• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 09 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

Salman Alade by Salman Alade
9 April 2026
in Puisi
0
Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi

1.

Aku membuka ponsel,
mencari-Mu di kolom pencarian.
Tidak ada notifikasi dari langit.
Hanya lingkaran kecil berputar
seperti doa yang buffering.

2.

Di meja, segelas air sahur
menatapku lebih jernih daripada niatku sendiri.
Aku meneguknya pelan-pelan
seolah menelan waktu
yang belum sempat kumintai maaf.

3.

Tuhan,
apakah Engkau membaca pesan yang tak kukirim?
Draft-draft doa yang kusimpan
karena takut terdengar tidak khusyuk?

4.

Di luar,
kucing-kucing menggelar rapat sunyi.
Langit belum memutuskan warna.
Fajar masih menimbang
apakah aku layak diberi pagi.

5.

Aku pernah berpikir
iman itu seperti saklar lampu:
tinggal klik,
maka terang.

Ternyata ia lebih mirip lorong panjang
yang lampunya satu-satu padam
setiap kali aku merasa sudah sampai.

6.

Di kamar mandi,
air wudu jatuh ke lantai
seperti huruf-huruf yang gagal jadi ayat.
Tubuhku bersih,
tapi pikiranku masih berdebu.

7.

Tuhan,
jika aku mengetuk-Mu dengan tangan yang sama
yang tadi menggenggam kesombongan,
apakah pintu-Mu tetap terbuka?

8.

Aku sujud,
dan lantai tiba-tiba terasa seperti langit terbalik.
Kepalaku di bawah,
hatiku entah di mana

9.

Seseorang di rumah sebelah batuk keras.
Seseorang di gang belakang menyalakan motor.
Seseorang di kota lain mungkin sedang menangis.
Dan Engkau,
kataku dalam diam,
mengurus semuanya
tanpa pernah terlihat lelah.

10.

Aku iri pada batu.
Ia tak pernah ragu menjadi batu.
Sementara aku,
yang diberi nama “hamba”,
sering lupa siapa yang memanggilku begitu.

11.

Waktu bergerak seperti jarum suntik,
menyuntikkan detik ke pembuluh hariku.
Aku takut suatu pagi
Engkau memutuskan
tidak lagi membangunkanku.

12.

Tuhan tidak online pukul tiga pagi.
Atau mungkin
akulah yang mematikan sinyal
setiap kali kebenaran mendekat.

13.
Sebelum azan benar-benar lahir,
aku menutup mata
dan membayangkan Engkau
bukan sebagai cahaya yang menyilaukan,
melainkan sebagai jeda,

ruang kecil
tempat aku bisa mengaku:

aku belum sepenuhnya pulang,
tapi aku sedang belajar
tidak lagi lari.

*

Junub

tubuh adalah arsip

ia menyimpan sentuhan
seperti rahasia

air turun
tanpa menghakimi

ia tidak bertanya kronologi
tidak meminta saksi

hanya mengguyur

dan untuk sesaat
aku merasa seperti halaman kosong
yang siap ditulisi lagi

barangkali suci
bukan soal tak pernah kotor

melainkan soal
bersedia kembali

*

Imsak

tidak ada sirene
tidak ada pagar besi

hanya waktu
yang tiba-tiba menjadi polisi

air di gelas berubah status
dari halal menjadi ujian

aku menatap nasi terakhir
seperti menatap kesempatan
yang sebentar lagi ilegal

imsak adalah kudeta kecil
yang dilakukan niat
atas tubuh

kau berhenti bukan karena kenyang
melainkan karena takut
pada dirimu sendiri

di detik itu
iman bukan cahaya

ia lebih mirip rem darurat
yang ditarik paksa
di kereta bernama nafsu

*

Tarhim

Sebelum azan,
ada suara yang lebih pelan dari cahaya
merayap di sela jendela,
mengusap wajah-wajah yang masih separuh dunia.

Ia bukan lagu,
melainkan pintu
yang diketuk berkali-kali
oleh nama-Mu sendiri.

“Ya Allah…”

suara itu menggantung
di antara kabel listrik
dan sisa mimpi yang belum dibersihkan.

Di kamar sempit,
di rumah besar,
di dada yang retak,
ia menyelinap tanpa permisi.

Ada yang menutup telinga.
Ada yang menutup dosa.
Ada yang akhirnya bangun
meski hatinya masih tidur.

Tarhim itu hanya udara yang bergetar.
Namun ia mampu
menggeser batu
yang kita sebut diri.

Dan ketika ia berhenti,
sunyi berdiri di ambang fajar
seperti cermin.

Aku bertanya pada diri sendiri:
yang bangun ini tubuhku,
atau jiwaku?

*

 

Surah 109

ayat ini seperti garis demarkasi

ia tidak memaksa
tidak membujuk
tidak menjual surga dengan diskon

“bagimu agamamu, bagiku agamaku”

di dunia yang gemar mengatur
kalimat ini terdengar subversif

ia membiarkan perbedaan
hidup

tanpa harus dibunuh
atau dipeluk paksa

mungkin toleransi bukan pelukan

melainkan keberanian
untuk tidak menyeret orang lain
ke dalam ketakutanmu

 

(Yogyakarta, 2026)

Tags: metaforpuisisajaksalman aladesastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

Salman Alade

Salman Alade

Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa, yang berasal dari Gorontalo dan sedang berdomisili sementara di Yogyakarta. Senang menulis puisi, sesekali menulis cerpen, esai, dan opini. Beberapa waktu terakhir, tertarik menulis dan meneliti buku cerita anak. Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab. Instagram: @salmenulis_

Artikel Terkait

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025
Gambar Artikel Anomali Rokok dan Sepak Bola

Anomali Rokok dan Sepak Bola

8 January 2021
Gambar Artikel Lewat Tulisan Aku BerTuhan

Lewat Tulisan Aku BerTuhan

18 December 2020
Bagaimana Laut Membuang Masa Kanak dan Remajamu?

Bagaimana Laut Membuang Masa Kanak dan Remajamu?

25 February 2021
Sedih yang Diam

Sedih yang Diam

1 April 2022
Pemerintah Daerah Tidak Bisa Cari Uang, Rakyat yang Menanggung

Pemerintah Daerah Tidak Bisa Cari Uang, Rakyat yang Menanggung

30 August 2025
Gubuk Sajak

Gubuk Sajak

16 March 2021
Gambar Artikel Jempolmu, Harimaumu

Jempolmu, Harimaumu

2 November 2020
Malam Kutukan

Malam Kutukan

28 February 2021
Tiada yang Bakal Dirindu

Tiada yang Bakal Dirindu

28 January 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.