• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 10 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Pulau Semau, Sang Inti Matahari

Abdir Rohman Al-Hamdany by Abdir Rohman Al-Hamdany
15 March 2021
in Kelana
0
Pulau Semau, Sang Inti Matahari

Dok. Pribadi (Kontributor)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Tidak lengkap rasanya, jika kamu berkunjung ke Kota Kupang NTT, namun tidak mengunjungi Pulau Semau. Pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Timor ini, sangat sayang untuk disia-siakan keindahan alamnya. Kamu hanya perlu waktu 20 menit untuk menyebrang ke Pulau Semau, dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Jika kamu berangkat dari pusat Kota Kupang (Bundaran PU), kamu hanya butuh waktu sekitar 30 menit, untuk menuju Pelabuhan Tenau.

Sesampainya di Pelabuhan Tenau, kamu bisa menyebrang ke Pulau Semau dengan kapal feri atau perahu motor. Kapal feri hanya ada 1 kali pemberangkatan, yakni pukul 07.00 WITA. Tarif tiket kapal feri per orang 10.000 rupiah, untuk kendaraan bermotor roda dua, 15.000 rupiah. Sedangkan jika anda naik perahu motor, tarif per orangnya 20.000 rupiah, dan untuk kendaraan bermotor roda dua 50.000 rupiah. Untuk perahu motor, tidak ada jadwal khusus, jadi kamu bisa berangkat pukul berapapun.

Tujuan saya dan tim ke Pulau Semau, selain mengeksplor keindahan wisatanya, kami juga berniat bersilaturrahmi ke salah satu kenalan anggota tim saya saat menjalankan tugas di program Nusantara Sehat. Tempat pertama yang kami tuju adalah satu-satunya kampung muslim di Pulau Semau. Oh iya, di musim kemarau, menurut warga sekitar, teriknya matahari di Pulau Semau melebihi pulau-pulau lainnya di NTT. Tidak heran, Pulau Semau disebut intinya matahari. Wew…

Sesampainya di Pelabuhan Hansisi, Pulau Semau, kami langsung menuju kampung muslim dengan menggunakan motor. Jalanan di Pulau Semau sebagian besar masih belum beraspal. Hanya sekitar 1 km jalan setelah keluar dari pelabuhan yang sudah diaspal. Kami hanya berbekal maps dan bertanya ke warga sekitar untuk menuju lokasi tujuan. Dan ternyata, jaringan internet di pulau ini tidak bisa diandalkan. Kami pun harus beberapa kali putar balik karena salah jalan.

Sebenarnya, sejak keluar pelabuhan, kami sudah berjalanan beriringan dengan oto (mobil pick up) milik orang yang akan kami kunjungi rumahnya. Hanya saja, oto ini juga sedang mengangkut penumpang dari Kupang yang akan pulang ke Pulau Semau. Sehingga masih mengantar ke beberapa desa lain sebelum sampai ke rumahnya. Sejak berpisah dengan oto yang memandu perjalanan kami, dan jaringan internet mulai tidak bisa diandalkan, kami pun kebingungan. Heheu…

Berbekal slogan “malu bertanya sesat di jalan”, sedikit demi sedikit, kami bertanya ke warga sekitar. Uniknya, selama perjalanan di Pulau Semau yang masih sedikit populasi penduduknya, jika kamu bertemu Patung Yesus di pinggir jalan, itu pertanda kamu memasuki desa/perkampungan warga. Setiap perkampungan di pulau ini ditandai dengan Patung Yesus beberapa meter sebelum memasuki perkampungan tersebut.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, melewati jalanan tak beraspal di bawah teriknya matahari kami sampai di kampung muslim. Pakaian kami terutama yang berwarna hitam berubah warna menjadi abu-abu, karena tumpukan debu jalanan tak beraspal yang kami lewati. Kami dipersilahkan untuk makan siang dan sholat di masjid. Dan tentunya, masjid ini satu-satunya masjid di Pulau Semau.

Setelah makan siang dan sholat, kami istirahat dan beramah tamah dengan warga kampung muslim. Setelah sholat ashar, kami diajak ke Pantai Liman. Menurut warga kampung muslim, Pantai Liman cocok untuk sunset hunter. Bersyukurlah kami, karena perjalanan ke Pantai Liman ini kami menaiki oto.

Sesampainya di Pantai Liman, kami disuguhkan hamparan pasir yang menggunung. Warga sekitar juga menyebutnya Bukit Liman. Dari tempat parkir kami berjalan sekitar 15 menit menuju puncak Bukit Liman. Lelah kami sungguh terbayarkan saat sampai di puncak bukit. Pemandangan Laut Sawu dan hamparan savana serta pepohonan di bawah bukit langsung mencolok mata kami.

Kami sampai Pantai Liman di waktu yang tepat, sekitar pukul 16.30 WITA. Sembari menunggu sunset, kami berswafoto dengan serta berjalan-jalan menuruni bukit menuju pasir pantai yang juga tak kalah indahnya. Memang wisata pantai di NTT kebanyakan masih jarang terjamah, oleh karena itu, keasriannya masih terjaga.

