• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 09 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi

Miftahul Huda by Miftahul Huda
9 August 2025
in Kelana
0
Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi

Buah Kopi di Desa Jumo, varietas Tugu Sari yang sudah merah. BIasa disebut "cherry". (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Narasi canggih soal kopi di coffee shop terdengar terputus dari asalnya: alas. Rasa yang belum menyatu itu menyembulkan sebuah ide etnografis di benak saya, yaitu mengenali tanaman kopi langsung dari petaninya. Sebagai pedagang kopi bubuk dan biji, tidak banyak petani kopi yang saya kenal. Saya hanya memiliki referensi yang layak menuntun saya mewujudkan ide tersebut. Dia adalah mas Tri, seorang petani kopi di Temanggung dan sekali bertemu dalam kegiatan pelatihan pembuatan kopi pada akhir 2019.

Saya menghubunginya dan dia dengan senang hati mempersilakan saya datang ke rumah masa kecilnya, Temanggung.

Gambar 1. Hamparan buah kopi yang dijemur di depan rumah pak Suwardi, begitu juga dilakukan para tetangganya. (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

Saat itu hari Sabtu, 22 Agustus tahun pandemi korona, saya berangkat ke Desa Jumo, Kecamatan Jumo, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Daerah dengan ketinggian 600-800 mdpl tersebut punya kopi robusta varietas Putri dan Tugu Sari (TS).

Dengan sedikit nyasar karena ponsel nge-drop, kurang lebih saya telah menempuh jarak 75 km dari Demak ke Jumo. Untung saja saya bertemu Mas Tri yang baru pulang dari alas kopi bersama dua temannya yang dari Jogja. “Wah, telat sampeyan, Mas. Coba sampai sini lebih pagi, bisa aku ajak ke alas,” kata mas Tri. “Ya sudah, ayo masuk! Ini ke atas, ke rumah bapak saya.”

Itulah rumah Pak Suwadi, bapaknya Mas Tri. Salam, senyum, dan keramahan adalah kesan yang saya peroleh menginjak lantai rumahnya. Suasana Jumo benar-benar tenteram. Bentang desa ini dibalut udara sejuk yang berhembus menuruni lereng gunung Sindoro-Sumbing, tepat di sebelah selatan desa.

Lekaslah tiba yang menemani cengkerama kami berlima, kopi tubruk arabika Sindoro dan kimpul goreng di atas meja mahoni.

“Ya begini, Mas, kalo’ di sini, mudah kesasar kalo’ pertama kali datang. Apalagi kalo’ pemilik rumah ngasih patokan: ‘Rumah saya yang di depannya sedang njemur biji kopi.’ Ya, hampir semua rumah di Jumo ada jemruan biji kopi di depannya, jadi tambah bingung,” kata pak Suwadi. Kami terpingkal, aroma desa kembali terseduh ketika saya menyeruk hidangan kopi.

Gambar 2.Proses penjemuran biji kopi setelah direndam. Petani biasanya menjemur di depan rumah sampai di jalan desa. (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

Saya sampaikan tujuan saya ke Jumo. Untuk belajar pertanian kopi langsung ke petani. Srawung dan mengikuti langsung proses pertanian adalah yang pertama kali disarankan Pak Suwadi dan Mas Tri. Dan memang itu yang saya rencanakan.

“Kalau begitu nginep sini, Mas, besok pagi ikut ke alas kopi, mumpung ini waktunya panen buat ngabisin kopi bulan Agustus.” Mas Tri memberi saran yang menarik. Bulan Agustus adalah masa penghabisan kopi, setelah itu kembali memupuk kopi dari awal dan menunggu lagi tahun depan untuk panen. Jadi, saya datang di waktu yang tepat untuk belajar kopi—tepatnya petik buah kopi.

Rata-rata para petani kopi di desa Jumo menggunakan teknik petik asalan, yaitu tidak menunggu biji kopi merah—yang memiliki nilai jual tinggi—untuk dipanen. Setelah petik asalan, buah merah dan hijau dimasukkan ke dalam ember jadi satu. Teknik itu dipilih karena menunggu buah kopi sampai merah membutuhkan waktu yang lebih lama dan kesabaran ekstra. Tentunya energi yang dibutuhkan juga lebih besar. Selain itu, waktu yang lebih singkat dari petik asalan membuat petani bisa mengurus ternak dan sawah begitu selesai memanen kopi.

