• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 26 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

Jafar Suryomenggolo by Jafar Suryomenggolo
9 December 2025
in Kelana
0
Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

Tampilan depan pameran seni Islam di Seoul | Dok. Penulis

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Bagi warga negara yang pernah punya memori traumatis terhadap umat Muslim, kiranya bagaimana tanggapan mereka jika musti berjumpa kembali dengan sesuatu yang ‘berbau’ Islam? Terlebih, jika mereka punya pengalaman beberapa warganya pernah diculik dan dibunuh oleh Taliban di Afganistan dan menghadapi gelombang Islamophobia beberapa tahun terakhir. Dan inilah yang sedang dialami Korea Selatan. Di negeri gingseng itu, untuk pertama kalinya Museum Nasional Korea di Seoul menyelenggarakan pameran seni Islam jangka panjang yang mencakup perkembangan 1400 tahun dari abad ke-7 hingga abad ke-19: “Islamic Art: A Journey of Splendor” (“Seni Islam: Sebuah Perjalanan Gemilap”).

Terbesit pertanyaan di benak saya. Bagaimana menampilkan seni Islam bagi warga dari negara yang kurang mengenal Islam, minim interaksi dengan orang Muslim, dan tidak terpengaruh di dalam kehidupan sehari-harinya? Apakah seni Islam akan cukup menarik minat warga di sela-sela kesibukan kerja dan tuntutan dunia modern? Belum termasuk kenangan traumatis dan prasangka kolektif sekian tahun belakangan ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memunculkan gaung lebih lanjut: apakah seni bisa menjadi jembatan guna membangun dialog lebih jauh?

Menariknya, peristiwa kesenian ini adalah juga pertama kalinya di Korea Selatan memakai ruang pameran permanen dengan isi pameran bertema Islam. Pameran yang berlangsung sejak 22 November 2025 hingga 11 Oktober 2026 ini adalah hasil kerjasama dengan Museum Seni Islam Doha, Qatar. Isinya menampilkan 83 karya, termasuk naskah Al-Qur’an awal, sejumlah manuskrip, perhiasan, dan keramik.

Keindahan Sejarah 1400 Tahun

Foto Naskah Al-Qur’an abad ke-9, Kekhalifahan Abbasiyah, yang menunjukkan pencapaian perkembangan seni | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)

Pameran seni Islam 1400 tahun ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, “Seni Dunia Islam” menampilkan inti-sari seni Islam, yaitu agama Islam itu sendiri. Di sini ditampilkan naskah Al-Qur’an dan unsur-unsur arsitektur yang menghiasi masjid, misalnya: panel mihrab, lampu masjid, karpet dan sajadah, serta seni kaligrafi.

 

Foto Panel Mihrab terbuat dari pualam, dari masa Iikhanat, awal abad ke-14, Iran. Di bagian tengah panel tergambar pelita yang melambangkan surat An-Nur | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)

Bagian kedua, “Berkembangnya Budaya Islam” menyoroti bagaimana budaya Islam, yang berasal dari jazirah Arab, berpadu dengan budaya lokal di sejumlah wilayah dan berkembang menjadi tradisi budaya yang dinamis. Bagian ini menampilkan sejumlah peralatan pengetahuan yang dikembangkan oleh cendekiawan Islam, seperti peralatan yang digunakan untuk mengamati langit dan bintang. Terdapat pula sejumlah barang keramik dan logam yang dibuat oleh para perajin ulung dari berbagai tempat. Ini menunjukkan keselarasan seni Islam dengan tradisi dan teknis artistik lokal yang membentuk budaya khas dunia Islam.

Foto Piring keramik (maiolica) dengan gambar Sultan Mehmed II. Piring ini dari wilayah Deruta (Italia), diperkirakan dari tahun 1525-1560 M | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)

 

Foto Piring porselin dari Guangzhou, Tiongkok, abad ke-19 (Dinasti Qing) | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)

Bagian terakhir, “Manuskrip Kerajaan dan Budaya Islam”. Isinya menampilkan beberapa manuskrip yang mengangkat tema dunia seni dan keilmuan yang berkembang pesat di lingkungan kerajaan-kerajaan Islam. Sebagai contoh, di dalam kekaisaran Safawi di Iran ada banyak karya manuskrip yang menggambarkan kehidupan di lingkungan istana. Manuskrip-manuskrip yang dibuat di bawah pesanan dan perlindungan kekaisaran tersebut merupakan catatan pengetahuan yang menggambarkan warisan budaya yang memadukan agama, sastra, sejarah, dan ilmu pengetahuan.

