• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 04 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

Kukuh Basuki Rahmat by Kukuh Basuki Rahmat
4 March 2026
in Resensi
0
Membaca Rute Evolusi Otak Kita

Buku Carl Sagan "The Dragon of Eden" | Dok. Penulis (Kukuh Basuki)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ canggih di tempurung kepala itu semakin tergambar detail anatomi beserta fungsi dan mekanisme kerjanya. Namun, di sisi lain, dari temuan sains yang ada itu muncul beragam pertanyaan yang belum bisa dijelaskan kecuali dengan menggunakan perkiraan dan prediksi yang bersifat spekulatif.

Salah satu ilmuwan yang mau turun gunung untuk membahas kerumitan lanskap ini adalah Carl Sagan. Walaupun latar belakangnya adalah seorang astronom, ia cukup telaten membaca berbagai penelitian tentang struktur otak beserta sistem kerjanya dalam lanskap peta besar evolusi dan mengelaborasi dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya.

Buku berjudul The Dragons of Eden: Spekulasi tentang Evolusi Kecerdasan Manusia adalah salah satu capaian profesor astrofisika Cornell University tersebut dalam mengelaborasikan berbagai macam disiplin keilmuan seperti biologi, fisiologi, biokimia, antropologi, arkeologi, primatologi, psikologi, ilmu komputer, dan masih banyak lagi. Dalam buku setebal 236 halaman itu, ia menuliskan berbagai spekulasi tentang bagaimana kehidupan manusia perlahan berubah seiring perkembangan sistem anatomi otak manusia. Proses panjang ini membuatnya bisa menciptakan puisi, komputer, dan sistem kerja sama dalam skala besar yang belum mampu dicapai oleh spesies mana pun.

Satu hal yang menarik lagi dari buku genre sains populer ini adalah ketidakcanggungan penulis untuk memasukkan kajian-kajian filsafat, sastra, teologi, bahkan mitologi sebagai usahanya memahami lanskap penelitian tentang otak yang jelas-jelas saintifik. Dengan kelenturan dan fleksibilitas intelektualnya ini, ia berhasil membuktikan sains dan menghindari kesan pongah yang sering disalahpahami sebagai sistem berpikir yang menolak segala hal yang tidak saintifik. Ini juga menyiratkan bahwa Sagan mengamini kalau sains itu tidak lahir dari ruang kosong.

Tiga Komputer Biologis

Jika jutaan tahun usia Bumi diumpamakan sebagai kalender satu bulan berisi 31 hari, manusia baru muncul pada hari terakhir. Itu pun di jam 22.30 sebelum pergantian bulan sebagai proses lanjutan dari Proconsul dan Ramapitechus, leluhur bersama manusia dan kera. Jika ditarik lebih ke belakang lagi, manusia masih satu nenek moyang dengan binatang-binatang vertebrata lainnya, bahkan yang lebih sederhana lagi. Hal itu bisa dibuktikan dari morfologi otak masing-masing spesies yang mempunyai aspek-aspek kemiripan. Selanjutnya, bagaimana proses evolusi terjadi sehingga membuat perbedaan yang signifikan antara manusia dan spesies lainnya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, ilmuwan evolusi otak Paul MacLean mengajukan teori tentang triune brain, yaitu tiga “komputer biologis” yang saling berhubungan. Ketiga hasil adaptasi evolusi itu berbeda secara neuroanatomis, fungsional, dan tumbuh dalam masa evolutif yang berbeda. McLaen mengistilahkan masing-masing elemen sebagai “sasis saraf”.

Sasis saraf paling purba ada sumsum tulang belakang, medula, dan pons yang merupakan otak belakang dan otak tengah. Di dalamnya terdapat sistem saraf dasar reproduksi dan pertahanan hidup. Di dalamnya termasuk pengaturan pernapasan, detak jantung, dan sirkulasi darah. Bagian ini sering juga disebut otak reptil (Kompleks-R).

Baru 150 juta tahun yang lalu, kemudian muncul lapisan berikutnya, yaitu sistem limbik. Sistem ini memungkinkan spesies menghasilkan emosi yang sangat kuat. Di dalamnya ada hipofisis (pituitari) yang mengatur sistem endokrin, amigdala yang menghasilkan rasa takut, dan hipotalamus sebagai penyimpan memori. Munculnya sistem limbik ini memungkinkan terjadinya proses altruisme dan cinta. Hal ini membuat mamalia mengasuh anaknya, hal yang tidak mungkin terjadi di dunia reptil yang sering kali menganggap anaknya sebagai sumber makanan.

Lapisan terakhir yang muncul sekitar beberapa puluh tahun yang lalu adalah neokorteks yang mempunyai berbagai macam fungsi pemikiran tingkat tinggi seperti perencanaan dan kontrol tindakan (lobus frontal), persepsi ruang dan pertukaran informasi antar-otak (lobus parietal), perseptual kompleks (lobus temporal), dan penglihatan (lobus oksipital). Lapisan neokorteks ini berkembang di semua spesies primata, termasuk manusia.

Evolusi Otak

Dalam perdebatan sains, Homo sapiens disinyalir adalah keturunan dari Homo Australopithecus yang bisa berjalan dengan kedua kaki dan mempunyai otak sekitar 500 cc, sekitar 100 cc lebih besar dari otak simpanse modern. Jika prediksi itu akurat, maka leluhur manusia lebih dahulu bisa berjalan sebelum otaknya membesar.

Kemampuan berjalan itu membuat tangan menjadi lebih leluasa untuk membuat dan mengoperasikan alat. Keberadaan alat sebagai teknologi sederhana sangat berguna bagi sapiens untuk berburu dan bertahan hidup. Itulah yang membuat mereka lebih unggul dari spesies lainnya yang tidak berhasil menciptakan alat.