Menurut Mas Tri, dalam setahun desa Jumo bisa menghasilkan kopi puluhan ton, tapi tidak bisa menembus pasar besar karena penggunaan teknik petik asalan. Pasar besar yang dimaksud Mas Tri adalah industri kopi berbentuk coffee shop yang menjaga konsistensi rasa. Itulah sebabnya kopi yang puluhan ton itu sebagian besar dipasrahkan ke bakul atau tengkulak dengan harga yang juga ditentukan olehnya.

“Tapi juga ada beberapa petani yang memilih petik merah untuk menjaga kualitas, tapi hanya beberapa,” jelas Mas Tri.

Hidu mangut dan sayur deleg berkeliaran di ruang tamu. Perut saya terpanggil, bahkan sebelum dipersilakan. Sampai akhirnya Bu Suwadi muncul ke ruang tamu, “Monggo dahar riyen, Mas.” Wajah-wajah lelah kembali sumringah, tak terkecuali sang tuan rumah.

Saya sedikit basa-basi, sedikit pekewuh, tidak langsung ke dapur, coba ngelempe dengan menghabiskan sebatang rokok. Pekewuh atau canggung, adalah bumbu utama orang Jawa ketika dipersilakan makan, tapi sebetulnya memang lapar (ingin)—itu yang saya rasakan.

Sembari makan, kami ngobrol seputar kopi, terutama berkaitan dengan kedatangan saya. Selepas maghrib saya disarankan untuk berkunjung ke rumah Bu Mugiyem dan beberapa warga untuk ngobrol lebih dekat, syukur-syukur bisa nembung untuk ikut aktivitas mereka besok pagi. Saya tak pikir panjang untuk menimbang, “Iya!”

“Ayo, Mas, tambah lagi. Ya, adanya cuman itu, maklum orang desa, sayurnya ngambil di belakang rumah,” sambar Bu Suwadi ketika melihat piring saya menyisakan seiris cabai yang gagal tersendok. Sejujurnya, sayur mangut membuat nagih; tapi apa boleh buat, pekewuh telanjur menubuh dan tetap lebih kuat. Saya memilih menumpuk piring pertama kali, sedangkan dua teman Mas Tri memutuskan nambah lagi. Di sini saya sedikit menyesal.

Hari semakin sore. Sudah pukul 4 lebih. Biji kopi yang dijemur di atas telasar pun mulai diangkat—tepatnya digulung bersama terpalnya.

Bu Mugiyem dan Ilmu Non-Dinas

Maghrib baru saja usai. Mas Tri mengajak saya ke rumah Bu Mugiyem. Jaraknya tidak jauh, sekitar 20 meter saja dengan jalanan yang sangat menanjak. Hawa sejuk menusuk, suasana sekitar hening, tak ada mesin menderu atau cerobong pabrik membuang limbah asapnya; hanya suara jangkrik mengerik; bunyi kaki menyepak kerikil pun terdengar nyaring.

Sesampainya di depan rumah Bu Mugiyem, kami disambut hangat dan senyum yang memamerkan gigi dengan cara yang tanpa rasa jumawa, kecuali kehangatan. Kami dipersilakan masuk dan duduk. Mas Tri memberi pengantar asal-muasal kedatangan saya, sedikit memperkenalkan, sisanya saya tuntaskan sendiri. Lagi-lagi sambutan baik tidak pernah absen, saya dipersilakan mengikuti aktivitas Bu Mugiyem di alas kopi besok pagi.

Di tengah obrolan ringan kami, mas Tri pamit pulang karena ada agenda pribadi, menyisakan saya bersama Bu Mugiyem dan Pak Hajir—sebenarnya saya lupa nama suami Bu Mugiyem, jadi saya sebut Pak Hajir. Bincang-bincang kami berlanjut, saya pantik dengan bagaimana mereka menanam kopi pertama kali, cara perawatan, hingga pasca panen.

Model penanaman dan perawatannya, menurut Bu Mugiyem, tidak mengikuti penyuluhan pertanian yang disodorkan pemerintah. Mungkin yang dimaksud bu Mugiyem adalah Dinas Pertanian yang sering mengadakan penyuluhan kelompok tani. Semua dilakukan sesuai pengamatan sendiri dan saling bertukar informasi antar-petani. Hal itu dilakukan karena tanah di dataran mereka cenderung tidak cocok jika harus mengikuti standar yang dibuat pemerintah. Lagi pula, model perawatan tanaman kopi versi pemerintah, bagi petani, cukup sulit untuk diterapkan.

