Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi
1.
Aku membuka ponsel,
mencari-Mu di kolom pencarian.
Tidak ada notifikasi dari langit.
Hanya lingkaran kecil berputar
seperti doa yang buffering.
2.
Di meja, segelas air sahur
menatapku lebih jernih daripada niatku sendiri.
Aku meneguknya pelan-pelan
seolah menelan waktu
yang belum sempat kumintai maaf.
3.
Tuhan,
apakah Engkau membaca pesan yang tak kukirim?
Draft-draft doa yang kusimpan
karena takut terdengar tidak khusyuk?
4.
Di luar,
kucing-kucing menggelar rapat sunyi.
Langit belum memutuskan warna.
Fajar masih menimbang
apakah aku layak diberi pagi.
5.
Aku pernah berpikir
iman itu seperti saklar lampu:
tinggal klik,
maka terang.
Ternyata ia lebih mirip lorong panjang
yang lampunya satu-satu padam
setiap kali aku merasa sudah sampai.
6.
Di kamar mandi,
air wudu jatuh ke lantai
seperti huruf-huruf yang gagal jadi ayat.
Tubuhku bersih,
tapi pikiranku masih berdebu.
7.
Tuhan,
jika aku mengetuk-Mu dengan tangan yang sama
yang tadi menggenggam kesombongan,
apakah pintu-Mu tetap terbuka?
8.
Aku sujud,
dan lantai tiba-tiba terasa seperti langit terbalik.
Kepalaku di bawah,
hatiku entah di mana
9.
Seseorang di rumah sebelah batuk keras.
Seseorang di gang belakang menyalakan motor.
Seseorang di kota lain mungkin sedang menangis.
Dan Engkau,
kataku dalam diam,
mengurus semuanya
tanpa pernah terlihat lelah.
10.
Aku iri pada batu.
Ia tak pernah ragu menjadi batu.
Sementara aku,
yang diberi nama “hamba”,
sering lupa siapa yang memanggilku begitu.
11.
Waktu bergerak seperti jarum suntik,
menyuntikkan detik ke pembuluh hariku.
Aku takut suatu pagi
Engkau memutuskan
tidak lagi membangunkanku.
12.
Tuhan tidak online pukul tiga pagi.
Atau mungkin
akulah yang mematikan sinyal
setiap kali kebenaran mendekat.
13.
Sebelum azan benar-benar lahir,
aku menutup mata
dan membayangkan Engkau
bukan sebagai cahaya yang menyilaukan,
melainkan sebagai jeda,
ruang kecil
tempat aku bisa mengaku:
aku belum sepenuhnya pulang,
tapi aku sedang belajar
tidak lagi lari.
*
Junub
tubuh adalah arsip
ia menyimpan sentuhan
seperti rahasia
air turun
tanpa menghakimi
ia tidak bertanya kronologi
tidak meminta saksi
hanya mengguyur
dan untuk sesaat
aku merasa seperti halaman kosong
yang siap ditulisi lagi
barangkali suci
bukan soal tak pernah kotor
melainkan soal
bersedia kembali
*
Imsak
tidak ada sirene
tidak ada pagar besi
hanya waktu
yang tiba-tiba menjadi polisi
air di gelas berubah status
dari halal menjadi ujian
aku menatap nasi terakhir
seperti menatap kesempatan
yang sebentar lagi ilegal
imsak adalah kudeta kecil
yang dilakukan niat
atas tubuh
kau berhenti bukan karena kenyang
melainkan karena takut
pada dirimu sendiri
di detik itu
iman bukan cahaya
ia lebih mirip rem darurat
yang ditarik paksa
di kereta bernama nafsu
*
Tarhim
Sebelum azan,
ada suara yang lebih pelan dari cahaya
merayap di sela jendela,
mengusap wajah-wajah yang masih separuh dunia.
Ia bukan lagu,
melainkan pintu
yang diketuk berkali-kali
oleh nama-Mu sendiri.
“Ya Allah…”
suara itu menggantung
di antara kabel listrik
dan sisa mimpi yang belum dibersihkan.
Di kamar sempit,
di rumah besar,
di dada yang retak,
ia menyelinap tanpa permisi.
Ada yang menutup telinga.
Ada yang menutup dosa.
Ada yang akhirnya bangun
meski hatinya masih tidur.
Tarhim itu hanya udara yang bergetar.
Namun ia mampu
menggeser batu
yang kita sebut diri.
Dan ketika ia berhenti,
sunyi berdiri di ambang fajar
seperti cermin.
Aku bertanya pada diri sendiri:
yang bangun ini tubuhku,
atau jiwaku?
*
Surah 109
ayat ini seperti garis demarkasi
ia tidak memaksa
tidak membujuk
tidak menjual surga dengan diskon
“bagimu agamamu, bagiku agamaku”
di dunia yang gemar mengatur
kalimat ini terdengar subversif
ia membiarkan perbedaan
hidup
tanpa harus dibunuh
atau dipeluk paksa
mungkin toleransi bukan pelukan
melainkan keberanian
untuk tidak menyeret orang lain
ke dalam ketakutanmu
(Yogyakarta, 2026)














