• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Tuesday, 03 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Kesetaraan atau Keadilan?

M. Rizki Yusrial by M. Rizki Yusrial
31 December 2020
in Esai
0
Gambar Artikel Kesetaraan atau Keadilan

Sumber Gambar: http://www.elenwinata.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Feminisme merupakan sebuah kata dengan makna yang sangat luas. Jika hanya menyebut bahwa feminis adalah gerakan untuk menuntut kesetaraan, sebenarnya merupakan tindakan yang mempersempit definisi. Ada beberapa hal yang sebenarnya jauh lebih dalam dari itu. Namun dalam hal ini kita hanya fokus dengan kesetaraan.

Dalam jurnal yang berjudul “Feminisme Indonesia Dalam Lintas Sejarah” yang ditulis oleh Ihda Hidayatul Aliyah dan Siti Komaria menyebutkan bahwa di dunia Barat, gerakan feminis sudah memunculkan diri lewat protes atas tindakan kekerasan. Namun, gerakan ini dikemas menjadi lebih formal dengan ditebitkannya sejumlah karya tulis yang memprotes ketidaksetaraan gender.

Protes dilancarkan berdasarkan status minoritas wanita. Kaum minoritas yang dimaksud bukan dari segi jumlah, melainkan dalam segi kekuatan. Hal yang tak terbantahkan adalah struktur biologis laki-laki memang dirancang oleh Pencipta ‘lebih kuat’ dibanding perempuan. Bagaimanapun gencarnya protes dilayangkan, hal ini tetap tak dapat dibantah. Namun berbeda dengan potensi diri dan kecerdasan.

Gerakan ini terus belanjut hingga memasuki Indonesia. Di Indonesia buku-buku atau artikel yang memuat kata “feminis” sudah banyak tersusun rapi di perpustakaan sejak tahun 90-an. Hal ini membuktikan bahwa di Indonesia pun sama. Wanita yang menjadi pemeran utama dalam gerakan Ini sering mendapat tindakan ketidaksetaraan oleh lawan jenisnya.

Saat ini Indonesia sudah memperlihatkan bahwa tindakan seksis sudah mengalami kemerosotan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perempuan yang memiliki potensi diri menduduki posisi penting dalam pekerjaan. Terlebih Indonesia sendiri sudah pernah dipimpin oleh presiden perempuan.

Ini adalah kabar baik, mengingat wanita dapat melakukan sesuatu yang sama dengan laki-laki sesuai dengan keinginan  potensi dirinya. Entah itu ibu rumah tangga, pengusaha, karyawan swasta, ataupun pekerjaan lainnya.

Namun, tak jarang kita temukan bahwa kehidupan patriarki masih ada di berbagai sektor. Fakta tersebut tentu wajar di berbagai kalangan masyarakat, sebab bagaimana sistem kedaerahan yang turun temurun membiarkan budaya itu terjadi dan masih awet.

Stereotip pembedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan sebenarnya sudah terjadi sejak mereka masih anak-anak. Mulai dari mainan yang dibedakan sampai ke pembagain tugas di dalam rumah. Anak perempuan sering diminta untuk membantu ibunya membereskan rumah, sementara anak laki-laki sering membantu pekerjaan ayahnya. Seperti membantu memperbaiki keran bocor, membuat kandang ayam dan lain sebagainya.

Esai ini sebenarnya bukan bermaksud untuk membahas perkembangan feminis di Indonesia. Tapi menyarankan untuk menggunakan diksi baru. Dibanding memakai kata “kesetaraan”, bagi saya jauh lebih pas jika menggunakan kata “keadilan”.

Ada perbedaan yang tegas dan kontras dari kedua kata tersebut. Menurut saya pribadi setara adalah pembagian porsi yang sama rata. Ketika ada dua anak yang berbeda umur, yang satu sudah bersekolah di sekolah menengah dan satunya lagi masih berada di jenjang sekolah dasar, sama-sama diberi uang jajan sebesar dua puluh ribu rupiah merupakan hal yang setara. Tapi apakah itu adil? Tentu tidak. Mengingat kebutuhan sekolah menengah dan sekolah dasar jelas berbeda.

Keadilan adalah sesuatu yang memberi porsi sesuai dengan kebutuhan. Meskipun berbeda nominal, jika yang didapatkan sesuai porsi maka itu adalah tindakan keadilan. Tapi hal ini sangat sulit untuk diterapkan. Sebab nominal selalu menjadi alat ukur utama dalam nilai keadilan.

Dalam ekonomi, perempuan dan laki-laki memang harus mempunyai kesempatan yang sama. Ketika laki-laki bisa menjadi bos besar, untuk perempuan juga tidak menunutup kemungkinan. Dan ini adalah sebuah kesetaraan yang adil. Namun, ada beberapa sektor yang membuat laki-laki dan perempuan memang harus dibedakan dan stereotip tidak bisa dihindari seperti di dunia olahraga.

Pada lomba tolak peluru internasional cabang atletik, misalnya, untuk atlet junior laki-laki harus melempar peluru dengan berat 7,25 kg. Sedangkan perempuan hanya melempar peluru dengan berat 4 kg. Perbedaan yang mencolok ini memang tidak menunjukkan kesetaraan. Namun hal ini adil karena seperti yang ada di awal-awal esai ini, bahwa hal tak terbantahkan laki-laki memiliki struktur biologis yang lebih kuat dari perempuan.

Dalam olahraga lain juga demikian, sangat tidak adil dalam dunia badminton jika ganda putra berhadapan dengan ganda campuran. Meskipun setara dalam jumlah. Masih banyak sektor-sektor lain yang memang sulit untuk tidak dibedakan. Untuk alasan-alasan inilah saya lebih setuju jika kesetaraan gender diganti dengan “keadilan gender”.[]

Tags: esaifeminismegenderIndonesiakeadilankesetaraan atau keadilanperempuan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

Next Post

Habis Sudah Setahun

M. Rizki Yusrial

M. Rizki Yusrial

Seorang mahasiswa filsafat asal Jambi yang ingin dibilang pintar lewat tulisan. Sebab selama sekolah hanya mendapat ranking 24. Ig: @mrizkiyusrial

Artikel Terkait

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah,...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Sisa Subuh

Sisa Subuh

14 September 2021
Membakar Usia

Membakar Usia

4 April 2021
Fenomena ‘Ngapak’

Fenomena ‘Ngapak’

26 November 2021
Gambar Artikel Mind Management

Mind Management

27 November 2020
Puasa dalam Pandangan Budaya Pop dan Gejala Pseudo-Spiritualisme

Puasa dalam Pandangan Budaya Pop dan Gejala Pseudo-Spiritualisme

6 April 2022
Belajar Mengitari Israel

Belajar Mengitari Israel

19 April 2023
Cengkraman Lelaki Idaman

Cengkraman Lelaki Idaman

18 January 2022
Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

8 December 2021
Abraham Maslow: Redefinisi Kebahagiaan Melalui Peak Experience

Abraham Maslow: Redefinisi Kebahagiaan Melalui Peak Experience

4 February 2021
Konsep Tuhan di Benak Saya Sendiri

Konsep Tuhan di Benak Saya Sendiri

5 May 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.