• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 November 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Inspiratif Sosok

Pembaharuan Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Refleksi Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Dimas Prastiyo Budi by Dimas Prastiyo Budi
11 February 2021
in Esai, Sosok
0
Pembaharuan Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Refleksi Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

https://www.harapanrakyat.com/wp-content/uploads/2020/07/KH-Ahmad-Dahlan.jpg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Pendidikan merupakan syarat penting guna membangun suatu peradaban bangsa, dibalik bangsa yang sukses dan maju tidak lepas dari peran pendidikan. Pendidikan memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi diri manusia serta memberantas kebodohan. Untuk mewujudkan pendidikan tentu saja tidak lepas dari usaha tokoh-tokoh nasional, salah satunya yakni K.H. Ahmad Dahlan. Beliau memiliki konsep kehidupan yang sangat banyak, seperti halnya beliau telah menekankan untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menyebarkan agama Islam yang kemudian telah diterapkan dalam organisasi Muhammadiyah.

Pembaharuan merupakan langkah awal kebangkitan umat Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, semangat pembaruan justru mengakibatkan perpecahan umat Islam di Indonesia seperti golongan modernis dan tradisionalis. Salah satu tokoh dari golongan modernis yakni KH. Ahmad Dahlan, golongan modernis memiliki tujuan untuk memurnikan ajaran Islam serta meningkatkan kesadaran dalam beragama. Sedangkan golongan tradisionalis memiliki tujuan untuk meningkatkan peran Islam serta pemikiran Islam dengan berpegang teguh pada ajaran 4 madzhab, tokoh dari golongan tradisionalis yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Sebelum kita mengetahui pembaruan pendidikan yang dibangun KH. Ahmad Dahlan, ada baiknya kita mengetahui biografinya terlebih dahulu.

K.H. Ahmad Dahlan merupakan sosok pembaharu Islam di Indonesia, sekaligus pendiri organisasi Islam yakni Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan lahir sekitar 1285 H/ 1868 M, wafat pada 23 Februari 1923. Sebelum mendirikan organisasi Islam, beliau sempat menjadi guru agama di daerahnya. Di sisi lain, beliau juga pernah menjadi guru di Kweek School terletak di Yogyakarta, serta Opleiding School Voor Inlandsche Arbenaren merupakan salah satu sekolah pribumi yang terletak di Megalang (Ahdar, 2019). K. H. Ahmad Dahlan merupakan putra ke 3 dari K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman. K. H. Ahmad Dahlan menikahi seorang wanita yang bernama Walidah pada tahun 1888 dan dianugerahi dengan enam anak (Kasmuri Selamat, 2019).

Melihat ide dari K.H. Ahmad Dahlan dalam pembaharuan pendidikan, Islam diharapkan memberikan suatu kontribusi besar dalam bidang pendidikan Islam masa kini. Oleh karena itu, untuk menelusuri wacana pembaharuan pendidikan maka seringkali merujuk pada usaha beliau dalam membangun suatu sistem pendidikan. Usaha beliau dalam membangun pendidikan bisa saja menjadi simbol dari kebangkitan generasi untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh Islam. Kondisi pendidikan pada saat itu terpecah menjadi dua bagian. Pertama sistem pendidikan Belanda berbentuk sekuler atau tidak memperhatikan ilmu-ilmu agama. Kedua pendidikan lokal (pesantren) lebih menekankan pada ilmu keagamaan. Oleh karena itu, K.H. Ahmad Dahlan bercita-cita untuk mengintegrasikan kedua pendidikan tersebut (Zetty Azizatun Ni’mah, 2014).

Pada abad-19 sistem pendidikan dualisme tetap berkembang pesat khususnya di Indonesia, dua sistem pendidikan tersebut memiliki suatu perbedaan yang sangat signifikan. Corak dari pendidikan sekuler yakni sistem pembelajaran yang tidak memperkenalkan nilai-nilai agama. Pendidikan sekuler memiliki suatu tujuan yang hanya mendidik anak dari golongan priyai untuk menjadi juru tulis serta memegang buku pegawai guna membantu majikan Belanda dalam bertugas di bidang teknik, perdagangan serta administrasi. Pondok pesantren merupakan gambaran pendidikan Islam tradisionalis. Pondok pesantren memiliki suatu sistem pembelajaran yang menekankan pada hafalan-hafalan. Menonjolnya pendidikan yang dibangun oleh Belanda memiliki suatu dampak melemahkan eksistensi pendidikan Islam tradisionalis.

