• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 04 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

Kukuh Basuki Rahmat by Kukuh Basuki Rahmat
3 April 2026
in Resensi
0
Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

Sampul buku "Demokrasi, Ateisme, Seksualitas" karya Franz Magnis-Suseno | Sumber: Dokumentasi Penulis (Kukuh Basuki Rahmat)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu mengentaskan bangsa ini dari korupsi, kemiskinan, dan intoleransi. Belum lagi setiap hari kita mendapat kabar buruk dari pemerintah, mulai dari statement asal bunyi, kebijakan yang tanpa dasar ilmiah, hingga perilaku pejabat yang hedonis di saat banyak masyarakat Indonesia mengalami kesusahan.

Terkadang, kita sudah jengah dan memilih apatis karena dengan berpendapat saja, kita bisa terancam pasal pidana atau siraman air keras. Alhasil, tak banyak orang yang berani bersuara dan menyampaikan pendapat. Di sinilah kemunculan pemikir, akademisi, dan cendekiawan yang masih berani bersuara bagaikan segarnya oase di tengah keringnya padang pasir, terutama yang berani berseberangan dengan narasi pemerintah.

Satu dari sedikit cendekiawan yang masih bersuara di tengah pembungkaman itu adalah Franz Magnis-Suseno. Dengan buku terbarunya yang berjudul Demokrasi, Ateisme, Seksualitas, guru besar filsafat STF Driyakara ini mencoba mendedah berbagai permasalahan bangsa Indonesia secara mendasar, radikal, dan menyeluruh (holistik).

Yang menarik dari pemikiran rohaniwan Katolik kelahiran Jerman 89 tahun yang lalu ini adalah, kendati ia seorang keturunan Eropa dan juga lulusan pendidikan di benua biru itu, ia tidak anti terhadap filsafat Indonesia, khususnya etika Jawa dan falsafah Pancasila. Ia sering kali menggunakan cerita pewayangan untuk menggambarkan perkembangan sosial politik negara Indonesia dan internasional dalam lanskap yang lebih luas.

Etika Bernegara dan Refleksi dari Punakawan

Buku ini terbagi menjadi empat fragmen: Etika Politik, Pancasila, Filsafat, dan Goncangan Budaya. Pada setiap tema, Magnis memberikan ulasan yang cukup padat, komprehensif, dan tajam. Selalu ada muatan kritis pada tiap-tiap esainya.

Pada bagian pertama, Bab Etika Politik, Magnis membicarakan mulai dari jatuh bangunnya demokrasi Indonesia, budaya Jawa, catatan etis Pemilu 2024, korupsi, hingga komunisme. Pada bagian ini, kritik Magnis banyak ditujukan kepada para pelaku politik praktis di Indonesia yang sudah tidak lagi menghiraukan etika. Mulai dari pelanggaran konstitusi pencalonan Gibran sebagai wakil presiden hingga KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang semakin merajalela dan dilakukan secara terang-terangan.

Artikel Kedaulatan Rakyat: Adakah Sumber-Sumber Budaya Demokrasi Indonesia? Magnis menyoroti Pemerintah Indonesia yang semakin hari kian merepresi oposisi. Padahal, oposisi adalah bagian penting bagi berjalannya demokrasi. Oposisi berguna untuk mengoreksi kesalahan atau penyimpangan pengelola negara dalam membuat dan melaksanakan kebijakan serta menjadi pengingat ketika para pejabat negara sudah mengabaikan etika dalam praktik politiknya. Ini sangat menarik ketika kita kaitkan dengan kalimat “etik ndhasmu!” yang keluar dari mulut seorang presiden ketika berpidato di atas podium pada perayaan hari ulang tahun partai yang dipimpinnya.

