• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 24 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Inspiratif Sosok

Pembaharuan Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Refleksi Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Dimas Prastiyo Budi by Dimas Prastiyo Budi
11 February 2021
in Esai, Sosok
0
Pembaharuan Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Refleksi Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

https://www.harapanrakyat.com/wp-content/uploads/2020/07/KH-Ahmad-Dahlan.jpg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Pendidikan merupakan syarat penting guna membangun suatu peradaban bangsa, dibalik bangsa yang sukses dan maju tidak lepas dari peran pendidikan. Pendidikan memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi diri manusia serta memberantas kebodohan. Untuk mewujudkan pendidikan tentu saja tidak lepas dari usaha tokoh-tokoh nasional, salah satunya yakni K.H. Ahmad Dahlan. Beliau memiliki konsep kehidupan yang sangat banyak, seperti halnya beliau telah menekankan untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menyebarkan agama Islam yang kemudian telah diterapkan dalam organisasi Muhammadiyah.

Pembaharuan merupakan langkah awal kebangkitan umat Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, semangat pembaruan justru mengakibatkan perpecahan umat Islam di Indonesia seperti golongan modernis dan tradisionalis. Salah satu tokoh dari golongan modernis yakni KH. Ahmad Dahlan, golongan modernis memiliki tujuan untuk memurnikan ajaran Islam serta meningkatkan kesadaran dalam beragama. Sedangkan golongan tradisionalis memiliki tujuan untuk meningkatkan peran Islam serta pemikiran Islam dengan berpegang teguh pada ajaran 4 madzhab, tokoh dari golongan tradisionalis yaitu KH. Hasyim Asy’ari. Sebelum kita mengetahui pembaruan pendidikan yang dibangun KH. Ahmad Dahlan, ada baiknya kita mengetahui biografinya terlebih dahulu.

K.H. Ahmad Dahlan merupakan sosok pembaharu Islam di Indonesia, sekaligus pendiri organisasi Islam yakni Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan lahir sekitar 1285 H/ 1868 M, wafat pada 23 Februari 1923. Sebelum mendirikan organisasi Islam, beliau sempat menjadi guru agama di daerahnya. Di sisi lain, beliau juga pernah menjadi guru di Kweek School terletak di Yogyakarta, serta Opleiding School Voor Inlandsche Arbenaren merupakan salah satu sekolah pribumi yang terletak di Megalang (Ahdar, 2019). K. H. Ahmad Dahlan merupakan putra ke 3 dari K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman. K. H. Ahmad Dahlan menikahi seorang wanita yang bernama Walidah pada tahun 1888 dan dianugerahi dengan enam anak (Kasmuri Selamat, 2019).

Melihat ide dari K.H. Ahmad Dahlan dalam pembaharuan pendidikan, Islam diharapkan memberikan suatu kontribusi besar dalam bidang pendidikan Islam masa kini. Oleh karena itu, untuk menelusuri wacana pembaharuan pendidikan maka seringkali merujuk pada usaha beliau dalam membangun suatu sistem pendidikan. Usaha beliau dalam membangun pendidikan bisa saja menjadi simbol dari kebangkitan generasi untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh Islam. Kondisi pendidikan pada saat itu terpecah menjadi dua bagian. Pertama sistem pendidikan Belanda berbentuk sekuler atau tidak memperhatikan ilmu-ilmu agama. Kedua pendidikan lokal (pesantren) lebih menekankan pada ilmu keagamaan. Oleh karena itu, K.H. Ahmad Dahlan bercita-cita untuk mengintegrasikan kedua pendidikan tersebut (Zetty Azizatun Ni’mah, 2014).

Pada abad-19 sistem pendidikan dualisme tetap berkembang pesat khususnya di Indonesia, dua sistem pendidikan tersebut memiliki suatu perbedaan yang sangat signifikan. Corak dari pendidikan sekuler yakni sistem pembelajaran yang tidak memperkenalkan nilai-nilai agama. Pendidikan sekuler memiliki suatu tujuan yang hanya mendidik anak dari golongan priyai untuk menjadi juru tulis serta memegang buku pegawai guna membantu majikan Belanda dalam bertugas di bidang teknik, perdagangan serta administrasi. Pondok pesantren merupakan gambaran pendidikan Islam tradisionalis. Pondok pesantren memiliki suatu sistem pembelajaran yang menekankan pada hafalan-hafalan. Menonjolnya pendidikan yang dibangun oleh Belanda memiliki suatu dampak melemahkan eksistensi pendidikan Islam tradisionalis.

