• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 31 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Memanusiakan Teknologi

Vinsensius by Vinsensius
31 January 2026
in Esai
0
Memanusiakan Teknologi

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia yang terdesak di pinggirnya. Kita memuji efisiensi, kecepatan, dan produktivitas, tetapi menutup mata pada paru-paru yang sesak oleh asap, sungai yang berubah warna, dan kampung yang pelan-pelan kehilangan hak atas udara bersih. Di titik inilah teknologi berhenti menjadi sekadar alat dan mulai menuntut pertanggungjawaban moral.

Sejak revolusi industri, pabrik menjadi simbol kemajuan. Ia menjanjikan kesejahteraan, lapangan kerja, dan kemudahan hidup. Barang-barang kebutuhan bisa diproduksi dalam jumlah besar, lebih cepat, dan lebih murah. Namun di balik janji itu, pabrik juga menyisakan jejak yang tak selalu ingin kita lihat. Asap hitam yang keluar dari cerobong, limbah yang mengalir ke sungai, dan warga sekitar yang perlahan akrab dengan batuk dan penyakit kulit. Pertanyaannya sederhana, tetapi menggugah: apakah semua ini adalah harga yang harus dibayar atas nama kemajuan?

Teknologi Tidak Netral

Pertanyaan itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar. Apakah teknologi sungguh netral, bebas dari nilai, dan berdiri di luar urusan moral? Atau justru sebaliknya, ia selalu membawa kepentingan tertentu, baik  disadari atau tidak? Di sini, pemikiran Jürgen Habermas menjadi menarik untuk diajak berbincang.

Habermas bukanlah filsuf yang berbicara dari menara gading. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang keras, dari Jerman pascaperang, dari trauma kekuasaan yang menyalahgunakan rasionalitas. Dalam tradisi teori kritis, ia menolak anggapan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berdiri tanpa kepentingan.

Bagi Habermas, pengetahuan selalu berkelindan dengan tujuan manusia. Tidak ada teknologi yang lahir di ruang hampa. Selalu ada maksud, arah, dan kepentingan yang menyertainya.

Di sinilah pabrik menjadi contoh yang terang. Di satu sisi, ia menjawab kebutuhan masyarakat akan barang produksi. Di sisi lain, ia juga menjadi mesin akumulasi keuntungan bagi pemilik modal. Ketika kepentingan laba menjadi satu-satunya kompas, kepentingan warga sekitar sering kali tergeser. Udara bersih, air yang layak, dan kesehatan perlahan berubah menjadi kemewahan. Dalam bahasa Habermas, ini adalah kemenangan rasionalitas instrumental, cara berpikir yang menilai segala sesuatu hanya dari segi guna dan hasil.

Dialog Setara

Habermas menawarkan alternatif melalui apa yang ia sebut sebagai rasionalitas komunikatif. Di sini, kepentingan tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat atau paling berkuasa, melainkan melalui dialog yang setara. Setiap pihak yang terdampak berhak bersuara dan diakui. Teknologi, dengan demikian, tidak boleh hanya tunduk pada logika pasar atau kekuasaan, tetapi harus dibuka pada percakapan publik yang jujur dan inklusif.

Masalahnya, percakapan semacam itu sering kali tidak benar-benar terjadi. Warga di sekitar kawasan industri jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Mereka lebih sering diberi kompensasi seadanya, seolah kesehatan bisa ditebus dengan amplop. Di sinilah kritik Habermas terasa relevan sekaligus menantang. Ia tidak menawarkan daftar nilai moral yang siap pakai. Ia tidak berkata, “beginilah keadilan” atau “yang ini lho kebaikan.” Yang ia tawarkan adalah metode, cara menguji apakah suatu kebijakan atau teknologi sungguh layak disebut manusiawi.

Namun, justru di titik ini pula muncul keraguan. Apakah dialog rasional yang bebas dari dominasi sungguh mungkin terjadi di dunia yang timpang? Bagaimana mungkin suara warga miskin didengar sejajar dengan suara korporasi besar? Apakah humanisasi teknologi tidak akan berhenti sebagai wacana indah yang sulit diwujudkan?

