• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Tuesday, 24 February 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

Chintya Amelya P. by Chintya Amelya P.
27 December 2020
in Esai
0
Gambar Artikel Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

Javanese Mask Dance, Sumber Gambar: https://www.flickr.com/photos/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Usai dengan puisi milik Mas Febrian Kisworo yaitu Lewat Tulisan Aku BerTuhan-nya, maka tak ada salahnya juga ikut nimbrung mengutarakan buah pikiran, menuangkannya dalam barisan kata tentang peleburanku bersama Tuhan lewat sebuah tarian.

Entah akan ada banyak kepala yang heran bukan kepalang melihat manusia-manusia ini lagaknya menggampangkan dirinya dalam berTuhan. Namun, jika kendati demikian yang kalian pikirkan, maka lebih baiklah apabila kalian tadaburi buku milik Buya M. N. Kamba, Mencintai Tuhan secara Merdeka—yang resensi nya juga ditulis di Metafor oleh Mbak Atssania Zahroh. Sehingga tidaklah terhanyut pikiran kalian oleh besi-besi penjara yang telah kalian buat sendiri.

“Menurutmu, menari itu apa?” Pertanyaan sederhana dari seorang teman yang berhasil membuatku kebingungan menjawab. Kalau saat itu derita malas datang menghampiri pikiran dan jari ini, maka tentu akan kujawab dengan sederhana pula: bahwa menari itu membawakan sebuah tarian. Namun, malu rasanya jika bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia tari dan hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan sepetak kalimat yang tak membawa kepuasaan jawaban sama sekali.

Untuk itu, kujawab pertanyaan tersebut dengan mengingat 3 unsur dalam tarian, yaitu “wiragamarasa”. Wiraga, wirama, dan wirasa. Tidak boleh ada unsur yang terbalik, sebab seperti itulah pakem-nya.

Gampangnya, menari adalah menyampaikan rasa ketika kata tidak lagi mampu untuk diucapkan pun didengarkan. Sedangkan penjabaran berdasarkan ketiga unsur di dalamnya dan pemahamanku yang seada-adanya, menari adalah ketika raga bergerak bersama dengan alunan irama dan keduanya disatukan melalui rasa (hati). Dengan begitu, menari juga dapat diartikan sebagai wujud olah diri dalam menyampaikan sebuah pesan melalui gerakan yang berasal dari dalam hati.

Lalu, apa hubungannya antara berTuhan dengan tarian?

Menari itu matoyo. Yang mana jika ditelisik susunan katanya, terdapat kata Toyo (bahasa Jawa) yang berarti Tuhan. Sehingga menari sama artinya dengan menTuhan. Melebur-kan diri dengan / bersama Tuhan.

Namun, tentu tidak semua dapat diartikan demikian. Sebab dalam menari untuk maToyo harus ada keselarasan antara ketiga unsur tadi, yaitu: raga, irama, dan rasa. Sedikit saja kecacatan dalam unsur tersebut, maka menari yang kita lakukan hanya sebatas rentetan gerak tubuh saja. Bahkan antara musik dengan penari pun akan terlihat saling berdiri sendiri.

Dari keberagaman jenis tarian, tari tradisional khususnya tari klasik-lah yang membuatku mampu merasakan peleburan / melebur bersama Tuhan ini. Alunan musiknya pelan. Bahkan menurut beberapa orang sangat pelan, relatif sekali. Gerak demi gerak penuh penghayatan. Bahkan titik atau gong musiknya hanya akan terasa ketika kita telah mampu meleburkan raga dengan irama. Sebab, kebanyakan musik yang digunakan relatif sama nadanya, ajeg.

Sedikit saja fokus kita teralih pada hafalan, jarik, sanggul, kemben yang mau melorot, dan sebagainya, maka akan membuyarkan tarian kita. Yang bisa dilakukan hanya pasrah, mengalun, mengalir, hingga melebur bersama kekosongan batin. Maka segera akan kita temui ketenangan sesungguhnya, ketenangan yang kita cari-cari yaitu saat bersama Tuhan.

Adapun gerakannya juga tidak hanya sekadar gerak, gendingnya tidak hanya sekadar gending biasa, keseluruhannya mengadung doa dan pengharapan pada Tuhan. Ini semua tak akan kita rasa ketika yang kita tonton hanya liuk tubuh penarinya saja atau musiknya saja. Sebab untuk menTuhan perlu menyatu.

Tidak masalah dengan ikut memeriahkan tarian modern di era seperti ini. Namun, akan menjadi salah ketika tidak ada rasa ingin melestarikan tari tradisi yang kita miliki. Betapa banyak nilai kehidupan hingga religiusitas yang kita dapat ketika kita mau menyelaminya. Sayang sekali, jika hanya tutur kata berucap melestarikan namun abai. Berucap melestarikan, tapi ogah-ogahan menarikan dan mempelajarinya.

Jika negara luar mengklaim tarian kita sebagai tariannya, barulah melakukan protes tidak terima dan berujar pencurian. Padahal kita sendiri yang terlalu terperdaya oleh siasat mereka agar fokus kita terpecah pada budaya mereka. Jadi, siapa yang salah? Atau biar tidak menghakimi, pertanyaannya diubah, “Jadi, apa yang salah?” Fokus kita, niat kita, atau tindakan kita?

Sembari merenungi pertanyaan di atas, pahami pula sejatinya mencari Tuhan banyak ragamnya. Ibadah terletak pada niat. Dan segala sesuatu di jagat besar ini adalah bentuk ibadah jika meniatinya untuk ibadah. Termasuk tarian. Sehingga ibadah tidak mandek hanya sebatas ibadah yang kita tahu saja.

Merdekalah dalam menTuhan. Dan cara yang paling ampuh untuk meleburkan diri dengan-Nya, ya dengan meleburkan diri pada dirimu sendiri. Siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia akan mengenal Tuhan-Nya, bukan? Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu.[]

Tags: JawasenispiritualtaritasawuftradisonalTuhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

Next Post

Jahm bin Safwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

Chintya Amelya P.

Chintya Amelya P.

Mahasiswa asal Tuban, Jawa Timur, yang merasa salah jurusan. Kuliah di Yogyakarta. Kesibukan sekarang kuliah dan menulis saja. Bisa disapa di Instagram @chintyaamelyaa.

Artikel Terkait

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah,...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Wisata di Tarempa : Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

30 April 2021
Perempuan di Mata Asghar Ali Engineer

Perempuan di Mata Asghar Ali Engineer

29 June 2021
Babasan dan Paribasa: Sarana Pendidikan Karakter Berbahasa Sunda

Babasan dan Paribasa: Sarana Pendidikan Karakter Berbahasa Sunda

30 June 2022
Gambar Artikel Senyuman Malaikat Maut

Senyuman Malaikat Maut

20 December 2020
Gambar Artikel Kesetaraan atau Keadilan

Kesetaraan atau Keadilan?

31 December 2020
Gubuk Sajak

Gubuk Sajak

16 March 2021
Gambar Artikel Rasa Berbahan Sutera

Rasa Berbahan Sutera

30 December 2020
Surat dari Sekar

Surat dari Sekar

10 November 2021
Kirsip

Kirsip

10 March 2021
Gambar Artikel Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

19 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.