Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ canggih di tempurung kepala itu semakin tergambar detail anatomi beserta fungsi dan mekanisme kerjanya. Namun, di sisi lain, dari temuan sains yang ada itu muncul beragam pertanyaan yang belum bisa dijelaskan kecuali dengan menggunakan perkiraan dan prediksi yang bersifat spekulatif.
Salah satu ilmuwan yang mau turun gunung untuk membahas kerumitan lanskap ini adalah Carl Sagan. Walaupun latar belakangnya adalah seorang astronom, ia cukup telaten membaca berbagai penelitian tentang struktur otak beserta sistem kerjanya dalam lanskap peta besar evolusi dan mengelaborasi dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya.
Buku berjudul The Dragons of Eden: Spekulasi tentang Evolusi Kecerdasan Manusia adalah salah satu capaian profesor astrofisika Cornell University tersebut dalam mengelaborasikan berbagai macam disiplin keilmuan seperti biologi, fisiologi, biokimia, antropologi, arkeologi, primatologi, psikologi, ilmu komputer, dan masih banyak lagi. Dalam buku setebal 236 halaman itu, ia menuliskan berbagai spekulasi tentang bagaimana kehidupan manusia perlahan berubah seiring perkembangan sistem anatomi otak manusia. Proses panjang ini membuatnya bisa menciptakan puisi, komputer, dan sistem kerja sama dalam skala besar yang belum mampu dicapai oleh spesies mana pun.
Satu hal yang menarik lagi dari buku genre sains populer ini adalah ketidakcanggungan penulis untuk memasukkan kajian-kajian filsafat, sastra, teologi, bahkan mitologi sebagai usahanya memahami lanskap penelitian tentang otak yang jelas-jelas saintifik. Dengan kelenturan dan fleksibilitas intelektualnya ini, ia berhasil membuktikan sains dan menghindari kesan pongah yang sering disalahpahami sebagai sistem berpikir yang menolak segala hal yang tidak saintifik. Ini juga menyiratkan bahwa Sagan mengamini kalau sains itu tidak lahir dari ruang kosong.
Tiga Komputer Biologis
Jika jutaan tahun usia Bumi diumpamakan sebagai kalender satu bulan berisi 31 hari, manusia baru muncul pada hari terakhir. Itu pun di jam 22.30 sebelum pergantian bulan sebagai proses lanjutan dari Proconsul dan Ramapitechus, leluhur bersama manusia dan kera. Jika ditarik lebih ke belakang lagi, manusia masih satu nenek moyang dengan binatang-binatang vertebrata lainnya, bahkan yang lebih sederhana lagi. Hal itu bisa dibuktikan dari morfologi otak masing-masing spesies yang mempunyai aspek-aspek kemiripan. Selanjutnya, bagaimana proses evolusi terjadi sehingga membuat perbedaan yang signifikan antara manusia dan spesies lainnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, ilmuwan evolusi otak Paul MacLean mengajukan teori tentang triune brain, yaitu tiga “komputer biologis” yang saling berhubungan. Ketiga hasil adaptasi evolusi itu berbeda secara neuroanatomis, fungsional, dan tumbuh dalam masa evolutif yang berbeda. McLaen mengistilahkan masing-masing elemen sebagai “sasis saraf”.
Sasis saraf paling purba ada sumsum tulang belakang, medula, dan pons yang merupakan otak belakang dan otak tengah. Di dalamnya terdapat sistem saraf dasar reproduksi dan pertahanan hidup. Di dalamnya termasuk pengaturan pernapasan, detak jantung, dan sirkulasi darah. Bagian ini sering juga disebut otak reptil (Kompleks-R).
Baru 150 juta tahun yang lalu, kemudian muncul lapisan berikutnya, yaitu sistem limbik. Sistem ini memungkinkan spesies menghasilkan emosi yang sangat kuat. Di dalamnya ada hipofisis (pituitari) yang mengatur sistem endokrin, amigdala yang menghasilkan rasa takut, dan hipotalamus sebagai penyimpan memori. Munculnya sistem limbik ini memungkinkan terjadinya proses altruisme dan cinta. Hal ini membuat mamalia mengasuh anaknya, hal yang tidak mungkin terjadi di dunia reptil yang sering kali menganggap anaknya sebagai sumber makanan.
