• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 19 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

Amina Gaylene by Amina Gaylene
17 March 2026
in Esai
0
Melawan Tirani Kebahagiaan

Sumber ilustrasi: Behance.net

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini dapat dipicu oleh macam-macam hal, seperti capaian, entertainment, makanan, hingga substance tertentu.

Faktor-faktor pemicu tersebut sangat subjektif, tergantung pada kepribadian, definisi atas kehidupan, pengalaman, sampai ekspektasi, yang seluruhnya dapat diciptakan, dikontrol, diproduksi setiap waktu, dan dimanipulasi.

Ada beberapa metode populer yang biasanya digunakan untuk mengukur kebahagiaan: WHO-5 Well-Being Index, PANAS (Positive & Negative Affect Schedule), Beck Depression Inventory, dan Oxford Happiness Questionnaire. Semua metode tersebut berbasis pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dianggap akan akurat dan subjektif.

Sejumlah Pertanyaan tentang Kebahagiaan

Mengapa kebahagiaan diperlukan?

Melompati sejarah definisi kebahagiaan yang telah diproduksi selama berabad-abad, saya berasumsi bahwa apa yang diimajinasikan tentang kebahagiaan adalah kehidupan yang bermakna, bebas, tenang, aman, dan layak dijalani. Namun, apakah kebahagiaan adalah sesuatu yang netral, universal, dan selalu diinginkan?

Kenyataannya, kebahagiaan direduksi dari perasaan subjektif menjadi sebuah alat regulasi sosial yang mengarahkan tubuh, hasrat, emosi, dan pilihan hidup agar sesuai dengan norma tertentu. Misalnya, kebahagiaan sering kali dilekatkan dengan objek-objek normatif dan tidak netral seperti pernikahan, keluarga heteroseksual, anak, pekerjaan, stabilitas, agama, rumah, dan lain-lain, yang mengarahkan kita pada orientasi masa depan tertentu.

Subjek yang tidak menempuh fase-fase yang ditentukan dalam norma dianggap tidak normal, menjalani kehidupan yang tidak benar, dan tentu, tidak bahagia. Karena kebahagiaan didefinisikan sebagai yang normatif dan tidak subjektif, diizinkan dan tidak diizinkan, maka implikasinya, kebahagiaan bukan sesuatu yang universal dan selalu diinginkan.

Apakah ketidakbahagiaan adalah kesalahan?

Ketika ketidakadilan dipelihara sebagai kebiasaan dan dibungkus dalam wacana kebahagiaan kolektif, maka mereka yang menolak tunduk kerap diposisikan sebagai sumber masalah, bukan sebagai penanda bahwa ada yang keliru dalam tatanan itu sendiri. Perempuan yang melawan segala bentuk kekerasan, penguasaan atas tubuh, ketimpangan struktural dan gender sering dianggap egois, berisik, tidak patuh, dan merusak tatanan normatif yang berlaku. Begitu pula dengan kelompok Queer yang baik tubuh maupun orientasi seksualnya dianggap sebagai penyakit yang akan merusak kestabilan sosial. Keduanya menjadi agen yang merusak kebahagiaan kolektif.

Sara Ahmed dalam The Promise of Happiness menyebut dua kelompok ini sebagai Feminist Killjoy dan Unhappy Queers, sebuah posisi yang diproduksi oleh norma kebahagiaan.

“…Does the feminist kill other people’s joy by pointing out moments of sexism? Or does she expose the bad feelings that get hidden, displaced, or negated under public signs of joy?”
– Sara Ahmed.

Begitu pula subjek yang menolak patuh pada doktrin nasionalisme negara, memilih bekerja di sektor informal, dan lain-lain di luar standar normatif, dianggap sebagai subjek pemberontak yang merusak kebahagiaan kolektif. Mereka adalah kelompok yang dianggap tidak bahagia.

