Risoles Tahun Baru
Pagi tadi
aku masih berada
di dalam kotak
Dengar ceramah
soal kemanusiaan,
revolusi, resolusi,
segala macam
sampai demokrasi
Siangnya aku pulang
lanjut kerja cari uang
buat sumbang beras
ke rumah-rumah orang
Upah seharian
untuk sekali makan
Makan nasi lauk pikiran
serius bisa bikin kenyang?
Konon urusan piring diatur
oleh yang di atas sana—
Aku kekurangan nutrisi
untuk sedikit peduli
Mudah betul bicara—
sudah benar makan nasi
malah minta lauk ideologi
Kemanusiaan pun seragam,
tergantung muka siapa
yang ingin dipajang
Biasanya berupa karung
disertai nama terang
Kadang bisa berupa
kantong isi uang
Pagi menyerukan kebenaran—
yang sampai: pencairan kekayaan
Ah, kebenaran hari ini
tak lebih dari kelaparan
Orkes keroncong di perut
terus bekerja sejak hari libur
Di kebun binatang,
hanya primata berkuasa
yang kuasa atur jam makan
lewat adu lengking suara
dari dalam kandang
Sudahlah,
esok pagi harus
kembali ke kotak lagi
Bermodal asam lambung
dan sisa-sisa keyakinan,
melahap lambang burung
tak cukup mengenyangkan
Yogyakarta, 2026
Surau Kami Masih Roboh
Tuhan,
Aku lelah
oleh sesamaku
Celoteh mereka soal syukur
belum cukup melipur lapar
Celoteh mereka soal iman
belum cukup menjamin aman
Kata mereka,
pahala itu upah
Engkau adalah atasan
Ibadah itu daftar tugas
Bertanya dilarang keras
Sejujurnya aku tak tahu
siapa yang mengerdilkan-Mu:
antara aku yang mulai ragu
atau mereka yang mengaku
dekat pada-Mu
Bicara benar-salah
mereka mendadak saleh
Bicara soal hukum
mendadak berlagak hakim
Sekali salah dapat vonis,
“sekian tahun neraka
bagi seorang residivis.”
Selama ini
aku tak ke mana-mana,
tanpa hari penghakiman
neraka berpindah sendiri
lewat mulut ke mulut
yang menyulut takut
Dari situ
aku mulai patuh,
jatuh pada janji
yang tak kupahami
sepenuhnya
Lebih pandai merapal
atau menghafal pasal-pasal
seperti aparat penegak moral
Kebenaran terdengar palsu,
seperti bising kerumunan
Siapa paling nyaring
sudah tentu ia penting,
siapa paling lantang
sudah pasti menang,
sisanya remah-remah,
sisanya remeh-temeh
Sementara kesalahan,
bentuk paling jujur manusia
yang mengeriyap di antara senyap
Perlahan tapi pasti
aku belajar bertanya,
sebab kebanyakan orang
juga kebanyakan bicara
Apa bisa aku sembuh
tanpa dipaksa menyembah siapa?
Aku pernah merintih lirih pada-Mu
dan harapku luruh setelahnya
Apa bisa aku kembali pulih
tanpa dipaksa memilih
berdiri di sisi siapa?
Aku memanggil nama-Mu
dengan lirih yang sama
sejak aku belajar bertanya
Yogyakarta, 2026
Blackjack
Dua puluh satu
Sebuah permainan kartu
Satu langkah menebak,
setengahnya lagi terjebak
Sejak kecil terpapar angka—
aritmatika, peluang, dan logaritma—
katanya agar pandai berhitung
Angka kulempar hasilnya buntung
Nomor tak lagi dilirik
Orang lebih tertarik hati,
waru, sekop, dan wajik
Mahkota lebih utama
Nilai bisa dipikir terakhir
Kemenangan pertama
mengantar ke titik nadir
Papan tulis mengurutkan angka,
rumus-rumus berdiri sejajar
menyisakan ruang kosong
Meja kursi tertata rapi
Persis aturan berbusana
yang jelas tak berguna
Urutan angka kini beserta nama,
orang-orang berbaris satu banjar,
yang kosong sekarang tatapan mata
Berpacu pada putaran nomor undian
: maju terus atau mampus
Di atas meja
semua terlihat sama
Pemain cuma bidak,
kalau kalah jadi budak
Penyesalan datang akhir,
kalau awal pendaftaran
Kartu pribadi jadi jaminan
tiap mulai permainan
Bukan ingin ajar judi,
apalagi bahas budi
Peluh sehari-hari
belum tampakkan hasil
Sebaliknya utang menumpuk
di balik kemeja dan lamaran kerja
Jalan tak selalu lurus,
kadang hasil tak selaras usaha
Katanya itu cara dunia menegur,
tegakkan kepala dan tetap tegar
Pilihannya cuma dua:
menghidupi hidup
atau
menghadapi hidup
Yogyakarta, 2025