Satu hal yang layak diapresiasi adalah Magnis juga begitu piawai menggunakan pewayangan Jawa untuk menganalisis kondisi sosial politik Indonesia. Dalam artikel Budaya Jawa dan Etika Politik Abad ke-21, Magnis melakukan perbandingan antara budaya Jawa dan etika era pencerahan yang dirumuskan dengan baik oleh Immanuel Kant. Alih-alih mengunggulkan satu dan merendahkan yang lainnya, Magnis mencoba mengasimilasikan dua sumber etika tersebut dengan mengambil sisi-sisi terbaiknya sekaligus mengakui kelemahan yang ada pada dua sumber etika tersebut.

Magnis dengan jeli mengangkat kemunculan Punakawan di tengah struktur sosial Jawa yang feodal dan menekankan pada keselarasan. Walaupun dari golongan rakyat jelata, Punakawan sangat dihormati oleh raja dan kalangan ningrat. Kepolosan dan kejenakaan Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk menyimbolkan hubungan antara kekuasaan dan etika sekaligus kedaulatan rakyat di dalam negara. Kemenangan Pandawa dalam perang di Padang Kurusetra juga karena mereka mendengarkan suara rakyat yang disimbolkan oleh Punakawan. Sedangkan negara para Rahwana mengalami kekalahan karena tidak mendengarkan “Punakawan” di pihak mereka, yaitu Togog dan Mbilung.

Pancasila: Pisau Analisis Masalah Aktual

Pada bagian kedua, yaitu Pancasila, kematangan pemikiran filosofis Magnis sangat efektif dalam mendedah permasalahan-permasalahan dalam bagaimana dasar negara Indonesia tersebut dipahami, ditafsirkan, dan diimplementasikan.

Dalam artikel yang berjudul Pancasila Sebagai Kristalisasi Nilai-Nilai Luhur Bangsa: Mengapa Pancasila Tetap Relevan, misalnya, Magnis menunjukkan keberhasilan Pancasila sebagai solusi masalah identitas bangsa. Pancasila menjadi dasar etis dalam mengatasi perbedaan suku, budaya, dan bahasa di Indonesia.

Tak hanya mengawang dalam tataran konsep, Magnis juga menggunakan Pancasila untuk menganalisis masalah-masalah aktual di Indonesia. Isunya merentang mulai dari intoleransi antaragama, kritik terhadap ide kembali pada pemilihan tak langsung, hingga pelanggaran konstitusi pada Pemilu 2024 yang disusul dengan kolusi antara elite penguasa dan pemodal.

Pada bagian ketiga, yaitu Filsafat, Magnis banyak membicarakan tentang implikasi dari perkembangan ilmu pengetahuan modern seperti merebaknya ateisme, ketegangan sains dan iman Katolik, dan fenomena post-truth. Di sini kedalaman pemahaman filsafat Magnis berhasil menghindarkannya dari sikap apologetik. Alih-alih melakukan pembelaan iman secara dogmatik, Magnis cukup piawai dalam menjelaskan dan menjernihkan permasalahan dengan pembahasan yang berimbang dan proporsional.

Dalam Agama dan Sains: Apakah Harus Bertentangan? Magnis menceritakan kembali pertentangan gereja dengan tokoh-tokoh sains seperti Galileo Galilei dan Charles Darwin. Dalam hal ini, dengan cukup dewasa, Magnis mengakui bahwa kesalahan masyarakat religius adalah terlalu dalam mengintervensi sesuatu yang bukan wilayah kompetensinya. Sebaliknya, jika berjalan pada koridornya masing-masing dengan rendah hati, maka agama dan sains akan saling melengkapi dalam mencapai tujuan akhirnya, yaitu kesejahteraan umat manusia.

Feminisme dan LGBT

Pada bagian keempat, yaitu Guncangan Budaya, Magnis menyoroti feminisme dan LGBT. Hal ini menarik karena Magnis merupakan representasi dari pemuka agama Katolik dalam memandang dua fenomena budaya tersebut. Sekali lagi, dengan kedewasaan iman dan kematangan pemikiran filosofisnya, alih-alih mempertentangkannya, Magnis justru menjernihkan pusaran konflik tersebut sehingga memberikan pedoman bagaimana seharusnya umat beragama (khususnya Katolik) dalam bersikap.

