• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 04 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Yusuf Baity by Yusuf Baity
27 February 2026
in Kelana
0
Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Ladeuzeplein dengan "Beetle" Totem karya Jan Fabre di tengah Kota Leuven, Belgia | Dok. Penulis (Yusuf Baity)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya: Belgia. Bukan hanya sekadar melancong, saya diberi kesempatan untuk merasakan atmosfer akademik perkuliahan selama satu semester ke depan di negara ini. Sungguh terasa bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. Apalagi kalau mengingat kegagalan saya meraih program abroad saat masih duduk di bangku perkuliahan S1. Dan momen ini datang di saat saya berada di tahun terakhir studi S2 saya di salah satu universitas di Yogyakarta.

Saat karya ini ditulis, saya sedang berada di Leuven, sebuah kota kecil di samping Brussels. Ia merupakan kota pendidikan, sama seperti Jogja. Di sinilah saya akan tinggal selama kurang lebih 5 bulan ke depan. Seolah caper kepada pendatang baru, kota kecil yang didominasi oleh arsitektur klasik khas Eropa ini selalu menunjukkan bagaimana kota pendidikan semestinya.

Kampus mereka tersebar di seluruh penjuru kota, di dalam dan di luar ring road. Jumlah pelajar di kota kecil ini pun jauh lebih banyak dibandingkan dengan penghuni aslinya. Meskipun hanya ada 4 universitas di kota ini, kita dapat menjumpai gedung fakultas dan administrasi kampus hampir di setiap sudut jalannya. Kita seolah berada di dalam lingkungan kampus yang cukup luas, dengan rumah ibadah, kafe, bar, stasiun, halte bus, hingga pasar di dalamnya.

Terlepas dari julukan Si Paling Kota Pendidikan itu, Leuven memiliki sebuah “monumen” unik yang mungkin membuat kita bertanya-tanya. Mengapa ada kumbang raksasa yang tertancap di jarum setinggi 23 meter? Monumen itu bernama “Totem” karya Jan Fabre (atau di map tertulis: Jan Fabre’s Beetle Totem), seorang seniman multidisipliner kondang asal Belgia. Kumbang permata raksasa itu tertancap di awan—di awan? Yap. Siapa sangka Jan Fabre terfikirkan untuk menghadapkan jarum ke atas dengan maksud menancapkannya ke awan—di tengah alun-alun kota (Ladeuzeplein) tepat di depan bangunan perpustakaan (bibliotheek) megah nan bersejarah milik Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven).

Bibliotheek, Perpustakaan bersejarah milik KU Leuven | Dok. Penulis (Yusuf Baity)

Lokasi itu dipilih oleh Jan Fabre setelah ia berjalan mengelilingi kota. Kebebasan konsep dan lokasi yang diberikan oleh KU Leuven kepadanya pun ia gunakan dengan sebaik mungkin. Setelah menentukan tempat yang dianggapnya sempurna, ia bergumam dan langsung tahu apa yang harus ia lakukan.

“Saya langsung merasa bahwa ini harus menjadi ‘tindakan yang elegan’. Hasilnya tidak boleh terlalu megah atau bersaing dengan perpustakaan. Dengan jarum, Anda tidak mengambil terlalu banyak ruang, baik secara harfiah maupun kiasan.”

 

“Beetle” Totem setinggi 23 meter yang tertancap di awan | Dok. Penulis (Yusuf Baity)

Singkat cerita, karya ini merupakan hadiah dari KU Leuven kepada kota Leuven dalam rangka perayaan 575 tahun berdirinya universitas tersebut. Proses pembuatannya pun bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu beberapa tahun untuk merancang karya yang kini menjadi landmark alun-alun kota Leuven. Ini bertujuan agar dapat berdiri kokoh dalam waktu yang lama.

Ia menggunakan racikan cat khusus dan bahkan pembuatan kumbangnya saja memakan waktu hingga 2,5 tahun. Bahan-bahan yang digunakan pun menjadi perhitungan yang rumit mengingat perlunya mempertimbangkan resistensi dan stabilitas monumen ini. Terkait hal itu, ia meminta bantuan para ahli dari KU Leuven. Terbukti telah lebih dari 25 tahun “Totem” berdiri, ia masih eksis dan kokoh hingga saat ini.