Kebahagiaan pada titik ini menjadi alat kontrol: kontrol emosi, kontrol tubuh, kontrol masa depan, dan kontrol makna hidup. Sehingga, ketidakbahagiaan alih-alih dihakimi sebagai kesalahan, justru perlu dirayakan sebagai cara untuk melihat regulasi dan kontrol, juga sebagai pisau untuk melawannya.

Saat kita mengamini ketidakbahagiaan sebagai sesuatu yang salah, yang kemudian muncul adalah perasaan teralienasi. Alienasi itu tidak hadir begitu saja, melainkan lahir dari normativitas kebahagiaan yang menetapkan standar tunggal tentang bagaimana hidup seharusnya dirasakan. Ketika standar itu kita terima tanpa sanggahan, pengalaman yang tidak selaras dengannya terasa menyimpang dan asing. Inilah mengapa penting untuk menggarisbawahi dan menebalkan ketidakbahagiaan sebagai sinyal politik, tidak untuk ditakuti, tapi untuk membuka ruang bagi cara hidup di luar kebahagiaan dominan.

Dengan menyangkal klaim normatif kebahagiaan tersebut, alienasi tidak lagi menjadi keniscayaan, melainkan dapat dibaca ulang sebagai jarak kritis terhadap tatanan yang memaksa kita untuk merasa dengan cara tertentu.

Apakah kebahagiaan yang kita kejar berasal dari diri kita?

Merayakan ketidakbahagiaan bukan berarti menolak kebahagiaan. Kebahagiaan tentu adalah perasaan yang harus dirangkul. Namun, menjadi penting untuk memastikan apakah ia sungguh lahir dari kedalaman diri kita, atau justru disusupkan sebagai standar yang harus dicapai—sebagai ukuran keberhasilan yang diam-diam memaksa kita menata hidup sesuai peta yang tidak kita gambar sendiri.

Sebab kebahagiaan yang diberi bentuk, diberi tenggat, diberi indikator adalah bentuk lain dari kolonialitas (penjajahan) yang mengatur apa yang patut dirayakan, jalan hidup mana yang dianggap berhasil, tubuh seperti apa yang disebut sejahtera, relasi macam apa yang dinilai sah.

Pengukuran Indeks Kebahagiaan

Prabowo membuka tahun 2026 dalam perayaan Natal nasional dan pada Annual Meeting World Economic Forum dengan mengutip hasil penelitian Global Flourishing Study (GFS). Riset yang dikutipnya itu dimotori oleh Universitas Harvard dalam program Human Flourishing, yang berkolaborasi dengan Universitas Baylor dan Gallup tentang tingkat kesejahteraan, menyatakan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia. Hasil penelitian ini juga diterbitkan di jurnal Nature dengan judul The Global Flourishing Study: Study Profile and Initial Results on Flourishing.

Jika kita mengacu langsung pada hasil penelitiannya, Indonesia menjadi negara paling flourishing, yang artinya tidak sama dengan bahagia. Flourishing berarti sejahtera, makmur, atau jika mengacu pada Cambridge Dictionary, arti dari flourishing adalah tumbuh dan berkembang dengan sukses. Dalam konteks penelitian tersebut, mereka mengartikan flourishing—yang kemudian menjadi dasar pengambilan data—sebagai “pencapaian relatif dari suatu keadaan di mana semua aspek kehidupan seseorang baik, termasuk konteks di mana orang tersebut hidup.”

Penelitian itu dilakukan sejak tahun 2022 dan melibatkan lebih dari 200.000 subjek dari 22 negara. Di Indonesia sendiri, subjek penelitian yang diambil adalah 6.992 orang. Indonesia dikatakan sebagai negara pertama yang penduduknya paling flourish di antara 22 negara yang diteliti. Data tersebut salah satunya dikompilasi di Public Discourse dengan judul How Indonesia, Mexico, and Nigeria Ranked ahead of the U.S. in Human Flourishing: And What We Can Do about It.

