Sama seperti Tretan Muslim dan Coki Pardede yang menjadi musuh masyarakat dan ormas, Agama juga menjadi musuh besar dari seorang filsuf Karl Marx karena dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Meski Marx tidak secara gamblang menolak Tuhan, namun, banyak sekali referensi yang mengatakan bahwa Marx sering kali menolak konsep ketuhanan yang ditawarkan oleh agama.
Marx tidak pernah menyarankan sebuah strategi yang komprehensif untuk menghancurkan agama dengan kekerasan, tapi doktrin tentang konsep beragamanya, tentu bisa membuat ketar-ketir kaum agamawan yang khawatir kepercayaannya akan goyah. Sebab, cara yang lebih halus biasanya berdampak lebih signifikan. Seandainya orang-orang sepakat dengan pendapat Marx tentang agama adalah candu, maka agama secara perlahan akan ditingalkan oleh pengikutnya.
Namun, menurut saya semenolak-menolaknya kita dengan Tuhan atau konsep ketuhanan dari agama, kita tetap butuh berlindung kepada sesuatu yang lebih besar. Besar yang dimaksudkan di sini bukanlah ukuran. Tetapi sesuatu yang dianggap bisa memberikan semacam naungan. Entah itu Agama, Negara, Ideologi, Sains dan lain sebagainya.
Kenapa Sains termasuk? Karena di zaman saintifik ini saya melihat bahwa sesuatu lebih make sense jika dapat dijelaskan secara ilmiah. Penjelasan yang cenderung bisa dimengerti oleh berbagai kalangan itu, biasanya dapat membantu memberikan perlindungan–dan melipur penasaran.
Contohnya adalah kedatangan virus korona ini. Memang tak sedikit manusia yang masih berharap bantuan Tuhan untuk menyelesaikannya. Dengan cara memanjatkan doa-doa, entah saat ibadah maupun lewat status sosial media. Namun, sesuatu yang lebih pasti untuk menghentikan virus ini adalah ilmu sains, bisa dengan cara memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, vaksin dan lain sebagainya.
Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah: kenapa manusia membutuhkan sesuatu yang lebih besar, lebih agung, dan lebih adikuasa? Sebab menurut saya, individu manusia merupakan sebuah struktur biologis yang lemah, sehingga membutuhkan suatu tambatan atau naungan agar tetap bisa survive dalam menjalani hidup. Nah, saya mendefinisikan hal ini sebagai Tuhan. Tuhan bukanlah semata-mata sesuatu yang disembah. Jika anda meminta perlindungan kepada negara, ya negara adalah Tuhan anda. Jika meminta perlindungan kepada sains, hal yang sama juga berlaku demikian.
Berarti kita sudah menduakan Tuhan, dong? Bahkan mentigakan? Saya tidak mengatakan bahwa negara adalah Tuhan yang anda sembah, atau Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Bukan begitu logikanya. Saya hanya mendefinisikan bahwa sesuatu yang bisa memberikan kita naungan sebagai tempat berlindung adalah Tuhan.
Dia yang menciptakan dunia ini tetaplah menjadi pencipta dunia meski ada seribu Tuhan di dunia yang dia ciptakan. Apakah definisi Tuhan itu mentok disematkan untuk yang menciptakan dunia saja? bagi saya itu tindakan yang mempersempit definisi. Berangkat dari definisi itulah yang membuat kita sulit untuk membuktikan keberadaannya.
Kesulitan ini tentu menjadi target empuk Karl Marx beserta para pembunuh Tuhan yang lain dalam melakukan serangan. Maka timbul pula argumen-argumen teologis dan filosofis dalam menjawab serangan itu. Seperti yang dikemukakan di dalam buku Menalar Tuhan karyanya Franz Magnis Suseno, bahwa membuktikan keberadaan Tuhan secara teologis bisa melalui wahyu. Wahyu merupakan sumber kebenaran dari agama yang bersangkutan.
Hanya saja, jawaban secara teologis ini hanya diperuntukan bagi mereka yang memang sudah menerima keberadaan Tuhan, karena tidak mungkin jawaban ini diajukan untuk mereka yang mempertanyaan keberadaan-Nya. Keberadaan-Nya aja gak dipercaya apalagi kalam-Nya. Jadi, singkatnya jawaban ini hanya menguatkan alasan kenapa kita percaya Tuhan, bukan membuktikan keberadaan Tuhan.
Selain itu, dalam buku yang sama ada jawaban secara filosofis, yang mana dalam menjawab pertanyaan tentang Tuhan tadi haruslah menggunakan nalar. Cara menjawab lewar jalur ini adalah melihat relevansi antara kitab suci dengan kejadian nyata. Contoh konkritnya adalah di kitab suci menceritakan tentang penciptaan alam semesta. Nah, ternyata alam semesta ini bisa dijelaskan secara ilmiah.
Penjelasan ilmiah ini kan hadirnya belakangan, sedangkan kitab suci ada jauh lebih dulu. Hal ini menandakan kitab suci sudah tau lebih dulu. Yang mana hal tersebut sulit sekali untuk lakukan oleh kapasitas manusia. Maka atas contoh ini keberadaan Tuhan sudah bisa dipertanggungjawabkan.
Tetapi, penjelasan filosofis ini juga masih mempunyai celah untuk diserang. Dalam salah satu diskusi rutin Lingkar Studi Teologi dan Filsafat (LSTF) At-Tahafut teman saya yang bernama Rizkita menyampaikan argumen:
“Seandainya memandang sains harus sesuai dengan wahyu Tuhan, sama artinya ketika kita menemukan sebuah kata-kata yang tidak begitu yakin, lalu kita cek menggunakan kamus. Kata-kata harurslah sesuai kamus, tidak mungkin menyalahkan kamus. Jika sekali pandang, hal ini memang terlihat praktis. Namun, menghilangkan peluang orang yang mempercayai agama bisa menerima sains. Karena kita menjadikan agama sebagai kamus. Artinya, tidak ada rasionalisasi Tuhan di sini.”
Saya mengafirmasi argumen ini. Jika logikanya demikian, maka hal itu merupakan sesuatu yang terbalik. Seharusnya orang-orang beragama memandang wahyu harus sesuai dengan sains agar Tuhan terlihat lebih rasional. Selain, itu argumen tentang merasionalkan Tuhan ini hanya terlihat sebatas meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada. Bukan membuktikan bahwa Tuhan itu ada atau tidak.
Maka dari itu saya memberikan definisi lain tentang Tuhan sebagaimana yang saya jabarkan di atas agar keberadaan Tuhan lebih mudah untuk dibuktikan. Pusing? Tentu saja pebahasan tentang Tuhan ini merupakan sesuatu yang kompleks. Yang memang harus menyiapkan pikiran tajam untuk menganalisisnya. Jika anda tidak mau berfikir banyak, ya sudah, nikmati saja konsep Tuhan yang sudah tertanam di kepala anda saat ini. Tabik.[]