Memori Kolektif yang Cemong

“Kumbang ini adalah memori alam, semacam komputer tertua di dunia, radar keberadaan manusia. Karya seni ini merujuk pada sebuah koleksi, koleksi serangga yang ditusuk pada jarum dan dibalik. Hubungan dengan perpustakaan universitas sangat penting: memori kolektif manusia, sebuah bangunan dengan koleksi buku dan pengetahuan. Totem ingin memberikan penghormatan kepada pengetahuan, keindahan, singkatnya, puisi keberadaan.”

Namun, yang amat disayangkan ialah adanya tangan-tangan usil yang mengusik keanggunan Totem ini. Aksi vandalisme dengan menempelkan sejumlah stiker yang diikuti aksi fomo serupa kini membuatnya ternoda. Ia tampak begitu kotor akibat ulah mereka yang sok keren dengan perilakunya. Panjang umur orang-orang anti-vandalisme!

Tumpukan stiker yang “menghiasi” bagian bawah Totem | Dok. Penulis (Yusuf Baity)

Jika sedikit menengok ke belakang, ini bukan pertama kalinya Jan Fabre menjadikan kumbang sebagai tokoh utama dalam karyanya. Pada tahun 2002, ia membuat sebuah karya bertajuk “Heaven of Delight” yang mengubah tampilan langit-langit aula Royal Palace of Brussels secara sporadis. Ia meletakkan warna hijau cerah yang berkilau di dalam sana. Kali ini tidak dengan cat. Ia dengan gacornya meletakkan sekitar “setengah juta bangkai kumbang permata” yang dibawa dari Asia Tenggara, terutama dari Thailand. Kumbang itu dipilih karena meskipun telah mati, kilauan hijau dari cangkangnya tidak akan memudar.

Untuk karyanya yang satu ini, saya berharap bisa menemukan kesempatan untuk melihatnya secara langsung. Namun, terkait dengan “Totem”, karena berdiri tepat di depan perpustakaan monumental KU Leuven, karya ini menjadi titik temu populer bagi mahasiswa. Bahkan setiap hari Jumat, kita dapat menjumpai Friday Market yang menyediakan berbagai kebutuhan sandang dan pangan. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, karya ini puitis dan reflektif. Bagi yang lain, tampilannya terasa aneh atau ganjil. Alias mengherankan. Tapi, justru di situlah kekuatan seni publik—ia mengundang dialog dan perdebatan.[]

Tags: beetle totembelgiajan fabrekelanakota leuvenyusuf baity
ShareTweetSendShare
Previous Post

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Next Post

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

Yusuf Baity

Yusuf Baity

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Malang, Jawa Timur. Kini sedang menempuh program visiting researcher di KU Leuven, Belgia.

Artikel Terkait

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
Kelana

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

9 December 2025

Bagi warga negara yang pernah punya memori traumatis terhadap umat Muslim, kiranya bagaimana tanggapan mereka jika musti berjumpa kembali dengan...

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
Kelana

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025

Nama Hanna Hirsch Pauli mungkin terasa asing. Itu wajar. Bahkan, di negara asalnya, Swedia, banyak juga yang belum mengenalnya. Justru...

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi
Kelana

Perjalanan Menuju Akar Pohon Kopi

9 August 2025

Narasi canggih soal kopi di coffee shop terdengar terputus dari asalnya: alas. Rasa yang belum menyatu itu menyembulkan sebuah ide...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Malam Kutukan

Malam Kutukan

28 February 2021
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

13 March 2022
Bersetubuh dengan Kata

Bersetubuh dengan Kata

24 March 2021
Kirsip

Kirsip

10 March 2021
Anna Maria

Anna Maria

20 September 2021
Manfaat Memiliki Daily to Do List

Manfaat Memiliki Daily to Do List

19 November 2021
Pemikiran Muhammed Arkoun Tentang Dekonstruksi “Kritik Nalar Islam”

Pemikiran Muhammed Arkoun Tentang Dekonstruksi “Kritik Nalar Islam”

26 April 2021
Tips Memakai Kacamata Kehidupan

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

20 February 2021
Surat Terbuka untuk Sunyi

Surat Terbuka untuk Sunyi

15 February 2021
Soledad

Soledad

7 September 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (223)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (22)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.