• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 11 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Abdul Rauf Ode Ishak by Abdul Rauf Ode Ishak
13 March 2022
in Esai
0
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Sumber gambar: https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Eksistensi Jalur Rempah Nusantara

Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, dialektika pembahasan jalur rempah menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Dimulai dari pameran di Museum Nasional di Jakarta (18-25 Oktober 2015) dengan tajuk “Jalur Rempah: The Untold Story”, merambah pada kegiatan “Ekspedisi Jalur Rempah 2018: Sejarah Jalur Rempah dan Kekayaan Hayati Kie Raha” oleh Kemendikbud (28 September-10 Oktober 2018); hingga pelaksanaan Muhibah Budaya Jalur Rempah oleh Kemendikbud-Ristek yang akan dilaksanakan pada 17 Agustus-28 Oktober 2021 silam. Kegiatan tersebut menunjukkan bukti adanya semangat penelusuran perjalanan rempah yang menjadi bagian dari sejarah panjang dan memori kolektif masyarakat Indonesia (Rahman, 2019; 348).

Konsistensi pembahasan jalur rempah sebagai isu akademis menyajikan logika penalaran yang utuh tentang pentingnya pengetahuan terkait ekonomi rempah dan jalur niaga masa lampau (Ririmasse, 2017; 49). Jalur rempah adalah istilah untuk jaringan niaga yang menghubungkan belahan barat dan timur dunia. Jalur ini membentang dari pantai barat Kepulauan Jepang, melintasi Kepuluan Indonesia, melewati India hingga daratan Timur Tengah dan berlanjut ke kawasan Mediterania menuju Eropa. Jalur ini memiliki jarak bentang sekitar 15.000 km (en.unesco).

Diskusi akademis yang kerap muncul ketika membahas tentang jalur rempah adalah gagasan bahwa tumbuh kembangnya jaringan niaga di Nusantara memiliki simpul yang lururs dengan kedatanga para mufasir dari Asia Barat, penjelajah Tiongkok dan pengelana dari Eropa (Ririmasse, 2017; 47). Terletak pada titik persilangan yang strategis, Nusantara, selain dijadikan sebagai daerah transit bagi komoditi dari wilayah timur dan barat, juga merupakan daerah berkumpulnya para pedagang mancanegara (Syafiera, 2016; 722).

Sejak awal, beberapa tempat di Nusantara dikenal sebagai kawasan penghasil komoditi rempah langka. Sumatra dan Jawa menjadi rumah bagi produk kapur barus dan lada. Kepulauan Nusa Tenggara menjadi pulau-pulau penghasil kayu harum cendana. Wilayah Aru menjadi tempat komoditi langka mutiara dan bulu burung cendrawasi. Serta primadona rempah-rempah abad 16-18 M, Ternate dan Tidore  menjadi habitat paling ramah untuk cengkeh dan pala (Ririmasse, 2017; 49).

Sumber: jernih.co

Untuk menghubungkan jalur niaga Nusantara, pelabuhan Malaka tampil sebagai aktor utama lalu-lintas perdagangan dan pelayaran abad ke-15 M. Pada akhir abad itu, ratusan pedagang dari Arab, Persia, India, dan China berbodong menuju Malaka untuk melakukan aktivitas perdagangan. Hal ini memicu geliat di antara orang Eropa. Hingga akhirnya pada tahun 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis (Syafiera, 2016; 722). Kejatuhan pelabuhan niaga ini mengakibatkan lahirnya pelabuhan-pelabuhan baru yang mengambil peran penting sebagai penghubung niaga di Nusantara. Salah satunya yaitu pelabuhan Makassar. Sebagai rumah bagi kapal-kapal intornasional, kota maritim ini menjadi titik tolak niaga rempah di Indonesia bagian timur.

