• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Air Terjun Temburun dan Pulau Temawan

Abdir Rohman Al-Hamdany by Abdir Rohman Al-Hamdany
28 November 2020
in Kelana
2
Gambar Artikel Air Terjun Temburun dan Pulau Temawan

Sumber Gambar : dokumentasi pribadi kontributor

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Wisata di daerah kepulauan memang selalu menawan. Tak terkecuali di Kepulauan Anambas. Memang wisata di Kepulauan Anambas belum sepopuler di Bali, Labuan Bajo dan Pulau Komodo di Flores NTT, maupun Raja Ampat, Sorong Papua. Namun di Kepulauan Anambas ini seringkali dianggap Maldives-nya Indonesia.

Terdapat banyak pulau-pulau kecil tak berpenghuni, hamparan pasir pantai yang masih bersih, dan kondisi alamnya yang belum banyak tersentuh menjadi pesona tersendiri bagi traveller lokal maupun mancanegara.

Hampir sebulan saya di Anambas, tidak banyak wisata yang saya kunjungi. Karena saya hanya berkutat di Pulau Tarempa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Anambas, dan sebagian besar wisata dan pantai-pantai yang bagus terletak di pulau-pulau kecil lain. Di Pulau Tarempa sendiri, hanya ada sedikit pantai. Pantai-pantai di pulau ini pun tidak bisa (kurang disarankan) untuk dipakai berenang-renang di tepi pantainya. Atas faktor itulah kami hanya dapat berswafoto di batu-batu pantai, ataupun jalan-jalan di tepi pantai saja.

Pantai di Pulau Tarempa

Setelah tugas utama penelitian kami selesai, akhirnya kami mengagendakan kunjungan wisata non-pantai di Pulau Tarempa ini. Air Terjun Temburun, air terjun bertingkat-tingkat yang langsung menghadap ke laut. Air terjun ini terletak di Desa Temburun, Kecamatan Siantan Selatan. Dari tempat kami tinggal berjarak sekitar 30 menit, alias hanya berbeda kecamatan saja dari tempat kami tinggal. Yaaa, walaupun memang di Pulau Tarempa ini hanya ada 2 Kecamatan, heheuheu.

Perjalanan ke Air Terjun Temburun melewati jalan yang cukup ekstrem, yakni tanjakan dan turunan karena melewati sebuah bukit. Meskipun rutenya cukup ekstrem, pemandangan selama perjalanan sangat niqmatable (bisa dinikmati). Selama perjalanan kami dapat melihat hamparan laut dan pulau-pulau kecil diseberang Pulau Tarempa ini. Setelah sampai di gapura air terjun, kami memarkir motor.

Tidak seperti wisata-wisata di Pulau Jawa, tidak ada petugas parkir maupun loket tiket masuk di sini. Usai memarkir motor, kami langsung berjalan melewati tangga-tangga menuju spot foto Air Terjun Temburun. Perjalanan kami memakan waktu sekitar 15 menit, karena jalan yang cukup terjal. Setelah sampai di spot foto, kami langsung ditampar dengan dua pemandangan yang membayar lunas lelahnya perjalanan tadi.

Jika menghadap atas, tampak air terjun bertingkat-tingkat disertai bebatuan yang membuat air mengalir berbelok-belok. Jika menghadap ke bawah, kami melihat laguna-laguna dan laut serta pulau-pulau kecil lain di seberang.

Air Terjun Temburun tampak dari bawah
air terjun tampak dari bawah
Air Terjun Temburun tampak dari atas
dari atas terlihat laguna

Setelah puas dengan Air Terjun Temburun, keesokan harinya kami berniat menyeberang menuju pulau kecil tak berpenghuni yang sering dikunjungi wisatawan lokal untuk renang di sekitar pantai. Yaps, setelah berkeliling Pulau Tarempa dan tidak mendapatkan pantai yang menarik untuk berenang-renang, akhirnya kita menyeberang ke Pulau Temawan.

Sebuah pulau kecil tak berpenghuni di sebelah timur Pulau Tarempa. Menurut informasi warga sekitar, pulau ini sering dikunjungi masyarakat Tarempa jika malam takbiran dan malam tahun baru. Perjalanan dari Pulau Tarempa ke Pulau Temawan menggunakan speedboat dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Kami menyewa speedboat berkapasitas 8 orang dengan biaya 500.000 rupiah.

Ada dua cerita lucu dan mengejutkan saya selama perjalanan ke Pulau Temawan.

