• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Idealisme dan Pembantaian

M. Rizki Yusrial by M. Rizki Yusrial
9 December 2020
in Esai
0
Gambar Artikel Idealisme dan Pembantaian

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/655625658241235887/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Selama matahari masih terbit dan terbenam di arah yang semestinya, selama suara gemuruh kendaraan yang lalu lalang masih terdengar di daerah perkotaan, selama ayam menyapa manusia dengan hangat di pagi hari dengan suara familiarnya dan selama tumbuhan masih berfotosintesis, selama itu juga kita akan dihadapkan dengan berbagai perbedaan. Mulai dari agama, suku, ideologi dan lain-lain.

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda”. Sebuah kalimat yang yang keluar dari seorang tokoh nasional yang kita kenal dengan Tan Malaka. Sebagai tafsiran pribadi, Tan Malaka menganjurkan para pemuda untuk memiliki idealisme agar ada sesuatu yang menjadi kemewahan. Sebab tak semua pemuda terlahir dari orang tua yang kaya raya.

Namun, kalimat dari Tan Malaka tentang idealisme ternyata tak serta merta berdampak positif terhadap perkembangan bangsa. Dalam dunia anime, pemuda yang memiliki ideliasme terkuat bagi saya masih dipegang oleh Uchiha Itachi, salah satu karakter dalam anime Naruto.

Dengan sikap nasionalismenya yang sangat idealis, Uchiha Itachi rela membantai seluruh anggota klannya sendiri dengan tujuan mempertahankan keutuhan negara. (Demi bangsa dan negara!). Tindakan itu didasarkan atas isu pemakzulan hokage dan rencana kudeta yang telah disiapkan oleh klannya. Tindakan sadis Uchiha Itachi rupanya juga terjadi dalam kehidupan nyata. Sebuah negara kepulauan (sebut saja Indonesia) sering terjadi pembantaian yang berlandaskan ideologi. Mulai dari sikap nasionalisme sampai ke pembelaan terhadap agama.

Yang sangat saya sayangkan adalah selalu ada orang atau kelompok yang menggunakan agama dan Tuhan sebagai pembenaran atas tindakan pembantaian. Padahal menurut hemat saya, agama hadir bukan untuk menciptakan perpecahan.

Pelanggaran hak asasi manusia yang berlandaskan ideologi agama sering kita kenal dengan aksi terorisme. Hal ini sering terjadi dan selalu warga sipil yang menjadi korban. Entah apa yang menjadi tujuan, yang jelas ada maksud tersembunyi dalam pembantaian orang tak bersalah itu.

Jika kita melihat kenangan-kenangan kelam yang terjadi di masa lalu, dimulai dari tahun 1967 terjadi penyerangan dan pembakaran gereja-gereja yang terjadi di Makassar. Kemudian di tahun 2002 terjadi lagi aksi pemboman di Bali sebanyak tiga kali. Ledakan pertama dan kedua terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian Kuta, Bali dan ledakan terakhir terjadi di dekat kantor konsulat Amerika serikat.

Hal yang menyeramkan itu terus menerus terjadi sampai bom gereja di Surabaya. Dalam waktu dekat ini terjadi lagi di Sulawesi Tengah. Setiap kejadian ending-nya selalu sama. Masyarakat akhirnya saling olok-mengolok terkait isu agama satu sama lain.

Padahal dalam cultural studies, para pemikir telah menciptakan sebuah terobosan untuk mengkritisi pemikiran modernisme. Sebab pikiran modernisme ini telah menciptakan peperangan ideologi yang berlanjut pada peperangan fisik. Sebagai bukti konkret atas perbedaan ideologi terjadi dua perang dunia yang menggugurkan banyak korban dalam waktu yang sangat singkat. Kemudian dunia dihadapkan dengan berbagai perang dingin yang memuluskan aksi terosisme negara dari dua kubu yang saling berperang. Terobosan tersebut kita kenal dengan postmodernisme.