Buah Kopi di Desa Jumo, varietas Tugu Sari (TS) yang sudah merah. Biasa disebut “cherry”. (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

“Saya buatkan kopi, ya, Mas? Harus gelem, biar tahu rasa kopi sini.” Bu Mugiyem beranjak dari kursi menuju dapur, menyeduh kopi tubruk. Sebetulnnya saya sudah mengimbau untuk tidak perlu repot-repot—saya juga sudah terlalu banyak minum kopi sejak siang. Tapi apa boleh buat, jamuan bagi orang Jawa adalah bentuk pemuliaan tamu, terlebih sesuatu yang khas di daerah mereka. Penolakan bisa ditafsirkan penodaan terhadap tuan rumah, jadi akhirnya saya terima.

Sekitar tujuh menit, Bu Mugiyem kembali ke ruang tamu dengan tiga gelas kopi robusta tubruk, katanya itu robusta varietas putri—bukan Tugu Sari (TS), sambil membawakan contoh green bean-nya. Menurut bu Mugiyem, robusta jenis Putri cenderung pahit saja, dan tidak senikmat TS jika buat seduhan. Di antara keduanya, TS memang diyakini varietas yang lebih baik karena memiliki biji yang besar dan after taste moka dibandingkan varietas Putri yang hanya menghasilkan rasa pahit dan biji berukuran kecil. Kesaksian after taste tersebut saya dapatkan dari Mas Tri, dan saya yakin perlu metode seduh V60 untuk mengekstrak keragaman after taste-nya.

“Seperti ini, Mas, bentuk berasnya jenis Putri, cenderung kecil. Beda dengan TS (Tugu Sari) yang lebih besar.” Bu Mugiyem menunjukkan perbedaan kedua varietas tersebut di atas meja dalam bentuk beras atau biji yang belum disangrai (green bean). Bentuk varietas Putri oval pipih dan kecil. Sementara varietas TS bijinya berbentuk oval lebar. Bu Mugiyem menunjukkan kepada saya satu per satu jenis kopi dari bubuk ke biji, lalu dari Putri ke TS dengan tekun.

Selanjutnya saya ditawari untuk ikut ke alas kopi esok pagi. Ini adalah tawaran kehormatan. Lebih karena kehadiran saya di alas kopi sebagai tamu, bukan pengganggu. “Nggih, Bu, kulo nderek mawon,” jawabku spontan siap mengekor bu Mugiyem ke alas.

Tak terasa sudah pukul 8 malam. Pembicaraan hampir usai, tapi saya diajak oleh Pak Hajir untuk berkunjung ke rumah salah seorang petani yang memanen kopi dengan cara petik merah. Tapi sayang sekali, orang yang dituju tidak ada di rumah. Ketika kami sampai di rumah orang yang dimaksud, pintunya tidak terkunci, rumah kosong, hanya ada sepasang sandal selen. Pak Hajir sudah coba memeriksa sampai ke dalam rumah, tapi tetap tak ditemukan seorang pun. Pintu ditutup kembali dan kami berjalan turun. Di depan sudah ada tetangga yang siap memberi informasi.

“Wonge yasinan menawi, Pak. Neng ngisor kono,” seorang ibu paruh baya di depan rumah yang kosong memberi tahu kami bahwa pemilik rumah sedang menghadiri pengajian di rumah tetangga yang berlokasi di area bawah.

Mendengar kabar itu, saya diantar Pak Hajir menuju rumah yang lain, ke rumah Mbak Ruroh, adiknya Mas Tri. Namun bukan bertemu di rumahnya Mbak Ruroh, melainkan di rumah tetangga Mas Tri. Di sanalah perbincangan berlangsung. Obrolan kami tak jauh berbeda dengan obrolan ketika di rumah Bu Mugiyem, sekadar mempertebal apa yang disampaikan Bu Mugiyem.

Sekitar pukul 9 malam, saya berpamitan dengan Bu Ruroh karena sudah teralalu malam. Selain itu, besok pagi saya akan membuntuti Bu Mugiyem ke alas kopi, dan saya tebak mbak Ruroh juga akan ke alas kopi sebagaimana umumnya warga Desa Jumo.

Pulper

Minggu, 23 Agustus, saya membuka mata dengan penampakan gunung Sindoro-Sumbing yang kokoh menjulang di selatan desa. Terpaan angin lembah berhembus bersama kabut tipis, menyeka wajah yang belum sepenuhnya bertenaga saat pagi masih jernih dan hati belum dihalau risau. Di depan rumah, Pak Suwadi sudah gigih membuka gulungan biji kopi bersama Mas Tri: kembali menjemur kopi.

