• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Ceriwis

Jempolmu, Harimaumu

Menyikapi Wabah Hoaks dan Cyberbullying

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
2 November 2020
in Ceriwis
0
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Sumber Gambar : https://www.freepik.com/premium-vector/social-media-marketing-mobile-phone-concept_6617065.htm

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Telah berapa lusin, kodi, atau bahkan berapa ton hoax dan gunjingan yang kadung menyelusup masuk ke mata dan telinga kita? Tentu, kurang kerjaan betul orang yang menghitung hal muspro semacam itu. Namun, sebut saja contoh tentang kasus Ratna Sarumpaet, lantas yang baru belakangan ini muncul: “7 juta surat suara tercoblos”. Keduanya menjadi headline beberapa hari dan viral. Betapa!

Sadarkah kita bahwa zaman sekarang, makin hari semakin sesak saja, pengap, hingga nyaris udara daily-activity kita tergantikan oleh ‘polusi-buatan’ yang dikuarkan oleh kedua masalah di atas? Udara menjadi penuh ketegangan, tipuan, rekayasa, dan adu domba (bukan yang di game Hago, lho ya, Wkwk).

Di fase peradaban yang konon mengalami kemajuan pesat, dusta berevolusi menjadi bentuk baru sebagaimana yang kita kenal: hoax. Belum lagi soal hoax-sintetis yang berdasarkan “versi golongan”; menurut X adalah hoax, boleh jadi akan dianggap fakta oleh golongan Y, dan sebaliknya, umpamanya. Sementara pergunjingan memang sudah sejak zaman baheula, hanya saja kini merasuk ke model yang lebih canggih, yakni virtual dan maya (di dunia online).

Hal ini memantik kembali ingatan tentang pepatah lama, “mulutmu, harimaumu”. Agaknya sekarang perlu direvisi, saja deh. Atau, jika sungkan, ya, paling tidak diimbuhi saja dengan frasa: “jempolmu, harimaumu”. Sebab di media daring, memuncaknya dua penyakit di atas justru lebih sering muncul dari jempol yang mengetik, tinimbang mulut yang berceloteh.

Orang merasa semakin ringan mengentikkan kebohongan, fitnah, ghibah, sampai kebencian dalam media daring—barangkali lantaran ‘merasa’ tidak terpantau. Lempar pisau, sembunyi jempol. Sungguh era yang menurunkan derajat keksatriaan manusia di mana interaksi bil-muwajjahah semakin berkurang intensitasnya.

Padahal, kalau ditinjau dari segi perkembangan, orang sekarang lebih pandai-pandai dan terdidik (mengikuti pandangan umum: yang disebut terdidik adalah banyak yang lulus dari Perguruan Tinggi). Ironisnya, mutu tersebut belum pasti menjamin apakah seseorang yang tergolong ‘terdidik’ tersebut akan bertindak bijak atau malah senewen dan ceroboh alias sembrono. Inilah PR kita bersama yang meski tidak usah dipikir pusing.

Tetapi kemirisan akan kondisi ini menunjukkan tingkat peradaban yang, boleh dikata secara fisik-teknologi maju, namun secara rohani-nurani dan kemanusiaan, justru merosot.

“Hal yang paling aku takutkan menimpa umat ini
adalah adanya orang yang pintar bicara namun tidak mengenali hatinya.”

-Umar bin Khattab-

Atas dasar tersebut, perlu bagi kita untuk pandai-pandai (eh, jangan pandai lagi, maksud saya: secara bijak) dalam menyikapi debur gelombang hoax dan pergunjingan berbasis online (kayak apa aja, ya? Pake berbasis segala).

“Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara,
tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut.”

-Ernest Hemingway-

Sebetulnya, dalam menyikapi kedua wabah tersebut, tidaklah rumit-rumit. Tidak seribet rumus fisika mekanika quantum, kok. Yang perlu dimiliki setiap individu adalah daya resilience.

Dengan istilah lain, orang musti punya ‘pegas penahan’ untuk menghindarkannya dari tindakan ceroboh atau terpengaruh lantas kemudian turut menyebarkan sesuatu yang unfaedah. Kalau meminjam redaksi Cak Nun, hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem. Kira-kira begitu.

Kemudian, something yang perlu ditekankan kepada “Generasi Jempol” sekarang ini, seperti quotes Ernest Hemingway, yaitu keutamaan diam. Ini kuncinya. Lebih dikarenakan diam itu dapat menghindarkan diri dari kekeliruan. Fal-yaqul khairan aw liyasmut. Berkata baiklah, atau jika belum bisa, mending diam saja.