Perilaku sapiens dalam berburu binatang-binatang besar membuat mereka harus berkelompok dan bekerja sama. Dari situlah lahir bahasa isyarat, suatu bahasa simbol yang menjadi cikal-bakal bahasa verbal. Kemampuan berbahasa inilah yang mendukung kemampuan manusia untuk berpikir abstrak dan analisis tingkat tinggi. Kemampuan bahasa itu berada di area Broca, bagian otak yang pertama kali muncul pada Homo habilis dua juta tahun yang lalu.

Hingga pada titik masa sekarang, manusia mempunyai rasio otak paling besar jika dibandingkan dengan berat badan masing-masing spesies. Selain itu, manusia juga mempunyai jejaring sinaps yang lebih kompleks dan lipatan otak yang lebih banyak dibandingkan dengan otak spesies lainnya. Hal itulah yang membuat manusia bisa berpikir semakin kompleks, membuat teknologi canggih, berpuisi, dan menjadi satu-satunya spesies yang mengembangkan pola pikir sains untuk dapat memahami dirinya sendiri dan semesta di sekitarnya.

Relevansi dan Keterbatasan

Jika dilihat dari tahun awal penulisannya di era 70-an, maka Sagan sudah memberikan lompatan besar di ranah sains, khususnya evolusi otak. Pada masa itu, penggunaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan EEG (Elektroensefalogram) masih sangat terbatas dan belum terlalu canggih. Belum ditemukan VGA (Video Graphic Adapter) yang membuat topografi otak bisa tergambar di layar komputer sedetail dan serealistis era sekarang. Namun, keterbatasan tersebut tidak membatasi Sagan untuk mengumpulkan riset-riset tentang otak dan memberikan analisis tajam terhadapnya.

Hanya saja, buku ini bukannya tanpa kekurangan. Di dalamnya Sagan tidak membahas tentang asupan nutrisi, siklus tidur (istirahat), dan juga proses bermain (aktivitas tanpa motif bertahan hidup) pada manusia yang dalam riset-riset terkini mempunyai dampak signifikan dalam perkembangan otak. Sagan juga kurang menjelaskan tentang anatomi-anatomi lainnya di sekitar otak, misalnya cairan meninges atau cairan serebrospinal yang membantali otak dari benturan dengan tulang. Sagan juga kurang menyentuh tentang penyakit-penyakit otak populer seperti kanker otak, hidrosefalus, dan cerebral palsy, yang tentunya akan menjadi pertanyaan menarik bagi masyarakat mengapa itu bisa terjadi.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, buku The Dragon of Eden: Spekulasi Tentang Evolusi Kecerdasan Manusia masih sangat relevan dibaca siapa pun yang ingin memahami lebih dalam bagaimana konstelasi rumit otak yang kita miliki dari sudut pandang evolusi. Buku ini juga disusun dengan gaya khas Carl Sagan yang multidisiplin keilmuan, padat data, tapi disampaikan dengan bahasa yang renyah dan enak dibaca. Sekali lagi, sains tak selalu njlimet dan penuh angka-angka.[]

 

________________

Data Buku

Judul Buku                         : The Dragon of Eden: Spekulasi Tentang Evolusi Kecerdasan Manusia
Penulis Buku                      : Carl Sagan
Penerbit                              : KPG
Tahun Terbit                       : Oktober 2025 (cetakan pertama)
Jumlah Halaman               : 236 halaman
ISBN                                   : 978-623-134-458-8

Tags: bukucarl saganevolusi otakresensisainsthe dragon of eden
ShareTweetSendShare
Previous Post

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Kukuh Basuki Rahmat

Kukuh Basuki Rahmat

Penulis dan musisi alumnus Magister Psikologi UGM. Aktif menulis cerpen, esai, resensi buku, dan sedang berusaha menyelesaikan novel dan buku teks. Kini menjadi kontributor di Tirto.id dan anggota komunitas Radio Buku. Dapat disapa via IG @basczky.

Artikel Terkait

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme
Resensi

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

13 October 2025

Ketidakadilan sosial di ruang sehari-hari kita mendorong banyak pemikir mencari pisau analisis baru dan segar. Di tengah diskursus tersebut, Mansour...

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu
Resensi

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

24 August 2025

Dalam hidup ini, pastinya kita pernah mengalami situasi keterburu-buruan. Waktu seolah-olah mengejar kita. Tak ada waktu lagi untuk sekadar duduk...

Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan
Resensi

Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

26 April 2025

 “Manungsa kuwi gampang lali, Le. Mula kowe kudu sregep nyatheti. Nyatheti opo wae kanggo pangeling-eling. Mbesuk yen simbah lan ibumu...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Dari Nafas Malamku

Dari Nafas Malamku

11 May 2021
Narasi tentang Rahmah dan Gaza

Narasi tentang Rahmah dan Gaza

30 May 2021
Ode untuk Martir Pengetahuan: Puisi-puisi Moch Aldy MA

Ode untuk Martir Pengetahuan: Puisi-puisi Moch Aldy MA

11 January 2023
Gambar Artikel Teori Resep Rahasia Membuat Krabby Patty Laris

Teori Resep Rahasia yang Membuat Krabby Patty Laris

15 November 2020
Gambar Artikel Rasa Berbahan Sutera

Rasa Berbahan Sutera

30 December 2020
Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

11 February 2021
Gambar Artikel Puisi Maret, Masihkah Kau Ingat Namaku

Maret, Masihkah Kau Ingat Namaku?

28 January 2021
Gambar Artikel Mandiri Jalur Indomie

Mandiri Jalur Indomie

2 November 2020
Lapangan Tembak

Lapangan Tembak

10 February 2021
Di Kemanggisan

Di Kemanggisan

22 December 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (223)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (22)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.