Momen yang ditunggu pun tiba, sunset menghadap Laut Sawu tidak boleh disia-siakan. Pemandagan sunset di pantai dari atas bukit jarang sekali didapatkan terutama di pantai-pantai Pulau Jawa. Lokasi Pantai Liman menghadap Laut Sawu, karena di sebelah barat Pulau Semau, masih ada Pulau Sawu (Sabu Raijua). Selain itu, ada pulau kecil tak berpenghuni yang ada di seberang Pantai Liman ini.

Setelah puas berswafoto saat sunset, dan langit pun sudah menelan mentari, kamipun kembali menuju oto untuk pulang ke kampung muslim.

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami diajak mengunjungi rumah sang “pembabat alas” Pulau Semau. Seorang tokoh masyarakat yang dihormati seluruh warga Pulau Semau. Di sana kami diceritakan tentang awal mula kehidupan masyarakat di Pulau Semau. Hal unik yang saya temui di rumah sang “pembabat alas” Pulau Semau adalah, beliau memiliki berbunga merah muda, yang akan terus berbunga lebat meskipun musim kemarau melanda.

Kami melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Kota Kupang. Beruntungnya, searah perjalanan pulang, kami masih disuguhkan dua pantai yang tak kalah eksotis. Kami pun mampir untuk berswafoto. Pantai Uinian dan Pantai Otan yang juga masih jarang terjamah wisatawan pun membuat perjalanan kami yang diserang teriknya matahari sedikit terbayarkan lelahnya.

Pantai Otan, Pulau Semau, NTT (dok. pribadi)
Pantai Uinian, Pulau Semau, NTT (dok. pribadi)

Setelah menikmati pantai-pantai selama perjalanan pulang, kami sampai di Pelabuhan Hansisi sekitar pukul 11.00 WITA. Kami langsung mencari perahu motor untuk kembali ke Kota Kupang. Kami naik perahu motor karena jadwal kapal feri dari Pulau Semau ke Kupang baru tersedia pukul 15.00 WITA. Sensasi menaiki perahu motor di laut NTT ini sungguh menggugah adrenalin. Ombak yang cukup besar, membuat perahu motor yang kami naiki terombang-ambing. Beruntung tim kami tidak ada yang gampang mabuk perjalanan. Huhuu..

Sekian perjalanan kami di Pulau Semau. Jika kamu berkunjung ke Kota Kupang NTT, jangan lupa sempatkan mengeksplor Pulau Semau. So, see you next trip!

Tags: IndonesiakelanaNTTpantaiPulau Semausunsettravellingwisata alam
ShareTweetSendShare
Previous Post

Sebuah Pesan Pendek dan Lekukan Mimpi

Next Post

Fafifu John Mayer

Abdir Rohman Al-Hamdany

Abdir Rohman Al-Hamdany

dokter lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang kini sedang mengabdi di Ponpes Amanatul Ummah dan Internship di Puskesmas Pacet, Mojokerto. Fans Juventus sejak masih sperma.

Artikel Terkait

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
Kelana

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

9 December 2025

Bagi warga negara yang pernah punya memori traumatis terhadap umat Muslim, kiranya bagaimana tanggapan mereka jika musti berjumpa kembali dengan...

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
Kelana

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025

Nama Hanna Hirsch Pauli mungkin terasa asing. Itu wajar. Bahkan, di negara asalnya, Swedia, banyak juga yang belum mengenalnya. Justru...

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi
Kelana

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi

9 August 2025

Narasi canggih soal kopi di coffee shop terdengar terputus dari asalnya: alas. Rasa yang belum menyatu itu menyembulkan sebuah ide...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Penulis Muda yang Pernah Putus Asa

Penulis Muda yang Pernah Putus Asa

6 April 2022
Latu

Latu

18 March 2021
Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina

Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina

27 November 2025
Alasan Kenapa Self-Love Sulit Dilakukan

Alasan Kenapa Self-Love Sulit Dilakukan

29 October 2021
Gambar Artikel Bukan Cuma Positive Thinking, Negative Thinking Juga Perlu Cuks

Bukan Cuma Positive Thinking, Negative Thinking Juga Perlu, Cuks!

10 November 2020
Tips Menulis Artikel Ilmiah yang Publishable di Jurnal Nasional Terakreditasi

Tips Menulis Artikel Ilmiah yang Publishable di Jurnal Nasional Terakreditasi

25 March 2022
https://unsplash.com/photos/WXeJcabNzhE

Bunuh Diri, Maut, dan Puisi

14 February 2021
https://www.freepik.com/free-vector/schizophrenia-concept-illustration_10198495.htm#query=depression&position=3&from_view=search

Birai-Birai Kelapa

23 December 2021
Ritus Kesunyian

Ritus Kesunyian

21 March 2021
Belajar Mengitari Israel

Belajar Mengitari Israel

19 April 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.