Tentang feminisme, gereja tidak mengikuti feminisme begitu saja, tapi mengakuinya sebagai semangat zaman. Spirit kesetaraan dan perjuangan terhadap martabat perempuan yang diusung feminisme sangat selaras dengan Injil Katolik.

Tentang LGBT, Magnis dengan sangat berani dan bijaksana membela dan mengakui keberadaannya. Walaupun masih belum bisa memberi pemberkatan pernikahan LGBT, gereja sudah cukup progresif dalam upaya memuliakan martabat LGBT agar bisa hidup aman dan tenteram di tengah-tengah masyarakat.

“Bagi umat Katolik, pendobrakan terjadi ketika Paus Yohanes Paulus II pada 1979 menyatakan bahwa kecenderungan homoseksual—laki-laki tertarik laki-laki dan perempuan tertarik perempuan—bukan suatu penyakit, juga bukan pilihan bersangkutan, melainkan suatu fakta alami.” (hal. 160)

Artikel terakhir dalam buku setebal 177 halaman ini mempertegas semangat Romo Magnis, sebagaimana ia biasa disapa, dalam menyuarakan demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan, khususnya di Indonesia yang kini tengah digoncang prahara.[]

 

Data Buku

Judul Buku                          : Demokrasi, Ateisme, Seksualitas

Penulis Buku                       : Franz Magnis-Suseno SJ

Penerbit                              : GPU (Gramedia Pustaka Utama)

Tahun Terbit                       : November 2025 (cetakan pertama)

Jumlah Halaman                : 177 halaman

ISBN                                    : 978-602-06-8568-7

Tags: ateismebukudemokrasifeminismefranz magnis susenokemanusiaankukuh basuki rahmatLGBTresensi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kukuh Basuki Rahmat

Kukuh Basuki Rahmat

Penulis dan musisi alumnus Magister Psikologi UGM. Aktif menulis cerpen, esai, resensi buku, dan sedang berusaha menyelesaikan novel dan buku teks. Kini menjadi kontributor di Tirto.id dan anggota komunitas Radio Buku. Dapat disapa via IG @basczky.

Artikel Terkait

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme
Resensi

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

13 October 2025

Ketidakadilan sosial di ruang sehari-hari kita mendorong banyak pemikir mencari pisau analisis baru dan segar. Di tengah diskursus tersebut, Mansour...

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu
Resensi

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

24 August 2025

Dalam hidup ini, pastinya kita pernah mengalami situasi keterburu-buruan. Waktu seolah-olah mengejar kita. Tak ada waktu lagi untuk sekadar duduk...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Buron dan Segelas Es Teh

Buron dan Segelas Es Teh

26 March 2022
Gambar Artikel Aliran Sungai Maya

Aliran Sungai Maya

10 December 2020
Gambar Artikel Kesetaraan atau Keadilan

Kesetaraan atau Keadilan?

31 December 2020
Perjalanan Wahyu Nirwaktu

Perjalanan Wahyu Nirwaktu

11 January 2022
Alir-an

Alir-an

10 February 2021
Gambar Artikel Hiruk-Pikuk Pandemi dalam Pemikiran KH. Ahmad Dahlan

Hiruk-Pikuk Pandemi dalam Pemikiran KH. Ahmad Dahlan

14 December 2020
Pergi

Pergi

25 March 2021
Pemimpin yang Ibda’ Binafsik

Pemimpin yang Ibda’ Binafsik

19 June 2021
Fenomena #MacanTernak

Fenomena #MacanTernak

3 August 2021
Indonesia Tidak Punya Filsafat?

Indonesia Tidak Punya Filsafat?

27 April 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (225)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (144)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.