• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 06 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom

Pendidikan Psikosufistik dan Cara ‘Mengintip’ Kecerdasan Spiritual

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
7 July 2021
in Esai, Kolom
0
Pendidikan Psikosufistik dan Cara ‘Mengintip’ Kecerdasan Spiritual

https://www.behance.net/gallery/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sebagai basis kebudayaan dan peradaban manusia, pendidikan menempati peran yang tidak sepele. Pendidikan sejatinya berposisi sebagai proses pengasuhan, pembimbingan, dan pengembangan potensi individu melingkupi aneka aspek—baik jasmani, budi pekerti, dan penalaran. Dari sini dapat kita perluas bahwa pendidikan bukanlah urusan yang hanya melibatkan sekolah dan institusi an sich. Lebih dari itu, ia bisa ditempuh di mana saja, diserap dari siapa saja, dan dikenyam dalam momentum yang variatif.

Namun satu fakta yang miris: semenjak roda globalisasi bergulir ke segala penjuru, ditambah dengan kehadiran media baru digital, watak manusia modern ikut terpengaruh oleh keduanya. Kita menjadi semakin terisap oleh derap zaman yang bermental industrial: harus serba-teratur, mekanis, dan predictable (Solihin, 2004). Di tengah menjamurnya gedung pencakar langit dan pesatnya teknologi informasi kontemporer, manusia dilanda infodemic. Darinya muncul pusparagam gejala anomali dan titik-balik psikologis. Manusia modern mengalami keterasingan. Kegersangan spiritual (Burhani A.N, 2002). Tidak kaget jika dari sinilah mereka tergerak untuk menyelami kembali dimensi adikodrati ruhaniah—sebagai bentuk counter wave.

Mencermati fenomena tersebut, tentu akan ada titik temunya dengan khazanah pendidikan psikosufistik yang hendak mendekati manusia secara utuh (holistic). Tidak hanya menggamit unsur intelektualitas (IQ) semata, namun juga anasir emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Dalam ungkapan sederhana, pendidikan psikosufistik berupaya mencerna dan memaknai pelbagai tindakan, fenomena, realitas dan aktivitas pembelajaran dengan kesadaran luhur. Mentransendensikan segala aspek untuk kemudian didayagunakan sebagai instrumen penjinak hawa nafsu—yang mana beragam kecenderungan negatif dan merusak dapat muncul karenanya.

Jika meminjam frasa Emha Ainun Nadjib, penting bagi kita kalangan muda untuk memilih dengan pertimbangan matang antara tiga hal: “menduniakan akhirat”, “mengakhiratkan dunia”, atau “mendunia-akhiratkan kehidupan”. Yang pertama, menduniakan akhirat adalah bentuk ‘profanisasi’ hal-hal yang sakral sehingga akan mudah terjerembab ke dalam sekularisme dan merubah nilai-nilai luhur menjadi sesuatu yang permukaan dan kemasan. Kedua, mengakhiratkan dunia sudah lumayan baik, namun masih mengandung sikap dikotomis, tidak lengkap, parsial—segala urusan di dunia dimaknai akhirat semata.

Sedangkan yang terakhir, mendunia-akhiratkan kehidupan menjadi pilihan yang seimbang dan akan lebih potensial menuju keharmonisan hidup. Bahwa dalam hidup ini, semisal, nikmat perzinahan itu urusan dunia, dan tidak perlu diakhiratkan karena sudah jelas dosa. Juga keperluan sholat dan puasa itu urusan akhirat sehingga tidaklah bijak jika dipolitiki demi keuntungan duniawi. Mengacu dari ulasan ini, kita dapat memilih titik pijak dan sikap mana yang akan dapat mengantarkan kita ke dalam kebahagiaan yang asli. Bukan kebahagiaan semu yang cuma berlangsung sesaat. Ephemeral pseudo-happiness.

