Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya: Belgia. Bukan hanya sekadar melancong, saya diberi kesempatan untuk merasakan atmosfer akademik perkuliahan selama satu semester ke depan di negara ini. Sungguh terasa bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. Apalagi kalau mengingat kegagalan saya meraih program abroad saat masih duduk di bangku perkuliahan S1. Dan momen ini datang di saat saya berada di tahun terakhir studi S2 saya di salah satu universitas di Yogyakarta.
Saat karya ini ditulis, saya sedang berada di Leuven, sebuah kota kecil di samping Brussels. Ia merupakan kota pendidikan, sama seperti Jogja. Di sinilah saya akan tinggal selama kurang lebih 5 bulan ke depan. Seolah caper kepada pendatang baru, kota kecil yang didominasi oleh arsitektur klasik khas Eropa ini selalu menunjukkan bagaimana kota pendidikan semestinya.
Kampus mereka tersebar di seluruh penjuru kota, di dalam dan di luar ring road. Jumlah pelajar di kota kecil ini pun jauh lebih banyak dibandingkan dengan penghuni aslinya. Meskipun hanya ada 4 universitas di kota ini, kita dapat menjumpai gedung fakultas dan administrasi kampus hampir di setiap sudut jalannya. Kita seolah berada di dalam lingkungan kampus yang cukup luas, dengan rumah ibadah, kafe, bar, stasiun, halte bus, hingga pasar di dalamnya.
Terlepas dari julukan Si Paling Kota Pendidikan itu, Leuven memiliki sebuah “monumen” unik yang mungkin membuat kita bertanya-tanya. Mengapa ada kumbang raksasa yang tertancap di jarum setinggi 23 meter? Monumen itu bernama “Totem” karya Jan Fabre (atau di map tertulis: Jan Fabre’s Beetle Totem), seorang seniman multidisipliner kondang asal Belgia. Kumbang permata raksasa itu tertancap di awan—di awan? Yap. Siapa sangka Jan Fabre terfikirkan untuk menghadapkan jarum ke atas dengan maksud menancapkannya ke awan—di tengah alun-alun kota (Ladeuzeplein) tepat di depan bangunan perpustakaan (bibliotheek) megah nan bersejarah milik Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven).

Lokasi itu dipilih oleh Jan Fabre setelah ia berjalan mengelilingi kota. Kebebasan konsep dan lokasi yang diberikan oleh KU Leuven kepadanya pun ia gunakan dengan sebaik mungkin. Setelah menentukan tempat yang dianggapnya sempurna, ia bergumam dan langsung tahu apa yang harus ia lakukan.
“Saya langsung merasa bahwa ini harus menjadi ‘tindakan yang elegan’. Hasilnya tidak boleh terlalu megah atau bersaing dengan perpustakaan. Dengan jarum, Anda tidak mengambil terlalu banyak ruang, baik secara harfiah maupun kiasan.”

Singkat cerita, karya ini merupakan hadiah dari KU Leuven kepada kota Leuven dalam rangka perayaan 575 tahun berdirinya universitas tersebut. Proses pembuatannya pun bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu beberapa tahun untuk merancang karya yang kini menjadi landmark alun-alun kota Leuven. Ini bertujuan agar dapat berdiri kokoh dalam waktu yang lama.
Ia menggunakan racikan cat khusus dan bahkan pembuatan kumbangnya saja memakan waktu hingga 2,5 tahun. Bahan-bahan yang digunakan pun menjadi perhitungan yang rumit mengingat perlunya mempertimbangkan resistensi dan stabilitas monumen ini. Terkait hal itu, ia meminta bantuan para ahli dari KU Leuven. Terbukti telah lebih dari 25 tahun “Totem” berdiri, ia masih eksis dan kokoh hingga saat ini.
Memori Kolektif yang Cemong
“Kumbang ini adalah memori alam, semacam komputer tertua di dunia, radar keberadaan manusia. Karya seni ini merujuk pada sebuah koleksi, koleksi serangga yang ditusuk pada jarum dan dibalik. Hubungan dengan perpustakaan universitas sangat penting: memori kolektif manusia, sebuah bangunan dengan koleksi buku dan pengetahuan. Totem ingin memberikan penghormatan kepada pengetahuan, keindahan, singkatnya, puisi keberadaan.”
Namun, yang amat disayangkan ialah adanya tangan-tangan usil yang mengusik keanggunan Totem ini. Aksi vandalisme dengan menempelkan sejumlah stiker yang diikuti aksi fomo serupa kini membuatnya ternoda. Ia tampak begitu kotor akibat ulah mereka yang sok keren dengan perilakunya. Panjang umur orang-orang anti-vandalisme!

Jika sedikit menengok ke belakang, ini bukan pertama kalinya Jan Fabre menjadikan kumbang sebagai tokoh utama dalam karyanya. Pada tahun 2002, ia membuat sebuah karya bertajuk “Heaven of Delight” yang mengubah tampilan langit-langit aula Royal Palace of Brussels secara sporadis. Ia meletakkan warna hijau cerah yang berkilau di dalam sana. Kali ini tidak dengan cat. Ia dengan gacornya meletakkan sekitar “setengah juta bangkai kumbang permata” yang dibawa dari Asia Tenggara, terutama dari Thailand. Kumbang itu dipilih karena meskipun telah mati, kilauan hijau dari cangkangnya tidak akan memudar.
Untuk karyanya yang satu ini, saya berharap bisa menemukan kesempatan untuk melihatnya secara langsung. Namun, terkait dengan “Totem”, karena berdiri tepat di depan perpustakaan monumental KU Leuven, karya ini menjadi titik temu populer bagi mahasiswa. Bahkan setiap hari Jumat, kita dapat menjumpai Friday Market yang menyediakan berbagai kebutuhan sandang dan pangan. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, karya ini puitis dan reflektif. Bagi yang lain, tampilannya terasa aneh atau ganjil. Alias mengherankan. Tapi, justru di situlah kekuatan seni publik—ia mengundang dialog dan perdebatan.[]