Keraguan itu sah. Tetapi membiarkannya menjadi alasan untuk pasrah justru memperpanjang masalah. Humanisasi teknologi bukan soal menolak pabrik atau memusuhi kemajuan. Ia adalah soal menggeser orientasi. Bukan lagi teknologi yang menentukan arah hidup manusia, melainkan manusia yang menentukan arah teknologi.

Sarana, Bukan Tuan

Dalam praktiknya, ini berarti menempatkan dampak sosial dan lingkungan sebagai bagian dari keputusan, bukan sekadar catatan kaki. Pabrik tidak cukup dinilai dari seberapa besar produksinya, tetapi juga dari seberapa kecil luka yang ia tinggalkan. Ilmuwan dan insinyur tidak cukup bangga pada kecanggihan mesin, tetapi juga bertanya untuk siapa mesin itu bekerja. Negara tidak cukup hadir sebagai pemberi izin, tetapi sebagai penjaga kepentingan bersama.

“Humanisasi teknologi bukan soal menolak pabrik atau memusuhi kemajuan. Ia adalah soal menggeser orientasi. Bukan lagi teknologi yang menentukan arah hidup manusia, melainkan manusia yang menentukan arah teknologi.”

Jika para filsuf klasik berbicara tentang bagaimana memanusiakan manusia, zaman ini menuntut kita untuk memanusiakan teknologi. Menjadikannya sarana, bukan tuan. Membiarkannya berkembang, tetapi dalam batas yang menjaga martabat hidup. Tanpa itu, kita hanya akan terus memproduksi kemajuan yang merampas masa depan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang teknologi selalu kembali pada pertanyaan tentang kita sendiri. Tentang nilai apa yang ingin kita rawat, juga kehidupan seperti apa yang ingin kita wariskan. Di tengah asap pabrik dan gemuruh mesin, barangkali yang paling kita butuhkan bukan teknologi yang lebih canggih, melainkan keberanian untuk berkata bahwa kemajuan tidak boleh dibayar dengan hilangnya kemanusiaan.[]

Tags: esaiopiniteknologivinsensius
ShareTweetSendShare
Previous Post

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

Vinsensius

Vinsensius

Penulis dan dosen yang mengajar di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Pontianak. Minatnya tertuju pada filsafat, etika sosial, dan refleksi kritis atas kehidupan modern, terutama relasi antara manusia, teknologi, dan kebudayaan.

Artikel Terkait

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna
Esai

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025

Malam itu, saya belum ingin tidur cepat. Hingga lewat tengah malam dan hari berganti (Rabu, 23 Juli 2025) saya duduk...

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway
Esai

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025

Jika bulan Juni sudah kepunyaan Sapardi, Juli adalah milik Hemingway. Pasalnya, suara tangis bayi-Hemingway pecah di bulan yang sama (21...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Membaca Cara Kerja Pikiran

Membaca Cara Kerja Pikiran

8 April 2022
Membakar Usia

Membakar Usia

4 April 2021
Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

18 April 2022
Gambar Artikel Bias Kegelisahan dan Kenangan

Bias Kegelisahan dan Kenangan

17 November 2020
Indonesia Tidak Punya Filsafat?

Indonesia Tidak Punya Filsafat?

27 April 2021
Eufemisme dan Sarkasme di Era Orla, Orba, dan Oref

Eufemisme dan Sarkasme di Era Orla, Orba, dan Oref

10 October 2021
Doa Pengembara

Doa Pengembara

1 July 2022
Goa Isolasi dan Surat Kecilku

Goa Isolasi dan Surat Kecilku

19 July 2021
Gambar Artikel Membersihkan Luka dengan Alkohol Vs Air Bersih

Membersihkan Luka dengan Alkohol Vs Air Bersih

23 November 2020
Cosmic Hospitality dan Puisi Lainnya

Cosmic Hospitality dan Puisi Lainnya

26 May 2025
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (68)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (55)
  • Metafor (220)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.