• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 10 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Gaya Hidup

Fenomena ‘Ngapak’

Atika Rohmawati by Atika Rohmawati
26 November 2021
in Gaya Hidup
0
Fenomena ‘Ngapak’
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Negara kita Indonesia merupakan sebuah negara dengan keragaman suku bangsa yang tergolong cukup banyak. Dengan beragamnya suku bangsa tersebut, bahasa daerah yang digunakan di negara kita Indonesia juga beragam serta berbeda antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di setiap daerah . Salah satu dari beberapa bahasa daerah yang ada di Provinsi Jawa Tengah salah satunya yaitu Bahasa Ngapak. ‘Ngapak’ sendiri merupakan sebutan untuk dialek yang dianut oleh orang Banyumasan, seperti di Cilacap, Kebumen, Banjarnegara Purbalingga, dan sebagian wilayah di Jawa Tengah bagian Barat.

Bahasa Ngapak merupakan suatu identitas diri dari suatu daerah asal. Namun, terkadang  para pemuda seperti kita ini terkesan tidak percaya diri atau malu  untuk menggunakan dialek ngapak dalam berkomunikasi dengan orang apalagi jika berkomunikasi dengan orang-orang kota. Hal tersebut dikarenakan bahasa ngapak dianggap oleh sebagian orang sebagai bahasa yang ”lucu”, pinggiran, bahkan dianggap ”rendahan” atau “tidak gaul”. Jadi ada yang menganggapnya sebagai bahasa yang lucu. Dalam beberapa media juga, seperti televisi ada yang terlihat menempatkan bahasa ngapak itu sendiri sebagai bahasa humor atau lelucon yang mengiringi peran-peran pemain. Walaupun mungkin hal tersebut terkadang tidak disengaja, namun turut membuat kesan tersendiri tentang bahasa ngapak.

Pada budaya Jawa, perilaku serta bahasa sangat berpengaruh dan memegang peran penting. Bahasa Ngapak merupakan dialek dalam bahasa Jawa yang terkenal atau populer di kalangan masyarakat kita ini. Keberadaan bahasa Ngapak pada masyarakat Banyumas sudah sejak abad yang lalu. Bahasa ngapak juga memiliki hubungan atau keterkaitan langsung dengan bahasa Jawa Kuno/ bahasa Kawi. Dalam bahasa Ngapak huruf-huruf konsonan h, d, g, b, c, k, l, w diucapkan dengan penekanan khusus yang membuatnya terdengar unik bagi orang yang tidak paham artinya. Kata-katanya yang berakhiran dengan huruf mati memang dilafalkan sedemikian rupa dengan penekanan tersendiri. Hal inilah yang menjadikan dialek/bahasa Ngapak identik dengan suatu bahasa yang dikenal dengan medhok. Bahasa Ngapak ini cara bertuturnya juga cenderung terkesan blak-blakan tidak mempersoalkan status sosial. Bukan berarti mengabaikan tata krama, tapi mengedepankan prinsip kesetaraan.

Dari penjelasan di atas, seiring dengan perkembangan zaman bahasa Banyumasan mulai tertindas arus modernisasi dan globalisasi dengan munculnya bahas-bahasa gaul di kalangan masyarakat. Dengan adanya masalah tersebut perlu adanya suatu upaya dalam pelestarian bahasa Banyumasan yang harus segera dilakukan agar masyarakat Banyumas tidak kehilangan jati diri atau suatu ciri khasnya sebagai orang “Ngapak”. Kita sebagai warga Banyumas tidak perlu merasa malu dengan kekhasan dialek Banyumasan saat berkomunikasi justru kita harus  mempopulerkan bahasa ngapak tersebut kepada daerah-daerah lain. Kita patut berbangga dengan kekhasan tersebut. “ Ora Ngapak Ora. Kepenak”. Jadi Bahasa Ngapak  sendiri dianggap sebagai bahasa yang penting dan bahasa keseharian yang digunakan sebagai alat komunikasi antar masyarakat Jawa khususnya wilayah Jawa Tengah bagian Barat.

Tags: bahasa ngapakngapakora ngapak ora kepenak
ShareTweetSendShare
Previous Post

Perihal Kelahiran

Next Post

Mata Cinta

Atika Rohmawati

Atika Rohmawati

Cilacap 6 Juli 2001.Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Berdomisili di desa Doplang RT 03 RW 07,Adipala,Cilacap. E-mail : atikarochmaa006@gmail.com

Artikel Terkait

Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
Gaya Hidup

Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

31 October 2025

Menunda-nunda, atau prokrastinasi, adalah fenomena yang tampaknya sepele tetapi sesungguhnya sangat kompleks. Data menunjukkan bahwa 95% orang melakukannya pada tingkat...

Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual
Milenial

Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

8 May 2023

Peringatan: tulisan ini mengandung konten sensitif yang barangkali dapat mengganggu dan memicu trauma Anda. _ Pada tahun 2022 kemarin, Netflix...

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon
Gaya Hidup

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

30 April 2023

Pernahkah kita terbesit secara sadar kalau udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita telan itu berasal...

Pilih Masjid yang Tarawih 8 atau 20? Ada yang Dua-duanya lo!
Gaya Hidup

Pilih Masjid yang Tarawih 8 atau 20? Ada yang Dua-duanya lo!

13 April 2022

Perdebatan tentang jumlah rakaat tarawih yang mewarnai jagat maya tampaknya tak berlaku di Masjid Al-Hikmah Kampung Islam Lebah, Klungkung. Pasalnya...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Serba-serbi Kali

Serba-serbi Kali

1 March 2021
Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

8 May 2023
Sedih yang Diam

Sedih yang Diam

1 April 2022
Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

18 February 2021
Hujan Menulis Air

Hujan Menulis Air

30 April 2021
Gambar Artikel Lelaki yang Melukis di Waktu Senggang

Lelaki yang Melukis di Waktu Senggang

4 December 2020
Gambar Artikel Keraguan dalam Keyakinan

Keraguan dalam Keyakinan

2 December 2020
Win-Win Corruption

Win-Win Corruption

30 May 2021
Puasa Puisi: Perayaan Sastra Lintas Bahasa

Puasa Puisi: Perayaan Sastra Lintas Bahasa

31 March 2024
Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Penjual Susu dan Puisi Lainnya

2 June 2024
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.