Risalah Gufran: Al-Ma’arri
Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh
rekaan dan membentang peta perjalanan
baru menuju surga. demi sebuah liburan
yang tiada tercatat sejarah, demi satu
tanggal merah di masa depan yang
dicintai anak-anak sekolah.
Matanya hendak mengalami: sungai harum susu
langit bertubuh biru dan merdu kicau burung yang
ditirukan ibu dahulu. ia juga ingin berjumpa tokoh
masa lampau, zuhair dan hassan, dua penyair yang
mendapat satu kavling tanah di surga berkat puisi.
Tanpa selembar tiket dan bandara, sang ahli
gramatika itu memiuhkan tubuhnya di balon
udara yang sepenuhnya terbuat dari kata-kata.
Terombang di antara langit dan bumi
samudera corak berantak dan daratan
sebesar biji beras. ia memilin sulur
angkasa sebelum uap neraka
mengubah halu arahnya.
Balon udara meleleh
kata-kata berjatuhan
seketika ia demam.
Di ceruk terdidih, al-qais, antarah
dan tarafah memanggil dengan serak:
“Neraka merah yang marah. puisi telah
menjadi api yang memakan tubuh kami!”
Peta telah habis terbakar
dan puisi terbaring di sini
ke surga yang tak sampai.
2025
Kalilah wa Dimnah: Ibn Muqaffa
Pada tahun Baghdad ditumbuhi cahaya
—ketika segenap yang lampau mampu
diterjemahkan, segala yang melenguh
dan melata dapat leluasa berkalam.
Sebuah fabel seakan dinubuatkan.
Serigala dari teks sebelum masehi itu
penghasut yang cerdik bermain intrik
sebelum kaidah machiavelli digemakan.
Tak ada kuliah politik di belantara, hanya kebuasan
yang dilatih serta keterampilan licik dan adu domba.
Lembu hendak makar mencuri mahkota dan istana
singa sejak lama tak menancap taring dalam daging
—tetapi ini karangan sejak serigala mahir retorika.
Serigala itu menyulap lidahnya menjadi
percik api yang tangkas membakar seisi
hutan. sengketa mesti segera dipadam
dalam kendali hukuman mati.
Dan singa terhasut itu merasa kesepian.
Muruah bahasa dihapuskan dan sejak saat
itu hewan tak pernah diajarkan bicara lagi.
2025
Bait Hikmah: Al-Ma’mun
Dari satu bilik istana, kalifah menimbang
mimpi apa yang malam ini akan ia lakoni
di luar kebijakan dan ilmu pengetahuan.
Ia mafhum, betapa pendek usia dan ia ingin
namanya harum di kronik abad modern kelak.
Maka kalifah menyusun
jenak tidurnya malam itu.
Seorang uzur berdiri ambang pintu kalifah
janggutnya bercahaya dan ia mulai bicara
dengan bahasa aneh—barangkali serupa
sid wilson dalam sebuah wawancara.
Lekas kalifah sadar bahwa lelaki tua itu
adalah sang bestari dari lampau Yunani.
Dan jadilah satu titah
mengubah arah sejarah.
Sebuah rumah besar bagi buku-buku terpancang
kertas dan manuskripnya dipanggul para unta
dari Byzantium dan kota-kota yang jauh.
Sebelum penghancuran koloni itu.
2025