 

Makassar dalam Arus Niaga Internasional Abad ke-17 sampai Abad ke-20

Pada awal abad ke-16, perdagangan di Nusantara lebih terfokus pada wilayah bagian barat dengan pelabuhan Malaka sebagai pusat perdagangan rempah. Interaksi perdagangan yang terjadi di wilayah Sulawesi hanya sebatas perdagangan barang dagang hasil sendiri seperti hasil pertanian, perikanan, dan pertambangan (Syafiera, 2016; 729). Baru sekitar pertangahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17, Sulawesi mulai melibatkan diri dalam perdagangan rempah skala global terutama setelah jatuhnya Malaka di tangan Portugis pada 1511. Salah satu pelabuhan yang ramai dikunjungi di daerah Sulawesi yaitu pelabuhan Makassar di Sulawesi Selatan.

Makassar, dalam arus perkembangan perdagangan abad ke-17, perlahan menapaki posisi sebagai kota pelabuhan Internasional dan menjadi pusat perdagangan untuk wilayah Indonesia bagian timur (Nur, Dkk., 2016; 617). Pada paroh pertama abad-17, Makassar dianggap sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur dan menjadi titik temu antar dunia niaga bagian timur (Maluku dan Irina Jaya), barat (Kalimantan, Malaka, Sumatera, Jawa, Asia Selatan dan Eropa), utara (Philipina, Jepang dan China) dan selatan (Nusa Tenggara dan Australia) (Nur, Dkk., 2016; 617).

Pada kurun waktu itu pula, Makassar berhasil memegang supremasi perdagangan sesudah Jawa Timur dan berperan sebagai tempat berkumpul barang-barang dagang terutama rempah-rempah dari Maluku yang kemudian dikirim ke barat melalui pedagang-pedangan melayu yang berpusat di Malaka (Rasjid & Gunawan, 2000; 52).

ilustrasi pelabuhan Makassar di masa silam (https://daerah.sindonews.com/)

Komoditi utama dari perdagangan di Makassar adalah rempah-rempah, beras, jagung, kopi, kopra, kain tenun dan budak, serta kayu cendana dari Timor dan Solor (Nur, Dkk., 2016; 617). Perdagangan dikuasai sepenuhnya oleh raja dan kaum bangsawan dari Kerajaan Gowa (Makassar). Aktivitas perdagangan itulah yang menjadi faktor utama bagi Raja Gowa dalam mengadakan ekspansi sampai ke Buton, Selayar, Seram, Buru, Timor, Bima dan Flores dengan tujuan agar daerah taklukkan itu bisa dimonopoli barang dagangannya. Dengan cara itu, bandar Sombaopu di Makassar dapat melayani permintaan para saudagar asing, sehingga pelabuhan Makassar akan berkembang dengan semakin banyaknya para pedagang dan kapal-kapal yang berlabuh pada pelabuhan itu (Nur, Dkk., 2016; 618).

Kemajuan Makassar dan bandar Sombaopu dalam bidang perdagangan ini menarik perhatian para tetinggi Verenigde Oost-Indische Compagni (VOC) yang berlangsung hingga Pemerintah Hindia Belanda untuk menguasainya. Langkah pertama yang mereka ambil adalah melarang pedagang Bugis-Makassar untuk berdagang di Maluku. Namun, perintah ini tidak dilaksanakan.

Hingga akhirnya pada abad ke-19 dan 20, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk melakukan penaklukkan. Dimulai dengan Kerajaan Bone yang berhasil ditaklukkan, menyusul kerajaan-kerajaan lainnya termasuk Kerajaan Gowa. Sejak tanggal 30 Juli 1905, Pemerintah Hindia Belanda berhasil menguasai Sulawesi Selatan secara keseluruhan. Setelah kekalahan kerajaan Gowa, Belanda kemudian mengambil alih perdagangan. Penaklukkan Kerajaan Gowa juga mengakibatkan terjadinya pengusiran besar-besaran keluar dari Makassar.