Penelitian tersebut tentu sangat bias. Dari lebih dari 287 juta penduduk Indonesia, sampel yang diambil hanya 6.992 orang—sekitar 0,0021%. Artinya, bahkan belum mencapai seperseratus dari total populasi. Dengan proporsi sekecil itu, data ini tidak bisa terus-menerus diglorifikasi sebagaimana yang dilakukan Prabowo, yang justru terjerumus dalam overgeneralisasi.

Subjek penelitian mengenai kebahagiaan atau kesejahteraan ini pun mengikuti standar normatif yang telah saya ulas sebelumnya dan sebagian besar memiliki keistimewaan tertentu, baik dalam hal pendidikan maupun pekerjaan. Misalnya, terdapat 107.354 subjek yang menikah—hampir setengah dari total subjek—dibandingkan dengan mereka yang bercerai atau tidak pernah menikah. Ada 78.815 subjek yang bekerja, sementara hanya 16.790 yang menganggur. Mereka juga hanya mewawancarai subjek yang memiliki riwayat pendidikan formal (data selengkapnya dapat dibaca di sini).

Sedangkan sudah menjadi rahasia umum betapa banyaknya orang di Indonesia yang mencari pekerjaan, dan betapa itu sulit ditemukan di bawah janji sembilan juta lapangan kerja. Berapa banyak anak yang tidak mengenyam pendidikan di tengah lingkungan yang akses pada pengetahuannya sangat tertutup dan serba institusional. Kesimpulannya sangat jelas: penelitian ini sama sekali tidak merepresentasikan Indonesia.

Di sisi lain, tidak ada kejelasan mengenai dari mana 6.992 subjek yang diwawancarai itu berasal. Hanya menyematkan kata “Indonesia” jelas tidak cukup, sebab wilayah ini begitu luas sekaligus sarat dengan kompleksitas yang berlapis-lapis.

Apakah ada dari enam ribu tersebut salah satunya berasal dari masyarakat adat yang dikriminalisasi karena mempertahankan tanahnya yang dicuri negara? Apakah ada satu saja dari mereka yang hidup di jalanan, yang setiap hari berjibaku dengan terik matahari dan kerasnya aspal—yang tentu saja tidak relevan dengan pertanyaan seperti “seberapa sering Anda khawatir tentang keamanan, makanan, atau tempat tinggal?”, maupun pertanyaan-pertanyaan lain yang pada dasarnya hanya relevan bagi kalangan tertentu.

Penelitian ini juga mengklaim bahwa riset mereka lebih universal dan tidak berperspektif Barat (Western perspective) yang sering menjadi kritik terhadap riset kesejahteraan.

“… The research on well-being has been shaped largely by Western perspectives and has been carried out mostly in Western contexts. This work has thus been subject to some critique … spanning all six populated continents, with nationally representative sampling in each country, to study the distribution and determinants of well-being, to advance our knowledge of flourishing in general and especially in non-Western contexts, and to uncover what patterns are culturally specific and which seem more universal.”

Klaim ini sangat kontradiktif karena universal sendiri justru lahir dari rahim Western perspective. Edward Said dalam karyanya Orientalism menunjukkan bagaimana Barat mengonstruksi “Timur” sebagai yang partikular, tradisional, dan irasional—sementara Barat menempatkan dirinya sebagai rasional dan universal. Dengan demikian, universalisme bukan posisi netral, melainkan posisi hegemonik yang menyamarkan partikularitasnya sebagai kebenaran umum.

Dalam konteks kekuasaan global, universalisme juga berjalan beriringan dengan kolonialisme dan kapitalisme. Nilai-nilai seperti “kemajuan,” “rasionalisasi,” atau “pembangunan” diekspor sebagai standar universal, padahal ia lahir dari sejarah industrialisasi Eropa.