Diam juga dapat menambah kewibawaan yang merupakan pertanda adanya ilmu. Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asyqolany—yang disyarahi oleh Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi (Al-Bantani)—dijelaskan bahwa diam itu mengandung banyak fadhilah. Seperti yang disebutkan di dalam kitab tersebut, hadits Nabi mengungkapkan: “Diam itu hiasan bagi orang alim dan penutup bagi orang bodoh.” (HR. Abusy Syaikh Al-Mihrazi).

Ada lagi sabda Nabi Saw. yang lain: Ash-Shumtu sayyidul Akhlaqi. (HR. Ad-Dailamiy dari Anas bin Malik). “Diam adalah pimpinan akhlak”. Menunjukkan pentingnya diam karena hal itu dapat menyelamatkan pelakunya dari ghibah dan dosa-dosa lainnya.

Kemudian ada tambahan hadits lain dari Ibnu Umar, Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ash-Shumtu hikamun, wa qalilun fa’iluhu. (HR. Ad-Dailamiy). “Diam itu hikmah (kebijaksanaan), namun sedikit orang yang melakukannya”.

Dari uraian di atas, dalam menyikapi wabah hoax dan virus-menular bernama “gunjing-online”, yang perlu kita amalkan ialah melatih diri agar diam. Terapi cicing. ngerem. Tidak ngegas melulu. Hal ini akan menjauhkan diri dari kungkungan peluang dan potensi dosa ghibah dan penyebaran hoax kebencian.

Meski demikian, jika ada hal baik yang mampu kita lalukan selain diam—atas kedua penyakit di atas—tentu saja hal tersebut lebih utama daripada diam. Contoh sederhananya seperti; dzikir, membaca al-Quran, diskusi, ataupun melakukan upaya lain untuk meng-counter keduanya, umpamanya dengan menulis.

Namun diam juga masih penting dan perlu. Itu melatih dayan-cegah kita dari keterpengaruhan untuk ikut bergunjing dan menyebar hoax.

Juga, sekali waktu, untuk mendapatkan kebiasaan diam dan kepandaian mengontrol diri, seseorang butuh merutinkan diri agar menyepi. Mensunyikan dirinya. Uzlah atau khalwat dari hiruk pikuk gaduhnya peradaban yang makin kurang beradab. Sebab, dengan sunyi, mata kita akan terlatih untuk mengetahui mutiara hikmah yang tersembunyi di balik apa saja. Bukan hanya fitnes jempol di smartphone hanya untuk komentar hal-hal kurang berfaedah. Semoga.

“Hanya sunyi, yang sanggup mengajarkan kita, untuk tak mendua.”

-Emha Ainun Nadjib-

Januari, 2019

Tags: Cak NuncyberbullyingEmha Ainun NadjibErnest Hemingwayhoaxmedia sosialnetizenonlineUmar bin Khattab
ShareTweetSendShare
Previous Post

Cintaku Urusan Orang Lain

Next Post

Sajak-Sajak Larasati Onna Roufista

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Ada Apa dengan “Manusia Indonesia”?
Ceriwis

Ada Apa dengan “Manusia Indonesia”?

22 March 2023

Tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Ia tidak berdasarkan riset akademis yang harus dipertanggungjawabkan. Ini mungkin, lebih tepatnya, sejenis refleksi kultural...

Seni Memahami (Diri)
Ceriwis

Seni Memahami (Diri)

11 April 2022

Saat pertama kali saya mendengar kata "hermeneutika", saya tertarik untuk tahu artinya. Namun, saya tidak sampai mencari makna. Saya mendengar...

Transformasi Standar Berkat Gendurenan di Era Revolusi Industri 4.0
Ceriwis

Transformasi Standar Berkat Gendurenan di Era Revolusi Industri 4.0

13 January 2022

Selama ini, apabila seseorang―bisa juga beberapa orang―membicarakan genduren, pasti nggak akan jauh-jauh dari kata bid’ah. Entah bagaimana ceritanya, topik genduren...

Balapan yang Dibudayakan
Ceriwis

Balapan yang Dibudayakan

20 October 2021

Ini adalah kisah yang saya alami beberapa bulan lalu, saat dunia perkampusan membawa saya pada akhir semester tujuh. Sudah mendekati...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

9 April 2022
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
Pulau Semau, Sang Inti Matahari

Pulau Semau, Sang Inti Matahari

15 March 2021
Gambar Artikel Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

24 November 2020
Gambar Artikel Ada yang Tetap Kuat

Ada yang Tetap Kuat

3 November 2020
Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025
Gambar Artikel Metafora Mutualisme

Metafora Mutualisme

8 November 2020
Sebuah Limerick yang Gagal

Sebuah Limerick yang Gagal

22 March 2022
Gambar Artikel Ibnu Al-Haitham adalah Ilmuwan Muslim, Tokoh Penemu Lensa, Optik, Kamera

Kilas Balik Tokoh Penemu Lensa: Ibnu al-Haitham

26 May 2021
Warna

Warna

11 May 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.