_________________________________

Sumber Bacaan:

http://en.unesco.org/silkroad/

Nur, Nahdia, dkk. “Perdagangan dan Ekonomi di Sulawesi Selatan pada Tahun 1900-an Sampai Dengan 1930-an”. Jurnal Ilmu Budaya. Vol. 4. No. 1. Juni 2016. Halaman 617-712.

Rahman, Fadly. “Negeri Rempah-Rempah: dari Masa Bersemi hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-Rempah”. Jurnal Patanjala. Vol. 11. No. 3. September 2019. Halaman 347-362.

Rasjid, Abdul & Gunawan, Restu. 2000. Makassar sebagai Kota Maritim. Jakarta: CV. Putra Prima.

Ririmasse, Marlon NR. “Sebelum Jalur Rempah: Awal interaksi Niaga Lintas Batas di Maluku dalam Perspektif Arkeologi”. Jurnal Kapata Arkeologi. Vol. 13. No. 1. Juli 2017. Halaman 47-554.

Syafiera, Aisyah. “Perdagangan di Nusantara Abad ke-16”. Antara: e-Journal Pendidikan Sejarah. Vol. 4. No. 3. Oktober 2016. Halaman 721-735.

Tags: esaihindia belandahubungan internasionalIndonesiajalur rempahkerajaan gowaMakassarniaganusantaraperdagangansejarah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pengakuan

Next Post

Nyala Lilin dan Puisi Lainnya

Abdul Rauf Ode Ishak

Abdul Rauf Ode Ishak

Lahir di Desa Pure, Sulawesi Tenggara 23 tahun lalu. Seorang fresh graduate yang baru menamatkan studi “Sejarah dan Kebudayaan Islam” di salah satu kampus di Yogyakarta. Ia menekuni kegiatan tulis menulis sejak tahun 2017. Tulisan-tulisannya mengantarkan ia menjadi penerima dana hibah penelitian kompetitif yang diselenggarakan oleh LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2019), menjadi juara 2 lomba menulis esai tingkat Nasional (2019), menempati juara harapan 2 lomba proposal penelitian pendidikan tingkat Nasional (2019), dan menjadi salah satu dari dua puluh penulis terpilih lomba Inkubator Literasi oleh Prepusnas Press (2021). Mari saling terhubung melalui instagram: @alfath.haris.

Artikel Terkait

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna
Esai

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025

Malam itu, saya belum ingin tidur cepat. Hingga lewat tengah malam dan hari berganti (Rabu, 23 Juli 2025) saya duduk...

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway
Esai

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025

Jika bulan Juni sudah kepunyaan Sapardi, Juli adalah milik Hemingway. Pasalnya, suara tangis bayi-Hemingway pecah di bulan yang sama (21...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Hari Raya Kenangan dan Peringatan Patah Hati

Hari Raya Kenangan dan Peringatan Patah Hati

29 March 2021
Gambar Artikel Surat Cinta Awal Tahunku

Surat Cinta Awal Tahunku

5 January 2021
Babasan dan Paribasa: Sarana Pendidikan Karakter Berbahasa Sunda

Babasan dan Paribasa: Sarana Pendidikan Karakter Berbahasa Sunda

30 June 2022
Gambar Artikel Embun Asing Bagimu

Embun Asing Bagimu

15 November 2020
Gambar Artikel Syahadat 12 Bar, Puisi Blues

Syahadat 12 Bar

22 January 2021
Telur, Susu, dan Viagra di Cafe Puisi Mbeling

Telur, Susu, dan Viagra di Cafe Puisi Mbeling

27 January 2021
Surat Terbuka untuk Sunyi

Surat Terbuka untuk Sunyi

15 February 2021
Kiat Merawat Dendam ala Seneca

Kiat Merawat Dendam ala Seneca

3 November 2021
When The Weather is Fine dan Puisi Kesakitan

When The Weather is Fine dan Puisi Kesakitan

12 November 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.