Awal abad-20 kalangan Muslim terpelajar sadar akan lemahnya eksistensi pendidikan Islam di Indonesia, mereka terbuka dalam menerima ide-ide baru yang membawa pada kemajuan guna mendapatkan solusi yang terbaik. Lalu kemudian K.H. Ahmad Dahlan betekad untuk menciptakan suatu pembaharuan pendidikan, tekad pembaharuan dari K.H. Ahmad Dahlan memiliki 2 konsep dasar yakni, cita-cita dan teknik. Dalam tekad tersebut yang dimaksud dari cita-cita yaitu mampu membentuk umat Islam yang berakhlak mulia, alim, memiliki pandangan yang luas serta paham masalah keduniaan. Sehingga dalam konsep cita-cita tersebut mampu menciptakan ulama intelek serta intelek ulama. Sedangkan dari segi teknik lebih condong pada cara-cara penyelenggaraan pendidikan. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan hal tersebut Muhammadiyah menyempurnakan kurikulum pendidikan Islam dengan cara memasukkan pelajaran-pelajaran agama ke sekolah umum, serta pengetahuan umum ke dalam sekolah agama.

Untuk mewujudkan sebuah pembaharuan dalam pendidikan Islam Muhammadiyah telah mendirikan madrasah-madrasah dan pesanteren dengan kurikulum memasukkan ilmu pengetahuan umum dan modern, serta mendirikan sekolah-sekolah umum yang menggunakan sistem kurikulum memasukkan pelajaran-pelajaran agama di sekolah umum. Muhammadiyah juga memperkenalkan pondok pesantren dengan organisasi, administrasi, serta cara-cara penyelenggaraannya. Karakteristik dari lembaga pendidikan Muhammadiyah yakni His met the Qur’an yang merupakan suatu integrasi pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah menggunakan sekolah umum sebagai tahap awal, guna mendorong etos belajar keagamaan serta pengkajian ajaran-ajaran agama Islam. (Nelly Yusra, 2018).

Tags: IndonesiaKH Ahmad Dahlanmuhammadiyahpembaharuan pendidikanpendidikan islam
ShareTweetSendShare
Previous Post

Alir-an

Next Post

Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

Dimas Prastiyo Budi

Dimas Prastiyo Budi

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Bisa disapa di Instagram @dimasprasbud

Artikel Terkait

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna
Esai

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025

Malam itu, saya belum ingin tidur cepat. Hingga lewat tengah malam dan hari berganti (Rabu, 23 Juli 2025) saya duduk...

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway
Esai

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025

Jika bulan Juni sudah kepunyaan Sapardi, Juli adalah milik Hemingway. Pasalnya, suara tangis bayi-Hemingway pecah di bulan yang sama (21...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025
Di Balik Senyum Warga Desa

Di Balik Senyum Warga Desa

13 July 2021
Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda di Masa Pandemi

Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda di Masa Pandemi

7 December 2021
Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025
Gambar Artikel Puisi Tentang Pandemi : Puisi-Puisi Fajar Sedayu (Yogyakarta)

Puisi-Puisi Fajar Sedayu (Yogyakarta)

31 October 2020
Sebuah Pesan Pendek dan Lekukan Mimpi

Sebuah Pesan Pendek dan Lekukan Mimpi

15 March 2021
Telur, Susu, dan Viagra di Cafe Puisi Mbeling

Telur, Susu, dan Viagra di Cafe Puisi Mbeling

27 January 2021
Gambar Artikel Teori Resep Rahasia Membuat Krabby Patty Laris

Teori Resep Rahasia yang Membuat Krabby Patty Laris

15 November 2020
Balada Mobile Legends

Balada Mobile Legends

22 February 2021
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Jempolmu, Harimaumu

2 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (220)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.