Identifikasi Kecerdasan Spiritual

Dalam proses mendedikasikan diri ke dalam medan pendidikan yang holistik sebagaimana di atas, otomatis memerlukan serangkaian instrumen dasar untuk menyukseskannya. Terutama dalam urusan ruhaniah, keberhasilan spiritual adalah hasil perpaduan dari menangnya akal dan kalahnya hawa nafsu (Nurbakhsy, 2000). Bahwa kalah dari ego—sehingga terjebak menjadi anak buahnya—akan memicu kita melakukan aneka bentuk tindakan yang senewen dan serampangan. Dengan kata lain, ketelatenan dan kegigihan untuk menjinakkan potensi destruktif dalam internal diri kita sangatlah penting.

Ikhtiar untuk menjinakkan nafsu ini, salah satunya, dapat dimulai dengan rajin bermuhasabah. Introspeksi diri sekaligus evaluasi multiaspek yang berlangsung dalam diri kita beserta tindakan keseharian. Dari muhasabah, seseorang akan terlatih untuk menilai diri sendiri secara adil. Mengetahui mana sikap (attitude) dan perilaku (behavior) kita yang negatif, dan mana yang baik dan mendatangkan manfaat.

Apabila sudah rutin melakoninya, maka sebagai tahap lanjutan atau alat identifikasi ke orang lain, kita dapat membaca beberapa poin dari Danah Zohar dan Ian Marshall di bawah ini tentang karakteristik umum dari kecerdasan spiritual.

  1. Kemampuan bersikap fleksibel.
  2. Memiliki kecerdasan tajam dan produktif.
  3. Cerdas menyikapi penderitaan.
  4. Sanggup mengatasi rasa takut dan khawatir.
  5. Pandangan hidup berorientasi nilai dan visi besar.
  6. Tidak menyimpan niat untuk berbuat kerusakan.
  7. Kerap menemukan keterkaitan pelbagai peristiwa, aspek, urusan, dan hal-hal apa saja secara utuh dan Ilahiah (adikodrati).
  8. Sering bertanya “mengapa” dan “bagaimana”.
  9. Punya potensi menjadi pemimpin yang berdedikasi dan tulus mengabdi.

Dari serangkum uraian di atas, setidaknya bisa kita cermati ke diri kita sendiri apakah sudah memiliki beberapa poin tersebut atau belum sama sekali. Apabila belum, maka sudah waktunya bagi kita mengimplementasikan apa-apa yang sudah kita ketahui. Sebab, seperti kata orang Jawa, ilmu kelakone kanti laku. Ilmu itu berlangsung dan semakin maksimal diperoleh justru di saat kita menerapkannya ke dalam perbuatan.[]

 

Sumber Bacaan:

Burhani, Ahmad Najib ed. (2002). Manusia Modern Mendamba Allah. Jakarta: Penerbit Iman & Hikmah.
Nurbakhsy, Javad. (2000). Psychology of Sufism (penerj. Arief Rakhmat). Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Nadjib, Emha Ainun. (2014). Tuhan pun Berpuasa. Jakarta: Kompas Gramedia.
Solihin, M. (2004). Terapi Sufistik. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Zohar, Danah & Ian Marshall. (2007). SQ: Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan Pustaka.

Tags: holistikIQkecerdasankehidupanpendidikanspiritualSQtasawuf
ShareTweetSendShare
Previous Post

Melankolia Perjalanan Musim

Next Post

Ya Afu, Ya Jingan!

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah,...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Ruang Tunggu: Puisi-puisi Habib Muzaki

Ruang Tunggu: Puisi-puisi Habib Muzaki

26 December 2022
Tadabbur via Momentum Hujan

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022
Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

Mengenal Thasykubro Zadah: Sejarawan Penulis Ensiklopedia Islam

10 March 2022
Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

18 April 2022
Fenomena ‘Ngapak’

Fenomena ‘Ngapak’

26 November 2021
Pengakuan

Pengakuan

11 March 2022
Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

31 January 2022
Tips Memakai Kacamata Kehidupan

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

20 February 2021
Novelet Nirmakna & Pandemicthink

Novelet Nirmakna & Pandemicthink

25 July 2021
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

13 March 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (223)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (22)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.