• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Sambatologi Komentarium

Daftar Momen Saat Perempuan Minta Maaf dengan Tulus

Mohammad Azharudin by Mohammad Azharudin
26 December 2021
in Komentarium
0
Daftar Momen Saat Perempuan Minta Maaf dengan Tulus

https://id.pinterest.com/pin/1125968648494126/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Aturan yang berbunyi “perempuan selalu benar, lelaki selalu salah” agaknya sudah sangat mendarah-daging dalam setiap diri perempuan. Para perempuan memang tidak mengikrarkannya seperti Sumpah Pemuda. Namun, mereka nyata-nyata mengimplementasikannya pada tiap langkah kaki, tiap kedipan mata, tiap hembusan napas, tiap denyut nadi. Tingkat ketaatan perempuan pada aturan tersebut bahkan melebihi tingkat ketaatan mereka pada orang tua. Dilihat dari realitas sosial yang ada, aturan termaktub itu nyatanya semakin melekat ketika seorang perempuan telah menyandang status sebagai “emak”.

Contoh dari hal itu bisa kita lihat di jalanan. Ketika ada seorang emak-emak yang menyalakan lampu sein kiri tapi beloknya ke kanan, kemudian si emak tersebut tertabrak oleh pengendara di belakangnya, maka sudah bisa disimpulkan siapa yang salah (lebih tepatnya ‘disalahkan’). Nggak hanya di jalanan, di rumah pun berlaku aturan yang sama. Misal, ketika kita nggak sengaja nabrak gelas yang ada airnya, pasti kita (anaknya) yang dimarahi. Tapi ketika yang nabrak gelasnya emak, kita juga yang dimarahi.

Berdasarkah hal tersebut, maka generalisasi bahwa semua laki-laki itu sama, perlu dihadirkan penyeimbang. Sebab, faktanya semua perempuan itu juga sama. Iya, sama-sama nggak pernah mau dekat dengan kata ‘salah’ meski jelas-jelas dirinya salah.

Dalam buku “Seni Memahami Wanita” yang ditulis oleh Claudia Sabrina dipaparkan bahwa wanita/perempuan adalah makhluk yang kompleks. Misal, perempuan berkata bahwa ia ingin A. Ketika lelaki telah memberikan A, perempuan tadi tiba-tiba berubah pikiran dan menginginkan B. Saat lelaki memberinya B, si perempuan berkata bahwa A ternyata lebih baik. Jelas laki-laki akan kelimpungan menghadapi sikap tersebut. Belum lagi ujung-ujungnya si perempuan memberi cap pada si lelaki bahwa ia tidak peka. Lalu di mana kata ‘maaf’ dari si perempuan? Hampir mustahil itu terucap.

Meski demikian, bila kita cukup jeli dalam memperhatikan, kita akan menemukan momen-momen dimana para para perempuan mengucap kata ‘maaf’. Ucapan ‘maaf’ tersebut terbilang tulus, dan pada momen-momen tersebut si perempuan nggak menyalahkan pihak lain―terutama laki-laki. Berikut beberapa momen perempuan minta maaf dengan tulus dan dari lubuk hati yang paling dalam.

  • Menolak Laki-laki yang Nembak Dia

Yap! Di momen ini pasti terucap kata ‘maaf’ dari lisan perempuan. Kata ‘maaf’ tersebut biasanya diikuti baris kalimat yang bervariasi, tergantung seperti apa sosok si lelaki yang nembak. Bila si lelaki adalah seorang good boy, maka si perempuan akan berucap, “Maaf! Kamu terlalu baik buat aku”. Alasan tersebut sebenarnya jauh dari kata rasional. Mayoritas perempuan pasti ingin punya suami yang baik, ingin anaknya nanti punya ayah yang baik. Jadi, alasan tersebut bisa dibaca sebagai upaya si perempuan untuk menutupi ketidaksukaannya pada si lelaki, sekaligus ia (sepertinya) berusaha untuk tidak menyakiti hati si lelaki tersebut terlalu dalam.

Nah, beda lagi ketika si lelaki adalah sosok yang asyik di mata si perempuan. Ucapan penolakannya akan jadi begini, “Maaf! Kita temenan aja”. Ini merupakan ungkapan tidak langsung dari si perempuan supaya laki-laki tersebut berkenan menjadi badut. Terdengar jahat dan menyakitkan? Sudah tentu, brader! Tapi bagaimana pun kita (para laki-laki) harus sadar akan hal tersebut.

