• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Pulang

Adrianus Hendra by Adrianus Hendra
22 April 2022
in Cerpen
1
Pulang

Watercolor Art by Rajkumar Sthabathy (Source: wooarts.com)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Pak Tua adalah seorang pengemis yang mangkal di kawasan Perempatan Jalan. Setiap harinya, Pak Tua biasa menjalankan profesinya di sudut-sudut lampu merah. Trotoar jalan sudah menjadi sahabatnya selama satu dekade silam. Suara bisingnya kota menjadi musik bagi telinganya. Aroma debu jalanan bercampur keringat akibat teriknya matahari selalu menempel pada pakaiannya yang lusuh.

Sepuluh tahun yang lalu, Pak Tua bukanlah seorang pengemis. Ia sempat memiliki keluarga yang harmonis, dulunya. Pak Tua adalah sesosok Family Man yang selalu didambakan setiap keluarga. Hingga suatu saat Ia terkena PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, yang membuat Ia depresi berat dan berubah menjadi sosok yang pemurung.

Seluruh uang pesangonnya habis tak tersisa digunakan untuk berjudi, dan mabuk-mabukan layaknya kaum borjuis di kota-kota besar. Tak hanya uang pesangonnya, barang-barang berharga yang ada di rumahnya juga habis digadaikan, sebagian ada juga yang dijual.

Kondisi perekonomian keluarganya sangat merosot jauh, tunggakan banyak yang belum terbayar, uang SPP anak yang menunggak sehingga tidak bisa ikut ujian, sampai terpaksa harus berhutang ke warung-warung sekitar rumahnya agar dapur tetap ngebul.

Kondisi Pak Tua pada saat itu juga semakin terpuruk jauh menghantam rock bottom-nya. Satu per satu sahabatnya pergi, keluarganya tidak ada yang mau membantu, hingga anak dan istrinya yang mulai geram dengan tingkah lakunya yang saban hari hanya luntang-lantung. Akhirnya Pak Tua pergi meninggalkan keluarganya, meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Kepala Keluarga, meninggalkan seluruh bebannya yang selama ini ia pikul.

Hidup nyamannya yang selalu dimanjakan oleh angan-angan semu telah sirna. Ia terus berjalan tanpa tujuan dan tanpa arah pulang. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan, tapi di lain sisi, ia juga tidak ingin menyerah dan membiarkan takdir buruknya menginjak-injak habis dirinya. Pak tua memutuskan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang pengemis.

Sepuluh tahun sudah berlalu, Ia telah pulih dari kondisinya yang dulu. Dirinya yang sekarang bukan lagi dirinya yang dulu, yang orang-orang kenal, yang orang-orang dambakan, yang disenangi banyak orang, semuanya sudah berubah.

Kini Pak Tua memandang hidupnya tak lagi ada artinya, bagi Pak Tua, hidupnya hanyalah sebuah lelucon belaka. Senyum di wajahnya tidak pernah lagi Ia tampilkan, yang ada hanyalah wajah kusam dan dekil dengan bibir yang selalu cemberut. Ia marah, marah kepada Tuhan, mengutuk Tuhan dan membenci semua orang. Hatinya kini mengeras, sangat keras, lebih keras daripada batu Wurtzite Nitride. Bagi Pak Tua, semua hal yang ada di dunia ini terasa sangat naif dan menjijikan.

***

Matahari sudah tak lagi terlihat, digantikan dengan cahaya bulan dan lampu jalanan yang redup-redup, menandakan pekerjaannya telah usai. Pak Tua bergegas pergi ke warung pinggir jalan untuk membeli sebotol miras, dan sebungkus rokok kesukaannya. Pak Tua memutuskan untuk menghabiskan harinya dengan mabuk dan bersantai di sebuah kolong jembatan.

Malam itu, udara terasa sangat dingin, hangatnya miras tak mampu mengalahkan dinginnya malam itu. Jadilah Pak Tua kedinginan dan menggigil.

Di saat udara dingin tengah menyelimutinya, tiba-tiba datang seekor kucing. Pak Tua kesal dengan kehadiran kucing itu dan langsung mengusirnya. Sialnya, sekeras apapun Pak Tua mengusirnya, kucing itu selalu kembali mendekatinya.