Saya yang masih bersedekap-tangan berjalan turun, membantu pak Suwadi dan mas Tri bersama dua temannya menjemur kopi. Gulungan telasar berisi kopi dibuka, para tetangga juga melakukan hal yang sama, bahkan sudah ada yang mem-pulper buah kopi.

Pulper adalah istilah yang dipakai petani untuk menyebut pemisahan biji kopi dengan kulitnya. Bukti bahwa teknologi mesin menjadi bahasa penanda suatu aktivitas para petani kopi modern di desa. Proses ini dilakukan setelah penjemuran kopi menekan kadar air hingga tersisa 10%-12%.

“Kalo jasa pulper itu Rp. 35-40 per kilogram. Kalo pak Jun itu biasanya satu kwintal sekali pulper. Tinggal dikalikan saja. Prosesnya sekitar lima menit per kwintal. Mau ikut investasi?” jelas mas Tri dengan diakhiri pertanyaan retorik. Saya tidak menjawab pertanyaan mas Tri karena terlanjur memikirkan berapa pendapatan penyedia jasa pulper.

Gambar 4 Proses memisahkan biji kopi dengan kulit dan buahnya menggunakan mesin pulper oleh penyedia jasa. (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

“Nanti mandi dulu sebelum ke alas, biar seger.” Mas Tri mengingatkan saya yang seharian lalu belum mandi. Hawanya terlalu dingin buat kulit, saya putuskan mandi ketika pulang dari alas.

Santap “Sego Megono” Bersama

Sekitar pukul 8 saya ke rumah Bu Mugiyem. Ternyata ia sudah lama menunggu, dan Pak Hajir sudah berangkat duluan bersama cucu serta mantunya. Saya merasa tidak enak. Namun, Bu Mugiyem masih senyum saja, disangkanya saya tidak jadi ikut. Janjian semalam tidak perlu konfirmasi ulang lewat gawai, itulah laku yang masih terjaga di kalangan petani Jumo.

“Langsung sekarang, ya, Mas, naik pit. Agak jauh soalnya.” Pit atau sepeda, di Jumo sepadan dengan motor. Jadi, saya memboncengkan Bu Mugiyem menuju alas dengan motor saya. Semoga beliau tidak curiga: kenapa pakaian saya masih sama sejak semalam.

Jaraknya tak begitu jauh. Dengan motor, sekitar lima menit. Sedangkan di alas, Pak Hajir bersama mantu dan cucunya sudah giat memetik buah kopi. Kata Bu Mugiyem, kebun yang saya datangi termasuk kebun yang dibeli dari besannya—bapak dari mantunya. Waktu itu harganya sekitar 3 juta—saya tidak menanyakan kapan tahunnya dan berapa luasnya, tapi menurut Bu Mugiyem, untuk sekarang ini kebun tersebut tidak bisa didapat dengan harga 50 juta.

Karena membeli kebun, Bu Mugiyem dan Pak Hajir tidak menanam kopi dari bibit; melainkan meneruskan pohon kopi yang sudah tumbuh sebelumnya. Ada varietas Tugu Sari dan Putri. Tugu Sari berada di terasering bagian bawah, sedangkan Putri berada di bagian atas. Menurut bu Mugiyem, kopi Tugu Sari lebih mudah dipetik daripada Putri karena ukurannya yang lebih besar.

“Sini, Mas. Sebelum metik kopi, kita makan dulu. Ini kalo di sini namanya sego megono. Menanak nasi bersama sayur-sayurnya dalam sekali masak.” Bu Mugiyem mengenalkan sego megono, yang sepengetahuan saya merupakan makanan khas Pekalongan. Kali ini saya temukan di tengah alas kopi.

Gambar 5. Menyantap “sego megono” di tengah alas sebelum proses petik buah kopi bersama Bu Mugiyem, Pak Hajir, cucu dan mantunya. (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

Bu Mugiyem kemudian memanggil suaminya untuk sarapan. Saya yang baru saja sarapan harus menghadapi paksaan makan bersama keluarga besar Bu Mugiyem. Piring dengan diameter 15 cm terisi penuh oleh nasi—kalau dihitung-hitung itu dua kali porsi saya; saya kira Bu Mugiyem mengambilkan untuk suami, ternyata sepiring nasi itu sengaja disajikan untuk saya. Pagi yang benar-benar lebih dari kenyang, saya menyesal karena sarapan terlalu banyak sebelum berangkat.

“Sudah, Mas, pokoknya kalo di alas harus makan, biar kuat,” Bu Mugiyem memperingatkan.