Kedatangan postmodernisme ini sebenarnya sudah meredam berbagai bentuk peperangan ideologi. Namun, aksi terosisme ternyata memiliki umur yang panjang,  tetap saja perbedaan ideologi dan pemikiran masih memicu timbunya konflik yang melibatkan banyak nyawa. Sering kita membaca berita dan menonton televisi bagaimana pemerintah mengecam aksi terorisme dan sebagainya. Hal ini kelihatannya bagus, namun tak terlihat bagaimana keseriusan pemerintah dalam penanganan aksi semacam itu. Terlihat perkataan mengecam hanya sebatas ‘cuci tangan’ dan melegakan pikiran masyarakat secara temporer.

Mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam penanganan kasus semacam ini seharusnya gencar di perbincangkan. Sebab keselamatan dan ketenteraman masyarakat harus terus terjamin. Tidak menutup kemungkinan hal semacam itu terjadi lagi di masa yang akan datang.

Kejadian pembantaian di Sulawesi Tengah semakin membuat saya mewanti-wanti betapa krisisnya Indonesia terhadap sikap toleransi. Terlebih tidak sampai sebulan lagi umat Kristiani akan merayakan Hari Natal. Di Indonesia selalu terjadi fenomena debat tahunan dalam menyambut hari besar itu.

Beragama dengan tenang haruslah menjadi hak setiap warga negara. Ketenangan dalam menyampaikan doa-doa harus didapatkan oleh setiap orang. Ketakukan dan kecemasan haruslah segera dihilangkan dengan mendapat perlindungan. Itulah yang kita harapkan agar segera terrealisasi di Indonesia. Berapapun yang menyangkal bahwa kekerasan yang terjadi di Sulawesi Tengah berkaitan dengan ideologi agama, tetap saja hal itu tidak akan ‘membunuh’ sang kebenaran.[]

Tags: esaiidealismepembantaianpemudaTan Malaka
ShareTweetSendShare
Previous Post

Berguru pada Sherlock Holmes

Next Post

Aliran Sungai Maya

M. Rizki Yusrial

M. Rizki Yusrial

Seorang mahasiswa filsafat asal Jambi yang ingin dibilang pintar lewat tulisan. Sebab selama sekolah hanya mendapat ranking 24. Ig: @mrizkiyusrial

Artikel Terkait

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna
Esai

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025

Malam itu, saya belum ingin tidur cepat. Hingga lewat tengah malam dan hari berganti (Rabu, 23 Juli 2025) saya duduk...

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway
Esai

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025

Jika bulan Juni sudah kepunyaan Sapardi, Juli adalah milik Hemingway. Pasalnya, suara tangis bayi-Hemingway pecah di bulan yang sama (21...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Akhirnya Aku Mati!

Akhirnya Aku Mati!

17 June 2021
Gambar Artikel Falsafah Dewa Ruci Sunan Kalijaga

Falsafah Dewa Ruci Sunan Kalijaga

12 November 2020
Gambar Artikel Wartawan Ala Cak Rusdi

Wartawan Ala Cak Rusdi

30 April 2021
Kidung Rindu

Kidung Rindu

11 June 2021
Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

16 February 2022
Bulan Memancar di Rambutmu

Bulan Memancar di Rambutmu

8 March 2021
Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 1

Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 1

1 April 2024
Gambar Artikel Wahdatul Wujud: Sebuah Dialog Singkat Islam-Kristen

Wahdatul Wujud: Sebuah Dialog Singkat Islam-Kristen

10 January 2021
Mengapa Perlu Membaca Sastra?

Mengapa Perlu Membaca Sastra?

23 September 2022
Puasa dalam Pandangan Budaya Pop dan Gejala Pseudo-Spiritualisme

Puasa dalam Pandangan Budaya Pop dan Gejala Pseudo-Spiritualisme

6 April 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.