Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia yang terdesak di pinggirnya. Kita memuji efisiensi, kecepatan, dan produktivitas, tetapi menutup mata pada paru-paru yang sesak oleh asap, sungai yang berubah warna, dan kampung yang pelan-pelan kehilangan hak atas udara bersih. Di titik inilah teknologi berhenti menjadi sekadar alat dan mulai menuntut pertanggungjawaban moral.
Sejak revolusi industri, pabrik menjadi simbol kemajuan. Ia menjanjikan kesejahteraan, lapangan kerja, dan kemudahan hidup. Barang-barang kebutuhan bisa diproduksi dalam jumlah besar, lebih cepat, dan lebih murah. Namun di balik janji itu, pabrik juga menyisakan jejak yang tak selalu ingin kita lihat. Asap hitam yang keluar dari cerobong, limbah yang mengalir ke sungai, dan warga sekitar yang perlahan akrab dengan batuk dan penyakit kulit. Pertanyaannya sederhana, tetapi menggugah: apakah semua ini adalah harga yang harus dibayar atas nama kemajuan?
Teknologi Tidak Netral
Pertanyaan itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar. Apakah teknologi sungguh netral, bebas dari nilai, dan berdiri di luar urusan moral? Atau justru sebaliknya, ia selalu membawa kepentingan tertentu, baik disadari atau tidak? Di sini, pemikiran Jürgen Habermas menjadi menarik untuk diajak berbincang.
Habermas bukanlah filsuf yang berbicara dari menara gading. Ia lahir dari pengalaman sejarah yang keras, dari Jerman pascaperang, dari trauma kekuasaan yang menyalahgunakan rasionalitas. Dalam tradisi teori kritis, ia menolak anggapan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bisa berdiri tanpa kepentingan.
Bagi Habermas, pengetahuan selalu berkelindan dengan tujuan manusia. Tidak ada teknologi yang lahir di ruang hampa. Selalu ada maksud, arah, dan kepentingan yang menyertainya.
Di sinilah pabrik menjadi contoh yang terang. Di satu sisi, ia menjawab kebutuhan masyarakat akan barang produksi. Di sisi lain, ia juga menjadi mesin akumulasi keuntungan bagi pemilik modal. Ketika kepentingan laba menjadi satu-satunya kompas, kepentingan warga sekitar sering kali tergeser. Udara bersih, air yang layak, dan kesehatan perlahan berubah menjadi kemewahan. Dalam bahasa Habermas, ini adalah kemenangan rasionalitas instrumental, cara berpikir yang menilai segala sesuatu hanya dari segi guna dan hasil.
Dialog Setara
Habermas menawarkan alternatif melalui apa yang ia sebut sebagai rasionalitas komunikatif. Di sini, kepentingan tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat atau paling berkuasa, melainkan melalui dialog yang setara. Setiap pihak yang terdampak berhak bersuara dan diakui. Teknologi, dengan demikian, tidak boleh hanya tunduk pada logika pasar atau kekuasaan, tetapi harus dibuka pada percakapan publik yang jujur dan inklusif.
Masalahnya, percakapan semacam itu sering kali tidak benar-benar terjadi. Warga di sekitar kawasan industri jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Mereka lebih sering diberi kompensasi seadanya, seolah kesehatan bisa ditebus dengan amplop. Di sinilah kritik Habermas terasa relevan sekaligus menantang. Ia tidak menawarkan daftar nilai moral yang siap pakai. Ia tidak berkata, “beginilah keadilan” atau “yang ini lho kebaikan.” Yang ia tawarkan adalah metode, cara menguji apakah suatu kebijakan atau teknologi sungguh layak disebut manusiawi.
Namun, justru di titik ini pula muncul keraguan. Apakah dialog rasional yang bebas dari dominasi sungguh mungkin terjadi di dunia yang timpang? Bagaimana mungkin suara warga miskin didengar sejajar dengan suara korporasi besar? Apakah humanisasi teknologi tidak akan berhenti sebagai wacana indah yang sulit diwujudkan?
Keraguan itu sah. Tetapi membiarkannya menjadi alasan untuk pasrah justru memperpanjang masalah. Humanisasi teknologi bukan soal menolak pabrik atau memusuhi kemajuan. Ia adalah soal menggeser orientasi. Bukan lagi teknologi yang menentukan arah hidup manusia, melainkan manusia yang menentukan arah teknologi.
Sarana, Bukan Tuan
Dalam praktiknya, ini berarti menempatkan dampak sosial dan lingkungan sebagai bagian dari keputusan, bukan sekadar catatan kaki. Pabrik tidak cukup dinilai dari seberapa besar produksinya, tetapi juga dari seberapa kecil luka yang ia tinggalkan. Ilmuwan dan insinyur tidak cukup bangga pada kecanggihan mesin, tetapi juga bertanya untuk siapa mesin itu bekerja. Negara tidak cukup hadir sebagai pemberi izin, tetapi sebagai penjaga kepentingan bersama.
“Humanisasi teknologi bukan soal menolak pabrik atau memusuhi kemajuan. Ia adalah soal menggeser orientasi. Bukan lagi teknologi yang menentukan arah hidup manusia, melainkan manusia yang menentukan arah teknologi.”
Jika para filsuf klasik berbicara tentang bagaimana memanusiakan manusia, zaman ini menuntut kita untuk memanusiakan teknologi. Menjadikannya sarana, bukan tuan. Membiarkannya berkembang, tetapi dalam batas yang menjaga martabat hidup. Tanpa itu, kita hanya akan terus memproduksi kemajuan yang merampas masa depan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang teknologi selalu kembali pada pertanyaan tentang kita sendiri. Tentang nilai apa yang ingin kita rawat, juga kehidupan seperti apa yang ingin kita wariskan. Di tengah asap pabrik dan gemuruh mesin, barangkali yang paling kita butuhkan bukan teknologi yang lebih canggih, melainkan keberanian untuk berkata bahwa kemajuan tidak boleh dibayar dengan hilangnya kemanusiaan.[]