Permintaan maaf dari perempuan―dalam kasus ini―yang paling menyakitkan adalah, “Maaf! Aku sudah punya pacar”. Bisa jadi, permintaan maaf tersebut hanya sebuah pengalihan isu supaya si lelaki tidak lagi mendekatinya. Padahal belum tentu perempuan tersebut beneran udah punya pacar. Dengan kata lain, perempuan tersebut ingin si laki-laki segera menjauh dari hidupnya, tapi ia membungkus dan membumbuinya dengan kata ‘maaf’.

  • Sidang Skripsi

Kalau ini jelas harus minta maaf dengan tulus dan mengakui kesalahan. Sebab jika tidak, urusannya bisa makin runyam. Kecuali jika perkara yang dianggap salah oleh dosen penguji masih bisa dilawan dengan argumen yang logis, itu tidak apa-apa. Permintaan maaf perempuan di momen ini merupakan satu metode supaya dirinya tetap aman. Tanpa permohonan maaf, tidak menutup kemungkinan dosen penguji akan menilai mereka sebagai mahasiswi yang nihil tata krama. Dampak fatalnya adalah dosen penguji tidak akan meluluskan mereka. Oleh seba itu, demi bucket migi-migi dan instastory, eh! Maksud saya demi bakti pada orang tua dan masa depan yang lebih baik, para perempuan rela mengikis egonya untuk bisa mengucap kata ‘maaf’ dan mengakui kesalahannya saat sidang skripsi.

  • Cerita Fiksi

Cerita fiksi di sini bisa berupa cerita dalam cerpen/novel, bisa juga berupa sinetron. Yang paling dominan dan secara gamblang menampilkan perempuan minta maaf sih, ya, di sinetron. Bila kita memperhatikan sinetron-sinetron yang tokoh utamanya seorang  perempuan (Inayah, misalnya), pasti kita akan melihat sosok si tokoh utama yang sering sekali minta maaf dan mengakui kesalahan, padahal dirinya nggak salah. Tentu saja si tokoh utama perempuan tersebut mengucap ‘maaf’ dengan tulus. Tulus demi memancing emosi penonton supaya mereka bersimpati pada dirinya. Kalau nggak gitu, ya nggak laku dong sinetronnya.

Mungkin ulasan dari saya cukup segitu saja, daripada nanti saya dibombardir oleh kaum cewek, apalagi kaum emak-emak. Nah, kalau menurut kalian, di momen apalagi perempuan berani meminta maaf secara tulus?[]

Tags: Daftar Momen Saat Perempuan Minta Maaf dengan TuluskomentariumMohammad Azharudin
ShareTweetSendShare
Previous Post

Birai-Birai Kelapa

Next Post

Perubahan Budaya Organisasi di Masa Pandemi

Mohammad Azharudin

Mohammad Azharudin

Asal Banyuwangi, Jawa Timur. Anak muda biasa yang suka belajar. Bisa disapa di Instagram @mas_azhar.27

Artikel Terkait

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti
Komentarium

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

26 September 2025

Ada sebuah kawasan yang tampak biasa di peta, namun warganya hidup dalam kepungan janji palsu yang manis. Mereka mendapat iming-iming...

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!
Komentarium

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

9 April 2022

Belum lama ini timeline media sosial saya sempat dilewati sebuah berita soal seorang ayah yang membanting laptop anaknya. Hal tersebut...

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya
Komentarium

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022

Dalam kategori musik di Youtube, ada banyak sekali lagu Jawa, entah itu genrenya dangdut, pop, atau koplo. Mungkin lagunya baru...

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan
Komentarium

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

16 February 2022

Fenomena ‘hijrah’ bukan hal yang asing lagi bagi kita. Saya sendiri kurang begitu paham kapan awal-mula munculnya fenomena hijrah ini....

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pulang

Pulang

22 April 2022
Berteman dengan Kegagalan

Berteman dengan Kegagalan

7 May 2022
Tontonan dari Bujursangkar

Tontonan dari Bujursangkar

20 June 2021
Facebook, Penyair, dan Lunatisme

Facebook, Penyair, dan Lunatisme

17 February 2021
Gambar Artikel Gerakan Mosi TIdak Percaya: Sumpah dan Nasionalisme (Tertinggi) Pemuda

Gerakan #MosiTidakPercaya : Sumpah dan Nasionalisme (Tertinggi) Pemuda

5 November 2020
M. Kasim: Pembuka Jalan Cerpen Indonesia

M. Kasim: Pembuka Jalan Cerpen Indonesia

25 February 2021
Gambar Artikel Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

15 January 2021
Nona dan Seikat Bunga Merah

Nona dan Seikat Bunga Merah

10 August 2021
Gambar Artikel Idealisme dan Pembantaian

Idealisme dan Pembantaian

9 December 2020
Kiat Merawat Dendam ala Seneca

Kiat Merawat Dendam ala Seneca

3 November 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.