Saya sempat meminta untuk mengambil nasi sendiri saja, tapi Bu Mugiyem tidak membolehkan. Tamu harus pakai piring, tidak baik kalo pakai daun pisang, kata bu Mugiyem. Sementara Pak Hajir, istri, cucu, dan mantunya menggunakan alas daun pisang sebagai wadah nasi. Saya duga memang seperti ini sehari-hari: menggunakan daun pisang sebagai ganti piring. Dan karena kehadiran tamu, tepatnya saya, Bu Mugiyem sengaja membawa piring sebagai penghormatan.

Selesai makan, kami berbincang lagi. Saya lebih banyak mendengarkan dan memantik pertanyaan supaya bu Mugiyem dan pak Hajir banyak bercerita dan berbagi pengetahuan. Keduanya bergantian menunjukkan bagaimana merawat tanaman kopi, mulai dari pemupukan, membuat galian lubang untuk mencegah hama semut pudak yang sering menggerogoti akar, sampai melakukan teknik sambung (okulasi tempel). Untuk teknik sambung dilakukan ketika musim hujan, menurut Pak Hajir, karena cuacanya cocok.

Harus Sering Mengamati

Usai itu saya diajak memetik kopi. Itu merupakan pengalaman pertama saya. Cukup mudah memetik buah yang merah, tapi untuk yang masih hijau karakternya lebih alot ketika dipetik.

Gambar 6. Bu Mugiyem menunjukkan semut-semut yang mengerubungi buah kopi dan memperlihatkan teknik petiknya. (Dok. Penulis | Miftahul Huda)

Hal yang perlu diwaspadai ketika memetik buah kopi adalah serangan semut pudak. Gerombolan semut rangrang itu, selain berkumpul di akar, mengerubungi sekujur daun dan buah kopi yang merah. “Jangan sampai kena mata, Mas. Rasanya panas kalau kegigit,” Bu Mugiyem mengingatkan.

“Kita harus sering-sering mengamati, Mas. Pendidikan sekolah memang perlu, tapi pengalaman, mengamati apa yang terjadi juga sangat perlu. Makanya orang-orang sini banyak tidak cocok dengan model perawatan kopi lewat penyuluhan pertanian, karena banyak bedanya dengan yang kami alami. Sedangkan mereka tidak mau melihat dulu apa yang terjadi di sini … kalau pemerintah menyarankan merawat dari atas—bunga, kami merawat dari bawah—akar,” tegas Bu Mugiyem menyampaikan pengetahuannya.

Sekitar 9.30 saya berpamitan dengan Bu Mugiyem sekeluarga. Itu karena pukul 10 saya bersama Mas Tri akan menuju Desa Ngadirejo di lereng Sindoro: perjalanan baru menimba ilmu ke petani kopi arabika.[]

Tags: budayacerita perjalanankelanakopipohon kopi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

Next Post

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

Miftahul Huda

Miftahul Huda

Pernah jadi mahasiswa. Konsisten membuang sampah pada tempatnya.

Artikel Terkait

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
Kelana

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

9 December 2025

Bagi warga negara yang pernah punya memori traumatis terhadap umat Muslim, kiranya bagaimana tanggapan mereka jika musti berjumpa kembali dengan...

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
Kelana

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025

Nama Hanna Hirsch Pauli mungkin terasa asing. Itu wajar. Bahkan, di negara asalnya, Swedia, banyak juga yang belum mengenalnya. Justru...

Menjajaki Belanda: Dekapan Mimpi yang Jadi Nyata
Kelana

Menjajaki Belanda: Dekapan Mimpi yang Jadi Nyata

5 July 2022

Belanda, mungkin negeri ini tidak asing bagi orang Indonesia mulai dari yang tua sampai yang muda. Terlebih bagi saya. Dalam...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

3 April 2022
Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina

Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina

27 November 2025
Belajar Menulis

Belajar Menulis

1 April 2021
Gambar Artikel Sambatan Kuliah di Tengah Pandemi

Sambatan Kuliah di Tengah Pandemi

12 November 2020
Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR

Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR

9 January 2022
Gambar Artikel Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

27 December 2020
Gambar Artikel Jasong Pengalaman Menjadi Pramusaji

Jasong

26 January 2021
Pada Suatu Kangen dan Kontradiksi Interminus

Pada Suatu Kangen dan Kontradiksi Interminus

6 August 2021
Fenomena Narsisisme Religius Kaum Milenial

Fenomena Narsisisme Religius Kaum Milenial

3 May 2021
Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

18 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.