Awal abad-20 kalangan Muslim terpelajar sadar akan lemahnya eksistensi pendidikan Islam di Indonesia, mereka terbuka dalam menerima ide-ide baru yang membawa pada kemajuan guna mendapatkan solusi yang terbaik. Lalu kemudian K.H. Ahmad Dahlan betekad untuk menciptakan suatu pembaharuan pendidikan, tekad pembaharuan dari K.H. Ahmad Dahlan memiliki 2 konsep dasar yakni, cita-cita dan teknik. Dalam tekad tersebut yang dimaksud dari cita-cita yaitu mampu membentuk umat Islam yang berakhlak mulia, alim, memiliki pandangan yang luas serta paham masalah keduniaan. Sehingga dalam konsep cita-cita tersebut mampu menciptakan ulama intelek serta intelek ulama. Sedangkan dari segi teknik lebih condong pada cara-cara penyelenggaraan pendidikan. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan hal tersebut Muhammadiyah menyempurnakan kurikulum pendidikan Islam dengan cara memasukkan pelajaran-pelajaran agama ke sekolah umum, serta pengetahuan umum ke dalam sekolah agama.

Untuk mewujudkan sebuah pembaharuan dalam pendidikan Islam Muhammadiyah telah mendirikan madrasah-madrasah dan pesanteren dengan kurikulum memasukkan ilmu pengetahuan umum dan modern, serta mendirikan sekolah-sekolah umum yang menggunakan sistem kurikulum memasukkan pelajaran-pelajaran agama di sekolah umum. Muhammadiyah juga memperkenalkan pondok pesantren dengan organisasi, administrasi, serta cara-cara penyelenggaraannya. Karakteristik dari lembaga pendidikan Muhammadiyah yakni His met the Qur’an yang merupakan suatu integrasi pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah menggunakan sekolah umum sebagai tahap awal, guna mendorong etos belajar keagamaan serta pengkajian ajaran-ajaran agama Islam. (Nelly Yusra, 2018).

Tags: IndonesiaKH Ahmad Dahlanmuhammadiyahpembaharuan pendidikanpendidikan islam
ShareTweetSendShare
Previous Post

Alir-an

Next Post

Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

Dimas Prastiyo Budi

Dimas Prastiyo Budi

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Bisa disapa di Instagram @dimasprasbud

Artikel Terkait

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
Esai

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya

4 October 2026

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menganalisis karya dari Kho Ping Hoo karena saya menyadari keterbatasan kapasitas diri yang belum...

Matinya Ratu Adil?
Esai

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026

Di Indonesia, ada kisah kepercayaan bahwa ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan, akan muncul seorang penyelamat yang sering disebut Ratu...

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya

3 October 2026
Pemerintah Daerah Tidak Bisa Cari Uang, Rakyat yang Menanggung

Pemerintah Daerah Tidak Bisa Cari Uang, Rakyat yang Menanggung

30 August 2025
Sambatan Orang yang Pakai Behel

Sambatan Orang yang Pakai Behel

7 February 2021
Gambar Artikel Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

1 December 2020
Gambar Artikel Bias Kegelisahan dan Kenangan

Bias Kegelisahan dan Kenangan

17 November 2020
8 Film Dokumenter yang Akan Membuatmu Lebih Sadar Isu Lingkungan

8 Film Dokumenter yang Akan Membuatmu Lebih Sadar Isu Lingkungan

23 March 2022
Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022
Gambar Artikel Sajak Asal Njeplak

Sajak Asal Njeplak

20 December 2020
Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

10 March 2022
Gambar Artikel Wartawan Ala Cak Rusdi

Wartawan Ala Cak Rusdi

30 April 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.