Lapisan terakhir yang muncul sekitar beberapa puluh tahun yang lalu adalah neokorteks yang mempunyai berbagai macam fungsi pemikiran tingkat tinggi seperti perencanaan dan kontrol tindakan (lobus frontal), persepsi ruang dan pertukaran informasi antar-otak (lobus parietal), perseptual kompleks (lobus temporal), dan penglihatan (lobus oksipital). Lapisan neokorteks ini berkembang di semua spesies primata, termasuk manusia.
Evolusi Otak
Dalam perdebatan sains, Homo sapiens disinyalir adalah keturunan dari Homo Australopithecus yang bisa berjalan dengan kedua kaki dan mempunyai otak sekitar 500 cc, sekitar 100 cc lebih besar dari otak simpanse modern. Jika prediksi itu akurat, maka leluhur manusia lebih dahulu bisa berjalan sebelum otaknya membesar.
Kemampuan berjalan itu membuat tangan menjadi lebih leluasa untuk membuat dan mengoperasikan alat. Keberadaan alat sebagai teknologi sederhana sangat berguna bagi sapiens untuk berburu dan bertahan hidup. Itulah yang membuat mereka lebih unggul dari spesies lainnya yang tidak berhasil menciptakan alat.
Perilaku sapiens dalam berburu binatang-binatang besar membuat mereka harus berkelompok dan bekerja sama. Dari situlah lahir bahasa isyarat, suatu bahasa simbol yang menjadi cikal-bakal bahasa verbal. Kemampuan berbahasa inilah yang mendukung kemampuan manusia untuk berpikir abstrak dan analisis tingkat tinggi. Kemampuan bahasa itu berada di area Broca, bagian otak yang pertama kali muncul pada Homo habilis dua juta tahun yang lalu.
Hingga pada titik masa sekarang, manusia mempunyai rasio otak paling besar jika dibandingkan dengan berat badan masing-masing spesies. Selain itu, manusia juga mempunyai jejaring sinaps yang lebih kompleks dan lipatan otak yang lebih banyak dibandingkan dengan otak spesies lainnya. Hal itulah yang membuat manusia bisa berpikir semakin kompleks, membuat teknologi canggih, berpuisi, dan menjadi satu-satunya spesies yang mengembangkan pola pikir sains untuk dapat memahami dirinya sendiri dan semesta di sekitarnya.
Relevansi dan Keterbatasan
Jika dilihat dari tahun awal penulisannya di era 70-an, maka Sagan sudah memberikan lompatan besar di ranah sains, khususnya evolusi otak. Pada masa itu, penggunaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan EEG (Elektroensefalogram) masih sangat terbatas dan belum terlalu canggih. Belum ditemukan VGA (Video Graphic Adapter) yang membuat topografi otak bisa tergambar di layar komputer sedetail dan serealistis era sekarang. Namun, keterbatasan tersebut tidak membatasi Sagan untuk mengumpulkan riset-riset tentang otak dan memberikan analisis tajam terhadapnya.
Hanya saja, buku ini bukannya tanpa kekurangan. Di dalamnya Sagan tidak membahas tentang asupan nutrisi, siklus tidur (istirahat), dan juga proses bermain (aktivitas tanpa motif bertahan hidup) pada manusia yang dalam riset-riset terkini mempunyai dampak signifikan dalam perkembangan otak. Sagan juga kurang menjelaskan tentang anatomi-anatomi lainnya di sekitar otak, misalnya cairan meninges atau cairan serebrospinal yang membantali otak dari benturan dengan tulang. Sagan juga kurang menyentuh tentang penyakit-penyakit otak populer seperti kanker otak, hidrosefalus, dan cerebral palsy, yang tentunya akan menjadi pertanyaan menarik bagi masyarakat mengapa itu bisa terjadi.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, buku The Dragon of Eden: Spekulasi Tentang Evolusi Kecerdasan Manusia masih sangat relevan dibaca siapa pun yang ingin memahami lebih dalam bagaimana konstelasi rumit otak yang kita miliki dari sudut pandang evolusi. Buku ini juga disusun dengan gaya khas Carl Sagan yang multidisiplin keilmuan, padat data, tapi disampaikan dengan bahasa yang renyah dan enak dibaca. Sekali lagi, sains tak selalu njlimet dan penuh angka-angka.[]
________________
Data Buku
Judul Buku : The Dragon of Eden: Spekulasi Tentang Evolusi Kecerdasan Manusia
Penulis Buku : Carl Sagan
Penerbit : KPG
Tahun Terbit : Oktober 2025 (cetakan pertama)
Jumlah Halaman : 236 halaman
ISBN : 978-623-134-458-8














