan cuma ngudek kopi, tapi “nyatpam” juga.

Nyatpam bukan berarti saya menjadi satpam betulan, yang badannya kekar dan siap pasang badan kalau ada maling. Wong saya ini kurus, kok. Satpam di sini bertugas sesekali menjembatani antara orang-orang yang ingin sowan ke Mbah Nun — yang kelak saya sebut Para Pengungsi Peradaban — dengan Mbah Nun sendiri. Eh, bukan meneruskan ke Mbah Nun. Tapi ke pihak manajemen beliau. Kok sangar tenan saya bisa ngobrol segampang itu dengan beliau. Canda.

Belum lama saya nyatpam, baru sekitar sepuluh bulan, tapi tipe orang-orang yang ingin sowan ke Mbah Nun ini variatif sekali. Bukan cuma karakter orangnya, tapi juga modusnya. “Mas, ini rumahnya Mbah Nun, ya?” merupakan pertanyaan yang paling sering saya terima. Banyak pula pertanyaan senada, namun susunan kalimat dan mimik muka pengucapnya berbeda-beda.

Ada yang bersepeda motor dari Lampung ke Kadipiro, sekitar tiga hari tiga malam perjalanan, katanya, dan bilang ingin bertemu Mbah Nun. Maka saya tanya apa tujuan ketemunya dengan Simbah, dijawabnya, “Ada pesan yang harus saya sampaikan, Mas. Pesan dari Bapak Ibu saya di rumah.” Lalu sebagaimana pesan Manajemen Simbah, saya berikan opsi: mau saya beri nomor telepon manajemen, atau menuliskan keperluannya di secarik kertas dan akan saya sampaikan ke manejemen. Dia memilih opsi kedua.

Oke, dengan dipilihnya opsi kedua, maka saya ambilkan secarik kertas dan dia tuliskan keperluannya. Karena sepertinya saya tidak diperbolehkan tahu apa keperluannya, maka saya tidak membaca surat yang dititipkan ke saya, dan tidak menanyakan lebih lanjut apa keperluannya. Dengan saya minta untuk meninggalkan identitas serta kontak yang bisa dihubungi dalam suratnya, tak lama dia pamit pergi.

Keesokan harinya, saya mendapat kabar bahwa orang semalam itu selain nekat bersepeda motor dari Lampung, nekat pula niatnya untuk melamar Mbak Haya, putri Mbah Nun. Entah konfirmasi lanjutnya seperti apa, yang jelas lamarannya ditolak. Sabar, ya, Mas.

***

Ada pula Ibu-ibu berusia sekitar lima puluhan, datang dengan anak remajanya. Beliau datang dengan raut wajah bersedih, dan bicara dengan sesenggukan,

“Mas, apa benar ini rumahnya Pak Emha Ainun Nadjib? Saya ingin ketemu bapaknya, Mas. Minta tolong. Saya ini jauh-jauh dari Jawa Timur mencari pekerjaan sepanjang perjalanan. Tapi ndak ada yang mau menerima saya dan anak saya ini,” ucapnya.

“Kalau di sini cuma kantornya Pak Emha, Buk. Pak Emha ndak setiap waktu ada di sini. Ibuk ke sini atas saran siapa, Buk?”

“Saya tadi keliling Malioboro, Mas, cari kerjaan tapi ndak kunjung dapat. Tolong saya, Mas. Beri saya pekerjaan di sini, Mas. Atau pertemukan saya dengan Pak Emha siapa itu,” beliau agak-agak lupa nama Mbah Nun, yang langsung saya sambung nama lengkap beliau. “Nah iya itu, Pak Emha Ainun Nadjib. Saya ke sini diantar sama tukang becak di Malioboro sana, Mas. Kata orang-orang di sana, kalau ada masalah apa-apa, datang saja ke Kadipiro, datang saja ke tempatnya Pak Emha Ainun Nadjib.”

Wah, kok jadinya malah saya yang dimintai pekerjaan. Lantas saya beritahu ini-itu agar minimal bisa bertemu manajemen. Saya tawarkan Ibu itu untuk kembali besok pagi-pagi. Sebab kalau sore sudah tidak ada orang di kantor.

Itu tadi baru dua contoh yang bagi saya cukup memorable. Belum lagi ada yang dari Banjar, Jawa Barat, yang datang dengan membawa luka. Sebab ternyata dua minggu yang akan datang sejak saat itu, (mantan) kekasihnya hendak menikah. Padahal antara Mas-nya itu dengan kekasihnya sudah sepakat untuk segera menikah. Namun sayang, terhalang restu orang tua.

“Untung saja, Mas, sampean mau mendengarkan apa yang saya derita. Meski saya tidak cerita lengkap, setidaknya saya sudah ayem karena masih ada yang menemani saya. Betul-betul ndak tahu harus bagaimana saya ini, Mas,” ucapnya kepada saya. Sekitar tiga malam saya berbagi tempat untuk menginap di kamar saya. Beruntung, sungguh beruntung, akhirnya dia bertemu dengan Mbah Nun. Dia pulang dengan muka dan tingkah yang teramat ayem. Plong….

Tags: ceritaEmha Ainun NadjibesaiPara Pengungsi Peradabansosial
ShareTweetSendShare
Previous Post

Percakapan Orang Sinting

Next Post

Pengungsi Peradaban (2)

Duljabbar

Duljabbar

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Anthony Giddens: Agensi dan Strukturasi Sosial
Sosok

Anthony Giddens: Agensi dan Strukturasi Sosial

30 November 2022

Anthony Giddens adalah mantan Direktur London School of Economics (LSE) yang tercatat sebagai salah satu sosiolog penting dunia menjelang akhir...

Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam
Sosok

Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

10 March 2022

Setelah meninggalnya Nabi saw., Islam dipimpin oleh Khulafa’ al-Rasyidun dan diikuti oleh beberapa dinasti selanjutnya mulai dari Umawiyyah, Abbasiyah, sampai...

Tadabbur via Momentum Hujan
Hikmah

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022

Sebuah pepatah mengatakan bahwa barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenali Tuhannya. Namun, permasalahannya adalah tingkat kesadaran terhadap diri...

Ali Syari’ati: Mempercayai Tuhan Sekaligus Menjaga Alam dan Hubungan Sesama Manusia
Sosok

Ali Syari’ati: Mempercayai Tuhan Sekaligus Menjaga Alam dan Hubungan Sesama Manusia

16 February 2022

Arsitek Revolusi Islam, begitulah kata M. Dawam Rahardjo untuk Ali Syari’ati dalam tulisan kecilnya berjudul Ali Syari’ati: Mujahid Intelektual di...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Perempuan di Mata Asghar Ali Engineer

Perempuan di Mata Asghar Ali Engineer

29 June 2021
Doa

Doa

18 June 2021
Gambar Artikel Surat Cinta Awal Tahunku

Surat Cinta Awal Tahunku

5 January 2021
Gambar Artikel Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

19 November 2020
Balapan yang Dibudayakan

Balapan yang Dibudayakan

20 October 2021
Balada Mobile Legends

Balada Mobile Legends

22 February 2021
Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

2 July 2021
Dongeng Pak Tua Menjangkau Cahaya

Dongeng Pak Tua Menjangkau Cahaya

23 February 2021
Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

26 April 2025
Gambar Artikel Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

1 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.