Pertama, saat bersiap berangkat menaiki speedboat, sopir yang akan mengantarkan kami tidak kunjung datang. Usut punya usut, setelah kita tanya ke petugas pelabuhan, handphone milik supir speedboat kecemplung ke laut. Jadi bapaknya menyelam mengambil handphone-nya dahulu.

Serampung bapaknya siap di speedboat, kami konformasi ke bapaknya dan memang benar, beliau habis mengambil handphone-nya yang tenggelam. Dan hebatnya, handphone tersebut masih berfungsi dengan normal. Heheu.

Kedua, selama perjalanan supir speedboat ini bercerita, dia pernah mengantar wisatawan asing dari Tarempa ke Pulau Natuna dengan waktu tempuh 8 jam perjalanan. Saya terkejut, karena di peta pun, Kepulauan Anambas dan Natuna jauh sekali. Dengan perjalanan melewati laut-samudra (Laut China Selatan) dan hanya menggunakan speedboat, apa tidak setor nyawa itu namanya jika terkena ombak yang tinggi di tengah lautan lepas. Dalam benak saya, perjalanan tersebut akan jauh lebih aman dengan menggunakan kapal besar atau Kapal Feri, apalagi dengan wisatawan asing. Hihiii.

Peta Kepulauan Anambas dan Natuna
Peta Kepulauan Anambas dan Natuna

Tidak lama setelah terkejut dengan cerita pak supir speedboat, akhirnya kami sampai di Pulau Temawan. Hanya saja, kami satu-satunya pengunjung di pulau tersebut. Luas pulau ini kira-kira cuma sebesar satu RT. Bisa dikelilingi dengan jalan kaki. Akan tetapi, pesona lautnya wuuuh sekali, pulau-pulau lain tampak banyak sekali mengelilingi pulau ini.

Pesona Pulau Termawan

Kami berenang-renang menikmati air laut yang tenang yang tidak kami temukan di Pulau Tarempa. Lalu berjalan menuju ujung pulau, dan mencari spot untuk berswafoto. Setelah hampir 3 jam kami di pulau ini, dan hari sudah semakin sore, kami kembali ke Pulau Tarempa dan bergegas packing untuk pulang ke Jakarta keesokan harinya. Sekian perjalanan kami di Kepulauan Anambas. Sampai bertemu di pulau-pulau lainnya.[]

Baca Juga Artikelku tentang Pengalaman di Kepulauan Anambas : Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas dan Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

Juga artikelku tentang Kota Kupang : Serba-Serbi Kota Kupang dan Berkelana di Kota Kupang

 

Tags: air terjun temburunkelanapantaipulau temawantravellingtrip
ShareTweetSendShare
Previous Post

Mind Management

Next Post

Aku dan Impian Terbesarku: Pengalaman Tinggal di Jerman

Abdir Rohman Al-Hamdany

Abdir Rohman Al-Hamdany

dokter lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang kini sedang mengabdi di Ponpes Amanatul Ummah dan Internship di Puskesmas Pacet, Mojokerto. Fans Juventus sejak masih sperma.

Artikel Terkait

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
Kelana

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

9 December 2025

Bagi warga negara yang pernah punya memori traumatis terhadap umat Muslim, kiranya bagaimana tanggapan mereka jika musti berjumpa kembali dengan...

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
Kelana

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025

Nama Hanna Hirsch Pauli mungkin terasa asing. Itu wajar. Bahkan, di negara asalnya, Swedia, banyak juga yang belum mengenalnya. Justru...

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi
Kelana

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi

9 August 2025

Narasi canggih soal kopi di coffee shop terdengar terputus dari asalnya: alas. Rasa yang belum menyatu itu menyembulkan sebuah ide...

Comments 2

  1. Pingback: Wisata di Tarempa - Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas
  2. Pingback: Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas - Metafor.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

8 December 2021
Doa

Doa

18 June 2021
Tips Memakai Kacamata Kehidupan

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

20 February 2021
Surat dari Sekar

Surat dari Sekar

10 November 2021
Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022
Kalaulah Sebab Langit Tergelar Kembali

Kalaulah Sebab Langit Tergelar Kembali

16 April 2021
Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

9 August 2021
Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

Upaya Menemukan Kepastian Hidup Ala Spinoza

25 November 2021
Belajar Mengitari Israel

Belajar Mengitari Israel

19 April 2023
Kiat Merawat Dendam ala Seneca

Kiat Merawat Dendam ala Seneca

3 November 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.