Pak Tua akhirnya menyerah dan membawa kucing itu ke dalam pangkuannya. Ia mengelus-mengelus tubuh dari makhluk yang terselimut bulu itu. Kucing itu mendengkur, menandakan bahwa kucing itu nyaman berada di pangkuan Pak Tua. Ajaibnya, tubuh Pak Tua menjadi terasa hangat setiap kali ia mengelus-elus tubuh kucing tersebut. Pak Tua terus menerus mengelus tubuh kucing itu, sehingga ia tidak lagi merasa kedinginan dan menggigil.

Malam itu, di tengah-tengah udara malam yang dingin, Pak Tua diselimuti oleh kehangatan. Muncul perasaan damai dan tenang menghampiri jiwa Pak Tua. Terbayang kenangan-kenangan manis yang pernah ia alami. Malam itu juga, Pak Tua melihat kilas balik hidupnya yang indah. Malam itu Ia menyadari bahwa Ia selama ini salah, Tuhan tidaklah salah dan tidak pernah salah. Semua takdir buruk yang dilimpahkan oleh Tuhan kepadanya ternyata sangatlah indah. Hanya saja selama ini Pak Tua selalu melihat takdirnya dari sudut pandang yang buruk.

Malam itu, Pak Tua tidak lagi membenci takdirnya, dan ia mulai mencoba untuk mencintai takdirnya. Air matanya menetes, mengalir melalui pelipisnya, hatinya kini tak lagi keras, melunak selembut kapas. Pak Tua tersenyum, senyumnya yang telah lama hilang kini muncul kembali menghiasi wajahnya. Malam itu, Pak Tua adalah manusia paling bahagia di dunia ini.

Keesokan paginya, warga menemukan tubuh Pak Tua yang sudah tidak bernyawa tergeletak di kolong jembatan itu dengan senyum bahagia yang menempel di wajah dekilnya. Pak Tua pulang dengan jiwanya yang telah damai.[]

Tags: ceritacerpenkehidupanpengemispulangsastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Konsep Cahaya Menurut Suhrawardi dalam Epistimologi Ishraqi (Tasawuf Falsafi)

Next Post

Mati dan Pagi Hari di Cikajang

Adrianus Hendra

Adrianus Hendra

Penulis asal Depok, Jawa Barat. Bisa disapa via akun Instagram @adrianushdr.

Artikel Terkait

Perempuan yang Menghapus Namanya
Cerpen

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar ada atau hanya tinggal dalam kepala dan dada seseorang yang terlalu sering menulis namaku?...

Gelembung-Gelembung
Cerpen

Gelembung-Gelembung

19 November 2025

Gelembung-gelembung itu terus mengudara dan semakin tinggi diterpa angin pagi. Perlahan satu per satu jatuh dan pecah, namun ada yang...

Dua Jam Sebelum Bekerja
Cerpen

Dua Jam Sebelum Bekerja

21 September 2025

Hujan belum menunjukkan tanda reda. Aku menyeduh kopi lalu termenung menatap bulir-bulir air di jendela mess yang jatuh tergesa. Angin...

Selain Rindu, Apa Lagi yang Kaucari di Palpitu?
Cerpen

Selain Rindu, Apa Lagi yang Kaucari di Palpitu?

24 July 2025

Selain rindu, barangkali kau tak punya alasan untuk apa pulang ke Palpitu. Sebuah pertanyaan tentang keadilan bagi ibumu juga belum...

Comments 1

  1. Julian says:
    3 years ago

    Pantera walk

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

30 April 2023
Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

31 October 2025
Menyoal Cinta Vs Primbon Weton Jawa

Menyoal Cinta Vs Primbon Weton Jawa

26 July 2021
Gambar Artikel Air Terjun Temburun dan Pulau Temawan

Air Terjun Temburun dan Pulau Temawan

28 November 2020
Memahami Puisi Instan “Malam Lebaran” Sitor Situmorang

Memahami Puisi Instan “Malam Lebaran” Sitor Situmorang

2 March 2021
Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

22 July 2021
Sisa Subuh

Sisa Subuh

14 September 2021
Jam Operasional Korona

Jam Operasional Korona

5 February 2021
Gambar Artikel Puisi Munajat dari Atas Kasur

Munajat dari Atas Kasur

9 January 2021
Gambar Artikel Ekspresi Seni, Ilustrasi dan Alih Wahana Karya

Ekspresi Seni, Ilustrasi dan Alih Wahana Karya

26 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.