Di bawah hegemoni kapitalisme, pengukuran kebahagiaan segera terhubung dengan produktivitas. Ketika negara atau korporasi menyatakan bahwa tingkat kebahagiaan meningkat, klaim tersebut terdengar seperti fakta ilmiah, bukan keputusan normatif. Namun, angka selalu lahir dari asumsi metodologis: apa yang dihitung, bagaimana ia diukur, dan apa yang diabaikan. Dengan menjadikan kebahagiaan sebagai indikator kuantitatif, sistem politik dan ekonomi memperoleh bahasa baru untuk membenarkan dirinya. Alih-alih mempertanyakan ketimpangan, kondisi kerja, atau relasi kuasa, perhatian dialihkan pada fluktuasi skor kesejahteraan.

William Davies dalam The Happiness Industry menunjukkan bagaimana kebahagiaan diposisikan sebagai aset ekonomi: pekerja yang bahagia dianggap lebih efisien, lebih kreatif, dan lebih loyal. Dengan demikian, kesejahteraan tidak lagi dipahami sebagai tujuan akhir ekonomi, melainkan sebagai sarana untuk meningkatkan kinerja dan keuntungan. Kapitalisme tidak lagi sekadar mengelola tenaga kerja secara fisik, tetapi juga secara afektif.

Emosi menjadi variabel yang harus dipantau dan dioptimalkan, sejajar dengan target penjualan atau pertumbuhan pasar. Situasi ini terlihat jelas dari gestur penguasa yang selalu mengumumkan angka tingkat kebahagiaan pada forum-forum ekonomi maupun pembangunan.

Hidup dan Mekanisme Bertahan

Pada akhirnya, kebahagiaan adalah perasaan yang perlu dirangkul, tetapi ia haruslah datang dari kejujuran dan bukan sebagai tujuan akhir hidup. Kebahagiaan bukan tirani yang mengatur kita harus begini dan tidak boleh begitu. Kebahagiaan dan ketidakbahagiaan harus dirayakan setiap harinya.

Lauren Berlant dalam Cruel Optimism menggeser pusat pembicaraan dari kebahagiaan sebagai tujuan menuju kehidupan sebagai praktik bertahan. Baginya, dalam kapitalisme kontemporer, krisis bukan interupsi, melainkan kondisi hidup itu sendiri. Karena itu, penderitaan tidak tampil sebagai peristiwa tunggal yang dapat dikenang dan disembuhkan, melainkan sebagai sesuatu yang dijalani terus-menerus melalui kebiasaan, ritme tubuh, dan strategi bertahan yang kecil.

“Crisis is not exceptional to history or consciousness but a process embedded in the ordinary that unfolds in stories about navigating what’s overwhelming.”
– Lauren Berlant

Tags: amina gayleneesaiindeks kebahagiaankebahagiaanpsikologipsikologi emosi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

Amina Gaylene

Amina Gaylene

Tulisan-tulisan Amina Gaylene membentang dari cerpen, artikel, hingga naskah pertunjukkan yang dapat ditemui di berbagai media daring. Amina Gaylene kini sedang fokus pada kajian-kajian dekolonial serta fokus meriset Rajah Sunda Wiwitan dalam rangka melihat taktik, resistensi, dan kerja perawatan masyarakat melalui puitika. Tulisan terbarunya mengeksplorasi naskah-naskah Silvia Federici sebagai gagasan alternatif dalam membentangkan kapitalisme dan kaitannya dengan represi, eksploitasi, dan kontrol terhadap tubuh perempuan.

Artikel Terkait

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah,...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Kisah Penjual Jamu dan Hukum yang Aneh

Kisah Penjual Jamu dan Hukum yang Aneh

29 May 2021
Nona dan Seikat Bunga Merah

Nona dan Seikat Bunga Merah

10 August 2021
Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Sebelum Lelap

Sebelum Lelap

29 October 2021
Gambar Artikel Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

31 December 2020
Serba-serbi Kali

Serba-serbi Kali

1 March 2021
Gambar Artikel Lirih Menangis

Lirih Menangis

17 January 2021
Gambar Artikel Puisi Dengan Angin

Dengan Angin

19 January 2021
Gambar Artikel Cerpen Kematian Seorang Penemu

Kematian Seorang Penemu

16 January 2021
Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

8 May 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (223)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (22)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.