Foto Manuskrip yang menggambarkan dua orang cendekiawan yang membaca manuskrip. Manuskrip ini dari Tabriz (Iran), diperkirakan dari tahun 1539-1543 M | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)

Pameran juga menampilkan “Ruang Tamu Damaskus”, yang merupakan replika digital dari ruang tamu sebuah rumah milik keluarga berada, yang tinggal di Damaskus (Suriah) pada abad ke-19. Damaskus pada masa itu adalah kota pusat budaya yang menjadi titik temu beragam tradisi budaya Islam.

Foto “Ruang Tamu Damaskus” | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)
Foto “Ruang Tamu Damaskus” 2 | Dok. Penulis (Jafar Suryomenggolo)

Pameran ini tentu penting dalam memperkenalkan perkembangan seni Islam lewat 83 karya yang ditampilkan. Karya-karya tersebut dari berbagai wilayah, seperti dari Iran, Tiongkok, Eropa.  Sayangnya, dari 83 karya itu tidak ada satu pun yang dari wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia. Barangkali untuk berikutnya, Museum Nasional Indonesia perlu bekerja sama dengan Museum Nasional Korea untuk menampilkan karya-karya seni khas Indonesia di Korea.

Meskipun Islam masih asing bagi banyak orang Korea, kehadiran budaya Islam perlahan berkembang di dalam masyarakat Korea. Dari sekitar 2 juta warga negara asing di negara ginseng, diperkirakan sekitar 300 ribu adalah Muslim, termasuk di dalamnya warga negara Indonesia. Di Korea, ada 5 masjid utama di 5 kota besar: Seoul, Busan, Gwangju, Jeonju, dan Ansan. Juga ada puluhan masjid lainnya yang tersebar di kota-kota kabupaten. Sejumlah masjid didirikan dan diurus oleh orang Indonesia, yang sebagian besar adalah buruh migran yang bekerja di sektor manufaktur, pertanian, dan perikanan. Jadi, kehadiran orang Indonesia lumayan penting di Korea. Kiranya mereka bisa menjadi wakil yang memperkenalkan budaya dan seni khas Indonesia, di dalam interaksi kehidupan sehari-hari di Korea.[]

Tags: dialog antaragamakelanakorea selatanpameran seniseni islamseoul
ShareTweetSendShare
Previous Post

Perempuan yang Menghapus Namanya

Next Post

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

Jafar Suryomenggolo

Jafar Suryomenggolo

Jafar Suryomenggolo, menulis buku "Rezim Kerja Keras dan Masa Depan Kita" (EA Books, 2022) dan "Serikat Buruh 1945-1948" (Marjin Kiri, 2024), serta menerjemahkan "Dunia Hantu Digul" (Insist Press, 2023) dan Recuerdos de Patay (Marjin Kiri, 2025).

Artikel Terkait

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
Kelana

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025

Nama Hanna Hirsch Pauli mungkin terasa asing. Itu wajar. Bahkan, di negara asalnya, Swedia, banyak juga yang belum mengenalnya. Justru...

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi
Kelana

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi

9 August 2025

Narasi canggih soal kopi di coffee shop terdengar terputus dari asalnya: alas. Rasa yang belum menyatu itu menyembulkan sebuah ide...

Menjajaki Belanda: Dekapan Mimpi yang Jadi Nyata
Kelana

Menjajaki Belanda: Dekapan Mimpi yang Jadi Nyata

5 July 2022

Belanda, mungkin negeri ini tidak asing bagi orang Indonesia mulai dari yang tua sampai yang muda. Terlebih bagi saya. Dalam...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Surat dari Sekar

Surat dari Sekar

10 November 2021
Win-Win Corruption

Win-Win Corruption

30 May 2021
Gambar Artikel Jangan Baper!

Jangan Baper!

23 December 2020
Pop Culture Buat Isti

Pop Culture Buat Isti

3 April 2021
Gambar Artikel Menghindari Kata Sibuk

Menghindari Kata Sibuk

22 January 2021

Bahagia itu Sederhana

3 July 2021
Belajar Menulis

Belajar Menulis

1 April 2021
Gambar Artikel Puisi Maret, Masihkah Kau Ingat Namaku

Maret, Masihkah Kau Ingat Namaku?

28 January 2021
Konsep Tuhan di Benak Saya Sendiri

Konsep Tuhan di Benak Saya Sendiri

5 May 2021
Gambar Artikel Serat Badar Lunar

Serat Badar Lunar

21 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (220)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.